In The Rain

In The Rain
Pacaran?



Bukankah semua orang tau kalau Yugi adalah orang yang begitu irit bicara dan anti dengan perempuan? Tetapi mengapa sekarang, pemandangan baru muncul di kantin? Dengan Reva diam canggung di sebelahnya.


Semua murid bingung bahkan ibu kantin pun ikut bertanya-tanya.


Tak terkecuali Bastian, kawan Yugi. Sedari dia duduk bahkan masih berdiri di pintu depan kantin, Bastian hanya termenung bingung. Pandangannya sangat fokus pada Reva. Sesekali mengode Yugi lewat matanya.


“Lo siapa?” tanya Bastian sambil menyilangkan tangannya di depan dada.


Reva meringis canggung. “Reva Ferisca, XII MIPA 2.” Dia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


Bastian menerima itu, singkat. Kemudian dia mengelus dagunya sendiri. Gelagatnya seperti berpikir. “Udah sejak kapan sama Yugi?”


Gadis di depan Bastian itu kebingungan sambil menatap Yugi untuk meminta pertolongan.


“Ga pacaran. Udah deh, Bas,” ancam Yugi.


“Lo ga boleh sama Yugi, gue pacarnya,” ujar Bastian. Dia hanya menggoda Yugi sebenarnya.


Namun tak disangka, sebuah sendok bersih melayang menyedihkan ke arah Bastian. Tepat mengenai pipinya. “Aduh! Gue bercanda!”


“Lo mau makan apa?” Mengacuhkan Bastian, Yugi beranjak dari kursinya untuk memesankan sesuatu untuk Reva.


“Batagor, nggak pedes.” Saat hendak mengeluarkan uang di kantong seragamnya, Yugi malah sudah hilang dari sana.


Suasana canggung sedikit dirasakan Reva. Dia tersenyum kaku.


“Yugi irit ngomong. Dia ga suka coklat, kecuali kalau lagi stres atau lagi seneng banget,” ujar Bastian tiba-tiba. Dia menumpahkian segala fakta mengenai sahabatnya. “Tau kan Yugi suka hujan?”


Gadis itu mengangguk ringan.


“Dia juga suka basket. Yugi sering ngajak gue main basket waktu hujan. Kadang dia banyak mikir waktu main basket.” Bastian meminum es teh miliknya di meja. “Lo yang pertama, gue harap bisa tahan lama ya sama Yugi.”


Reva memiringkan kepalanya. Apa pemuda di depannya ini menganggap bahwa dirinya dan Yugi berpacaran?


Ketika Yugi kembali, Bastian berhenti mengoceh. Dirinya hanya fokus pada bakso di depannya. Sedangkan Yugi, sepertinya sudah tau apa yang dipikirkan oleh Bastian dan orang lain. Mereka berpacaran. Tetapi Yugi membiarkan yang lain berpikir demikian.


Reva mengedikkan bahunya, berpura-pura tak peduli dan mulai melahap batagornya.


...☁☁☁...


“Tadi lo sama Yugi? Gue nggak salah lihat?” Tentu saja, Jesi penghuni kantin mengetahui apa yang terjadi di sana barusan.


Bahkan semua orang di kantin tadi hanya melihat ke arah Reva dan Yugi.


“Gue nggak pacaran. Nggak usah berspekulasi aneh-aneh.” Gadis yang ditanyai merapikan buku kimia dan menyiapkan untuk pelajaran selanjutnya. “Tadi cuma diajak ke kantin, gue iyain, dan kita berakhir makan bareng.”


Jesi memberikan tatapan tidak percaya. “Tapi gapapa kalau lo sama Yugi, Rev. Walau gue nggak tahu gimana orangnya. Paling nggak lo udah nggak pacaran sama buku lagi.”


Reva terkekeh. “Gue nggak pacaran, Jes.”


Dalam kekehannya, tiba-tiba saja Rian menghampiri. “Reva, bener tadi sama Yugi anak IPS di kantin?”


Memang sepertinya Rian tidak melihat mereka berada di kantin. Entahlah mungkin sedang sibuk berurusan dengan olimpiade atau hal lainnya.


“Iya,” balasnya singkat. Dia melirik Jesi yang menahan tawanya.


“Lo pacaran sama Yugi?” tanya Rian to the point.


Reva memilih untuk tidak membalas. Mungkin saja dengan dia yang tidak membalas ini dapat membuat Rian berhenti memaksanya.


“Emang kenapa sih?” Bukannya mendapat balasan dari Reva, malah Jesi yang menanggapi.


