
Disinilah sekarang Jein menginjakan kakinya, menghadap tegap kearah sebuah gedung yang bertingkat, mungkin tidak mencapai 10 lantai tingginya, namun ini cukup tinggi untuk sebuah gedung rumah sakit.
Mari mulai sekarang jangan menyebutkannya dengan begitu formal lagi, tidak dengan guru Han ataupun nona Han. Jein terdengar lebih baik.
Jein mengenang beberapa masalalu dibenaknya, memorial yang terkenang begitu cukup indah dan tak terlupakan baginya. Mengingat, Seorang teman baik saat dirinya masih berada di sekolah dasar. Anak laki-laki yang pemarah, dingin, dan dia adalah teman yang selalu menjaga Jein.
Semasa sekolah, terkadang ada para senior bisa di bilang adalah kakak kelas Jein pernah melakukan bullying, mengerjai Jein, mengganggu Jein yang sedang bermain saat istirahat, mengambil bekal Jein, menarik tas serta segala macam yang bisa membuat Jein kesal, marah, dan bahkan menangis, sering sekali di lakukan para senior itu, Jein yang kala itu masih sangat kecil berumur sekitar 7 tahun hanya bisa menangis tanpa ada keinginan untuk mengadukannya kepada guru.
Namun pembullyan itu tak berlangsung lama, karna seorang anak laki-laki datang membela Jein sebenarnya ia adalah teman sekelas Jein, Jein pernah melihatnya, hanya saja anak laki-laki itu terlalu pendiam, tidak begitu ramah, sangat dingin dan tak pernah terlihat berbaur dengan kawan lainnya. Sejak saat itu dimana anak itu mulai bicara dengan bahasa yang menurut Jein sangat terdengar dewasa sekali untuk seorang anak seumuran mereka. Anak laki-laki itu mengatakan pada Jein untuk tidak perlu merasa takut lagi, ia akan menjaga Jein ketika para senior itu akan mengganggu kembali, maka Jein hanya cukup berada di sampingnya saja, Jein akan aman jika bersamanya. Mulai saat itu pula Jein merasa begitu terlindungi tidak lagi untuk takut setiap kali berada di sekolah, karna iapun selalu berada bersama anak laki-laki itu, kemanapun Jein pergi harus ada pada jarak pandangnya. Jika ke toilet saja, Jein baru akan pergi sendiri. Dan dimulai dari saat itu mereka menjadi begitu sangat dekat sekali, seperti sahabat yang tak terpisahkan.
Hingga kejadian itu datang, anak laki-laki itu tiba-tiba saja diserang dengan sangat brutal saat di sekolah tentunya itu hasil perbuatan para senior yang tak terima karna anak laki-laki itu bertindak sok pahlawan, membuat kehebohan pada masanya, bahkan sampai membuat kepala sekolah ikut turun tangan hanya untuk menuntaskan permasalahan karna orang tua anak laki-laki itu merasa tak terima dan menuntut para penyerang, kemudian Jein pun diakui sebagai sumber dari permasalahan sehingga Jein akhirnya dipindahkan oleh orang tuanya ke desa mereka. Meninggalkan sahabatnya, sang pelindungnya, hingga kini Jein tak pernah mendengar kabar apapun lagi mengenai sahabatnya itu. Padahal Jein belum pernah mengatakan terima kasih pada anak laki-laki itu.
Jein menghembuskan nafasnya, mengeluarkan oksigen yang pernah masuk ke dalam rongga paru-parunya kemudian mengganti dengan menghirup oksigen yang baru, yang lebih segar, menikmati proses bernafas seperti biasanya. Mengingatnya terkadang membuat sesak sekaligus merasa lucu, karna ia pernah melewati masa-masa seperti itu.
Berada tepat di depan sebuah gedung rumah sakit, menatap kearah pantulan kaca-kaca yang cukup tinggi dan menyilaukan karna pancaran sinar matahari.
Rumah sakit Gong Tae. Tempat dimana Jeon dirawat.
Jein sempat menanyakan perihal beberapa hal dengan Seokjin, tak begitu banyak tapi cukup untuk mengetahui di kamar berapa Jeon berada. Hingga kini Jein tau dimana letak kamar Jeon, melangkahkan kakinya dengan ragu namun pasti, seperti akan menemui seseorang yang begitu penting baginya, seseorang yang sangat lama tak pernah ia temui, merasa seperti sangat berdebar padahal ia sudah pernah beberapa kali bertemu dengan Jeon, ayah dari Ahra--muridnya. Seharusnya ia tidak perlu merasa terlalu gugup, benar ia sudah pernah bertemu Jeon sebelumnya.
Wanita itu kini mengetuk pintu sebuah kamar beberapa kali, menerapkan ajaran sopan lainnya layaknya seorang guru. "Permisi." ujarnya memeriksa, takut-takut jika saja Jeon sedang tertidur dan beristirahat.
Benaknya begitu saja secara otomatis menghitung, menunggu respon Jeon, detik satu, dua, tiga......... Sepuluh, sebelas.... Hingga duapuluh.
