
Jeon jadi semakin penasaran seperti apa guru ahra yang sangat baik itu. Ahra bahkan selalu menceritakan hampir setiap hari tentang guru Han-nya itu dengan sangat baik, tidak pernah memarahinya dan selalu membantu ahra saat di sekolah, hanya saja saat kejadian kemarin guru Han benar-benar tidak mengetahui mengenai bagaimana kisah keluarga ahra.
Dibalik itu semua yang mengganggu fikiran Jeon adalah bagaimana ahra mengatakan ingin sekali menjadikan gurunya itu menjadi ibunya. Satu fakta yang Jeon cari tau kala itu adalah bagaimana guru itu masih melajang dan belum juga menikah itu suatu keberuntungan bagi Jeon. Jeon sampai harus mencoba mendekati guru ahra itu hanya demi membuat ahra senang, Jeon jadi berfikir tentang sebuah pernikahan yang bahkan sebelumnya tak pernah sekalipun terfikirkan olehnya.
Hingga saat ini, setiap Ahra pulang sekolah hal yang Jeon selalu tanyakan adalah bagaimana guru itu kembali bersikap baik pada ahra, apa saja yang guru Han lakukan dengan ahra di sekolah. Entah kenapa hal itu menjadi rutinitas yang menarik untuk didengarkan baginya sekarang.
"Saem.. Memberikan ku bekal makan siang yang sungguh enak hari ini."
"Appa!. Saem, mengajariku bermain basket tadi."
Saem begini, Saem begitu..
Kemudian masih banyak lagi Saem.. Saem.. yang Jeon dengar. Lebih daripada itu, Jeon senang karna ahra merasa begitu nyaman sekarang di sekolahnya berkat gurunya itu.
Baiklah cukup.
Kita melupakan bagaimana tempat Jeon bekerja sekarang setelah pemecatannya, dan dimana Jeon bekerja.
Jeon itu sudah tak lagi ingin menghubungi sang ayah, tidak sudi. sangat. Jeon bahkan memilih untuk bekerjasama dengan perusahaan saingan ayahnya, Kim Group. Perusahaan yang di pimpin oleh sahabat sekaligus seniornya sendiri Kim Seokjin, Jeon memilih untuk melawan, menentang sang ayah habis-habisan ketimbang harus patuh dan menyerah atas nama sang ibu yang telah pernah di perlakukan dengan sangat tidak adil.
Membiarkan sang ayah memilih anak selingkuhannya dibanding anak sahnya, Jeon lakukan.
Jeon itu penuh ambisi. Ia bisa melakukan apapun yang ia inginkan sekaligus merebut perusahaan itu kembali mengatas namakan anak sah dengan begitu mudah jika ia mau sekalipun menghancurkan reputasi sang ayah pun bisa ia lakukan hingga membuat perusahaannya bangkrut dan membuat ayahnya itu menyesal. Namun, Jeon itu terlalu lemah untuk membuat orang lain terluka karna dirinya.
Saat ini Jeon baru saja berbicara dengan guru Han di telpon, menanyakan perihal apa ahra baik-baik saja, bukan tanpa alasan Jeon melakukan itu, tapi Jeon benar-benar sedang mengkhawatirkan putrinya yang tadi pagi tiba-tiba saja mengeluhkan kepalanya yang sedikit merasa sakit tetapi tetap saja keras kepala ingin masuk sekolah dan tidak ingin beristirahat di rumah lantaran ingin bertemu dengan guru kesayangannya itu. Menyuruh Jeon agar tetap pergi bekerja. Ahra menganggap dirinya itu sudah dewasa. Memang bocah pintar dengan pemikiran sesuka hatinya.
"Terima kasih karna telah menjaga ahra dengan baik, nona Han.." sungguh Jeon tidak tau harus mengucapkan rasa syukur bagaimana lagi.
"Ah.. Tidak perlu berterima kasih tuan Jeon, ini sudah menjadi tugasku sebagai seorang guru." suara nona Han terdengar begitu lembut, dan manis. Jeon pikir ia sangat merasa setuju dengan apa yang ahra ceritakan selama ini padanya mengenai gurunya itu.
