In The Rain

In The Rain
Berbeda



"Lo dianter siapa kemarin?" Jesi menyambut Reva dengan wajah datarnya.


Reva bingung hendak menjawab apa. Dia juga ragu untuk bercerita.


"Kenapa? Ga mau cerita? Ya udah." Jesi melangkah menuju kantin.


Namun langkahnya ditahan oleh Reva. Reva akan bercerita sekarang. Setelah bercerita panjang lebar, Jesi termenung sejenak.


"Lo ga kenal dia? Sedangkan dia satu sekolah sama lo …. Gue tau siapa yang lo maksud," ucap Jesi sambil mengelus dagunya.


"Anak IPS itu 'kan? Yang kalem plus ganteng itu 'kan?" lanjut Jesi.


Reva tak bisa memberi respon. Dia sendiri benar-benar tak mengenal Yugi yang katanya anak IPS.


"Gue serius kenal Yugi, Rev. Dia anak XII IPS 5. Dia terkenal sama kebebasannya. Dan lo ga tau dia?" Jesi masih saja tak percaya bahwa Reva tak mengenal Yugi.


Siapa yang tak tau Yugi? Anak klub basket yang sudah ditakdirkan menjadi tampan dan pintar itu memiliki segala pesona yang ada pada dirinya. Anak orang kaya yang memiliki kebebasan suara dan hidup, membuat Yugi disenangi banyak anak perempuan di sekolahnya.


"Beneran? Gue ga kenal sama dia. Malah ngira kemarin dia mau nyulik gue," ucap Reva jujur.


"Lo naik mobil dia?"


Reva mengangguk kecil.


"Fix lo cewek yang paling beruntung seantero sekolah."


"Hah?"


Jesi menghela napas menghadapi sahabatnya yang sedikit lambat tanggap.


"Yugi emang terkesan kalem. Dia nggak punya aura dingin di wajahnya .... Tapi, ga ada satu cewek pun yang deket sama dia. Naik mobilnya pun, ga ada yang pernah," ungkap Jesi. "Dan lo ... yang ga kenal sama dia, malah bisa naik ke mobilnya?"


"Ya semua terjadi gitu aja. Bahkan awalnya gue ga mau."


"Untung lo nggak nolak dia waktu dia nawarin tumpangan. Kalau nolak, lo bakal nyesel seumur hidup deh. Gue jamin." Jesi menjelaskan.


“Tapi gue berharap kemarin pertemuan pertama dan terakhir. Lo tau kan kalau gue ga suka cowok ga jelas?”


Jesi menghela napas. “Dia cowok jelas, Rev …. Cuma lo yang ngatain dia cowok ga jelas.” Jesi bangkit dari duduknya. "Gue mau ke kantin, sarapan. Lo mau ikut nggak?"


Reva berpikir sebentar. "Nggak deh. Gue udah makan tadi."


Jesi mengangguk lalu melangkah menuju kantin. Reva bersenandung pelan sambil mendengarkan musik di telinganya. Dia membaca buku fisika dengan tenang.


"Pagi, Reva," sapa Rian.


Reva hanya tersenyum tipis menanggapi Rian.


"Lo mau ke kantin? Sarapan bareng, yuk!"


"Gue udah sarapan. Thanks."


Rian terdiam. Seperti mencari topik pembicaraan agar bisa mengobrol dengan Reva. Sedangkan Reva masih berfokus pada buku fisika di depannya itu.


"Lo mau makan siang bareng gue?" tawar Rian.


Reva kali ini menatap sepenuhnya ke Rian. "Rian ... gue ga bisa."


"Gue ga maksa lo sama gue, Rev. Itu hak lo. Tapi, kenapa lo ga mau makan siang bareng?"


"Penggemar lo banyak, Yan. Gue kena teror ntar."


"Bilang ke gue dong, Rev."


"Jangan merusak apa yang orang tau tentang lo sekarang."


"Gue ga merusak. Gue mencegah hal buruk terjadi ke lo. Oke?"


"Ya udah nanti. Tapi gue ga janji."


"Oke, gue tunggu." Rian menuju bangkunya sendiri. Menghampiri kawan-kawannya yang menyaksikan perdebatan antara Reva dan Rian tadi.


Sudah bukan hal yang mengejutkan jika terjadi perdebatan antara Reva dan Rian. Topiknya selalu sama. Tentang perasaan Rian yang tak terbalaskan.


"Bro, kadang gue kasian sama lo. Cewek banyak loh di luar sana. Kenapa lo masih aja ngejar si Reva yang ga buka mata sama lo?" tanya Brian menyambut Rian di bangkunya.


"Iya bener tuh. Emang ada apa sih sama Reva? Biasa aja. Ya walau dia pinter, tapi yang lainnya juga pinter. Bahkan lebih cantik dari Reva," sahut Fino menyetujui ucapan Brian.


Rian tersenyum samar. "Reva itu beda."


"Dari dulu lo bilang gitu mulu, Yan. Ga ada alasan lain?" sindir Fino.