Sungguh Jein tak mendapati jawaban, hingga ia merasa harus kembali mengetuk pintunya. Kepalan tangannya yang masih melayang di udara mengambang hampir mencium daun pintu mendadak terhenti, setelah mendengar.
"Nona Han?"
Langsung saja Jein menoleh kebelakang dan malah mendapati Jeon berdiri tak jauh darinya dengan sebelah tangan serta-merta mendorong tongkat infus yang sedang dikenakannya.
Jeon sendiri baru saja dari luar mencari udara segar yang bisa membuat pikiran kusutnya kembali jernih, kemudian saat kembali malah melihat Jein berdiri di depan pintu kamarnya, terlihat mengenakan pakaian casual sangat santai tidak seperti biasa saat menjadi seorang guru, Jeans--t-shirt--outer begitu terlihat seperti seorang gadis yang sedang ingin menjenguk pacarnya.
"H-hallo." sapa Jein entah kenapa bibir Jein mendadak kelu, merasa gugup telah melanda dirinya tanpa sebab yang jelas.
Jeon yang kebingungan hanya menatap Jein dalam diam seperti sedang menerka sesuatu, sebelah alisnya terangkat. "Menjengukku?" tanya Jeon kala melihat sebuah buah tangan yang Jein bawa.
Jein mengangguki, "Ya, Saya membawakan beberapa pear, dan apel. Untuk anda." jawab Jein, sungguh ekspresinya pasti sudah terlihat begitu aneh sekarang, memaksakan senyum demi terlihat ramah seperti biasa meski jantungnya hampir saja mencelos keluar dari tempatnya.
Jeon pun ikut tersenyum, kemudian berjalan hendak kembali kedalam kamarnya, diikuti dengan Jein yang membantu Jeon membukakan pintu.
Sementara itu Jein masih berusaha bersikap tenang, mengendalikan dirinya yang menjadi begitu sangat gugup sekali, menutupi itu agar tak terlihat. "Anda pergi keluar sendirian?" tanya Jein berusaha memecahkan suasana.
Jeon yang sudah kembali ke ranjangnya dan terduduk disana mulai mengarahkan pandangannya pada Jein yang telah menjenguknya, Jeon sempat merasa aneh sebelumnya karna guru Ahra itu tiba-tiba datang menjadi begitu terlihat sangat peduli sekarang.
"Eum.. Sedikit pengap dikamar terus, ingin mencari udara segar." jawab Jeon menjelaskan, meski sebenarnya Jeon sudah merasa sangat bosan berada dirumah sakit, tapi ia tak memiliki pilihan.
"Anda itu sangat memerlukan istirahat agar cepat pulih. Jangan terlalu lama berada diluar, jangan buat diri anda merasa kelelahan." ujar Jein begitu saja, seperti sedang menasehati teman sendiri agar tak membandel ketika sakit.
Jeon jadi tercenung sendiri saat mendengar itu. Merasa seperti ada seseorang yang begitu sangat memperdulikannya, memperhatikannya.
Jein kemudian mendekat ke nakas yang berada tak jauh dari ranjang Jeon meletakan buah-buahan yang ia bawakan untuk Jeon disana. Jeon sendiri menjadi begitu saja memperhatikan gerak-gerik Jein sekarang, membuat perasaan aneh itu menjadi semakin kuat Jeon rasakan.
Namun pikiran itu buru-buru Jeon singkirkan, mengingat wanita yang ada dihadapannya kini adalah mantan tunangan dari seseorang yang sangat ia benci, tapi tak juga memungkiri bahwa bisa saja wanita itu telah menjadi korban, terluka atas perbuatan Taehyung. Selingkuh. Cih, sungguh Jeon membencinya.
Pertanyaan tiba-tiba itu langsung membuat Jeon tersadar dari lamunanya. "Apel. Aku ingin apel." jawab Jeon tanpa berfikir, lalu menerima begitu saja buah apel yang Jein ambilkan untuknya, menggigit dan mengunyahnya begitu saja. Mencoba mengalihkan pikirannya, menyingkirkan segala pikiran konyol agar tidak membuat dirinya merasa canggung.
Namun Jeon melupakan sesuatu, melupakan bahwa Jein telah memiliki etikat sungguh baik, menjenguk Jeon yang bukan siapa-siapa, seharusnya Jeon berterima kasih untuk satu hal itu.
"Nona Han, terima kasih ya kau telah menjengukku. Kau tau? aku tidak memiliki siapapun lagi selain Ahra putriku, tapi kau sungguh begitu perduli, aku merasa begitu tersentuh. Terima kasih ya." ujar Jeon, satu tangan yang memegang apel terangkat menunjukan bahwa ia juga berterima kasih untuk buah itu, tak lupa dengan senyum terbaik yang bisa ia tunjukan.
