Jeon Appa

Jeon Appa
Day Dream



Jeon kembali terbangun di dalam mimpinya yang cukup indah. Mimpi itu datang lagi setelah bertahun-tahun lamanya, mimpi yang pernah membuat Jeon terbangun kesiangan kemudian menyebabkan dirinya terlambat untuk menghadiri sebuah rapat kala itu, kala dimana dia langsung di pecat begitu saja oleh ayahnya.


Di mimpi itu, sebelumnya Jeon terlihat sedang menunggu seorang wanita---cukup cantik, kemudian melamar wanita itu begitu saja, meski hanya di dalam mimpi Jeon dapat merasakan perasaannya begitu amat dalam pada wanita itu, begitu mencintainya, Tapi di dalam mimpi itu Jeon juga merasakan kehilangan yang teramat dalam, menyesakan sekali, bahkan terasa seperti nyata.


Hingga suatu ketika di saat ia terbangun lalu menemukan seorang bayi, disitulah Jeon sadar. Mimpinya itu adalah sebuah masa depan, masa depan yang akan terjadi suatu hari. Mencintai seorang wanita yang bernama Han Jein, kemudian kehilangan seorang putri bernama Ahra. Jeon selalu mengingat hal itu selalu.


Menemukan untuk kehilangan. Mungkin kalimat itu yang dapat menggambarkan arti mimpi Jeon.


Dan sekali lagi, mimpi itu kembali hadir. Berulang kembali seperti awal. Namun gambaran mimpi itu masih sama tak berubah sama sekali, di tempat yang sama, cerita serta percakapan yang sama, dengan memperlihatkan wajah wanita itu yang kini mulai terlihat nampak jelas sekali, benar wanita itu benar-benar Han Jein guru Ahra. Jeon sendiri tak memungkirinya, mengenai perasaannya yang mulai tumbuh menjadi rasa ingin memiliki. Jeon telah menemukan Han Jein, teman kecilnya, sahabatnya yang pernah hilang.


Kini di dalam mimpi itu, Jeon terlihat mengenakan sebuah Jas yang begitu formal sekali, berdiri pada sebuah tempat yang terlihat seperti sebuah altar dengan suasana yang mendukung sangat terasa sakral seperti sebuah pernikahan. Di ujung jalan Jeon melihat seorang wanita berdiri disana menunggunya dengan mengenakan gaun putih yang panjang menjulang. Samar-samar Jeon semakin melihat wajah wanita itu, cantik sekali saat tersenyum kearahnya. Hen Jein---Jeon melihat wanita itu, bahkan matanya tak bisa berpindah---seakan terpaku. Apa ini kah akhirnya? akhir dari mimpi yang akan menjadi kenyataan? Sebuah pernikahan.


Tentu, jika seperti itu jangan di tanya apa yang Jeon rasakan, jelas ia sangat merasa bahagia sekali. Bahagia mendapati Jein akan terus bersamanya, ada di sisinya setiap waktu, tak memungkirinya Jeon bahagia sekali namun masih ada hal yang mengganjal dihatinya.


Sisi hatinya yang lain mengharapkan sesuatu, sesuatu yang ia harap bisa ada---hadir di kebahagiaannya---menyaksikan sebuah kebahagiaan yang Jeon tak pernah bayangkan sebelumnya. Jeon ingin ia ada. Putrinya, Jeon Ahra, berharap, berandai Ahra ada juga bersamanya. Menyaksikannya. Tapi, ia sadar ini adalah jalannya, takdir mempertemukannya dengan Ahra, ada bersamanya untuk menjaga serta merawat hanya untuk sementara, tidak menjadi selamanya apalagi sepanjang hidupnya.


Detik berikutnya saat baru saja Jeon membuka satu langkah kaki untuk melangkah, berniat untuk menuju kemana wanita itu menunggunya, sebuah tangan tiba-tiba hadir menggenggam sebelah tangan kanan Jeon, membuat Jeon terkejut dan segera menoleh, merasakan tangan kecil itu kembali menggenggamnya.


