Jeon Appa

Jeon Appa
Jimin Park



Weekend telah tiba..


Ahra bahkan Jeon sendiri terbiasa bangun siang hari ketika hari libur. Namun tidak untuk weekend kali ini, karna tiba saja ada sebuah pengganggu yang telah datang dan mengusik indahnya pagi libur Jeon.


Dan orang itu tak lain adalah Park Jimin.


"Untuk apa kau kesini sih?!" cerocos Jeon setelah membukakan pintu untuk Jimin.


Jimin tak memperdulikan ucapan Jeon dan hanya menganggapnya angin lalu saja. Ia tau dan mengenal sahabatnya itu selalu seperti itu. sakras. "Dimana bayimu itu?. Ahra" tanya Jimin melihat sekeliling dan tidak menemukan sosok mungil yang sedang ia carinya.


"Masih tertidur, aku selalu mengizinkannya untuk bangun siang ketika libur. Kau saja yang menganggu." jawab Jeon yang kini mengambil dan membuka sebuah kotak Jus dari lemari pendingin, lalu di tuangkan ke beberapa gelas. Untuknya dan Jimin.


Wajah Jimin dibuat-buat menjadi ekspresi sedikit kecewa. "Huh.. Padahal aku ingin sekali mengajaknya bermain. Kau contoh ayah yang buruk!. Kau tau!" bibirnya ia buat mengerucut setelah mengatakan hal itu.


Lalu bagaimana dengan Jimin? Jika Jeon adalah contoh ayah yang buruk. Apa Jimin lupa bahwa memiliki sebuah bar juga bukanlah hal yang baik jika suatu saat ia memiliki seorang anak. Ahh tidak, saat menikahpun bagaimana bisa ia akan mendapatkan wanita dari kalangan baik-baik untuk dijadikan istri. Jeon yakin Jimin tak akan mampu menemukan wanita yang baik, tidak Jimin akan sangat kesulitan untuk menikah.


"Seperti kau tau saja bagaimana cara menjadi ayah yang baik!" balas Jeon tak terima, sukses membuat Jimin bungkam padahal jelas Jimin hanya berniat menggoda Jeon saja.


"Apa itu yang kau bawa?" sesaat meneguk jusnya Jeon melirik paper-bag besar yang Jimin bawa sejak tadi.


Kini senyum Jimin melebar, terlihat sangat antusias saat mengeluarkan apa isinya. "Beruang, untuk bayimu!" jawab Jimin antusias sekali, maksudnya adalah boneka beruang berwarna pink dengan pita di lehernya, cukup besar sekali.


Jeon memutar bola matanya. "Jim!. Ahra itu sudah bukan bayi lagi." protes Jeon merasa terganggu dengan sebutan Jimin pada ahra.


Dan sekali lagi, Jimin tak memperdulikan protesan Jeon. Hanya menggidikan bahu dengan begitu acuh.


Beberapa saat terdiam dalam keheningan, Jeon yang mencoba menyiapkan sarapan, dan Jimin yang memainkan ponselnya menunggu Jeon yang sedang memasak. Waktu yang cukup lama, hingga Jeon menyelesaikan masakannya. "Jeon.." panggil Jimin tiba-tiba saja.


"Kenapa?"


"Ayahmu. Apa kau sudah mengunjunginya?" tepat saat pertanyaan itu dilontarkan Jeon yang tiba-tiba saja kehilangan konsentrasi menjatuhkan beberapa sendok dan garpu sehingga menimbulkan bunyi dentuman.


*PRAK!*


Seperti kehilangan sistem kerja otaknya, Jeon menjadi terlihat begitu ling-lung hingga menjatuhkan benda-benda lainnya. "Jeon kau baik-baik saja?" tanya Jimin yang khawatir melihat sahabatnya itu kini.


"Aku tak ingin mengetahui hal itu Jim. Jadi jangan katakan apapun lagi mengenai ayahku." jawab Jeon lalu kembali membereskan beberapa hal yang telah kacau karnanya.


