
"Sepertinya Mas Dedi ini kehilangan sebagian ingatannya akibat kecelakaan tempo hari ya,"
Terdengar bisik-bisik orang yang ada di sekitar Fredi, membuat Fredi yang sebetulnya hanya pura-pura tidur jadi semakin dibuat bingung,
Kenapa mereka terus menyebutnya sebagai Dedi? Dan ini daerah mana sebetulnya sampai hp pun tidak ada yang tahu, apalagi melihat penampilan mereka yang seperti orang-orang yang hidup di jaman orangtuanya Fredi masih remaja, yang setidaknya Fredi melihatnya begitu dari foto-foto jaman Ibu Bapaknya sebelum menikah, pun juga penampilan artis-artis di film-film jadul,
"Iya, kasihan sekali, sejak kecelakaan dengan calon isterinya, sepertinya memang sedikit berbeda dari jaman masih belum terjadi peristiwa itu ya,"
Seseorang lain terdengar menimpali,
Hah? Calon isteri? Kecelakaan? Siapa? Fredi rasanya ingin bangun dan bertanya, tapi bagaimana mungkin? Yang ada nanti mereka tambah melihatnya aneh,
Mobil terus bergerak, suara mesinnya begitu berisik, disertai aroma pembakaran bahan bakarnya yang juga tercium sedikit mengganggu,
"Oh aku lupa,"
Tiba-tiba seseorang yang duduk paling dekat dengan Fredi bersuara sedikit keras,
"Apa Min?"
Tanya temannya,
"Tadi isteriku minta aku kulakan minyak tanah,"
Jawab si laki-laki yang duduk paling dekat dengan Fredi,
Ah apa lagi itu? Minyak tanah? Memangnya masih musim? Batin Fredi terus saja dibuat sibuk bertanya-tanya,
"Oalah, ya sudah itu bilang ke Pak Giman, nanti istrimu ngamuk lagi Min,"
Ujar salah satu temannya yang lain,
"Iya, sudah pasti, dia dari pagi sudah wanti-wanti supaya hari ini jangan sampai kosong stok minyak tanahnya,"
"Warung saingan kalian ku dengar mulai sedia bahan lainnya,"
"Iya, ada beras, ada mie instan juga,"
"Wah, berat itu, sepertinya modal nya lumayan banyak,"
"Ya jelas, wong katanya kan itu suaminya kerja jadi supirnya salah satu keluarganya Pak Harto,"
"Oh ya? Wah hebat ya,"
"Lha iya, hebat, wong dia bilang juga sering diajak ke sana ke mari ketemu orang-orang besar di Jakarta,"
"Ya pasti, namanya keluarga presiden, ya kan,"
"Nasib mujur ya,"
"Iya lho, mujur sekali,"
Fredi terus mendengarkan obrolan orang-orang yang ada di dalam mobil bersamanya,
Obrolan yang semakin lama semakin aneh, karena mereka seolah hidup di tahun-tahun yang sepertinya masih disekitar sembilan puluhan,
"Ya wis, aku turun di agen dulu saja ya,"
Terdengar akhirnya laki-laki yang duduk paling dekat dengan Fredi pun pamit, lalu ia memanggil Pak Giman sang driver untuk kemudian meminta diturunkan di agen minyak tanah,
Tak lama berselang, Pak Giman pun lantas memberhentikan mobilnya, yang sepertinya laki-laki di dekat Fredi itu turun,
Saat laki-laki yang di dekatnya turun, Fredi lantas membuka matanya pelahan, ia tampak kemudian melihat deretan toko kecil yang ada di pinggir jalan,
Agen minyak tanah yang depan tempat usahanya ada spanduk itu menarik perhatian Fredi,
Spanduk dengan gambar iklan sabun ternama, yang di sana bintang iklannya masih bintang iklan lama, yang bahkan Fredi pun belum lahir,
Dan yang paling membuat Fredi semakin bingung adalah jalanan yang masih tampak dilengkapi dengan trotoar yang dicat hitam putih bagian tepinya, sesuatu yang sama sekali tidak ada di jaman sekarang,
Trotoar dengan posisi yang lebih tinggi dari jalan raya, yang membuat para pejalan kaki terlihat nyaman, terutama anak-anak sekolah,
Fredi memandangi semuanya dengan perasaan yang semakin terasa asing, entah kini ia sebetulnya tengah bermimpi atau bagaimana, ia sungguh tak tahu,
Mobil kemudian pelahan kembali bergerak, Fredi tampak terus mengawasi pemandangan di luar mobil,
"Mas Dedi perlu apa? Barangkali kami bisa carikan?"
