In The Rain

In The Rain
Nebeng Lagi



“Pulang naik apa?” tanya Jesi setelah sekolah usai.


Reva menoleh ke arah Jesi. “Bus. Kenapa?”


“Gapapa. Hati-hati, ya? Nanti kalau hujan, lo telepon gue aja. Nanti gue minta tolong supir gue buat jemput lo.”


Reva mengangguk. Tentu dia tak benar-benar akan menelepon Jesi.


Jesi pulang terlebih dahulu. Sekolah masih cukup ramai. Ada beberapa anak yang pulang terlambat karena ekstrakulikuler.


Reva melangkah pelan menuju halte bus depan sekolahnya. Langit mendung membuatnya sedikit khawatir. Dia tidak membawa payung.


Tak bertahan lama kekhawatiran itu, hujan mulai turun bahkan saat Reva baru saja duduk di halte bus. Kakinya sedikit basah karena cipratan air hujan.


Reva menghela napas. Lagi-lagi dia terjebak hujan. Reva mengeluarkan ponselnya. Dia hendak menelepon ayahnya untuk dijemput. Namun tiba-tiba ada lelaki yang menawarinya tumpangan.


Itu Rian.


“Mau bareng nggak?”


“Tapi lo naik motor. Mantol lo satu doang. Nanti basah semua,” tolak Reva lembut.


“Gue pulang, nanti balik lagi bawa mobil.”


Reva menaikkan alisnya. “Ngga usah, Yan. Nanti lo repot bolak-balik.”


“Gapapa. Rumah gue ga terlalu jauh.” Rian bersiap memakai mantol dan mengendarai motornya. Namun seseorang menghentikan itu.


“Jangan maksa keadaan.”


'Yugi?’ batin Reva.


“Lo … yang tadi jatuhin gelas di kantin tadi kan?” Rian menatap Yugi dari atas sampai bawah.


Yugi mengangguk dua kali.


“Terus lo mau ngapain?” tanya Rian lagi sambil menatap gerak-gerik dari Yugi.


“Nemenin dia nungguin lo ambil mobil.” Yugi duduk di ujung bangku di halte bus.


Rian mengangguk-angguk. Dengan cepat, dia mengendarai motornya pulang ke rumah untuk mengambil mobil.


Reva menghela napas panjang ketika Rian sudah tak terlihat. Suasana kembali sepi. Hanya ada suara hujan di sana.


Reva melirik Yugi yang sedang memainkan ponselnya dengan earphone di telinganya.


“Lo kenal gue?” Reva mengajukan pertanyaan pada pemuda di ujung bangku itu.


Yugi menggeleng. Tidak menoleh atau melirik sedikit pun ke arah Reva.


“Kenapa mau nemenin gue?”


Yugi menoleh. Menatap Reva dari ujung bangku halte.


“Lo … keliatan nggak nyaman.” Yugi menghela napasnya. “Lagipula, bukannya dia les hari ini?”


Deg


Benar. Rian les hari ini. Bagaimana Reva bisa lupa akan hal itu? Dia kembali khawatir tentang cara dia pulang nanti.


“Mau bareng?” tawar Yugi.


Reva langsung menoleh cepat. “Lagi?”


Yugi mengangguk. “Gue belum tau nama lo.”


Reva teringat kalau dia belum mengenalkan diri.


“G-gue Reva Ferisca. XII IPA 2.” Reva mengenalkan dirinya. “Lo kenal Rian?”


“Siapa yang ga kenal dia di sekolah?” Yugi melepas earphone-nya. “Lo bilang Rian dulu.”


Reva terdiam sebentar. Mencerna maksud ucapan Yugi. Setelah paham, dia membuka ponselnya untuk mengirimkan pesan ke Rian.


Untungnya Rian sempat membaca pesan itu. Awalnya Rian menentang, lalu akhirnya mengiyakan. Yugi beranjak dari bangku halte.


“Tapi …,” Reva menahan tangan Yugi. “Masih hujan.”


Yugi melepaskan tangan Reva yang menahan tangannya. Dia berlari untuk mengambil mobilnya di parkiran sekolah. Reva mulai menggigil karena angin semakin kencang.


Yugi memarkirkan mobilnya di dekat halte bus. Dia keluar membawa satu payung dan menyodorkan payung itu ke Reva.


“Lo gimana?” tanya Reva.


Yugi menggeleng lalu segera berlari ke dalam mobil. Reva mengikuti langkah Yugi.


“Ga usah lari,” ucap Yugi sebelum masuk ke dalam mobil.


Reva mengangguk pelan lalu melangkah dengan hati-hati. Tentu saja bagian bawah tubuhnya sedikit basah karena hujan. Kakinya juga sedikit kotor karena terkena cipratan air.


Yugi mengambil handuk kering di mobilnya. Lalu menyerahkannya ke Reva.


“Lo nggak keringin badan lo? Lo lebih basah dari gue.” Reva menatap Yugi.


Air menetes dari rambutnya. Seragam sekolahnya sudah sangat basah. Reva menaruh handuk yang diberikan Yugi tadi ke rambut Yugi dan mengusapnya pelan.


“Paling nggak, rambut lo kering.” Reva masih mengeringkan rambut Yugi.


Mata mereka sempat bertemu. Hanya dua detik.


Yugi meraih handuk yang digunakan Reva untuk mengeringkan rambutnya. Dia menyimpannya karena rambutnya sudah agak kering.


