
“Reva, ada temen kamu di depan. Turun ya, Nak,” panggil Risti di depan pintu kamar Reva.
Reva yang baru saja selesai mandi, bingung. Dia tak ada janji dengan siapa-siapa hari ini. Kenapa ada yang menghampirinya?
“Siapa, Bun?” tanya Reva.
“Rian.”
Reva mengangguk-angguk lalu segera turun ke bawah.
“Kenapa, Yan?” Reva menghampiri Rian yang duduk di ruang tamu.
“Temenin gue ke perpus kota, yuk?” ajak Rian.
“Ngapain?”
“Nyari referensi belajar.”
Reva berpikir sebentar. “Bukannya kalau minggu tutup? Yang bener aja lo, Yan.”
“Ya udah kalau gitu kita main aja. Mau ga?” Rian tak menyerah untuk mengajak Reva pergi.
Reva menghela napas. Baiklah, kali ini dia akan mengiyakan ajakan Rian. Hanya sekali ini saja.
“Ya udah bentar gue siap-siap dulu.”
Reva menuju ke kamarnya untuk bersiap-siap. Tak perlu menunggu lama, dia sudah kembali turun. Mereka berdua berangkat setelah berpamitan dengan Risti.
“Lo udah makan siang?” Rian membuka obrolan saat mereka ada di mobil.
“Belum, kan lo ngajak main. By the way tumben lo pakai mobil?”
“Panas di luar. Nanti lo keringetan.”
Reva terkekeh canggung.
“Lo udah jarang ketawa di samping gue, Rev …. Kenapa?” Rian menatap Reva.
Sungguh ini bukan waktu yang tepat untuk membahasnya. Mood Reva sedang bagus. Dan percakapan seperti ini bisa merusak moodnya.
Reva menatap Rian. “Perlu gue jawab?” Dia memperlihatkan keengganannya untuk menjawab.
“Ya nggak sih. Tapi gue pengen tau aja …. Dulu lo sering ketawa kalau lagi sama gue.” Rian memfokuskan matanya ke depan. “Lo mau makan siang apa?”
Dengan sengaja, Rian mengalihkan topik agar suasana tidak menjadi canggung. Karena pastinya orang normal pun pasti akan merasakan perubahan mood saat Reva tidak nyaman.
Tetapi terkadang Rian memang tidak normal.
“Gue ngikut lo aja deh.”
“Kfc mau? Lo nggak lagi diet kan, Rev?” Rian terkekeh. Dia membangun suasana antara mereka.
“Nggaklah. Ya kali gue diet.” Reva menanggapi dengan sedikit senyum.
Tak lama, mobil Rian sudah terparkir di KFC yang berada tepat di tengah kota. Rian membukakan pintu Reva.
“Ga usah dibukain juga kali.” Reva keluar dari mobil. “Gue bisa sendiri.”
Mereka berdua masuk ke dalam restoran cepat saji itu.
“Gue yang mesenin aja ya? Makan apaan?” tanya Rian setelah mereka memilih tempat duduk di sana.
“Samain aja, Yan. Gue nggak milih-milih kok.” Reva mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.
Rian mengangguk lalu menuju ke kasir untuk memesan sekaligus membayar pesanannya.
“Halo?” Reva mendapat sebuah panggilan dari Jesi.
“Lo sibuk nggak, Rev. Kalau nggak, main yuk. Gue bosen di rumah.”
“Gue lagi keluar. Tumben lo bosen? Brian ke mana?”
“Brian katanya ada acara keluarga. Lo keluar sama siapa? Kok nggak ngajak gue?”
Rian sudah kembali dari kasir. Reva memberi kode agar Rian diam sebentar.
“Gue juga dadakan diajaknya. Gue sama Rian sekarang.”
“Oalah. Pulang jam berapa?”
“Ngga tau nih. Nanti kalau mau pulang gue kabarin, oke?”
“Oke oke. Have fun ya sama, Rian.”
Reva hanya tersenyum lalu mematikan sambungan teleponnya.
“Siapa?” Rian ingin tahu.
Rian mengangguk-angguk. Mereka makan dengan tenang.
“Habis ini mau ke mana? Kalau nggak ke mana-mana, gue mau main sama Jesi.” Reva menaruh ponselnya setelah mengirim pesan pada Jesi.
Rian terdiam sejenak. “Nggak ada sih. Ya udah Jesi suruh nyusul aja.”
“Dia mintanya sama gue doang, Yan.” Reva berbohong.
“Ya udah, gue anter ke rumahnya Jesi ya?” Rian bersikeras mengantar Reva.
Reva menolaknya. Dia akan menunggu Jesi sampai di sana. Pada akhirnya Rian mengalah, namun tetap menunggui Jesi datang dan menjemput Reva.
