Jeon Appa

Jeon Appa
PROLOGUE



Tepat di depan sebuah gerbang sekolah seorang pria berdiri menetap menyenderkan bahunya pada mobil hitam miliknya, mengenakan pakaian begitu rapih Jas, Kemeja, Dasi, layaknya pakaian formal pada umumnya untuk sekedar mendatangi sebuah sekolah yang entah siapa yang akan ia jemput, tangannya yang bersedekap, air wajahnya begitu terlihat sendu ketika ia menatap tepat kearah gerbang yang tertutup itu.


Suasana hari itu begitu amat cerah, langit yang menampakan keindahan berwarna biru cerah, serta angin yang berhembus, musim panas kali ini sungguh indah, tapi tetap saja tak bisa menutupi suasana hati pria itu yang kini begitu terasa kosong.


"Tuan Jeon?!"


Mata pria itu membulat setelah beberapa saat menanti dan tanpa ia sadari pintu gerbang itu telah terbuka dan menampakan sosok wanita yang begitu cantik, Setidaknya mungkin dimata pria itu, wanita itu baru saja keluar terlihat dengan tas selempang yang tergantung di bahu kanannya.


"Merindukan putrimu ya?" tanya wanita itu kembali setelah jarak mereka tak lagi membentang.


Pria itu awalnya tersenyum membalas senyuman wanitanya, sampai akhirnya senyumannya kembali pudar karna sebuah pertanyaan.


"Apa salah jika aku merindukan Ahra?"


Wanita itu mengerenyit, senyumannya terikut pudar pula sesaat mendengar nada bicara Jeon yang terdengar seperti tersinggung atas pertanyaan itu, tidak bukan tersinggung lebih tepatnya Jeon merasakan kerinduan.


Tentu saja tidak salah.


Jeon Ahra adalah putri kecil Jeon Jungkook, putri kecil yang Jeon temukan di depan apartemennya ketika masih berumur sekitar 3 bulan, bayi kecil Jeon yang begitu lucu, bayi yang Jeon rawat dengan penuh kasih sayang selama hampir 7 tahun, putri kecil Jeon yang begitu sangat pintar, putri kecil yang sangat Jeon sayangi selama ini, hingga akhirnya ia menemukan beberapa fakta tentang siapa keluarga Ahra sebenarnya dan akhirnya menyerahkan Ahra pada keluarganya yang sebenarnya. Keluarga kandung Jeon Ahra atau mungkin sekarang nama marganya sudah berubah.


"Kau sedih ya?" tanya wanita itu dengan penuh pengertian bahkan nada suaranya terdengar menujukan penyesalan karna mengucapkan pertanyaan yang bodoh meski begitu ia tetap mencoba memahami isi hati dan pemikiran Jeon saat ini.


Jeon bukanya sedih ataupun marah, hanya saja ia merindukan putrinya itu.


"Tidak. Apa kau mau jalan-jalan?" berusaha memaksakan senyumnya.


Tentu Jeon mangalihkan pembicaraannya. Tanpa berfikir lagi untuk memberikan beberapa macam pertanyaan atas pernyataan Jeon yang tiba-tiba seperti kenapa, dan akan kemana, wanita itu lebih memilih diam dan mengangguk serta masuk ke mobil Jeon begitu saja. Mengikuti suasana hati Jeon yang selalu tidak stabil ketika mendengar nama ahra sekarang.


"Ahra pasti sudah bahagia kan?"


Wanita yang berada di sebelah kemudi Jeon kini mengerenyitkan dahinya setelah kembali mendengar pertanyaan dari Jeon terlebih kini kembali menyangkut nama Ahra, bingung karna sikap Jeon yang sekarang selalu menjadi sangat tiba-tiba, sangat moodyan.


Wanita itu memilih untuk menyentuh sebelah tangan Jeon lalu menggenggam nya, sebelah tangan Jeon yang terbebas dan tidak sedang memegang stir kemudi, Jeon hanya menggunakan tangan kanannya untuk mengemudi.


"Kenapa?" tanya Jeon yang sedikit bingung, namun juga merasa tersentuh dan senang hanya karna tindakan wanita itu yang menggenggam tangannya, merasa ada ketenangan yang tersalurkan sampai ke hatinya.


"Tidak.." wanita itu menggeleng. "Hanya saja aku merasa beruntung, karna dipertemukan olehmu lewat Ahra sebagai muridku." wanita itu sedang menggombal jelas membuat Jeon terkekeh geli.


"Ahra adalah keberuntunganku." jawab Jeon sambil mengangguk, membenarkan serta mengakui bahwa Ahra memang telah membawa banyak perubahan dalam hidupnya, membuat pribadi Jeon berubah menjadi versi terbaik dalam dirinya, termasuk bertemu dengan guru Ahra yang paling cantik lalu jatuh cinta. Sangat indah.