Dia mengambil tissue yang ada di dashboard mobilnya. Yugi hendak membersihkan bagian kaki Reva. Namun Reva langsung mencegahnya.


“Gue bisa sendiri,” ucap Reva sambil tersenyum canggung. Dia meraih tissue itu lalu membersihkan kakinya.


Yugi mulai melajukan mobilnya di tengah derasnya hujan. Mobilnya melaju sedang, dia tidak ingin terburu-buru melewati hujan yang deras ini.


Tiba-tiba ponsel Reva berdering. Ada panggilan yang masuk. Itu dari ayahnya.


“Halo, Yah?”


“Kamu udah pulang, Nak? Hujan kan? Ayah jemput ya?”


“Ngga usah, Yah. Aku udah perjalanan pulang.”


“Sama siapa? Rian?”


Reva terdiam. Dia melirik ke arah Yugi. Yugi nampak tak peduli.


“Bukan, Yah.”


“Sama temen, Yah.”


Sekali lagi Reva melirik ke arah Yugi. Terlihat Yugi sedikit menaikkan alisnya.


“Ya udah kalau gitu. Ayah pulang agak malem ya. Nanti kasih tau bunda.”


“Iya, Yah.”


“Hati-hati ya, Nak.”


“Iya, Yah. Ayah juga.”


Ttut.


“Sorry nyebut lo gitu. Ayah gue agak protektif.”


Yugi mengangguk dua kali. Suasana kembali canggung.


Tting!


Notifikasi di ponsel Reva masuk. Dia mengeceknya. Itu nomor tak dikenal lagi. Reva membuka pesannya.


+62xxxxxxxxxxx


Jangan deketin Rian lagi, anjing.


Gue udah peringatin lo.


Awas kalau besok gue liat lo sama Rian lagi di kantin.


Gue udah peringatin lo, sat


Dan lo ke kantin sama Rian lagi?


Liat hadiah buat lo besok.


Reva menghela napas. Dia menutup ponselnya.


Tanpa sadar, Yugi melihat pesan dari nomor tak dikenal itu. Dia menukikkan alisnya.


“Jadi ini kenapa dia ga nyaman sama cowok itu?” batin Yugi.


Dia tetap diam. Tak ingin bertanya langsung pada Reva. Takut itu akan mengganggunya.


Tak berapa lama, mobil Yugi sudah terparkir di depan rumah Reva. Terlihat Risti sudah sangat cemas di sana.


Hujan sudah mulai reda tapi masih gerimis.


Ketika Reva hendak membuka pintu mobil, Yugi menyodorkan payung lipat.


“Ga usah. Cuma gerimis.”


Yugi menyodorkan payung itu lagi. Seakan tidak menerima penolakan dari Reva.


Alasan Reva menolaknya bukan karena gerimis. Kalau dia menerima payung itu, berarti dia harus mengembalikannya. Artinya dia harus menemui Yugi lagi besok.


Namun akhirnya Reva menerima payung itu. “Makasih.”


Yugi tak membalas.


Reva berjalan memasuki rumahnya.


“Diantar siapa, Nak? Suruh masuk dulu.” Risti melihat ke arah mobil Yugi.


“Ga usah, Bun.” Reva berharap Yugi cepat pergi dari sana. Tetapi mobil Yugi tak kunjung bergerak.


Risti melambaikan tangan, mengajak Yugi yang di dalam mobil untuk masuk dulu. Reva mengira Yugi tidak akan masuk. Tapi ternyata Yugi malah keluar dari mobilnya.


“Kenapa ikut keluar?” tanya Reva.


Risti menyenggol Reva sambil berdecak.


“Masuk dulu, Nak. Tante bikinin teh hangat.” Risti menggandeng Yugi agar segera masuk ke rumah.


Sekarang giliran Reva yang berdecak. Dia mendahului Risti sambil izin untuk masuk ke kamar.


Tak lama, Reva turun ke bawah setelah mandi dan berganti pakaian. Dia bingung karena tak terlihat sosok Yugi di ruang tamu rumahnya.


“Yugi ke mana, Bun?”


Risti menoleh saat dia sedang membereskan gelas teh di ruang tamu.


“Pulang …. Dia temen kamu?”


Reva terdiam. Perlukah dia menjawab kalau Yugi itu temannya? Tapi kalau dia menjawab bahwa dia baru saja mengenal Yugi, Risti akan khawatir.


“Iya, Bun …. Temen,” jawab Reva.


“Kok Bunda belum pernah liat? Anak baru?”


Reva kembali terdiam. Dia berpikir.


“Bukan, Bun. Dia anak IPS, jadi jarang ketemu.”


“Ohh. Tapi kan masih satu sekolah, Rev?”


“Reva juga bingung kenapa ga pernah ketemu, Bun,” batin Reva.


“Bantu Bunda masak, yuk, Rev,” pinta Risti.


Reva mengangguk semangat. Dia mencari ponselnya di kamar untuk mengecek beberapa pesan. Namun dia tidak menemukannya. Dia turun ke bawah.


“Bunda, liat hape aku nggak?” ucap Reva.


“Oh iya Bunda lupa bilang. Itu di meja ruang tamu.” Risti menunjuk meja di ruang tamu.


Reva mengambil itu sambil bertanya-tanya.


“Kok bisa di sana, Bun?”


“Tadi ketinggalan di mobil temen kamu. Kamu ini jangan teledor, bahaya tau.”


Reva hanya tersenyum canggung.


“Jadi tadi Yugi balik karena mau balikin hp gue?” batin Reva.


...☁☁☁...