
Jeon baru saja di kejutkan ketika ia tengah sibuk-sibuknya bekerja, sedang mencoba memfokuskan dirinya pada pembuatan rancangan baru, sejak pagi hingga kini, dan semua usahanya itu mendadak tiba-tiba menjadi pecah, fokusnya berantakan--kacau sekali. Karna mendapati suatu berita mengejutkan yang baru saja Seokjin katakan untuknya.
"Jeon!. Dia adalah tunangan Taehyung."
Sejak beberapa menit yang lalu Jeon terus saja berusaha mencerna sederetan kalimat itu, yaitu berita besar yang baru saja Seokjin sampaikan, mendadak membuat kepala Jeon sampai berhenti bekerja sekitar 20 detik.
Bukan tanpa alasan, atau juga tiba-tiba saja Seokjin berucap setelah mendapat berita secara acak, random, ataupun berita asal dari sumber yang tidak jelas. Tentu saja Seokjin bukanlah orang yang kurang kerjaan untuk melakukan hal semacam itu, jelas sekali mereka tidak dalam kondisi dimana mereka bisa bermain-main dengan perihal cerita hidup mereka yang terbilang cukup serius kerumitannya dan jauh dari kata percaya akan gosip dinding tetangga.
Jelas semua hal ini tentu terdapat sebuah hukum sebab dan akibat, yang selalu menjadi garis-line pedoman pemikiran mereka.
Dan tentu bukan semata-mata kurang kerjaan, karena sebetulnya hal ini disebakan dengan permintaan khusus Jeon sendiri pada Seokjin sebelumnya, dimana Jeon meminta menyelidiki bagaimana hubungan Taehyung dengan guru Ahra setelah mendapati telpon dari Jimin beberapa malam lalu, rasanya Jeon tak bisa lagi membendung rasa keingintahuanya, ingin sekali mengetahui sejauh mana hubungan guru Ahra itu pada anak selingkuhan ayahnya---Taehyung. Hingga akhirnya meminta Seokjin mengirimkan beberapa detektif hanya untuk mencari tau hal itu, hanya dengan alasan Jeon telah menyukai guru Ahra---Jeon mengincar guru Ahra. Dan membuat Seokjin langsung mengabulkannya begitu saja.
Diluar dugaan, Jeon malah menemukan fakta lain---cukup mengejutkan, dimana guru Ahra sebenarnya tak-lain adalah tunangan Taehyung, bukan hanya itu. Informan Seokjin itu memang tidak main-main perihal mencari informasi, hal mengejutkan lainnya Jeon dapati. Informannya telah mendapati sebuah kabar bahwa mereka--Taehyung & guru Ahra baru saja putus.
Berita semacam itu tentu saja tidak sulit untuk di dapat, Taehyung bukanlah orang biasa yang kisah percintaannya terkadang bisa menjadi sebuah materi gosip beberapa karyawannya. Meski ya wajah wanita Taehyung tak pernah diungkap secara jelas, tentu karna Taehyung terkesan sangat menutupi kisah cintanya. Namun tidak dengan desas-desus. Mengenai Taehyung yang beberapa kali tertangkap basah di Bar, bersama wanita lain bukan tunangannya dan berhasil di kenali oleh salah satu karyawan.
Kemudian gosip berakhir dimana kabar tak sedap lainnya timbul, Taehyung berselingkuh hingga ada sebuah gosip ia memiliki seorang anak dari wanita lain yang bukan tunangannya, hingga mereka akhirnya putus. Ini yang terpanas.
Brengsek sekali Taehyung itu. Pikir Jeon. Buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya. Kalimat itu bernarasi dengan klasik di benak Jeon.
Jeon sempat melihat beberapa lembar bukti photo yang di berikan oleh Seokjin, berisikan Taehyung yang sedang berada di sebuah Bar yang sangat ia kenali tempatnya--Bar Jimin. Bersama dengan seorang wanita yang mengenakan gaun kurang bahan dihadapannya, ada beberapa photo dengan waktu yang berbeda sepertinya mereka tidak hanya bertemu satu kali saja.
Entah kenapa hal ini menjadi sangat begitu menarik bagi Jeon, ia jadi sangat ingin tau sekali.
"Hyeong.. Tolong mintakan bukti yang lebih akurat lagi mengenai siapa wanita itu."
