
Fredi begitu turun dari angkutan yang mengantarnya langsung dipeluk perempuan yang memakai kain jarik dan kebaya sambil menangis,
Pelukannya begitu erat seolah bertemu dengan Fredi merupakan sebuah kebahagiaan yang tiada duanya,
Fredi pun seketika jadi merasa seperti oppa dari Korea yang selalu digemari para remaja Putri dan juga para emak-emak di sepenjuru dunia,
"Ibu rasanya mau gila Dediii... Ibu rasanya mau gila,"
Kata Perempuan itu,
"Kenapa kamu pergi begitu lama, ke mana saja kamu naak..."
Perempuan itu terus menangis, membuat Fredi jadi bingung mau bagaimana,
Mau membalas memeluk, tapi sejatinya Fredi tahu perempuan itu bukan Ibunya, tapi di sisi lain Fredi juga merasa jadi iba karena ada seorang Ibu yang tampaknya begitu takut kehilangan anaknya,
Ya, Fredi ingat saat dulu kakak Fredi meninggal karena sakit saja Ibunya sampai harus dirawat di Rumah Sakit karena saking sedihnya,
Memang, kasih sayang Ibu kepada anaknya jelas tiada dua, tak sebanding dengan apapun di dunia ini,
"Bu'e, ajak Dedi masuk dulu, dia pasti lelah,"
Terdengar suara laki-laki yang tampak sangat berwibawa, Fredi menatapnya sekilas dan Fredi pun menyempatkan diri menyunggingkan senyuman,
Namun, melihat Fredi tersenyum, entah kenapa si laki-laki yang berwibawa itu justeru tatapannya jadi aneh pada Fredi, seperti tatapan yang merasa asing, tatapan yang seolah berubah jadi waspada,
"Ayo nak, kita masuk dulu, kau harus ganti baju, kau juga pasti belum makan bukan?"
Perempuan yang menangis itu kemudian melepaskan pelukannya, ia meraih lengan Fredi dan mengajak Fredi berjalan menuju rumah,
Sementara itu, tampak Pak Giman yang turun dari angkutan dan juga dua orang lain yang sama mengantar Fredi menghampiri laki-laki yang terlihat begitu berwibawa,
Mereka lantas tampak bicara berempat dan membiarkan Fredi menuju rumah bersama perempuan yang bersikap seolah ia adalah Ibunya Fredi,
"Di mana kalian menemukan anakku?"
Tanya laki-laki yang berwibawa tersebut,
"Kami menemukan Mas Dedi di sekitar pemakaman umum di kecamatan sebelah Pak Siswoyo,"
Kata Pak Giman menjawab pertanyaan Laki-laki yang berwibawa tersebut, yang bernama Pak Siswoyo,
"Apa dia cerita bagaimana dia bisa sampai di sana?"
Tanya Pak Siswoyo pada Pak Giman dan kedua temannya, yang tampak kemudian mereka menggelengkan kepala,
"Tidak Pak Sis, kami sama sekali tidak diberitahu kenapa Mas Dedi itu bisa sampai di pemakaman kecamatan sebelah,"
Kata Pak Giman, dan...
"Malah, Mas Dedi ini semula seperti orang linglung, yang seperti tidak tahu sedang ada di mana, bahkan seperti tidak tahu dirinya itu siapa,"
Tambah Pak Giman pula,
"Dia tidak mengenalimu Pak Giman?"
Tanya Pak Siswoyo,
"Tidak Pak, sama sekali tidak, dia melihat saya seperti orang yang sama sekali asing, yang dia tidak pernah melihat saya sebelumnya,"
Tutur Pak Giman dengan mata yang sekilas melihat ke arah rumah di mana Fredi yang terlihat akan masuk namun menyempatkan diri untuk menengok ke arah Pak Giman yang tengah bicara dengan laki-laki berwibawa serta kedua teman Pak Giman,
Jelas saja, Fredi yakin jika mereka kini tengah membicarakan dirinya, meskipun itu entah soal apa,
Pak Siswoyo menghela nafas, ia akan menanyakan sesuatu lagi, tatkala kemudian salah satu teman Pak Giman tiba-tiba mengambil suara,
"Mas Dedi juga bertingkah sedikit aneh Pak tadi,"
Mendengar itu, Pak Siswoyo dan juga Pak Giman menatap orang yang bicara,
"Aneh apa?"
Tanya Pak Sis,
"Dia bertanya pada kami jika saat ini tahun berapa,"
Kata orang itu, lalu...