"Baiklah.. Selamat kembali bekerja." entah untuk apa Jeon berbicara seperti itu, untuk rasa sopan santun atau ada perasaan lain.
"....nde, kamsahamnida." jelas sekali dari nada bicaranya nona Han terdengar begitu kikuk.
Dan panggilan telpon itu berakhir begitu saja.
"Siapa itu nona Han?" seseorang baru saja datang mengejutkan tengah membuka pintu ruangan Jeon tanpa mengetuknya terlebih dahulu, siapa lagi yang dapat melakukan hal itu selain atasannya sendiri. Kim Seokjin.
Kim Seokjin pasti sudah mendengar seluruh percakapannya!.
"Hyeong! .. Tidak bisakah kau mengetuk pintu?. Meski kau pemilik perusahaan tapi tunjukanlah sopan santumu juga." cerocos Jeon menunjukan rasa kesal karna kebiasaan Seokjin ini. Semakin merasa dirinya tak lagi memiliki privasi.
Namun sebaliknya Seokjin merasa seperti sedang menangkap basa Jeon, padahal sebenarnya Jeon itu tidak pernah melakukan apapun yang tidak-tidak, sungguh terkadang Seokjin sendiri kagum bercampur heran, Jeon tidak pernah sekalipun menyewa wanita untuk kepuasannya meskipun ia memiliki banyak uang, hanya alkohol sajalah yang Jeon enyam dan cicipi selama ini. Sangat disayangkan padahal Jeon itu sangat tampan. Apa seleranya begitu tinggi.
"Hehe.. Baiklah, baiklah.. Lain kali aku akan melakukannya." ujar Seokjin dengan wajah innocentnya, mungkin jika Jeon wanita sudah sejak lama dia jatuh cinta pada Seokjin, karna ketampanannya. "Jadi siapa itu nona Han. Jeon?. Pacarmu?" tanya Seokjin lagi kali ini lebih seperti menebaknya.
Ada perasaan aneh, seperti menggelitik, lucu saat mendengar kata pacar tercetus dari mulut Seokjin karna sebenarnya Jeon sendiri sudah merasa terlalu tua untuk itu, di usianya sekarang yang 28 tahun berpacaran. Yang benar saja.
Seokjin sudah mengenal siapa ahra, anak angkat Jeon. Bahkan Seokjin ikut ambil andil dalam keputusan saat Jeon akan mengadopsi ahra. Terkadang Seokjin juga ikut menjaga ahra ketika Jeon diharuskan pergi keluar kota atau negeri sekalipun untuk menjalankan tugasnya. Melakukan perjalanan bisnis.
"Untuk apa kau berbicara dengan gurunya ahra?" tanya Seokjin memandangi Jeon dengan tatapan curiga.
Jeon merasa terganggu karna Hyeong nya itu semakin bertanya terlalu jauh. "Ahh.. Sudahlah." sela Jeon begitu saja. "Lagi pula, untuk apa kau tiba-tiba saja kemari?, kalau membutuhkan data biasanya kau akan menelpon." sahut Jeon.
Seokjin menggidikan bahunya. "Merasa harus menemui dirimu." Jeon tertawa begitu renyah mendengar itu.
Seokjin sebenarnya tidak mengetahui terlalu jauh seberapa besar permasalahan hidup Jeon, hanya sampai dimana Jeon membenci ayahnya saja tapi tidak dengan atau tentang siapa Taehyung.
"Apa-apaan kau ini menggelikan!" caci Jeon.
"Aku punya kabar baik dan buruk, mana yang akan lebih dulu ingin kau dengar?" tanya Seokjin tiba-tiba menjadi serius, seperti ini adalah sitkom dan ia sedang berakting, anggap Seokjin adalah hakim dan Jeon sedang terdakwa. Jeon menegakan badannya saat mendengar itu seolah siap mendengar apapun.
"Kau mengenalku Hyeong." sahut Jeon.
Benar Jeon adalah tipekal sama dengan kebanyakan orang, buruk dahulu dan kemudian baik. Berurutan. Seokjin paham itu, hanya saja mencoba berbasa-basi.
