In The Rain

In The Rain
Hujan



..."Pertemuan ini akan menjadi yang pertama dan yang terakhir bagi kita."...


...-Reva Ferisca...


...☁...


Rintik hujan kembali menyadarkan Reva dari lamunannya.


"Kapan berhentinya? Gue juga mau pulang," batinnya.


Reva masih terduduk sendu di dalam kelas yang telah sepi sejak satu jam yang lalu. Hujan masih saja turun dengan deras. Seakan tidak membiarkan Reva pulang dengan kering. Dia juga menyesali menolak jemputan dari ayahnya dengan alasan ada tambahan pelajaran. Padahal, tak ada.


Reva menarik napas panjang. Memutuskan untuk segera keluar kelas. Dengan langkah pelan, dia menuju pintu depan sekolah yang besar. Menoleh ke kanan dan kiri. Sepi. Hanya ada hujan yang mengucur indah di depannya. Bahkan di sekitarnya. Menghela napas dengan berat, dia duduk di salah satu bangku kosong.


Reva memutuskan untuk menelepon ayahnya. Namun, panggilan tak diangkat. Ayahnya sibuk meeting dengan rekan bisnisnya. Dia masih berharap ada seseorang yang akan menawarinya tumpangan. Siapa pun itu. Guru bahkan karyawan sekolah pun tak apa. Tapi, sekali lagi itu harapan yang kosong. Bahkan di sini tak ada hembusan napas selain napas Reva sendiri.


"Lo sendiri?" Seseorang sedikit membuat Reva terperanjat.


"I-iya." Baiklah, Reva menjawab orang asing.


"Mau bareng gue?" tawar orang asing itu.


Reva ragu, karena dia tak mengenal orang itu. Kalau terjadi apa-apa, bukankah akan banyak yang direpotkan?


"Lo siapa?" tanya Reva.


"Ga mau ya udah." Orang asing itu melangkah pergi.


Namun Reva meraih tangannya tanpa disadari. Orang asing itu melihat tangannya yang diraih Reva.


"S-sorry. Gue ga sengaja." Reva merutuki raganya sendiri.


"Jadi, mau bareng?" tawar orang asing itu sekali lagi.


Reva terlihat ragu. Apakah aman? Kalau dia akan diculik, apa kelanjutannya?


"T-tapi lo ga akan nyulik gue 'kan?"


"Nyulik lo?" Orang asing itu terlihat kebingungan. "Nggak."


Reva mengangguk. Orang asing itu melangkah menuju gerbang depan. Sepertinya mobilnya terparkir di situ.


"Lo tunggu sini." Orang asing itu berlari menuju mobilnya.


Menembus hujan dengan cepat, seakan-akan memang dia sudah bersahabat dengan hujan. Reva yang melihat itu, sedikit merinding. Reva memang suka hujan. Lumayan suka. Tapi, jika dia disuruh basah oleh air hujan, dia akan menolak mentah-mentah hal itu. Reva sungguh tak suka basah air hujan. Namun, dia selalu menantikan hujan.


Mobil orang asing itu mendekat ke Reva yang masih di bawah perlindungan atap pintu depan.


"Naik." Orang asing itu menyuruh Reva naik.


Akan sedikit basah jika dia tetap naik. Namun, apa boleh buat? Dengan sedikit tergesa, Reva membuka pintu mobil orang asing itu. Reva berdecak pelan karena tetesan air hujan mengenai rambutnya dan seragamnya.


"Basah dikit .... Gapapa," ucap orang asing itu. Dia memutar badannya dan mengambil sesuatu dari belakang.


"Keringin pake ini aja. Masih baru kok." Orang asing itu menyodorkan handuk bersih.


Ini membuat Reva sedikit berpikir. Bagaimana orang asing itu memiliki persediaan handuk di mobilnya?


"Lo basah kuyup gini. Keringin pake apa?" tanya Reva setelah sadar lelaki di depannya ini memiliki kondisi yang lebih menghawatirkan dari dirinya.


"Ga usah .... Lo buruan keringin badan lo. Nanti masuk angin."


Reva masih termangu. Bagaimana orang asing ini begitu ... hangat?


"Kenapa?" tanya orang asing itu sambil menatap wajah Reva.


Dia meraih handuk yang ada di tangan Reva. "Boleh?"


Reva masih saja membeku di tempatnya. Dia melihat sosok yang tampan di depannya. Dengan rambut yang basah dan wajah yang sedikit kedinginan, tidak menyembunyikan paras tampan yang dimiliki orang asing itu. Orang asing itu mulai mengeringkan rambut Reva. Sangat berhati-hati.


Tunggu .... Mereka belum saling mengenal. Reva mencegah tangan orang asing itu cepat. Sedikit memundurkan badannya dari orang asing itu.