"Bucin mah beda. Sadar diri lah, Bro." Brian menepuk pundak Rian.


"Kadang tuh lo perlu ngaca, Bri. Lo juga bucin banget sama si Jesi."


Brian mengumpat. Mereka menghadap ke depan setelah guru yang akan mengajar hadir.


...☁☁☁...


“Lo mau pesen apa? Gue pesenin,” ucap Rian pada waktu istirahat.


“Bakso aja. Sama lemon tea. Ini uangnya,” balas Reva.


“Nanti aja gampang .... Lo tunggu sini ya. Gue pesen dulu.” Rian menuju stand bakso yang cukup ramai.


Kantin di SMA Khatulistiwa berjumlah 3. Yang pertama berada di lantai paling bawah. Lantai yang berisi kelas X. Biasanya dipakai untuk anak kelas X dan sebagian kelas XI. Yang kedua di lantai dua. Lantai yang berisi kelas XI. Biasanya dipakai untuk anak kelas X yang menantang maut, dan juga anak kelas XI. Yang terakhir adalah di lantai 3. Di lantai kelas XII. Tentu saja dipakai untuk anak kelas XII. Hanya murid kelas X dan XI yang tebal muka yang memakai kantin ketiga ini.


Kembali ke Reva yang diam di salah satu kursi kantin. Dia memainkan ponselnya. Sedikit jenuh karena menanti Rian yang mengantri sekaligus dikerubungi oleh fansnya. Tak sedikit juga yang menatap sinis ke arah Reva.


Reva menatap sekitarnya. Dia bosan. Banyak orang di kantin pada jam makan siang ini. Reva sendiri tidak terlalu lapar. Jadi sebenarnya dia bisa menolak Rian untuk makan siang bersama.


Saat matanya menyapu penjuru kantin, dia menemukan seseorang yang sedikit menarik matanya. Duduk di kursi yang berseberangan dengan Reva. Dengan seorang teman yang terus mengoceh di sebelahnya.


“Itu Yugi ‘kan?” batin Reva masih menatap ke arah itu.


Seseorang di samping Yugi sadar ada yang menatap ke arah mereka. Sebenarnya banyak yang memerhatikan mereka. Ralat, maksudnya memerhatikan Yugi. Namun, ada yang berbeda dari semua mata.


“Lo merasa diliatin nggak sih, Gik?” ucap Bastian sambil menatap sekitar.


“Serius, Bas. Lo nggak capek ngoceh mulu?” balas Yugi jengkel dengan ocehan Bastian yang tak berhenti.


“Nggak. Kali ini serius. Kerasa nggak sih? Lo yang diliatin tapi gue yang ngerasain ngerinya.”


Melihat Bastian yang menengok ke sana-kemari, membuat Yugi mau tak mau juga ikut mengedarkan pandangannya.


Dan saat itulah, pandangannya bertemu dengan Reva. Yugi tersenyum kecil sambil membalas tatapan Reva.


“Jadi ini yang liatin gue? Ini yang kemarin gue kasih tumpangan ‘kan?” batin Yugi.


Reva yang sadar tatapannya terbalas, langsung membuang muka. Niatnya ingin terlihat keren demi menaikkan harga diri. Namun, di mata Yugi malah terlihat salah tingkah.


“Siapa ya?” Bastian masih saja mencari.


Yugi memutar bola matanya malas. “Udahlah, Bas. Yang ngeliatin gue udah salting barusan .... Lo udah belum ngocehnya? Gue mau balik duluan.”


Kebetulan, Yugi melewati meja Reva saat akan kembali ke kelas. Dia menyiapkan kertas lalu menuliskan sesuatu. Itu membuat Bastian bingung.


“Lo dapet dari mana kertas itu?”


“Tadi ada yang ngasih gue,” jawab Yugi masih sibuk dengan tulisannya. Setelah selesai, dia berdiri.


“Mau ke mana??” teriak Bastian yang membuat mereka menjadi pusat perhatian.


Yugi mengumpat dalam hati karena kebodohan mulut Bastian itu. Dia tak menjawab Bastian. Saat mulai dekat dengan Reva, dengan tenang dan cepat, dia meletakkan kertas itu di depan Reva.


Reva awalnya tak sadar karena masih sibuk dengan salah tingkahnya. Saat dia sadar, dia menengok ke Yugi yang sudah melangkah pergi.


Dia membuka kertasnya perlahan. Membacanya dalam hati.


Kenapa? Mau nebeng lagi


“Sorry, lama.” Tiba-tiba Rian kembali setelah memesan makanan.


Dengan cepat, Reva menyimpan kertas itu di saku bajunya.


“Iya, gapapa.” Reva tersenyum menenangkan.


“Lo kenapa tadi?”


“Apa?”


“Itu tadi nyimpen kertas.”


“Ngga. Tadi jatuh di bawah. Gue ambil. Daripada kotor.”


Rian mengangguk-angguk.


...☁☁☁...