Terdengar helaan nafas berat Seokjin. "Buruknya ayahmu jatuh sakit dan sekarang mengalami struk ringan di rumah sakit." Seokjin dapat melihat dengan jelas perubahan raut wajah Jeon menegang meski tak terlihat jelas tapi Seokjin tau pasti Jeon sangat terkejut atau mungkin ia merasakan sesuatu seperti sebuah penyesalan. "kabar baiknya karna hal itu perusahaan mereka melepas proyek yang sangat ingin kita rebut sejak dulu begitu saja dan menyerahkannya pada kita." lanjut Seokjin karna Jeon tak kunjung merespon saat mendengar kabar ayahnya.
Di luar dugaan Jeon malah tertawa, begitu keras, sangat keras sampai bahkan Seokjin merasa sanksi. Jeon berubah, tidak seperti dirinya.
Penuh keheranan Seokjin kembali bersuara. "Jeon. Kau baik-baik saja?." tanya Seokjin entah untuk apa, tapi ia sangat merasa dibalik tawa Jeon adalah luka.
Tawa Jeon sedikit mereda, karna merasa harus menjawab pertanyaan Seokjin. "Haha.. Ya tentu saja." katanya dengan beberapa anggukan. "Kita menang Hyeong! Apa kau tidak senang?"
"Ya.. Kita telah menang. Tapi, Jeon, tidakah kau ingin menengok ayahmu memastikan keadaannya?" ujar Seokjin merasakan bahwa Jeon pasti juga mengkhawatirkan ayahnya meski Jeon membenci ayahnya.
Jeon terdiam beberapa saat. "Tidak Hyeong! Ayahku tidak membutuhkanku." jawab Jeon. Dia hanya membutuhkan anak haramnya, dengan batinnya yang masih bermonolog.
Seokjin dapat melihat kebohongan, ya sangat jelas sekali Jeon membohongi dirinya sendiri. Jelas-jelas merindukan ayahnya, mengkhawatirkan ayahnya, tetapi tidak mau mengakuinya. Seokjin sangat mengenal Jeon, karna Jeon adalah sosok yang begitu lembut, bahkan saat bagaimana dirinya mengurus serta-merta merawat ahra yang bukan siapa-siapanya. Sekalipun membenci ayahnya, tapi ia juga tidak tega ketika melihat orang yang ia benci menjadi begitu lemah.
"Baiklah terserah padamu saja. kalau begitu aku akan kembali ke ruanganku." dengan datar tanpa mengekspresikan apapun Seokjin memilih meninggalkan Jeon sandiri, padahal tak apa jika ia tersenyum sedikit menunjukan aura ketampanannya itu, namun Seokjin tau bagaimana Jeon sebenarnya, iapun meninggalkan Jeon agar Jeon dapat lebih leluasa mengeluarkan perasaannya. Setidaknya Seokjin telah menjalankan tugas dengan baik sebagai seorang teman memberitahu Jeon, terserah jika Jeon ingin mengabaikan sang ayah atau apapun.
***
Tepat pukul 8 malam, setelah menitipkan ahra pada pengasuhnya sementara. Di sini lah sekarang Jeon berada, tepat di depan sebuah ruangan kaca yang cukup sunyi.
Yang Jeon lihat adalah, bagaimana ayahnya sekarang terbaring lemah di sebuah ranjang di rumah sakit dengan berbagai macam peralatan.
Untuk pertama kali, setelah kejadian 6 tahun lalu, untuk pertama kalinya Jeon kembali melihat sang ayahnya. Sosoknya kini terlihat begitu lemah. Sangat lemah tak berdaya, sangat berbanding terbalik dengan bagaimana karakter ayahnya itu sebelumnya. Jeon meringis mengingat bagaimana sikap ayahnya yang sangat keras padanya itu, sekarang menjadi sangat berbeda.
"Dimana dirimu yang angkuh?. Dimana itu?. Kenapa sekarang menjadi begitu lemah!. Aku belum sepenuhnya menang!" lirih Jeon dengan begitu getir. Sorot matanya terlihat begitu berkecamuk antara sedih dan juga terlihat membenci. Atau mungkin sebenarnya mata itu menunjukan bahwa Jeon begitu mencintai ayahnya.
***