Impossible Love

Impossible Love
26. Wajah Itu



"Apa yang terjadi Met? Apa yang terjadi Met?"


Tanya Fredi celingak-celinguk, ketika temannya itu akhirnya melepaskan pelukannya, mata temannya itu berkaca-kaca, tampak kekhawatiran yang teramat di sana,


Di kamar itu, berdiri pula Ibunya Slamet, Ningsih adik perempuan Slamet, dan seorang perempuan ayu dengan pakaian dokter,


Fredi menatap mereka kembali satu persatu, ia masih linglung, ia rasanya baru saja mengalami perjalanan yang sangat jauh, panjang dan melelahkan,


"Tenanglah Mas Fredi, kami menemukan Mas Fredi tiba-tiba saja menghilang, kami cari seharian dan tiba-tiba orang menemukan di dekat area pemakaman keluarga tuan tanah di ujung desa yang sekarang tak terurus karena sudah tak ada pewarisnya,"


Tutur Slamet, mendengar hal itu, tentu saja Fredi membelalakkan matanya,


"Maksudnya, maksudnya bagaimana?"


Fredi menuntut penjelasan karena otaknya masih belum bisa menangkap maksud kalimat Slamet,


Tampak Slamet menghela nafas, ia menoleh ke arah perempuan yang memakai baju dokter, seolah meyakinkan diri bahwa menyampaikan apa yang terjadi pada Fredi tidak apa-apa,


Setelah melihat perempuan dengan baju dokter itu mengangguk, Slamet pun akhirnya mengulang ceritanya dengan kalimat yang lebih sederhana dan juga suara yang lebih pelan,


Fredi tampak tertegun, begitu Slamet akhirnya mengulang ceritanya, hingga akhirnya Fredi pelahan mengalihkan tatapan matanya ke arah perempuan dengan pakaian dokter yang berdiri di dekat Ibunya Slamet,


Melihat bagaimana interaksi mereka, sepertinya mereka memiliki hubungan yang cukup baik, mengingat biasanya dokter tak akan seakrab itu dengan keluarga pasien jika tidak saling kenal,


"Oh, ini dokter Amel, Mas Fredi, anak Uwak, kebetulan ia saat ini yang mengurus puskesmas di desa sini, begitu Mas Fredi ditemukan tidak sadarkan diri, kami melarikan Mas Fredi ke sini, dan beruntung kata dokter Amel, Mas Fredi tidak apa-apa,"


Jelas Slamet karena melihat Fredi terus menatap dokter Amel dengan tatapan seperti tengah bertanya-tanya siapa perempuan itu,


Fredi lantas tanpa sadar tiba-tiba mengucap nama,


"Amelia,"


Mendengar Fredi mengucapkan nama Amelia, semua pun saling berpandangan, mereka tampak memperlihatkan ekspresi terkejut,


Fredi menyebutkan nama lagi, yang kali ini sampai membuat Slamet berdiri,


"Ba... bagaimana Mas Fredi tahu nama-nama itu?"


Slamet tampak kebingungan, ia sama sekali tidak ingat jika ia telah menceritakan suatu peristiwa di desanya jaman dulu,


Ya, jaman dulu, yang bahkan Slamet pun sejatinya belum lahir waktu itu, hanya saja cerita itu tentu saja telah menjadi semacam cerita rakyat yang melekat di desa tempatnya tinggal,


Fredi yang melihat ekspresi semua yang ada di sana seperti begitu terkejut akhirnya jadi bingung,


Memangnya ada apa? Ia merasa baru saja bermimpi atau apa hingga tahu nama-nama itu,


"Sudah... sudah Mas Slamet, lebih baik Mas Fredi kita biarkan istirahat dulu sampai benar-benar pulih, besok atau lusa baru boleh pulang,"


Kata dokter Amel akhirnya,


Dan sekali lagi, Fredi jadi memandang ke arah dokter Amel, perempuan itu memiliki garis wajah yang sama sekali tidak asing,


Hingga...


Amelia, ya perempuan bernama Amelia itu, yang fotonya sempat ia lihat pada tumpukan barang-barang yang tersimpan di dalam dus milik almarhum Dedi, wajahnya, ya wajahnya mirip sekali dengan dokter Amel,


Matanya, hidungnya, bibirnya, bahkan cara ia tersenyum juga hampir sama,


Fredi lagi-lagi tertegun, merasa pikiran dan ingatannya tengah dipermainkan,


Apa sebetulnya yang terjadi? Apa ini sebetulnya? Batin Fredi.


...****************...