Ketika Jeon melihat siapa itu. Jeon mengukir serta merta mengembangkan senyumnya, tak mempercayai bahagianya terasa lengkap setelah mendengar kembali suara itu. "Appa.." benar, tangan mungil itu adalah tangan Ahra.


Ahra sudah ada, berdiri tepat disamping Jeon. Tersenyum pula terlihat sekali begitu turut bahagia atas kebahagian Jeon. Tetapi kebahagian ini belum lengkap, tepatnya belum sempurna, karna Jeon harus melangkah kedepan sana, menjemputnya dan mengucapakan janjinya. Menjadikan mereka terikat selamanya, seperti itu agar tak ada lagi yang bisa dapat mengambilnya dari sisi Jeon.


Kembali menoleh, memandang kembali kearah depan, masih terlihat sama Jein masih ada disana, menunggu Jeon.


Berniat untuk kembali melangkah didampingi dengan sang putri, langkah pertama, langkah kedua, hingga berikutnya Jeon kembali terhenti, terhenti ketika di depan sana baru saja ada pria lain yang kembali muncul---berdiri tepat di sebelah Jein. Membuatnya kini membeku. Karna, Pria itu tak lain adalah Taehyung. Mantan Tunangan Jein, yang menorehkan luka begitu dalam pada Jein, serta kakak tiri Jeon yang telah merebut segalanya dari hidup Jeon.


Pria itu sedang menggandeng tangan Jein, Taehyung mengapit lengan Jein, dan Jeinpun masih terlihat sama tersenyum tak luntur sedikitpun.


Pertanda apa ini? Apa maksudnya ini.


Ini buruk, sangat buruk. Menurut Jeon saat wanita itu malah berkata, menyatakan kalimat yang membuat dirinya tertampar atau bahkan terdorong begitu amat jauh.


Air wajah wanitanya berubah menjadi sendu saat akan membuka suara. "Jeon. Kami telah menikah." seru Jein semakin membuat Jeon membulatkan matanya, tak percaya, terbelalak sangat terkejut sekali. Kaki Jeon mendadak menjadi lemas tak berdaya, tak mampu bahkan untuk segera berlari dan memisahkan mereka.


Mereka, menikah? Bagaimana bisa? Tidak mungkin.


Jeon hanya mampu berdiam diri ditempat. "Jein-ah.. Tidak! Kau tidak bisa menikah dengannya! Kau hanya boleh menikah denganku." ucap Jeon seperti berteriak tak terima. Tidak boleh. Jein itu hanya untuknya.


Namun detik berikutnya yang Jeon rasakan adalah perasaan kepedihan setelah sempat kebahagiaannya melambung begitu tinggi. Cairan beningnya terjatuh meski tanpa bisa ia kendalikan, memalukan sekali ia malah menangis. Tapi tidak, setelah ia tersadar senyuman Jein luntur. Wanita itu tak lagi tersenyum. Menerkanya, karna Jein terlihat begitu tak bahagia, karna sudah pasti wanita itu tengah terpaksa, itu pasti. Jeon yakin.


"Terima kasih. Karna telah menjadi cintaku, Jeon. Kau tau aku tak akan bisa hidup tanpamu," ujar Jein membuat kening Jeon menukik begitu bingung saat mendengar hal itu, kenapa? Kenapa Jein berkata seperti itu.


Bukankah seharusnya mereka yang menikah jika mimpi ini adalah sambungan dari mimpinya sebelumnya.


"Sayang.. Apa maksudnya itu? Huh? Katakan padaku. Jika dia kembali mengancammu, aku akan menghabisinya!" jelas Jeon menunjuk Taehyung, ingin sekali menghajarnya yang masih begitu ponggah menantap Jeon tanpa berkedip sedikitpun, terlihat sekali ia ingin menunjukan kemenangannya karna telah memiliki Jein, mengambil Jein dari Jeon, atau memang seharusnya sejak awal Jein bersamanya. Tapi Jeon tidak bisa melakukan apapun, badannya kaku sekali tidak bisa di gerakan.


