Jeon Appa

Jeon Appa
I Need you



Jein menangis setelah berhasil bersikap, menunjukan bahwa dirinya begitu teguh dihadapan Taehyung sebelumnya, meski sebenarnya yang ia rasakan sangat hancur sekali, lebih dari itu hancur tak berbentuk.


Menangis sejadi-jadinya, memeluk lututnya di balik pintu. Sendirian, Jein lakukan. Terisak, mengeluarkan segala perasaan yang menyesakan.


Tak memperdulikan mungkin saja Taehyung akan dapat mendengar atau telah pergi, tidak Jein sudah mendengar suara mobil Taehyung sudah pergi sejak tadi, benar-benar pergi.


Kenapa juga Jein mencintainya sedalam itu?, kenapa Taehyung harus mengkhianatinya sebesar itu?, apa kesalahannya. Kenapa?.


Detik berikutnya, Jein mendapati sebuah telpon. Dikejutkan dengan suara ponselnya yang tiba-tiba berbunyi. Berfikir sebelumnya, menduga bahwa Taehyunglah yang menghubungi, namun tidak, bukan nama Taehyung yang tertera. Tapi.


Jeon-ssi is calling~


Jeon menelponnya, Jeon.. Sekarang nama itu tiba-tiba menjadi terputar di kepala Jein, Jeon yang berjanji akan selalu menjaganya dan tidak akan pernah membiarkan Jein di sakiti orang lain. Jeon.


Tanpa lagi berfikir Jein langsung segera bangkit, kembali membuka pintunya mengarah pada mobil Jeon, mengendarai dengan cepat menyalahkan mesinnya. Tujuan utamanya adalah Jeon, Jein membutuhkan Jeon sekarang.


30 menit setelah melalui perjalanan yang cukup cepat karna Jein mengebut dengan kesetanan, ingin segera bertemu Jeon.


Memarkirkan ketika sampai, lalu segera kembali berlari, menuju dimana ruangan Jeon berada. Sangat cepat. Sesampainya didepan pintu kamar Jein-pun mencoba mengetuk pintu ruangan Jeon karena pintunya tengah terkunci.


Menunggu dengan gelisah, tanpa mencoba berhenti menangis, bukan Jein sudah mencoba namun air mata bodohnya tak mau berhenti. Tidak perduli bagaimanapun ia sudah berusaha, dan masa bodo dengan tanggapan Jeon nanti.


Tepat saat Jeon membuka pintunya, Jein langsung saja menghambur ke dalam pelukan Jeon, memeluk Jeon. Memeluk Jeon begitu erat sekali.



Jeon sempat terkejut mendapati Jein yang tiba-tiba saja datang kembali. Padahal ia baru saja menelpon dan ingin menanyakan apa Jein sudah sampai, tapi wanita itu malah kembali lagi dengan aneh memeluknya, sontak pula membuat Jeon membeku ketika melihat wanita itu tengah menangis, mengisak, wajahnya benar-benar dipenuhi air mata.


Tentu Jeon tak kuasa untuk membalas pelukan Jein, cukup penasaran dan ingin menanyakan perihal kenapa wanita itu menangis sekarang, tapi Jeon tak ingin membuat Jein semakin sedih dan hanya membiarkan wanita itu menangis saja di dalam pelukannya. Merasa benar-benar sahabatnya itu tak pernah berubah sedikitpun masih saja mudah sekali menangis---cengeng sekali.


Jeon mengurai pelukan mereka, setelah merasa tangisan Jein mereda, lalu menatap wajah Jein memperhatikannya dengan seksama, kemudian menghapus air matanya. "Jangan menangis lagi ya." pinta Jeon di sela-sela menghapus air mata Jein. Dan wanita itu hanya mengangguk, merasa begitu nyaman sekali berada bersama Jeon. "Kapanpun aku akan ada bersamamu. Mengerti?" sambungnya mengatakan janji mereka dimasa kecil, lucu sekali, hingga rasanya relung hati Jein merasa sedikit membaik.


Jeon sekarang tidak bisa lagi membiarkan Jein pulang seorang diri dalam keadaan seperti ini, keadaan dimana dirinya terlihat sedang amat terpuruk sekali. Jeon tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Tidak akan membiarkan Jein sendirian. "Jangan pulang, tetaplah disini bersamaku. Besok aku akan meminta Jin Hyeong datang mengantarmu bekerja ya." ujar Jeon lagi. Jein tertegun, namun juga tak ingin menolak sama sekali, memikirkan bagaimana Jeon sangat begitu perduli padanya, mungkin dengan bersama Jeon dirinya bisa kembali tenang.


