In The Rain

In The Rain
Teman



...“Surprise-nya adalah ketika lo selalu dateng waktu gue kejebak hujan.”...


...-Reva Ferisca...


Mungkin Reva akan menyesali keputusannya tentang ajakan berteman Yugi kemarin. Karena baru saja masuk ke halaman sekolah, dirinya melewati mading dan menemukan fotonya sendiri yang dicoret-coret dengan spidol merah.


Tulisannya, RIAN BUKAN PUNYA GUE.


Betapa memalukannya hal ini. Langsung saja tanpa berkata apapun, Reva mencabut semua fotonya itu. Untung saja ini masih pagi, belum banyak murid yang datang.


Reva yakin tidak hanya satu mading, pasti mading lain di sekolah ini juga ada foto-fotonya. Siapapun yang menempel ini, sangat keterlaluan. Perasaannya saat ini benar-benar tidak terdeskripsikan. Reva memutuskan untuk naik ke kelasnya terlebih dahulu.


Batinnya begitu menjerit saat ini. Bagaimana bisa orang yang mengancamnya bertindak sejauh ini untuk mempermalukannya? Di saat Reva tenggelam dalam pikirannya, Yugi menghampiri dengan wajah mengeras.


“Gue jadi temen lo,” ujarnya. Ini sebuah pernyataan, bukan pertanyaan lagi seperti kemarin.


Reva hanya mengangguk lemas. Baiklah, tanpa Yugi mungkin dia tidak tahu bagaimana melepas semua fotonya dari mading sekolah. “Tolong.”


Yugi menarik tangannya untuk menuju ke rooftop. Membawanya dengan lancang, tanpa persetujuan dari Reva. Karena dirinya yakin, Reva tidak punya pilihan lain saat ini.


“Dengerin gue. Gue udah cabut foto lo dari semua mading sekolah. Tapi bukan berarti lo aman.”  Yugi memberi peringatan. Dia ikut kesal saat menemukan foto Reva di mading sekolah tadi pagi. “Lo suka sama Rian?”


Reva membelalak, kemudian menggeleng pelan. “Gue nggak suka Rian.”


“Udah keliatan.”


“Kenapa nanya?”


“Biar nggak salah langkah.” Angin sepoi-sepoi menyibak rambut Reva sampai berantakan. Yugi merapikannya dengan lembut. “Sekarang balik ke kelas aja.”


Namun baru dua langkah, Yugi menahan tangannya. “Gue minta nomor lo.”


...☁☁☁...


Yugi


Ke kantin?


^^^Reva^^^


^^^Nggak, bawa bekal^^^


Yugi


Ok


Reva menaruh ponselnya. Waktu sungguh cepat berlalu. Saat ini bahkan dia sedikit kesulitan untuk menerima bahwa Yugi dan dirinya mulai berteman. Orang yang dia temui di tengah hujan kini punya nomor ponselnya. Paling tidak, Yugi tidak seperti Rian yang selalu memaksanya untuk melakukan sesuatu. Contohnya seperti ke kantin bersama?


“Ayo ke kantin, Rev.” Dengan menggebu-gebu, Rian mengajaknya pergi ke kantin.


Gelengan pelan menjadi simbol tolakan untuk Rian. Reva berharap Rian tidak memaksanya. Sedangkan Rian terdiam sebentar, seakan sedang membaca pikiran Reva. “Padahal gue pengen banget makan siang bareng lo hari ini.”


Reva membenci ini. Oh ayolah, keinginan Rian bukanlah tanggung jawabnya. Jadi tidak salah kan kalau Reva menolak ajakan Rian? Maka dengan senyum kecil dan satu gelengan lagi, Reva menolak Rian.


“Ya udah deh.” Akhirnya Rian menyerah dan memilih untuk segera ke kantin bersama teman-temannya yang lain.


Sebetulnya selain membawa bekal, ada alasan lain Reva tidak pergi ke kantin. Dia takut kalau-kalau orang yang mengancamnya bertindak lebih lagi. Tidak terbayangkan lagi apa yang akan dilakukan oleh orang itu.


Reva sangat ingin menemukan orang itu. Agar semua masalah selesai. Padahal juga sudah kelas 12, Dia ingin menghabiskan waktunya dengan menikmati setiap rintikan hujan di sisa masa sekolahnya.


“Lo kemarin dianter Rian pulang?” tanya Jesi yang baru saja kembali dari kantin.


Dengan meringis, Reva menggeleng. “Rian pulang duluan.”


Oh iya, sampai lupa. Sebetulnya sudah tidak terlalu dipikirkan mengenai Rian yang tiba-tiba pulang tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tetapi tetap saja, Rian keterlaluan meninggalkannya begitu saja. Bahkan sampai sekarang, tidak ada penjelasan atau kata maaf sama sekali dari mulut orang dengan penuh talenta itu.


