
Tuk... tuk... tuk...
Hampir tengah malam, saat Fredi dalam mengantuk berat dan juga dalam keputusasaan yang luar biasa dengan nasibnya, tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekat ke arah sel di mana Fredi berada,
Mata Fredi yang sudah teramat berat berusaha dibukanya manakala langkah itu kemudian seperti berhenti tepat di depan sel,
Lamat-lamat, Fredi seperti melihat sosok perempuan yang tak begitu asing namun entah di mana ia pernah mengenalnya,
Perempuan itu tampak tersenyum, tak bicara apapun ia setengah membungkuk ke arah Fredi yang masih terbengong-bengong di balik sel,
"Siapa anda?"
Tanya Fredi lirih saat kemudian perempuan itu mengulurkan tangannya ke arah sela-sela sel Fredi,
Di tangan perempuan itu, ada tas kecil dari kain yang sepertinya hasil dari jahitan tangan sendiri,
Perempuan itu tak menjawab pertanyaan Fredi, dari sikapnya Fredi hanya bisa menangkap bahwa ia ingin Fredi cepat mengambil tas kecil yang ia berikan,
Akhirnya, meski dalam keadaan masih ragu, Fredi pun kemudian meraih tas kecil dari kain yang diberikan si perempuan tersebut,
Dan bertepatan saat Fredi meraih tas yang diberikan si perempuan, terdengar dari lorong suara dua polisi yang seperti sedang berbincang tentang kasus pembunuhan anak seorang kaya yang siapa lagi jika bukan Dedi dan saat ini Fredi justeru dianggap menjadi salah satu tersangka,
"Ini ap..."
Fredi baru akan mengajukan pertanyaan lagi pada perempuan yang memberikan tas kecil kain padanya, saat kemudian Fredi dikejutkan perempuan itu telah menghilang,
Bersamaan dengan itu muncul sebuah sinar dari dalam tas kecil yang ada di tangan Fredi, sinar yang sangat terang itu dalam sekejap seperti memenuhi ruangan sel di mana Fredi berada,
Sejenak Fredi yang merasa matanya sangat silau, berusaha meraba-raba di dinding yang ada di belakangnya, namun seiring dengan itu sebuah pusaran yang begitu besar seolah menyedot Fredi dengan kuat,
Fredi berusaha bertahan dengan tangannya menggapai besi sel, tapi kekuatan itu nyatanya tak mampu dibendung, Fredi tetap terbawa pusaran besar itu, tergulung dan berputar-putar tak jelas,
Fredi berteriak sekencang-kencangnya, ia tak tahu akan ke mana lagi sekarang ia dibawa,
Fredi menutup matanya, ia merasakan kepalanya semakin lama semakin berat, nafasnya juga semakin sesak,
Fredi tak tahan lagi, dalam sekejap ia pun sudah tak sadarkan diri, hingga...
"Tidak apa-apa, hanya kelelahan saja kok Mas nya, nanti juga siuman,"
Terdengar lamat-lamat suara perempuan, suara yang lembut dan begitu menenangkan,
Entah sudah berapa lama Fredi tak sadarkan diri, Fredi pun pelahan membuka matanya lagi, ia sudah tak melihat sinar yang menyilaukan matanya, hanya sedikit cahaya saja yang sepertinya cahaya matahari sore yang terpantul di dinding saja,
Ah tunggu... tunggu...
Dinding, ini dinding kamar...
Fredi tiba-tiba terbangun, dan tampak di sekitarnya beberapa orang menatapnya, termasuk seorang perempuan dengan baju putih khas seorang dokter,
Perempuan itu menggunakan jilbab warna pink dengan motif bunga-bunga, wajahnya ayu dan sedap dipandang mata,
Tapi, bukan itu... bukan itu fokus Fredi, melainkan wajah itu adalah wajah perempuan yang ia jelas tak asing, tapi..
"Syukurlah...syukurlah... Syukurlah sudah siuman ini Mbak Mel, temanku sudah siuman..."
Seorang pemuda tiba-tiba saja memeluk Fredi yang masih terbengong-bengong menatap perempuan dengan baju dokter yang mengajaknya tersenyum manis.
...****************...