"Bukan hanya itu, dia juga sempat menyebutkan nama-nama yang kami tidak pernah dengar,"
Tambah teman Pak Giman yang satunya,
"Nama siapa? Perempuan?"
Tanya Pak Siswoyo,
Teman Pak Giman menatap temannya lagi,
"Dian Sastrawan,"
Kata si teman Pak Giman, namun teman yang bertanya menggelengkan kepalanya, karena ia merasa bukan itu namanya, maka ia pun kemudian berusaha mengingat-ingat sendiri,
"Ngg... Ngg..."
Teman Pak Giman itu berusaha berpikir keras, yang akhirnya...
"Dian Sastrowardoyo,"
Kata dia akhirnya menemukan nama itu dalam ingatan,
Pak Siswoyo dan Pak Giman sekilas saling berpandangan, mereka merasa sangat asing dengan nama itu,
"Apa dia kenalan anakku yang baru?"
Tanya Pak Siswoyo tak yakin,
"Bukan Pak, katanya itu artis,"
Jawab yang ditanya,
"Artis? Memangnya ada artis namanya itu?"
Pak Siswoyo yang tentu saja tak punya banyak waktu untuk melihat TV atau juga mendengarkan radio, sama sekali tak tahu siapa artis yang sedang terkenal,
"Iya Pak, setahu saya juga artis yang ada itu Dian Nitami, bukan Dian Sastrowardoyo,"
"Mas Dedi juga menyebut nama Pak Jokowi, setelah menanyakan soal nama presiden kita,"
Kata teman Pak Giman yang satunya,
"Pak Jokowi? Siapa itu?"
Tanya Pak Siswoyo makin pusing jadinya,
"Ya sepertinya itu nama presiden yang diingat oleh Mas Dedi,"
Jawab di teman Pak Giman,
"Lho... lho... presiden kita itu masih Pak Soeharto, itu nama Pak Jokowi dari mana? Dedi ini kenapa ya kira-kira?"
Pak Siswoyo pun jadi merasa jika begitu maka anaknya benar-benar aneh,
"Iya Pak, saya juga bingung kok banyak nama baru yang ditanyakan, apalagi jika melihat ekspresi nya saat kami menyebutkan tahun 1991, dia nyaris seperti hampir melompat,"
Tutur keduanya,
Pak Siswoyo dan Pak Giman kembali saling berpandangan,
Sejenak mereka lantas tampak hening, tak ada satupun yang bicara karena jadi sibuk dengan pikiran mereka sendiri atas diri Dedi yang aneh,
"Nak... Sedang apa kamu di situ?"
Suara perempuan yang mengajak Fredi masuk ke dalam rumah terdengar bertanya dari belakang Fredi yang kini mengintip dari balik tirai jendela kaca rumah, mengintip Pak Giman dan ketiga orang yang kini Fredi yakin tengah membicarakan dirinya,
"Lebih baik kau mandi air hangat, nanti Ibu akan minta Mbok Sur menyiapkan, setelah mandi makan dan istirahatlah, besok setelah kau tidak terlalu lelah baru ceritakan pada kami apa yang sebetulnya terjadi,"
Kata perempuan yang terus merasa jika ia adalah Ibunya Fredi,
Merasa tak enak pada perempuan yang begitu keibuan itu, Fredi pun akhirnya mengangguk dan memutuskan meninggalkan jendela rumah,
Ia mengikuti langkah anggun perempuan yang keibuan tersebut semakin masuk ke ruangan dalam,
"Mboook... Mbok Suuur, siapkan air hangatnya Mbok, ini Dedi biar mandi Mboook,"
Kata perempuan itu pula, yang lantas muncul dari ruangan yang lebih ke belakang seorang perempuan berusia sekitar enam puluh tahunan yang tergopoh-gopoh berlari,
"Oalah Mas Dedi sudah pulang, syukurlaaah... syukurlah..."
Si perempuan yang sepertinya ia adalah Mbok Sur itu matanya berkaca-kaca melihat Fredi yang kini terus dipanggil dengan nama Dedi,
Yah Dedi, nama yang sama sekali Fredi tidak tahu kenapa ia kini bernama Dedi, sama tidak tahunya dia kenapa tiba-tiba berada di tahun 1991,
Yang tepat saat itu, Fredi melihat tanpa sengaja kalender dinding di ruangan tengah rumah tersebut,
Kalender bergambar panorama indah sebuah gunung dan sawah-sawah yang terbentang luas dengan tulisan tahun 1991.
...****************...