Seokjin menaikan alisnya, mendadak bingung, kenapa Jeon sangat ingin tau sekali mengenai Taehyung, padahal sebelumnya Jeon terang-terangan menyatakan bahwa dirinya membenci Taehyung, ingin mengalahkan Taehyung.
"Tunggu. Untuk apa kau ingin mengetahui hal itu? Bukankah hal itu tidak penting bagimu?" Seokjin langsung menembak rasa penasarannya, ia paham Jeon itu memang pasti selalu ada hal yang terselubung saat melakukan sesuatu.
Jeon tercenung, sebenarnya apa yang Seokjin katakan ada benarnya, untuk apa juga dirinya ingin mengetahui perselingkuhan Taehyung, perduli apa dirinya---bahkan masa bodo. Namun sesuatu yang mengganjal pada diri Jeon bergejolak, ingin tau sampai ke akarnya, ingin tau segala halnya, atau sebenarnya Jeon ingin tau kebenaran dan jika iya yang ada di fikiran Jeon adalah nona Han mungkin saja telah menjadi korban, tersakiti oleh Taehyung.
Merasa Jeon terus terdiam, Seokjin kembali memancing dengan pertanyaan lainnya. "Jeon sebelum itu, bisakah kau memberitahuku siapa Taehyung sebenarnya? apa hubunganmu dengannya?" sejak dulu hal inilah yang sangat ingin Seokjin ketahui langsung dari mulut Jeon sendiri meski sebenarnya Seokjin telah mendengar banyak desas-desus mengenai perselingkuhan ayah Jeon, hanya saja Seokjin memilih untuk berpura-pura tidak mendengar dan menganggap hal itu hanya angin lalu saja.
Kedua mata Jeon melebar, seakan tak percaya Seokjin akan mengeluarkan pertanyaan semacam itu yang jelas berita itu bahkan sudah tersebar luas sejak dulu--menjadi makanan gosip banyak orang diluar sana, dan ayahnya sendiripun tak pernah melakukan klarifikasi pembelaan ataupun mencoba menyangkal gosip itu sama sekali, maka dari itu Jeon sendiri juga selalu berusaha untuk tetap bungkam tak ingin sekali menjawab apapun mengenai hal itu, perihal itu hanya akan membuka luka hatinya saja.
"Tidak ada." jawab Jeon begitu singkat, acuh--kelewat malas sekali menjawab.
Jeon tidak sepenuhnya salah, ia benar, ia memang tak memiliki hubungan apapun pada Taehyung, yang memiliki hubungan hanya ayahnya saja, bukan Jeon. Setidaknya ia beranggapan begitu.
Namun, untuk kali ini saja Seokjin tidak mau menyerah, menatap Jeon dengan kecurigaan. "Aish.. Hanya katakan, apa yang beredar itu benar? Jeon." terdengar erangan yang cukup dapat Jeon rasakan bahwa Seokjin mulai geram.
Jeon membuang padangannya ke arah lain, muak sekali ketika harus kembali membicarakan ini. "Iya, dia anak selingkuhan ayahku." ucap Jeon begitu saja. Memilih mengakui ketimbang menyangkal, entah pilihannya tepat atau tidak, setidaknya Seokjin dapat Jeon percayai.
Dan Seokjin tak kuasa melebarkan kedua matanya, membulat, tercengang. "Jadi itu semua benar?!. Gila!" Seokjin mengumpat seketika, menggebrak meja begitu saja melampiaskan rasa kesal yang tak terbendung, desas-desus yang Seokjin telah dengar begitu banyak sekali, namun Seokjin mencoba untuk tidak mempercayainya selama ini karna Jeon sendiri tidak pernah mengatakan apapun.
Dan Seokjin kembali mengingat satu hal yang telah membuat Jeon memilih bekerja padanya. "Dan ayahmu itu memberikan perusahaannya pada anak selingkuhannya di banding dengan dirimu?!. Yang benar saja!" maki Seokjin menatap Jeon kini tak percaya, benar-benar tak terima.
Seokjin menjadi tidak heran lagi kenapa Jeon selama ini sangat ogah-ogahan untuk mendatangi sang ayah, malahan ingin sekali menghancurkan dengan cara bersaingan dengan sang ayah.
