In The Rain

In The Rain
Yugik



...“Emang kenapa kalau banyak penggemar? Kan gue ganteng.”...


...-Yugi Vanant Fabiano...


...☁...


“Lo mau pulang sekarang?” Bastian meraih pundak Yugi.


Yugi menoleh. Dia menyingkirkan tangan Bastian dari pundaknya. Lalu dia mengangguk.


“Lo tuh sensian banget, bego …. Gue nebeng ya?”


“Nggak.”


“Lo sombong sekarang. Emangnya lo mau ke mana sih?”


“Mau main basket.”


“Di mana? Lapangan deket rumah?”


Yugi mengangguk lagi. Dia melangkahkan kakinya dengan santai. Tangan kirinya masuk ke dalam saku, tangan kirinya memegang tas yang ada di pundaknya.


Tiba-tiba seorang murid perempuan menghampiri mereka berdua dengan malu-malu. Yugi menatap murid itu.


“M-maaf, Kak. A-aku mau kasih coklat b-buat Kak Yugi.” Murid itu menyerahkan sebatang coklat mahal pada Yugi. Murid itu menunduk karena dia malu berada di depan Yugi.


Yugi menerima coklat itu setelah cukup lama diam. “Makasih.”


Murid itu tersipu malu karena coklatnya diterima Yugi. Dia pamit untuk pulang dengan salah tingkah.


“Lo bukannya nggak suka coklat?” Bastian menatap Yugi heran.


Yugi menatap coklat itu. “Gapapa.”


“Dih aneh lo. Udah deh. Gue bareng lo pokoknya.”


Yugi berdecak pelan.


Menuju ke lapangan basket dekat rumah Yugi, Bastian tak berhenti mengoceh. Kalau dipikir-pikir, sikap Bastian dan Yugi sangat bertolak belakang. Banyak yang heran kenapa Yugi yang lebih banyak diam, bisa berteman dengan Bastian yang sangat banyak bicara.


“Lo kenapa ga naik mobil lo sih?” keluh Bastian setelah mereka sampai.


“Sengaja.” Yugi mengeluarkan bola basketnya lalu mulai memantulkannya ke lapangan.


“Kenapa? Nanti balik lagi dong ke sekolah?” Bastian menaruh tasnya di pinggir lapangan.


Yugi tak menjawab. Namun dia mengangguk pelan. Mengiyakan pertanyaan Bastian kalau dia akan kembali ke sekolah lagi nanti.


“Gue nyesel ngikutin lo.”


Yugi tersenyum miring. “Gue nggak minta lo ikut.”


“Lo mau duel? Satu lawan satu. Biar sekalian capeknya.” Bastian menawarkan tantangan ke Yugi, yang langsung disambut baik oleh Yugi.


...☁☁☁...


“Reva, makan malem udah siap. Turun, ya,” ucap Risti.


“Iya, Bun. Sebentar.” Reva menutup bukunya dan mematikan lampu belajar di kamarnya.


Mengecek ponselnya sejenak sebelum turun. Ada pesan dari Rian. Namun dia tak ada niatan untuk membacanya. Tak lama, dia turun ke bawah untuk makan malam.


“Gimana sekolah kamu, Rev?” tanya Dirga, ayah Reva.


“Baik, Yah. Pelajarannya tambah susah tapi Reva belajar terus kok.” Reva menjawab setelah dia menelan makanannya.


“Besok mau berangkat sendiri atau Ayah antar? Tapi kayaknya Ayah ga bisa jemput.”


“Anter aja, Yah. Gapapa ga bisa jemput, nanti aku naik bus.”


Setelah makan malam, Reva berpamitan dan mengucapkan selamat malam pada orangtuanya, lalu dia naik ke kamarnya. Membuka ponsel sambil duduk di ranjang empuknya.


Ponselnya berdering. Itu Rian. Lagi.


“Kenapa, Yan?” jawab Reva sedikit malas.


“Lo udah makan?”


“Udah, barusan. Kenapa?”


“Bantuin kerjain PR dong, Rev. Lo udah selesai kan?”


“Udah. Gue fotoin ya? Gue udah ngantuk soalnya. Sorry ya.”


“Oke oke.”


Reva mematikan sambungan telepon. Dia menghela napas pelan. Sungguh, Rian membuatnya sedikit tak nyaman kali ini. Dengan cepat, dia mengirimkan foto pekerjaan rumahnya pada Rian.