Seseorang yang duduk di depan Fredi tiba-tiba bertanya,
Fredi sejenak menoleh ke arah si penanya, lantas pelan ia pun menggeleng,
"Tidak Mas, terimakasih,"
Sahut Fredi,
Laki-laki yang tadi bertanya pun mengangguk sambil tersenyum,
Fredi pun yang sejak tadi kepalanya dipenuhi begitu banyak pertanyaan akhirnya memutuskan untuk bertanya saja pada sosok tersebut dengan temannya yang mana mereka duduk bersebelahan dan berada di depan Fredi duduk,
"Mas, boleh tanya kan?"
"Lho ya tentu Mas Dedi, silahkan,"
Keduanya tampak nyaris bersamaan menjawab pertanyaan Fredi,
Tanya Fredi kemudian, memang terdengar pertanyaan bodoh dan aneh, kenapa harus bertanya ini tahun berapa? Tapi sungguh Fredi sangat penasaran karena semua yang terlihat saat ini adalah sesuatu yang seperti sudah sangat lama adanya,
Kedua orang yang ditanya tampak sekilas saling berpandangan, sepertinya mereka juga merasa jika pertanyaan Fredi sedikit aneh,
Tapi, untungnya mereka lantas mau menjawab, walaupun jika dilihat dari cara mereka memandang Fredi jelas sekali seolah merasa Fredi ini benar-benar aneh,
"Tahun 1991 Mas,"
"Hah?"
Fredi melongo, ia celingak-celinguk,
1991?
Maksudnya bagaimana?
Fredi yang masih sulit percaya jika ia tiba-tiba berada di tahun 1991 itupun lantas kembali bertanya,
"Ngg... Tahun 1991? Sungguh Mas?"
Kedua laki-laki di depannya pun kompak menganggukkan kepala,
"Pres... Presiden kita siapa?"
Tanya Fredi, karena pastinya, yang paling mudah untuk diingat dari tahun ke tahun adalah presiden,
"Presiden? Ya Presiden Soeharto, Mas, kenapa?"
Mereka memandangi Fredi dengan pandangan yang semakin bingung, sama bingungnya dengan Fredi pastinya,
"Presiden Soeharto? Serius?"
Fredi yang masih sulit percaya berusaha memastikan lagi, dan mereka benar-benar mengangguk,
"Betul Mas, memangnya ada presiden siapa lagi? Kan Presiden kita hanya Pak Soekarno lalu digantikan oleh Pak Soeharto,"
Kata salah satu dari mereka,
"Pak Jokowi, kalian tidak kenal Pak Jokowi?"
Tanya Fredi yang rasanya kepalanya kini mau pecah,
Kedua laki-laki di depan Fredi saling berpandangan, bingung mendengar nama Pak Jokowi,
"Jokowi mana ya Mas?"
Tanya mereka kemudian,
"Ngg... kalau Pak Ma'ruf Amin? Tahu?"
Tanya Fredi, mereka menggeleng,
"Pak SBY?"
Tanya Fredi lagi, mereka kembali menggelengkan kepala,
"Oh Dian Sastrowardoyo?"
Fredi makin ngelantur,
"Sopo Mas itu?"
Salah satu dari laki-laki itu balik bertanya,
"Artis, dia artis,"
Kata Fredi,
"Wah tidak tahu Mas, kita tahunya Dian Nitami,"
Ujar mereka,
Dan bersamaan dengan itu mobil yang ditumpangi Fredi memasuki halaman rumah yang luas,
Rumah dengan bangunan seperti rumah jaman Belanda,
"Sudah sampai rumah Mas Dedi,"
Kata salah satu dari laki-laki itu kemudian, seolah ingin cepat mengakhiri perbincangan dengan Fredi yang membuat sakit kepala,
Fredi menatap keluar mobil, di mana tampak bangunan rumah yang kokoh itu kini pintunya terbuka pelahan,
Terlihat kemudian sosok laki-laki yang sangat berwibawa keluar dari rumah tersebut, disertai seorang perempuan menggunakan kain jarit, kebaya warna abu-abu dan sanggul sederhana,
Perempuan itu sedikit berlari menuju mobil yang diberhentikan oleh Pak Giman,
"Dediii... Dediii anakkuuuu..."
Perempuan itu histeris menghampiri Fredi yang kebingungan.
...****************...