Sungguh Jeon itu terkadang memang lebih suka seenaknya jika dibanding dengan Seokjin, hingga kadang Seokjin heran kenapa bisa-bisanya dirinya itu selalu menuruti semua permintaan Jeon, bahkan permintaannya lebih terdengar seperti memerintah. Sebenarnya siapa yang menjadi bosnya disini.


***


Jeon telah kembali pulih, benar-benar sembuh seperti sedia kala. Menuruti semua perawatan serta prosedur rumah sakit, membuatnya menjadi merasa begitu lebih baik. Serta merta juga karna kehadiran seorang Jein yang mendadak menjadi sistem support semangat bagi Jeon.


Sama perihal dengan kondisi Jein, ia sekarang sudah bisa mengendalikan dirinya lagi seperti sedia kala.


Jeon bahkan tidak lagi memanggilnya seperti dulu, tidak dengan sebutan nona Han. Jeon bahkan memanggil Jein dengan panggilan masa kecil mereka terkadang--Jeje, karna itu pula Jeon langsung dapat mengenali Jein sebagai Jeje-nya ketika Jein menyebutkan nama Kookie, panggilan yang pernah Jeje berikan padanya dulu.


Bukankah persahabatan mereka begitu sangat manis.


Tak lagi memperdulikan bahwa Jein adalah mantan tunangan Taehyung. Jeon tak perduli sama sekali.


Setelah pulih, hari ini juga Jeon sudah di perbolehkan untuk segera pulang, setelah hampir seminggu Jeon di rawat. Jein selalu setia menemani sahabatnya itu, entah setelah pulang bekerja, Jein akan selalu menyempatkan dirinya untuk menjenguk Jeon. Menghabiskan waktu sebanyak mungkin setelah sekian lama mereka berpisah.


Ingin menebus semua waktu yang pernah memisahkan mereka, ingin menghabiskan lebih banyak waktu mereka bersama.


Sebab itu kini Jein berada disini sekarang. Membantu Jeon, menemani Jeon.


Selama Jeon mandi, dan berganti pakaian bersiap untuk segera pulang, Jein lah yang mengemasi barang-barang Jeon, sangat telaten seperti seorang istri. Begitu manis. karna Jein sendiri tak kenal lelah untuk terus menemani Jeon selama dirumah sakit. Merasa harus membalas budinya pada Jeon dulu.


"Sudah selesai?" tanya Jein ketika melihat Jeon baru saja keluar dari kamar mandi, serta merta masih memperlihatkan handuk yang masih menggantung di lehernya. Khas seseorang yang baru saja mandi. Namun entah kenapa Jein merasa ia baru menyadari sesuatu, Jeon itu sangat tampan ya.


Tanpa menjawab pertanyaan Jein, Jeon menghampiri Jein dan melihat tas yang cukup besar sudah tertata rapih. Tentu Jein sudah membereskannya. "Kau yang merapihkannya?" tanya Jeon, dan Jein mengangguk.


"Agar kau tidak kelelahan." jawab Jein.


Jeon terkekeh mendengarnya. "Aku terbiasa melakukannya sendiri. Kau seharusnya tidak perlu mencemaskan aku lagi. Aku sudah sembuh." seru Jeon menyatakan bahwa dirinya tidak lemah, masih sekuat Jeon kecil dulu yang selalu membela Jein.


"Seharusnya kau ini mengucapkan terima kasih. Bukan malah berceramah." sindir Jein merasa sedikit sebal, karna merasa Jeon tidak membutuhkannya.


Jein berdecak. "Aish.. terdengar sekali bahwa kau terpaksa mengatakan itu."


"TIDAK!. Aku tulus! Aku tulus mengucapkan terima kasih padamu!" sanggah Jeon.


"Benarkah?" sambung Jein mencuriga.


"Iya! Aku sungguh tulus!" seru Jeon sekali lagi dengan menggebu.


Namun detik selanjutnya Jeon mendapati Jein tertawa, tidak cukup keras tapi berhasil membuat Jeon bingung. "Kau tertawa?"


"Iya.. Haha, wajahmu itu terlihat sangat lucu sekali. Tapi maaf aku tidak benar-benar marah, aku hanya berniat menggodamu saja haha." tawa Jein lepas karna berhasil membuat air wajah Jeon terlihat dongkol sekarang.