Setelah selesai, dia menidurkan tubuhnya. Tiba-tiba ada notifikasi pesan masuk. Reva mengeceknya dan ternyata dari nomor tak dikenal.


+62xxxxxxxxxxx


Jangan deketin Rian lagi, anjing.


Gue udah peringatin lo.


Awas kalau besok gue liat lo sama Rian lagi di kantin.


Reva langsung menutup ponselnya. Ancaman seperti ini sering datang padanya. Dia hanya akan menghapus riwayat chatnya lalu menganggap tak ada ancaman yang datang. Tak ada yang tau tentang ini. Bahkan Reva enggan menceritakan hal ini pada Jesi.


Bukan karena dia tak percaya pada Jesi. Dia sangat percaya pada sahabatnya itu. Tapi Reva hanya tidak ingin membuat Jesi khawatir.


Kali ini dia tidak menghapus chat tersebut. Dia terlalu malas untuk itu. Reva memejamkan matanya sejenak. Lelah menghampiri tubuhnya. Dia makin mengantuk sekarang.


Tiba-tiba, terbelesit sosok yang membelah hujan di benaknya. Dengan cepat, Reva membuka matanya. Menyadarkan dirinya sendiri tentang apa yang dia pikirkan.


Membenarkan posisi tidurnya agar lebih nyaman, Reva memutuskan untuk tidur.


...☁☁☁...


Reva mengangguk lalu mencium tangan ayahnya. Dia melangkah pelan menjauhi mobil ayahnya, lalu masuk ke gedung sekolahnya.


Suasana sekolah masih sepi. Karena Reva berangkat lebih pagi hari ini. Maklum saja, kantor ayahnya dan sekolahnya tidak searah. Yang mengharuskan Reva berangkat lebih pagi.


Dia berada di lorong dekat kelasnya yang sangat sunyi. Hanya langkah kakinya yang terdengar di sana. Tak lama, Reva sudah duduk di tempat duduknya dan mulai membuka buku pelajaran hari ini.


Kelasnya benar-benar masih sepi. Hanya ada dirinya saat ini. Suara kertas yang dibalik terdengar sangat nyaring di telinga Reva. Itu membuatnya tersenyum tipis.


Tap tap tap


Suara langkah kaki menghentikan aktivitasnya itu. Dia menoleh ke arah pintu. Mewaspadai seseorang akan datang dari sana. Seorang murid laki-laki lewat melewati pintu kelasnya.


Reva melanjutkan aktivitasnya setelah lorong kembali sepi.


...☁☁☁...


“Mobil kamu di mana, Yugi?” tanya Sesil, ibu Yugi.


“Kemarin Yugi tinggal di sekolah, Ma.” Yugi menjawab sambil melahap sarapannya.


“Loh? Kenapa? Nanti kamu berangkat naik motor? Terus mobil kamu?” Sesil menaruh seluruh atensinya pada Yugi yang sedang asik dengan ponsel dan sarapannya.


“Nanti Yugi jalan ke sekolah.” Dia melihat jam tangannya.


“Kamu yakin?” Sesil nampak ragu.


Yugi mengangguk pelan lalu membawa rotinya. “Yugi pamit, Ma.”


“Hati-hati, Nak.”


Udara pagi sungguh membuat Yugi tenang. Selain hujan, Yugi tipe laki-laki yang menyukai ketenangan. Dia akan selalu mencari ketenangan ketika sedang bersama teman-temannya.


Lagu di earphonenya mengalun indah. Dia memilih lagu yang cocok untuk suasana pagi hari. Kicauan burung juga terdengar sangat serasi dengan angin sepoi-sepoi yang menyibak rambutnya.


Tak lama, dia sampai di sekolah. Terlihat sebuah mobil yang keluar dari parkiran sekolah. Ada seorang murid yang barusan masuk ke gedung sekolah juga.


Setelah menaruh tas di kelas, dia menuju ke rooftop sekolah. Suasana sunyi seperti ini sulit dia dapatkan di siang atau sore hari. Maka dari itu dia ingin menikmatinya kali ini.


Mau tak mau dia melewati lorong kelas jurusan XII IPA. Hanya itu satu-satunya jalan menuju rooftop. Untung saja lorong masih sepi. Dia melewati kelas demi kelas. Ekor matanya menangkap sosok perempuan yang duduk di dalam sebuah kelas. Dia tak berminat mengecek kelas itu.