Menunggu berdua dengan Jeon sampai ahra bangun dengan sendirinya itu sungguh membosankan bagi Jimin. "Akan ku bangunkan ahra saja jika begitu." oceh Jimin hendak beranjak namun terhenti karna Jeon mengintrupsi.


"Tunggu!" Jeon berjalan kearah lemari pendingin mengambil sesuatu dari sana untuk diberikan pada Jimin.


"Ini.. gunakan ini, ahra akan langsung terbangun." ucap Jeon memberikan sebuah coklat yang selalu siap sedia untuk membangunkan ahra di lemari pendinginnya.


Jeon menatap Jimin, menunggu temannya itu melanjutkan ucapannya.


"..Sebelumnya aku berfikir kau taakan mampu merawat ahra dengan baik saat kau memutuskan untuk mengadopsinya. Tapi, aku akui aku salah.. Kau adalah ayah yang hebat Jeon!" ujar Jimin dengan menaikan satu tangannya keatas mengibaskan coklat yang ada ditangannya pada Jeon.


Jimin itu adalah orang yang paling menentang Jeon dulu untuk mengadopsi bayi itu, brengsek memang. Jimin itu selalu bilang apapun yang akan dialami bayi itu bukanlah urusan Jeon, jika sekalipun bayi itu akan berakhir di panti asuhan, Jeon bukanlah orang yang seharusnya bertanggung jawab pada bayi itu, yang Jimin sangat takutkan sebenarnya bagaimana Jeon akan merasa semakin kesulitan nantinya saat merawat ahra, Jimin bukan brengsek, dia sangat memikirkan sahabatnya itu, Jimin takut bahwa Jeon akan kembali terluka lebih dalam ketika ia merawat bayi itu dan melihat bagaimana kisah bayi itu sangat mirip dengan kisah hidup dirinya sendiri--yaitu kisah Jeon.


Tetapi, Melihat bagaimana Jeon memilih mengadopsi ahra dengan bersikeras, merawat ahra, menyayangi seperti putrinya sendiri, bahkan memahami bagaimana kebiasaan putrinya itu, apa yang disukai dan seperti apa caranya, membuat Jimin merasa takjub pada sahabatnya itu. Yang selama ini Jimin pikir Jeon hanya bisa menyalahkan sang ayah atas kasus perselingkuhan, tidak pernah menghormati sang ayah serta tak ingin di atur. Itu semua memang bukan sepenuhnya kesalahan Jeon, Jeon sudah berusaha sangat keras untuk berubah kala itu. Tapi yang ia dapatkan hanya kekecewaan kembali dari ayahnya. Jimin tak akan lagi menyalahkan Jeon atas kasus itu. Sepertinya cukup hanya dengan Jeon yang merawat ahra, membuktikan bahwa Jeon bisa bersikap baik pada orang lain.


Jeon berdecak, tersenyum begitu geli melihat tingkah sahabatnya yang terlihat sangat tak cocok dengan karakter aslinya yang bahkan dirinya memiliki sebuah bar. Harusnya Jimin itu bersikap misterius, bukan malah menjadi anak TK yang sepertinya sudah terlihat begitu kekanak-kanakan.


"Hentikan bualanmu!. Dan lebih baik kau bangunkan putriku saja!" suruh Jeon.


Jimin lenggang begitu saja ke kamar ahra, dimana kian ia melihat bocah kecil itu begitu sangat pulas tertidur, terlihat seperti terlalu nyaman dengan alam mimpinya. Entah sejak kapan Jimin juga turut menyayangi ahra, terkadang saat melihat ahra Jimin merasa ahra mirip dengan seseorang, begitu mirip hingga kadang berfikir mungkin saja karakter atau beberapa wajah mereka yang memang ditakdirkan untuk terbentuk menjadi mirip, tapi Jimin tak pernah berfikir secara pasti ahra itu mirip dengan siapa, hanya berfikir ahra sangat mirip dengan seseorang yang pernah ia kenal. Entah siapa.