"Tidak. Tapi hal ini adalah pilihanmu. 'Menemukan untuk kehilangan', kau memilih itu, dan kau kehilanganku. Kau yang memilih seperti itu, Jeon." ujar Jein tanpa berani menatap mata Jeon, mata wanita itu sangat tersirat sekali ketulusan, berkaca-kaca seperti lukanya amat dalam terasa.


"Kau mengatakan apa? Mana mungkin aku seperti itu, Jein." pelik Jeon tak kuasa, dirinya semakin tak mengerti maksud dari semua ini.


Jein mengangguki kepalanya beberapa kali. "Iya itu dirimu." ujar Jein tepat kembali memberanikan memandang Jeon dengan wajah kini dipenuhi air mata. "Kau kehilangan Ahra, kemudian kau memilih Ahra dan menukarnya padaku, itu pilihanmu Jeon." sambung Jein.


Menoleh dan menatap Ahra masih ada disampingnya, Jeon lakukan. Tunggu, jika benar yang Jein katakan lalu? Untuk apa dan kepada siapa Jeon melakukan hal itu, kenapa ia menukar keduanya, bukankah sebelumnya mereka baik-baik saja. Berdampingan bersama, tanpa ada yang bisa memisahkan, mereka masih berada di genggaman Jeon hingga kini.


"Jein-ah, jangan menikah dengannya!" pinta Jeon sekali lagi. Putus asa sekali, karna tubuhnya sendiri pun tak bisa di gerakan sama sekali.


Dan Jein hanya bisa menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya. Menandakan bahwa dirinya tidak bisa. "Jeon, maaf.. aku mencintaimu." tepat saat kata itu terlontar sebuah tembakanpun datang berhembus begitu amat cepat melewati Jeon dan tepat mengenai dada Jein. Membuat Jein tercekat, menahan kejut termasuk rasa sakit yang tiba-tiba saja melanda seluruh tubuhnya, sakit sampai sulit kembali meraih udara untuk bernafas, begitu amat sesak.


Jeon membelalakan kedua matanya, terkejut bukan main saat setelah melihat darah yang keluar dari tubuh Jein begitu banyak sekali mengotori gaun yang Jein kenakan, membeku saat melihat itu, melihat bagaimana Jein hampir saja tumbang, dengan gerakan cepat kilat Jeon menghampiri Jein menangkap tubuh Jein yang hampir terjatuh ke lantai, setelah merasa tubuhnya sendiri tidak lagi kaku dan bisa bergerak begitu bebas.


"SIAPA YANG TELAH BERANI MELALUKAN INI?!" pekik Jeon amat menggelegar di barengi dengan air matanya yang kini mengalir deras tak kuasa saat dirinya melihat Jein yang sudah di penuhi banyak darah.


"Jeon.." panggil Jein, suaranya lemah sekali Jeon dengar.


Tangan Jeon bergetar saat mencoba bergerak menyentuh pipi Jein. "Bertahan ya. Jangan tinggalkan aku eum.. Ku mohon." sungguh Jeon mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Ia sangat ketakutan sekarang, sangat karna tak ingin kehilangan wanitanya.


Tapi Jein sudah tak kuat, pernapasannya semakin sulit saja ia lakukan. Memaksakan diri dengan sisah tenaga yang ia miliki kemudian Jein kembali berkata. "Aku mencintaimu..." satu tetes berhasil kembali keluar dari mata Jein, senyumnya terukir begitu terlihat tulus sekali saat memandang tepat pada manik mata Jeon, jelas Jein sangat terlihat mencintainya, amat dalam sekali, tapi rasa sakit Jein sudah tidak lagi tertahankan, peluru itu menembus ke jantungnya hingga rasanya Jein tak bisa merasakan detakannya sendiri, mencoba meraih tangan Jeon yang berada di pipinya Jein ingin menggenggam untuk yang terakhir, tapi ia sudah tak kuat lagi, Jein kembali tersenyum saat melihat penuh wajah pria yang begitu ia cintai, untuk terakhir kali ia merasa begitu bahagia sekali, dan merasa hal ini sudah cukup dengan kemudian Jein menutup matanya.