Dari yang Yugi tangkap, sosok itu punya senyum yang sangat manis. Walau tipis, tapi itu terlihat sangat tulus dan tenang. Secara tak sadar, Yugi ikut tersenyum tipis juga.


Dia mempercepat langkah kakinya sebelum sekolah mulai ramai dipenuhi murid yang mulai berdatangan.


...☁☁☁...


“Lo naik apa tadi?” tanya Bastian di kantin.


Mereka memesan makanan dan menanti itu.


“Jalan.”


“Seriusan? Kenapa nggak pake motor? Motor lo di rumah kan?”


Yugi mengangguk. Dia melepas earphone-nya. “Males manasin.”


Obrolan mereka terjeda karena ada seorang siswi yang menghampiri Yugi dengan sengaja, untuk memberinya coklat. Itu siswi yang kemarin sore memberinya coklat mahal.


“M-maaf ganggu, Kak. I-ini b-buat kakak.”


Yugi diam. Dia tidak ingin merespon siswi yang sepertinya adik kelasnya itu. Dengan sengaja, dia memasang earphone-nya lagi tanpa menatap adik kelasnya itu.


Bastian yang melihat tingkah Yugi hanya dapat menggeleng dan tersenyum canggung ke arah siswi itu. Dia sedikit kasihan pada siswi itu.


Dengan malu, siswi itu berlari menghampiri temannya yang sudah menunggu di depan pintu kantin kawasan kelas XII.


“Mana? Katanya Kak Yugi bakal terima?” tantang salah satu teman siswi itu.


“T-tapi kemarin beneran diterima.”


Terdengar sama-samar percakapan antara siswi itu dengan temannya.


“Kemarin coklatnya juga lo makan?” Bastian sedikit ingin tahu tentang nasib coklat mahal yang diterima Yugi kemarin.


Yugi tidak terlalu menyukai coklat. Dia hanya akan memakannya ketika suasana hatinya sedang berantakan atau saat dia sedang sangat senang.


“Dikit,” balas Yugi enggan.


“Tumben? Lo lagi stres?”


Yugi menggeleng. Dia mengencangkan rahangnya untuk memberi tanda pada Bastian agar tak bertanya lebih jauh perihal coklat itu.


Tiba-tiba Yugi melihat sosok perempuan dengan senyum tipis terpaksa di seberang mejanya. Itu sosok yang tadi pagi dia lihat dengan ekor matanya. Namun sosok tersebut terlihat kurang nyaman.


Yugi pintar membaca situasi. Dia akan tahu saat orang lain nyaman atau tidak ketika sedang berbicara dengan seseorang.


Sepertinya Yugi tahu siapa orang yang membuat sosok perempuan tadi tidak nyaman. Dengan sengaja, Yugi menjatuhkan gelas kosong ke lantai. Sehingga gelas tersebut pecah. Bunyinya sangat nyaring walau kantin sangat ramai.


Itu mengundang perhatian banyak murid. Termasuk sosok perempuan dan seseorang yang membuatnya tak nyaman. Semuanya langsung memandang ke meja Yugi.


Bastian terlihat shock berat. Dia tak tau apa motif perbuatan sengaja Yugi ini.


“Lo kenapa, Gik? Siapa yang ngerasukin lo, anjir?” Bastian mengumpat. “Setan, please lo salah orang kalau masuk ke tubuh dia. Sekarang keluar cepetan sebelum gue nelpon dukun langganan keluarga gue.”


Yugi berdiri lalu membereskan pecahan gelas tadi. Dia menuju ke salah satu stand pemilik gelas itu.


“Maaf, Bu saya nggak sengaja. Mau diganti uang atau gelas baru?” tanya Yugi dengan nada lembut.


Spontan, beberapa adik kelas dan teman seangkatan perempuannya langsung menjerit tak berdaya. Sangat jarang Yugi mengeluarkan senyum dan suaranya yang lembut itu.


“G-ga usah, Nak. Cuma gelas aja kok,” balas ibu kantin.


“Ga bisa, Bu. Besok saya ganti pakai gelas baru ya. Sekali lagi maaf.” Yugi melangkah untuk kembali ke kelasnya.


Melewati segerombolan siswi yang sangat terobsesi dan bahagia ketika melihat Yugi lewat. Sedangkan Bastian yang masih nampak shock, hanya dapat menganga tak percaya atas perbuatan Yugi tadi.


...☁☁☁...