Jimin mendekati ranjang ahra. Tak lupa dengan Teddy Bear pink soft yang ia bawa, Jimin meletakan itu tepat di sisi sebrang dirinya berdiri masih di samping ahra. Mendekati ahra dengan perlahan, kemudian ia membuka bungkusan coklat yang telah Jeon berikan padanya, memotong bagian kecil lalu dimasukan kedalam mulut ahra yang masih memejamkan matanya.


Satu detik, dua detik, tiga detik.... Sepuluh detik. Jimin menghitung setiap detik di dalam hati, benar-benar sangat menantikan reaksi ahra ketika mendapati coklat di dalam mulutnya. Kemudian tepat pada hitungan ke 20. Ahra mulai menggerakan mulutnya, gerakan mengunyah, dan hal itu membuat Jimin menjadi tersenyum sendiri, benar-benar dibuat geli dengan tingkah bocah satu ini, bisa-bisanya saat masih tidur ahra dapat mengunyah seolah ia telah terbangun.


Jimin berdecak saat kembali memasukan potongan kecil coklat kedua. Seperti Jimin telah menyuapi ahra yang sudah terbangun, jelas-jelas bocah itu masih memejamkan mata.


Sangat menikmati coklat tersebut di mulutnya. Ahra masih tak juga membuka matanya.


Hingga Jimin berdecak, sebal. "Yak!. Bangunlah, atau paman Jim sendiri yang akan menghabiskan coklatnya."


Di luar dugaan, ahra seketika membuka kedua matanya, begitu sangat lebar, terlihat begitu tak suka. "Huwah.. Jangan di habiskan.. Ahra.. masih.. sangat.. mengantuk.." ahra berucap sambil merengek dengan terputus-putus, entah karna ia baru saja terbangun atau karna masih mengunyah coklatnya, dengan nada suara yang ia buat seperti rengekan.


Jimin menggeleng-gelengkan kepalanya, tak percaya melihat tingkah bocah manis ini. "Yak!. Kau harus bangun, ini sudah terlalu siang." omel Jimin, mengingat sekarang sudah pukul 11 siang. "kau ini benar-benar sangat mirip dengan ayahmu itunya. Sulit sekali dibangunkan." gumam Jimin tapi tetap berbicara pada ahra.


Ahra pun terbangun, mendudukan dirinya, lalu mengucek kedua matanya untuk menghilangkan sesuatu yang terasa telah menghalangi pandangan matanya--belek. "Paman Jim?. Kapan paman datang?" tanya ahra setelah kesadarannya penuh.


"Sejak tadi, menunggumu bangun. Kau tau? paman sangat rindu ponakan kecil paman ini.." Jimin terikut duduk di ranjang ahra, kemudian menunjuk boneka yang ia letakan tadi. "Itu, paman membawa bear untukmu."


Ahra menengok ke sisi sebelahnya, matanya terlihat begitu berbinar saat melihat boneka beruang tersebut. "Ahh paman Jim! Aku sangat menyayangimu!" seru ahra dengan begitu girang sesaat setelah memeluk beruang tersebut, membuat Jimin semakin tersenyum lebar.


Meski sejujurnya ahra bisa kapan saja meminta Jeon membelikan sebuah boneka untuknya, tapi ahra tau ayahnya itu begitu sibuk, ahra sangat pintar dengan tidak ingin membebani sang ayah dengan segala macam permintaannya, merasa sudah cukup dengan segala kasih sayang dan perhatian Jeon. Jimin pun sebagai sahabat hanya mencoba membantu Jeon, memenuhi kebutuhan ahra yang tak pernah terfikirkan oleh Jeon karna Jimin tau Jeon itu juga sibuk, pikiran yang bercabang serta merta membuat hal kecil sekalipun tidak akan terfikirkan. Jeon pasti juga sangat kelelahan karna harus mengurus dua hal dalam satu waktu bersamaan.


"Dan.. Paman, berikan coklat itu. Bolehkah? aku menghabiskannya." menunjuk coklat yang masih berada di tangan Jimin, sungguh Jimin semakin merasa gemas ahra itu benar-benar tak melupakan coklatnya. Memberikan coklat itu kemudian mengacak-acak rambut ahra dengan gemas, bayi ini begitu sangat menggemaskan dimata Jimin.


***