“Ga perlu ditungguin, Yan. Gue juga nggak bakalan ilang. Mending lo pul–“
Suara ponsel Rian berdering nyaring. Dia mengangkatnya lalu terburu-buru pergi dari sana tanpa mengucap sepatah kata pun.
Reva mengernyit. Paling tidak, seharusnya Rian berpamitan, tidak tiba-tiba pergi. Dia mengedikkan bahu, kemudian melangkah keluar. Reva memilih untuk menunggu Jesi di luar.
Langit sedikit mendung, sungguh pertanda yang buruk. Perasaan resah mulai menghampiri Reva. “Jangan hujan dulu,” monolognya.
Namun baru saja Reva menutup mulut, hujan sudah turun dengan riang. ******* kecewa keluar dari mulutnya. Jesi pasti akan membatalkan acara mereka karena hujan ini.
“Halo?”
“…”
“Iya, hujan deres barusan di sini.”
“…”
“Ya udah, gapapa.”
“…”
“Iya.”
Ketika sambungan dimatikan, Reva menarik napasnya dalam. Dia berjongkok, menadahi air hujan yang menetes dengan tangannya yang mungil. Reva larut dalam tetesan itu. Dia melamun dalam, bahkan tidak berkedip sama sekali.
Tak apa sebenarnya kalau semua orang membatalkan janji mereka saat Reva di rumah. Dengan senang hati Reva akan mengiyakan. Daripada tiba-tiba semuanya batal dan Reva terjebak di tengah hujan seperti ini.
Kembali menghela napasnya, Reva bangkit berdiri. Menatap ke atas, meminta Sang Pencipta untuk menghentikan hujan ini agar paling tidak dia bisa berjalan pulang.
“Tiga kali.”
Reva menoleh cepat dan mundur satu langkah. Terkejut bukan main karena tiba-tiba ada suara yang begitu mendesak rintik hujan di sekitarnya. “Yugi?”
Itu Yugi, yang menawarinya tumpangan sebanyak dua kali. Mungkin ini akan menjadi yang ketiga kalinya. Reva masih kebingungan sembari menatap Yugi, sedangkan Yugi tidak menghadap ke Reva.
“Kenapa lo di sini?” tanya Reva yang kebingungan mengapa Yugi ada di sini.
Yugi menoleh, “Kenapa lo selalu kejebak hujan?” Pertanyaan yang tidak bisa Reva jawab. Entahlah mengapa juga sampai saat ini dia selalu terjebak di tengah hujan.
“Gue sama Bastian di sini. Mau gue anterin pulang?” tawar Yugi untuk ketiga kalinya dalam minggu ini.
Reva meringis. Aneh rasanya kembali diantar pulang oleh Yugi bahkan saat di luar sekolah pun. “Temen lo gimana?”
“Gue tinggal.” Yugi sudah melangkah menembus hujan tanpa persetujuan dari Reva.
Reva hanya menggeleng. Belum terbiasa dengan perilaku aneh Yugi yang selalu ingin hujan-hujanan. Dia mengeluarkan payung lipat dari tasnya, kemudian mengejar langkah Yugi. Dia memayungi dirinya dan Yugi. “Ini payung lo.”
Yugi mengangguk, memasukkan tangannya ke saku celana. “Pake sendiri aja. Lo basah.” Dia menatap bahu Reva
yang basah karena tetesan air hujan. Tangannya menggeser gagang payung agar lebih dekat dengan Reva.
Setelah berada di mobil, seperti yang sudah-sudah, Yugi memberikan handuk baru untuk Reva. Lalu dia membuka ponsel, memberi tahu Bastian untuk menunggunya sebentar.
“Udah?” tanya Yugi memastikan kondisi Reva.
Reva mengangguk. “Sorry ngerepotin. Tau hujan gini gue pilih di rumah aja.”
“Ga ada yang bisa tau kapan hujan turun.” Yugi mulai mengemudikan mobilnya ke rumah Reva.
Selama perjalanan hanya ada keheningan dan suara hujan. Ketiga kalinya, Reva sedikit merasa tidak enak pada Yugi.
“Gue bisa jadi temen lo.”
Perkataan Yugi yang begitu tiba-tiba membuat Reva terkejut. Dia langsung memandang wajah Yugi yang fokus pada jalan di depannya. “Maksudnya?”
“Gue bisa jagain lo besok.”
Paham akan apa yang dimaksud, Reva terdiam. Sepertinya Yugi tahu mengenai ancaman oleh nomor tidak dikenal. “Gue bisa sendiri.”
Reva kira, Yugi akan tetap membujuknya. Tetapi ternyata Yugi hanya mengiyakan tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya. Baiklah mungkin Yugi bukan tipe yang akan berbasa-basi. Tetap saja dia akan mengatasinya sendiri.
...☁☁☁...