Jeon yang merasa tertipu menghimpit jaraknya dengan Jein, membalas dendam dengan mendekap wanita itu lalu menggelitikinya sampa mengaduh. Mengejar wanita itu menangkapnya, dan menggelitikinya kembali.


"Jeon-ssi.. Haha, ku mohon hentikan." ujar Jein berusaha melepaskan diri nya dari Jeon.


"Tidak!, kau harus terima pembalasan ku."


"Jeon! Hahahaha. Ku mohon." rintih Jein.


Tapi Jeon tidak mau, tidak juga mendengarkan rintihan Jein yang merasa geli, merekapun tertawa bersama, bercanda riang seolah tidak akan pernah ada siapapun lagi.


Masih asik dalam suasana canda tawa, tiba-tiba saja pintu terbuka, menampakan seorang pria lainnya, yang tak lain masih sahabat Jeon--Jimin.


Ceklek...


Sontak Jein dan Jeon menoleh ke arah pintu. Dengan menampilkan posisi dimana Jeon masih terlihat dalam keadaan seolah sedang memeluk Jein.


Terjadi jeda beberapa detik hingga berakhir Jimin berujar canggung. "Apa aku mengganggu kalian?" tanya Jimin terdengar canggung seolah merasa tengah menangkap basah sepasang kekasih yang sedang bermesraan. Merasa bersalah juga karna tak mengetuk pintu dulu sebelumnya.


Jeon berdecak merasa Jimin itu sedang bermain-main sekarang, dan Jeon langsung menjauhkan dirinya langsung dari Jein. "Apa yang kau bicarakan Jim! Sudahlah jangan berfikir yang tidak-tidak." seru Jeon merasa mengerti kearah mana Jimin berfikir. Kotor.


Pemikiran Jimin terkadang memang harus di cuci, ia tak jauh berbeda dengan Seokjin, terkadang Jimin suka sekali seenaknya masuk tanpa pernah permisi, hanya tau cara bersenang-senang, dan selalu ingin bersenang-senang.


Jimin hanya menyengir, tersenyum saat bahkan Jeon terlihat kesal. Kenapa Jimin harus muncul disaat-saat yang tidak tepat.


Kemudian Jeon memilih kembali bersiap dengan mengenakan mantel ketimbang harus menjelaskan, mengklarifikasi hal yang tidak penting pada Jimin, jelas Jimin tidak akan mau percaya. Tujuan Jimin sendiri datang memang karna permintaan Jeon. Meminta untuk di Jemput, meski bahkan Jein pun siap mengantarkan Jeon, tapi Jeon sangat tidak ingin pulang dengan naik taksi, perihal ia tak ingin menyetir karna baru saja pulih begitupun tak memperbolehkan Jein menggantikan dirinya juga untuk menyetir, tipekal terlalu menjaga Jein. Memikirkan Jein, padahal dirinyalah yang sedang sakit, tapi masih saja terus mengutamakan Jein.


Namun, saat tiba di parkiran tiba-tiba saja Jein mendapati ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk yang langsung membuat segala suasana perasaan baiknya berubah menjadi buruk seketika.


Taehyungie :


-    Mari bertemu.


-   Maafkan aku untuk kejadian beberapa tempo hari lalu.


-    Ku mohon, Aku akan hancur tanpamu.


Jein membeku di tempat, kesadarannya sedikit menjadi kabur, melamun ditempat, entah ingin membalasnya, menghapus, atau memblokirnya. Jein tidak tau.



"Han Jein! Ayo!" panggil Jeon yang sudah berada di dalam mobil dan masih melihat Jein melamun di luar memandangi ponselnya.


Tersadar setelah panggilan Jeon, wanita itu dengan kikuk langsung tersenyum, memasukan ponselnya, bersikap seolah tidak ada yang terjadi, lalu berjalan memasuki mobil yang sudah ada Jeon dan juga Jimin didalamnya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Jeon merasakan sikap Jein sedikit aneh.


Jein menggeleng lalu tersenyum. "Iya tentu!" sahutnya. Membuat Jeon merasa lega mendapati hal itu.


Semasa di perjalan tak ada yang berubah, masih sama suasana menjadi begitu amat canggung, Jimin sendiri tidak berani untuk membuka suara, perihal apa yang ia lihat tadi mungkin saja sudah membuat Jeon menahan marah, matilah Jimin jika Jein tidak ada, Jeon sudah pasti menghabisi Jimin.


***