Bagus, Jeon baru saja menyatakan bahwa kehidupannya sendiri sungguh menyedihkan, bahkan di depan Jein yang notabennya bukan siapa-siapa. Semakin terlihat menyedihkan dengan didukung oleh situasi serta kondisi yang sekarang sedang ia hadapi. Sendirian, tidak memiliki siapapun disisinya.
"Tidak. Seharusnya akulah yang berterima kasih padamu."
Jeon yang sedang asik mengunyah terhenti begitu saja, kembali menatap Jein.
Terkekeh merasa wanita itu sedang membuat lelucon, meledek Jeon. "Apa maksudmu? Jelas kau yang menjengukku masa kau yang harus berterima kasih." Jeon menganggap seperti itu pemikiran Jein. Sangat konyol.
Namun kembali tersadar dan merasa aneh, sadar Jein tak lagi menggunakan kata formalnya seperti anda maupun saya.
Detik berikutnya Jeon melihat Jein mengocek tasnya, memeriksa sesuatu begitu tergesah, sangat cepat kemudian mengeluarkan suatu benda. Mengulurkan tangannya itu yang menggenggam sesuatu pada Jeon lalu membukanya tepat di depan wajah Jeon.
Jeon sempat merasa bingung sekali sebelumnya, kembali menerka apa maksudnya, sehingga ia dapat kembali teringat akan benda itu, benda yang berada di tangan Jein. Kedua matanya melebar sempurna, membulat dan terlihat begitu besar. Menatap Jein tak percaya.
Sebuah kalung dengan bentuk liontin yang terdapat photo kecil didalamnya, terlihat sangat tua, namun masih begitu terlihat baik karna mungkin saja Jein menyimpannya dengan baik.
"Ini? Darimana kau mendapatkannya?!" tanya Jeon menatap Jein begitu sangat mengintimidasi. Merasa sangat heran sekali.
Benda itu milik Jeon, jelas itu miliknya, tentu Jeon sangat mengingatnya, benda yang sangat begitu berharga baginya dan Jeon pernah menghilangkannya sehingga membuatnya hampir kesal setengah mati kala itu. Benda peninggalan mendiang sang ibu. Jeon selalu menjaga benda itu dengan baik, namun benda itu telah hilang bersamaan dengan temannya yang juga telah menghilang dulu.
Tak kuasa, mata Jein mendadak berkaca-kaca. Seperti benar-benar telah kembali menemukan teman lamanya, pelindungnya. "Ini aku kembalikan padamu," satu tangan Jein meraih tangan Jeon lalu meletakan kalung itu disana. "Lama tidak bertemu Kookie-ya." diakhir setelahnya kata itu keluar begitu saja.
Jeon terdiam, otaknya mendadak tiba-tiba saja berhenti bekerja.
Namun Jein tentu tak merasa begitu nyaman dengan kediaman Jeon. "Maaf, aku telah membawa itu karna aku tak sempat mengembalikan padamu dulu, aku menemukannya di taman, setelah penyerangan itu. Sepertinya benda itu terjatuh darimu." Jein bernarasi, bercerita seolah Jeon telah menyadari semuanya, seolah semuanya tak terjadi apa-apa, padahal Jeon masih sangat begitu terkejut.
Jein tau, anak laki-laki itu selalu mengenakan kalung itu dulu, dan dengan bangga mengatakan itu adalah pemberian dari ibunya yang telah meninggal. Tentu Jein merasa bahwa kalungnya itu pasti sangat berharga jadi Jein memutuskan untuk menyimpannya karna tak lagi memiliki kesempatan untuk mengembalikan. Tapi sekarang ia dapat mengembalikannya. Sungguh melegakan.
Jein dikejutkan dengan tindakan Jeon yang tiba-tiba menarik tangannya, lebih tepatnya pergelangan. "Siapa kau?!" tanya Jeon nada suaranya begitu tak suka. Sangat dingin sehingga bahkan Jein merasa merinding, sedikit takut.
Tangan Jein bergetar tanpa sadar, tatapan mata Jeon begitu benar-benar menakutkan tidak sehangat sebelumnya. "K-kookie.. Kau membuat-ku t-takut." Jein dilanda kegagapan.
Hingga hal tak terduga membuat Jein terkejut setengah mati, Jeon kembali menariknya namun kedalam pelukan. Memeluk Jein begitu erat.
"K-kook.."
"Diam!" sela Jeon. "Jangan bicara!"
Ada apa dengan Jeon, membuat Jein merasa sangat bingung sekali, namun tangannya tak luput untuk membalas serta memeluk Jeon. Jein juga telah sangat merindukan sahabatnya itu.
Pemikirannya mengenai mantan wanita Taehyung yang melekat pada Jein menjadi lenyap begitu saja, tidak lagi diperdulikan. Yang ada hanya sih gadis cengeng yang sejak dulu sangat ingin ia lindungi, sekalipun dengan tubuhnya yang menjadi hancur.
Samar-samar Jein merasakan bahunya telah basah, merasa seperti Jeon telah menangis. Apakah Jeon sebegitu merindukannya. Seberarti itukah persahabatan mereka.
***