“Ya ampun, tau gitu gue jemput aja, Rev. Sorry, ya. Gue kira lo masih sama Rian,” sesal Jesi.


“Gapapa, udah lewat.”


Reva membuka bukunya untuk menghindari suasana canggung yang tidak mengenakkan ini. Jujur saja, rasanya sedikit kecewa. Maka dari itu, dia menghibur diri dengan membaca buku novel yang sudah dia beli bulan lalu.


Merasa kawannya itu butuh waktu sendiri, Jesi pergi dari sana. Barulah setelah masuk, Reva dapat bernapas lega karena dia tidak perlu memikirkan hal-hal yang mengusik pikirannya dari kemarin.


...☁☁☁...


Yugi


Pulang bareng?


^^^Reva^^^


^^^Sama ayah^^^


^^^Besok^^^


Yugi


Ok


Yugi kembali menawarinya tumpangan, dan Reva menolak itu karena memang di depannya saat ini sudah ada mobil ayahnya yang baru saja berhenti. Ayahnya keluar dengan membawa payung kemudian menghantarkan Reva ke pintu penumpang.


“Reva bisa sendiri, Yah. Basah dikit gapapa,” ujarnya setelah keduanya di dalam mobil.


“Kamu ga suka basah kena hujan.” Ayahnya mmebalas sambil menyimpan payung di kursi belakang. “Dulu waktu kecil kalau kamu kena hujan dikit aja, udah nangis. Kalau nggak dikasih es krim, ga mau berhenti nangisnya.”


Keduanya terkekeh. Mengenang masa kecil Reva yang terkesan manja karena tidak suka basah terkena air hujan.


“Itu mobil yang kemarin nganter kamu kan?” tanya ayahnya saat melihat mobil Yugi yang menyeberang.


Reva menatap mobil itu. Mencermati dengan baik plat nomor dan berusaha melihat siapa di balik kursi pengemudi. “Iya. Itu mobil temen aku, Yah.”


“Bukan Rian, ya?”


“Bukan.”


Ayah Reva hanya mengangguk. Kemudian dengan fokus mengemudikan mobil, menembus hujan yang semakin deras menyentuh aspal.


Dalam keheningan, tiba-tiba bunyi notifikasi ponsel Reva berbunyi nyaring. Reva segera mengeceknya.


+62xxxxxxxxxxx


Gue nggak liat lo di kantin?


Bagus deh, jauh-jauh lo dari Rian.


Awas aja kalau gue liat lo sama Rian deket.


Surprise dari gue bakal nyambut lo lagi wkwk.


Tanpa sadar, Reva menghela napasnya. Matanya memandang keluar. Mempertimbangkan apakah dirinya harus bercerita pada Yugi saat ini? Tetapi Yugi sedang menyetir. Mana mungkin akan membalas.


Namun tiba-tiba,…


Yugi


Cerita kalau ada yang ganggu


Gue basket


Baiklah. Perlu diakui Yugi sangat cepat untuk sampai ke lapangan basket di maan pun itu. Dan perlu diakui lagi, Yugi orang yang perhatian meskipun sedikit bicara.


...☁☁☁...


Yugi menaruh ponselnya begitu pesannya untuk Reva terkirim. Bola basket di tangan kanannya mulai terpantul sempurna. Akhir-akhir ini, pikirannya terusik dengan seorang murid yang begitu tenangnya menghadapi ancaman. Atau mungkin tidak juga.


Yang pasti sekarang, Yugi akan berpikir bagaimana caranya melindungi murid itu. Jujur saja, Reva sedikit membuatnya bingung. Perasaan yang belum pernah muncul dalam hidupnya, berbuah saat ini.


Entahlah apakah ini yang dinamakan suka atau Yugi hanya penasaran dengan bocah itu. Tetapi yang pasti, sekarang Yugi memiliki keinginan untuk melindungi Reva dari oarng-orang yang mengancam gadis itu.


Namun bukan berarti saat dekat dengan Yugi, Reva akan aman. Yugi dan Rian sebenarnya sama saja. Mereka sama-sama memiliki banyak penggemar. Yang berbeda ialah Rian tidak pernah sadar kalau penggemarnya bisa mengganggu Reva. Sedangkan Yugi sadar akan hal itu. Makanya selama ini, Yugi tidak pernah menanggapi satu orang pun yang menyukainya.


Di tengah permainan solonya, rintik hujan kembali terjun dari langit. Menghiasi lapangan basket yang sudah mulai kering. Ini favorit Yugi. Pantulan bola basketnya semakin keras dan bersemangat ketika air hujan membasahi tubuhnya.


Yugi merasa seperti mendapatkan ide untuk melindungi Reva. Dan itulah yang akan dilakukannya besok sampai Reva bisa tenang menjalani masa sekolahnya.


...☁☁☁...