"Oke .... Gue Yugi Bria Ardhana. Panggil aja Yugi. Kelas XII IPS 5," ucap orang asing bernama Yugi itu.


Reva terdiam. Tak tau harus membalas perkenalan Yugi atau tidak.


"Rumah lo di mana?" Yugi kembali bersuara.


Awalnya Reva tak membalas. Dia masih terdiam membeku.


"Lo mau pulang nggak? Atau mau ke rumah gue?"


"Nggak," tolak Reva cepat lalu memberikan alamat rumahnya.


Yugi mulai melajukan mobilnya di tengah derasnya air hujan. Nampak sangat santai. Sesekali dia memejamkan mata untuk menikmati suara air hujan. Itu membuat Reva sedikit penasaran. Apakah Yugi ini penyuka hujan?


Yugi menoleh ke arah Reva. Tersenyum kecil. "Hmm."


"Lo ga dingin?"


"Udah biasa."


"Lo emang dibolehin naik mobil sendiri?"


Yugi mengangguk. Masih tetap fokus dengan jalanan dan hujan. Sampai di rumah Reva, Reva mengucapkan terimakasih atas tumpangan tak terduga itu. Lalu Yugi melaju membelah hujan yang masih jatuh dengan deras.


"Reva? Baru pulang?? Ke mana aja, Nak?" tanya Risti—Ibu Reva—heboh.


"Tadi kejebak hujan, Bun," jawab Reva.


"Kamu kehujanan? Diantar siapa?" Risti masih mengecek tubuh Reva.


Reva terdiam. Dia harus menjawab apa? Teman? Bahkan dia belum mengenalkan dirinya ke Yugi. Baru 15 menit mereka bertemu. Walau satu sekolah, tapi mereka beda jurusan.


Melihat putri semata wayangnya hanya terdiam, Risti tersenyum. "Kamu mandi terus makan ya. Bunda udah masakin buat kamu. Udah terlalu telat buat makan siang."


Reva mengangguk sambil menghembuskan napas lega. Dia menuju kamarnya yang berada di lantai 2. Membersihkan diri dengan air hangat di kamar mandi kamarnya. Reva berharap, pertemuan tadi menjadi yang pertama dan terakhir.


Dia tak ingin mengenal lebih jauh Yugi. Mereka sama-sama penyuka hujan. Tapi, Yugi terlihat terlalu bebas. Bukankah itu berarti dia nakal dan membangkang? Sungguh bukan kriteria Reva.


Ponselnya berdering.


"Halo?" sapa Reva.


"Reva lo udah pulang? Tadi pulang jam berapa?"


Itu suara temannya, Rian.


"Udah kok. Setengah jam yang lalu. Kenapa?"


"Kenapa nggak minta jemput ke gue?"


"Kita udah pernah bahas ini, Rian."


"Oke oke. Tapi, ayolah. Gue nggak merasa direpotin kok. Lain kali telepon gue aja ya?"


"Iya, Rian."


"Ya udah. Sampai besok, Reva."


"Iya."


Ttut.


Rian Talenta. Seperti namanya, dia memiliki banyak talenta. Hampir semua hal bisa dia kendalikan. Kecuali hatinya Reva. Reva tak sebodoh itu untuk tak menyadari perlakuan khusus Rian padanya. Namun Reva selalu menolak perlakuan khusus itu. Dia tak ingin memberi harapan pada Rian.


Rian tampan, baik, hampir semua hal bisa dia lakukan, bahkan hampir seluruh perempuan di sekolahnya menyukainya. Tapi, Reva merasa ada yang kurang dari Rian. Reva tak tau apa itu. Tapi, Reva tak tertarik pada Rian.


"Bunda!" panggil Reva menuju ruang keluarga.


"Kenapa, Rev?" balas Risti.


"Besok aku berangkat sendiri, ya?"


Risti bingung. "Berangkat sendiri? Kamu mau naik apa?"


"Naik bus. Boleh 'kan, Bun?"


Risti sedikit ragu untuk mengijinkan Reva.


"Kenapa ga minta antar ayah?" tanya Risti dengan senyum.


"Kasian ayah. Kan sekolah Reva sama kantor ayah beda arah .... Boleh?"


"Ya udah boleh. Hati-hati ya. Jangan sampai nyasar. Inget jangan ngomong sama orang asing."


"Iya, Bun. Makasih!" Senyum ceria terbit di bibir Reva. Membuat Risti ikut tersenyum.


"Ayah belum pulang ya?" tanya Reva.


"Belum. Mungkin ada lemburan hari ini."


"Ya udah deh, Bun. Aku udah ngantuk nih. Aku tidur duluan ya?"


"Iyaa. Selamat malam, Reva. Tidur yang nyenyak ya. Jangan lupa berdoa."


"Iya, Bun. Selamat malam juga."


...☁...