Jeon tidak ada niatan sedikit untuk membuka segalanya, tapi rasanya ia memang membutuhkan itu agar Seokjin mau sepenuhnya berada di pihaknya, Jeon membutuhkan Seokjin. "Sudahlah Hyeong tidak ada gunanya untuk terus memikirkan hal itu." sanggah Jeon.
"Tapi Jeon ayahmu membuangmu!" ucap Seokjin tak habis fikir, terkesan ia sekarang sangat marah dan terbakar sekali.
Jeon hanya tersenyum kecut mendengar itu, lucu sekali ketika ada orang lain yang marah dan kesal karna kisah hidupnya. "Iya aku tau, tidak perlu kau beritahu."
"Kau tertawa?!"
"Lalu apa aku harus menangis Hyeong?"
"Tentu tidak!. Kau harus tertawa sebanyak mungkin!"
Kemudian Jeon malah terbahak, Seokjin menjadi terlihat begitu perduli dan galak secara bersamaan sangat terkesan seperti ibu-ibu sekali. Seokjin itu memanglah keibuan. Mungkin jika Seokjin seorang wanita ia sudah tua karna hoby-nya memarahi orang lain. Ckck.
"Kenapa kau menjadi begitu lucu hari ini." gurau Jeon lebih ingin mengejek.
Namun respon Seokjin kali ini masih sama nada suaranya masih cukup meninggi seperti orang marah. "Iya! Aku ini memang lucu. Jeon dengar. Bagaimanapun juga. Apapun yang terjadi ingatlah aku akan selalu berdiri di pihakmu! Mengerti?" tawa Jeon mereda mendengarnya, sedikit tersentuh dan merasa lega bersamaan.
Jeon mengangguk. "Terima kasih Hyeong"
***
Pagi hari ini. Mendadak Jeon merasa dirinya sangat tidak sehat, merasa begitu lemas dan dingin secara bersamaan. Mencoba terbangun tetapi ia tak sanggup badannya terlalu lemah sekali rasanya, sejujurnya Jeon memikirkan bagaimana caranya ia dapat membangunkan Ahra untuk bersekolah sekarang. Mencoba berkali-kali bangun tapi ia malah tergontai, jatuh dan lemas sekali. Hingga ia menyerah dan memilih terbaring di tempat tidur saja untuk sebentar, mungkin 10-15menit untuk mencoba mengumpulkan sedikit tenaganya.
Belum sampai 10 menit tapi pintu kamar Jeon terbuka, menampakan putri kecilnya yang masih terlihat sangat mengantuk berjalan mendekat ke arah Jeon, berjalan dengan gontai khas anak kecil baru bangun tidur sekali. "Kau sudah bangun rupanya." ujar Jeon dengan helaan nafas kelegaan, setidaknya tugas ekstranya sedikit berkurang untuk membangunkan Ahra.
"Appa.. Kenapa masih di tempat tidur?" tanya Ahra memandang Jeon bingung.
Jeon tersenyum mendengar pertanyaan itu, putrinya pasti kini merasa heran karna biasanya Jeon tengah terbangun dan menyiapkan sesuatu makanan kecil setidaknya untuk sarapan Ahra. Namun pagi ini justru Ahra malah melihatnya masih terbaring. Jeon mengerti Ahra masih terlalu kecil untuk memahami situasinya.
"Ahra.." panggil Jeon, suaranya semakin melemah.
"Ne?.. Appa."
"Bisakah telponkan Paman Jim?, atau Paman Jin?. Appa sedang tidak sehat sekarang. Minta Paman untuk mengantarmu ya." ujar Jeon dengan sisah-sisah tenaga yang ia miliki, kemudian Jeon kembali memejamkan matanya yang begitu terasa berat sekali.
Detik berikutnya Ahra memajukan tangannya, menyentuh kening Jeon dengan punggung tangan mungilnya. Terasa amat panas sekali, membuat kedua mata Ahra mebelalak seketika. "Appa sakit?" tanya Ahra. Bahkan suaranya kini terdengar gemetar, seperti panik atau dirinya tengah menahan tangis. Jeon mengangguk, mengiyakan pertanyaan putrinya itu.
Kemudian yang Ahra lakukan memeluk sang Ayah, menangis di pelukannya. "Hikss... Hiks.. Appa.. Jangan sakit." gumam Ahra masih di pelukan Jeon.