“Udah sejak kapan, Rev? Perasaan gue selalu ada di deket lo, tapi kenapa Yugi yang dapetin lo?” tuntut Rian tidak terima.


...☁☁☁...


“Rian nggak terima tadi.”


Saat ini, Reva sedang berada di mobil Yugi. Untunglah hari ini tidak hujan. Jadi Reva bisa sedikit bersantai tanpa takut air hujan akan membasahi tubuhnya.


“Dia bilang kalau selama ini dia yang selalu di samping gue, tapi kenapa lo yang dapetin gue.” Reva terkekeh. Dia mulai merasa sedikit nyaman berada di sekitar yugi.


Walau Yugi hanya diam dan menanggapi dengan tatapannya yang dalam, tetapi tetap membuatnya nyaman.


"Nomor itu masih chat lo?" tanya Yugi khawatir. Dia mulai melajukan mobilnya menuju ke rumah Reva.


Reva menggeleng. "Boleh mampir toko buku bentar? Ada yang mau gue beli."


Yugi mengangguk, segera setelah perempatan pertama, dia membelokkan setirnya menuju ke toko buku yang dimaksud.


"Nggak tau lo gimana, tapi gue merasa nyaman sama lo. Dibanding orang lain, bahkan Jesi sekalipun." Reva mengakui sesuatu. Dirinya ingin mengatakan ini. "Gue nyaman ngobrol sama lo, cerita sama lo. "


Pemuda di sebelahnya mengangguk. Sebenarnya tersipu hanya saja tidak ditunjukkan karena dia malu.


"Gue pikir bakal berhasil kalau lo kelihatan sama gue terus."


Yugi menyetujuinya. Akan lebih baik lagi kalau Reva dapat selalu berada di sekitarnya. Akan tetapi dia takut kalau-kalau banyak orang yang semakin tidak suka Reva.


"Walau gue tau penggemar lo sama brutalnya kayak punya Rian. Tapi lo mau ngelindungin gue, itu udah lebih dari cukup." Gadis yang sedang berbicara ini menatap ke arah Yugi. "Gue juga nggak takut kalau nantinya bakal suka sama lo. Gue merasa aman."


Baiklah, tak daoat dipungkiri, kalimat yang barusan sedikit mengejutkan. Spontan saja Yugi langsung menoleh. Dia kira Reva hanya bercanda. Namun saat melihat bagaimana mata itu bersinar, Yugi mulai yakin kalau apa yang diucapkan gadis di depannya ini adalah sungguhan.


Maka Yugi menanggapi dengan cukup serius. "Gue juga nggak takut. Asalkan lo aman, bakal gue lakuin."


Reva tertegun. Dia kagum akan apa yang dikatakan oleh Yugi. Terkesan omong kosong, tetapi saat mata mereka bertemu seakan sudah saling mengikat komitmen.


"Reva kalau lo butuh sesuatu atau ga suka sama sesuatu, bilang. Ini pertama kalinya buat gue," ungkap Yugi sekaligus meminta bantuan Reva agar yang pertama ini menjadi yang terakhir juga.


Gadis di depannya mengangguk. "Lo juga."


Cukup dalam pembicaraan mereka saat ini. Sampai tidak sadar kalau mereka sudah berada di toko buku.


Turun dari mobil, Reva mulai melangkah menuju dalam toko dan mencari rak novel yang biasa dia hampiri.


Sebenarnya tak ada wishlist yang ingin dia beli. Reva hanya ingin melihat-lihat sambil membuang waktu. Karena rumahnya sedang kosong. Risti, ibunya berada di rumah nenek. Sedangkan ayahnya tentu belum pulang.


"Cari apa?" tanya Yugi sedikit ingin tahu.


"Lihat-lihat aja, bosen di rumah."


Tunggu, kali ini Reva bersama dengan Yugi. Jadi seharusnya yang dipikir bukanlah kosong atau tidaknya jadwal Reva, melainkan Yugi.


"Lo ada acara habis ini?" tanya Reva.


Yugi menggeleng. "Gue bebas, fleksibel. Nyantai aja, gue juga sambil liat-liat."


Reva mengangguk, kemudian kembali menaruh fokusnya pada jejeran buku novel yang tersusun rapi di rak berwarna coklat.


Waktu berjalan begitu cepat sampai tidak sadar bahwa mereka sudah satu jam di sana. Reva akhirnya menemukan bacaan yang cocom untuknya, dan Yugi menemukan jam tangan baru.


Maklum, dua hal yang berbeda pasti punya keunikan yang berbeda pula.


Setelah melakukan pembayaran, keduanya kembali ke mobil dan beranjak dari toko buku menuju rumah Reva.


...☁☁☁...