Tidak. Tidak.


Di barengi dengan tubuh Jein yang ikut melemah, lemas tak berdaya. Terlunglai setelah matanya benar-benar tertutup sempurna.


"Jein! Bangun! Jangan menutup matamu! Jein! Han Jein! Ku mohon..." Jeon meringis sejadi-jadinya. Pedih sekali.


Tidak mungkin akhirnya akan seperti ini, ini tidak mungkin, tidak mungkin.


Ini adalah akhir yang buruk.


***


Jeon terbangun kemudian terduduk, dalam keadaan wajahnya sudah di penuhi air mata, seakan semua mimpi itu terasa nyata terjadi. Meski ia sadar sepenuhnya yang ia alami itu hanya sebuah mimpi tapi entah kenapa bahkan dirinya sendiri tak dapat membendung pedihnya, sangat terasa begitu nyata sekali.


Menemukan untuk Kehilangan. Jeon merapalkan itu di dalam kepalanya.


Hingga detik berikutnya, semua pikiran buruk itu terpecahkan ketika pintu kamar Jeon terbuka, menampakan wajah wanita yang sama dengan wanita yang ada di dalam mimpinya.


Han Jein.


"Kau sudah bangun?" sapa Jein malangkah mencoba mendekat keranjang Jeon. "Aku membawakanmu sarapan," sambung Jein menjelaskan sebuah nampan yang kini sudah ia letakan di nakas tepat di sebelah ranjang Jeon. Sementara Jeon hanya memperhatikan gerakan Jein, dengan masih mencerna kembali membedakan kenyataan dan mimpi.


Di mimpi meski bahkan Jein sudah tiada, tapi di dunia nyata Jein masih ada, bernafas bahkan masih ada disisi Jeon.


Benar, Jeon yang sudah meminta wanita itu---Jein menginap semalam, tapi tidak seperti sebelumnya. Jein tertidur bersama Ahra, di kamar Ahra, tidak bersama Jeon.


"Jein-ah.." panggil Jeon


"Nde?"


Jeon meraih tangan Jein, menggenggam sebelah tangannya, menggenggamnya begitu erat sekali, membuat sang empuh merasa kebingungan.


"Ada apa?" tanya Jein


Benar, hal yang sebenarnya Jeon tidak inginkan adalah kehilangan wanita ini, tidak bisa. Maka yang Jeon harus segera lakukan adalah meraihnya dengan cepat.


Menatap mata Jein begitu amat serius, Jeon lakukan kemudian berucap. "Ayo, berkencan saja," ucap Jeon sukses membuat Jein sontak terkejut, ditandai dengan kedua matanya melebar, mulutnya terbuka tak percaya, merasa Jeon baru saja terbentur sesuatu sehingga menjadi asal bicara.


"Jeon---"


"Jangan menolak. Aku tidak akan mendengarnya. Kau itu hanya miliku, kau hanya boleh menikah denganku. Kau paham? Ah.. Atau kita menikah saja sekarang juga." ujar Jeon seperti orang gila yang suka berbicara seenaknya tanpa lagi memperdulikan bahwa orang lain itu akan mengerti dirinya atau tidak. Sejujurnya Jeon itu sedang merasa frustasi sekali.



Dan hal itu semakin sukses membuat mulut Jein menganga lebar, melongo, merasa dirinya kini sungguh ***** karna mendengar ucapan Jeon yang sudah melantur terlalu jauh. Gila, menikah? Apa yang sebenarnya ada didalam pikiran pria gila itu sih.


***