"Kau tau Jeon-ssi.. Kau adalah Appa yang baik, aku berharap anak kita nanti akan bangga mempunyai ayah sepertimu." ucap wanita itu begitu saja hampir membuat mata Jeon keluar dari tempatnya, bukan terkejut bukan, hanya saja sedikit merasakan sensasi sengatan listrik di hatinya, apa wanita ini sedang memberikan petunjuk dan meminta segera di lamar.


Jeon menoleh sebentar untuk melihat air wajah wanitanya itu, tapi baru sekilas Jeon malah tersenyum lalu terkekeh kembali membuat keduanya malah tertawa bersama, tak lupa dengan tangan mereka masih menggenggam satu sama lain.


"Bukan. Maksudku hanya......" wanita itu mendadak gugup sendiri.


"Iya. Kebetulan aku tidak tau kita harus kemana sekarang, yang aku lakukan hanya membawa mu saja karna aku ingin bersamamu, berada didekatmu, tapi sekarang rasanya aku mempunyai ide." Jeon kembali menyela, ia sangat suka untuk mempertegas ucapan yang rancuh, karna terbiasa mengambil keputusan terberat saat memimpin perusahaan, ia menjadi sangat tidak suka dengan hal-hal yang terlihat meragukan, dan selalu akan memperjelas segalanya.


Blushing karna mendengar Jeon mengatakan ingin bersamanya, hati wanita itupun berbunga-bunga sekarang, karna Jeon sebelumnya tidak pernah semanis ini kecuali ketika berada di depan ahra dan hanya di depan ahra saja, selebihnya Jeon adalah es batu, dingin, dan juga kaku.


"Apa itu?" tanya wanita itu terdengar sedikit girang.


"Menemui orang tuamu." Jeon tersenyum ketika mengatakan itu.


Wanita itu menahan nafas seketika, apa telinganya tidak salah mendengar?, bahkan matanya kini menatap Jeon bulat-bulat dan tidak berkedip.


"Jeon-ssi.. Kau bercanda?" kikuk wanita itu mencoba memastikan pendengarannya. Takut-takut kurang berfungsi secara maksimal sebelumnya.


Jeon mengeluarkan khasnya kembali dengan tertawa renyah. "Kau tau aku bukan tipekal orang yang suka bergurau kan?"


Benar. Jeon tidak pernah bercanda, hidupnya terlalu monoton untuk sekedar membuat lelucon yang hanya berguna untuk tertawa 30 detik saja, Jeon itu maniak kerja, Hard Worker, Worker Holic.


"Maafkan aku, tapi apa kau serius?" tanya wanita itu ragu.


Jeon benar-benar serius akan melamar nya kah sekarang?. Menjadikan dirinya suami dan istri, meminta izin untuk segera menikah, terlebih wanita ini masih ragu yang di hadapannya kali ini apa benar-benar seorang Jeon.


"Kau mencintaiku, aku mencintaimu, kita saling mencintai. Kita telah sama-sama dewasa, kau dan aku. kau bahkan memahami aku, setidaknya aku sedang berusaha juga memahamimu, aku ingin hidup selamanya denganmu. Apa itu tidak cukup serius?. Apa masih ada yang kurang dari hal itu?"


Perkataan barusan itu benar-benar dari seorang Jeon Jungkook, seperti itulah Jeon yang sebenarnya, selalu berucap dengan tegas, dan membuat mata wanita itu begitu berbinar, cukup tersentuh, meski dingin tapi Jungkook itu begitu tulus. Bahkan jika Jeon ingin menikahinya detik ini juga rasanya wanita itu akan segera bersedia, dan tak akan berfikir berkali-kali.


"Tidak. Itu sudah cukup." hampir menangis suara wanita itu terdengar lirih, Karna ia begitu terharu.


"Kau menangis?, hey.. Apa aku salah mengatakan sesuatu?.. Don't cry honey.. Aku sedang menyetir dan tidak bisa memelukmu sekarang." ujar Jeon bertubi-tubi disertai rasa cemas.


Wanita itu menggeleng, "Jeon-ssi.. Kau tau? Aku sangat mencintaimu, aku merasa beruntung sekali sekarang." ujarnya suaranya masih terdengar sedikit parau karna menahan haru.


Senyum Jeon mengembang, setiap mendengar ucapan cinta dari wanitanya itu membuat hatinya selalu menghangat. Jeon mengarahkan tangan wanita itu menuntunnya lalu mengecupnya, sungguh sangat romantis.


"Jadi maukah kau menjadi Nyonya Jeon?, menikah denganku?, lalu menghabiskan sisah hidupmu bersama denganku?. Han Jein?" kini Jeon sedang melamarnya, dengan resmi didalam mobil yang sedang melaju dalam kecepatan sedang. Memang kondisi sekarang jauh dikatakan layak untuk sebuah lamaran yang romantis, tapi bagi Jein ini sudah lebih dari cukup, cukup dengan Jeon yang mengatakan dengan jujur segalanya mengenai perasaannya itu sudah cukup.


"Yes. Aku sangat bersedia." Wanita itu mengangguk.


👰🏻💙🤵🏻