Ahra kemudian mengambil ponsel sang ayah dan mencoba menelpon paman-pamannya itu. Wajah Ahra cukup terlihat panik, namun juga begitu terlihat sangat polos layaknya anak kecil. "Appa...." rengek Ahra bercampur khawatir melihat ayahnya terlihat begitu pucat sekali.
Mencoba menelpon Jimin, namun Jimin tak kunjung menjawab panggilan Ahra. Sehingga Ahra pun segera mencoba menelpon pamannya yang lain---Seokjin.
Dering pertama... Dering kedua....
"Hallo.. Jeon? Ada apa?" terdengar jawaban Seokjin setelah hampir dering ketiga. Mengira Jeon yang telah menelponnya.
Namun yang Seokjin dengar adalah suara Ahra yang terisak. "Hiks.. Paman Jin!, Appa sakit.. Hiks.. Bisakah paman kemari sekarang?" ujar Ahra disertai isak tangis. Langsung mengatakan hal yang terjadi.
Seokjin yang mendengar suara Ahra pun terikut panik hingga langsung terdengar dari beberapa suara langkah kaki yang ia buat seperti Seokjin telah berlari entah ia sedang berada dimana, namun hentakan kakinya cukup kuat terdengar. "Ahra sayang tenang ya, paman akan kesana sekarang juga." jawab Seokjin begitu saja, nada suaranya begitu panik sekali.
Lalu sambungan terputus.
Jeon yang mendengar isakan Ahra kembali membuka matanya. Memandangi putrinya itu dengan cemas karna ia menangis. "Hey.. Kenapa putri appa menangis?. Appa akan baik-baik saja." ucap Jeon kembali.
Namun tak ada jawaban dari Ahra, ia hanya terus saja menangis hingga Jeon sendiri tak tau harus melakukan apa sekarang. Ia benar-benar sudah tak memiliki cukup tenaga. "Ahra bisa berikan ponsel appa?" pinta Jeon yang langsung di setujui Ahra.
Hanya ada satu orang di dalam pikiran Jeon yang dapat ia hubungi dan akan membuat Ahra bisa kembali tenang. Benar, orang itu adalah guru Han.
Jeon mencoba menghubungi guru Han.
Tanpa diduga respon sang guru begitu tanggap saat dering pertama sudah menjawab panggilan Jeon.
"Hallo.. Tuan Jeon? Selamat pagi." sapa sang guru terdengar begitu ramah, seperti biasa.
Jeon sempat terbatuk beberapa kali, hingga akhirnya ia kembali mampu berbicara. "Maaf, Nona Han.. Bolehkah aku meminta bantuan mu.." tanya Jeon. Melirik Ahra yang masih berada disampingnya.
Sang guru sempat merasa keheranan tiba-tiba saja orang tua muridnya menelpon di pagi hari, dan tiba-tiba saja meminta sebuah bantuan. "Bantuan apa yang bisa saya lakukan untuk anda tuan?"
Jeon kembali berbatuk lagi. Namun tidak begitu separah diawal. "Begini, aku sedang tidak begitu sehat. Bisakah anda menjemput Ahra untuk bersekolah?. Sepertinya Ahra akan berhenti bersedih jika begitu."
Sementara Ahra di samping Jeon masih terus terlihat murung. Kemudian berkata. "Appa, Ahra tidak ingin pergi ke sekolah hari ini."
Mendengar ucapan putrinya Jeon menggelengkan kepalanya. "Kau harus tetap sekolah sayang." kata Jeon begitu lembut.
"Tapi Appa sedang sakit, Ahra tidak mau meninggalkan appa." rengek Ahra terlihat begitu sedih sekali.
Guru Han sendiri samar-samar mendengar hal itu merasa terenyuh sekali. "Tuan Jeon, tenang saja. Berikan alamatmu padaku, aku akan segera datang!" guru Han begitu sangat lantang mengucapkannya. Membuat Jeon merasa lega sekaligus bersyukur akan ada orang lain yang bisa menjaga Ahra.
"Terima kasih.. Nona Han" balas Jeon.
Detik berikutnya, kenyataan kembali terlintas di benak Jeon, mengingat siapa nona Han sebenarnya adalah tunangan Taehyung, lebih tepatnya mantan.
***