In The Rain

In The Rain
Satu Tujuan



+62xxxxxxxxxxx


Bagus deh lo ga deket Rian


Sekarang deket sama Yugi


Ngeri juga backingan lo wkwk


Reva menghela napasnya. Bukankah dirinya sudah tidak dekat-dekat lagi dengan Rian? Tetapi mengapa sekarang malah Yugi yang dibawa-bawa?


Sebetulnya ada juga kemungkinan kalau nantinya penggemar Yugi akan menyerangnya. Maka dari itu, untuk mengurangi keresahannya, Reva mengirim pesan kepada Yugi.


Tak lama setelah itu, pesannya dibaca. Akan tetapi bukannya mendapat balasan, ponselnya malah berdering.


Itu Yugi yang meneleponnya.


"Halo?"


"Gimana?"


"Ya gitu. Gue takut kalau penggemar lo nanti bakal nyerang gue juga. Orang lo sama Rian banyak penggemarnya."


"Ga mungkin."


"Mungkin aja. Mana tau lo soal penggemar lo bakal gimana."


Hening sebentar. Sepertinya Yugi berpikir dan memperhitungkan jawabannya sendiri.


"Gue ga pernah nanggepin mereka."


Kini gantian Reva yang diam. Dia tak tahu harus menanggapi seperti apa lagi. Gadis itu hanya takut.


"Gue ga pernah takut diancem."


"Hmm."


"Gue takut kalau anceman itu serius."


*"Reva, lo mau cari orangnya siapa?" *


Tawaran Yugi itu, sedikit menarik untuknya. Memang akan baik jika dia menjauh dari Rian. Tetapi akan lebih baik lagi jika dia mencari siapa orang di balik nomor tak dikenal itu.


"Gue bantu lo."


"Tapi apa bisa? Ga banyak yang gue tau tentang nomor itu."


"Clue utamanya cuma dia suka sama Rian. Tinggal dicari siapa aja yang suka sama Rian."


Benar juga. Kenapa tidak terpikirkan sedari awal?


"Nanti kalau misal ketemu mau lo apain?"


"Ga kebalik? Gue yang harusnya nanya ke lo."


"Gue nanya aja."


"Kalau gue mungkin ... pukulin?"


"Masuk akal sih."


"Tapi ga juga. Gue ga suka berantem."


"Iyalah, lo sukanya kan hujan."


*"Suka lo juga kayaknya," *gumam Yugi.


Reva mendengarnya. Benar-benar terkejut sampai salah tingkah. Pipinya sedikit memerah. Namun yang dilakukannya hanya berpura-pura tidak mendengar.


"Gue kayaknya bakal ngadu ke guru sih."


"Biar setimpal. Sekolah pasti kasih hukuman yang bikin jera. Iya kan?"


"Mungkin."


"Ah tapi belum tentu ketangkep juga."


"Ketangkep pasti."


Hening beberapa detik. Topik mereka sudah habis mengenai angan-angan jika nomor tak dikenal itu ketahuan.


Tetapi yang namanya Reva tidak akan kehabisan topik jikalau gadis itu nyaman dengan lawan bicaranya.


"Lo kenapa selalu dateng waktu gue kejebak hujan? Lo ngikutin gue ya?"


Kekehan renyah terdengar dari seberang sana. "Kebetulan."


"Tapi tiga kali. Padahal kita nggak saling kenal."


"Hujan yang nemuin kita, bukan gue."


Kalimat itu membuat Reva termenung. Tiga kebetulan yang sama sekali tidak disengaja, tentu sudah ditakdirkan. Bagaimana bisa dua orang yang tidak saling kenal bisa tiga kali pulang bersama karena alasan hujan?


"Tapi gue ga suka basah."


"Gue bisa jadi payung lo."


Jeda sebentar sebelum Yugi kembali melanjutkan kalimatnya. "Asal lo ngizinin."


Tidak ada balasan dari Reva. Jujur dia bingung bagaimana harus menanggapi Yugi.


"Gue ga maksa lo."


Reva masih terdiam. Tidak memberi balasan apapun. Saat ini dia sedang memegang bantal sambil memggigitnya pelan. Sungguh mulut Yugi ini memang sangat ceplas-ceplos. Apa Yugi tidak takut kalau Reva tidak nyaman?


Memang Yugi ini berbeda daripada Rian. Kalau Rian yang mengatakan ini mungkin Reva akan memilih untuk pergi dan menjauhinya. Akan tetapi ini Yugi.


"Udah malem, gue tidur dulu ya." Sengaja mengakhiri pembicaraan karena Reva tau akan mengarah ke mana nantinya obrolan mereka kali ini.


Yugi mengiyakan. Kemudian sambungan dimatikan dan barulah Reva bisa bernapas lega.


---


"Kamu sering pulang bareng temenmu yang itu ya, Rev?"


Pagi harinya, saat sarapan, Risti menanyakan sesuatu yang sudah jelas terlihat dengan mata kepalanya sendiri.


"Iya."


"Namanya siapa?"


"Yugi."


"Anaknya sopan. Waktu itu ngomongnya lembut banget waktu ngembaliin hp kamu." Risti kembali mengingat bagaimana suara lembut Yugi menyapa telinganya. "Dia baik kan sama kamu?"


"Baik, Bun. Udah ya, reva berangkat dulu."


Risti mengangguk. "Hati-hati, Nak."


"Iya, Bun. Dadahh!"


Pagi ini, Reva tidak berangkat bersama ayahnya. Memang ayahnya sudah berangkat pagi sekali tadi karena ada meeting pagi. Maka dari itu sekarang Reva naik bis.


Dalam 15 menit, Reva sampai di sekolah. Masih cukup pagi untuk belajar di kelas.


Dia mengeluarkan buku pelajaran hari ini untuk belajar, sambil menunggu bel pelajaran dimulai berbunyi.


...☁☁☁...