
"Bu,"
Rani memanggil Ibunya yang terlihat seharian ini begitu gelisah, sebagai anak tentu saja melihat hal itu Rani pun jadi ingin tahu apa yang sebetulnya tengah mengganggu sang Ibu,
"Yah, apa Ran?"
Ibu nya Rani yang semula tengah berdiri di dekat jendela rumah di samping meja telfon seperti tengah menunggu telfon dari seseorang sedikit terkesiap manakala Rani memanggilnya dan kini tampak berjalan mendekat,
"Maaf Bu, sebetulnya ada apa Ibu seharian ini terlihat begitu gelisah, apakah ada sesuatu yang terjadi Bu?"
Tanya Rani,
Ibu nya Rani yang tentu saja tak ingin anak kandung satu-satunya itu tahu apa yang tengah ia pikirkan seketika tampak menggeleng,
"Tidak Ran, tidak ada apa-apa, jangan khawatir, tidak ada apa-apa,"
Kata Ibu,
Rani baru akan mengucapkan sesuatu lagi, saat kemudian telfon rumah mereka berdering karena ada panggilan masuk,
Cepat, Ibu nya Rani pun mengangkat panggilan itu, yang mana dari seberang sana terdengar suara laki-laki bicara,
"Ya Bu, ada apa?"
Suara itu terdengar berat,
Ibu nya Rani sejenak memandang ke arah Rani yang masih tetap berdiri pada posisi yang cukup dekat dengan sang Ibu,
Dalam kondisi demikian, tampak sekali Ibu seperti tidak nyaman dengan keberadaan Rani hingga ia terlihat tak langsung menjawab pertanyaan si penelfon,
"Halo... Bu... Bu..."
Terdengar suara laki-laki di seberang sana memanggil Ibu,
"Oh yah... nanti sebaiknya aku bicara langsung saja, sebentar lagi aku akan keluar,"
Kata Ibu kemudian dan menutup telfon nya, Rani pun jadi mengernyitkan kening, ia benar-benar tidak mengerti dengan sikap Ibunya hari ini,
"Ibu akan keluar sebentar, Ayah mungkin akan pulang setelah Maghrib, Ibu pastikan akan pulang sebelum itu, jadi kamu jangan khawatir,"
Kata Ibu sambil bersiap pergi menuju kamar untuk berganti pakaian karena akan keluar rumah,
Tapi Rani cepat-cepat meraih tangan Ibunya, ia ingin Ibunya menjelaskan dahulu akan pergi ke mana dan menemui siapa,
Laki-laki itu, yang tadi menelfon, Rani bisa mendengar suaranya meski samar-samar,
"Ibu, Ibu tidak berhubungan dengan laki-laki lain di belakang Ayah kan?"
Tanya Rani pada sang Ibu,
Ya, meskipun laki-laki yang ia panggil Ayah itu hanyalah Ayah tiri, karena ia adalah anak bawaan sang Ibu saat menikah dengan laki-laki tersebut, tapi Rani sudah menganggap laki-laki yang menikahi Ibunya itu seperti Ayah kandungnya sendiri,
Tentu saja, karena laki-laki yang ia panggil Ayah itu sangat baik dan memperlakukan Rani seperti kepada anak kandung,
Bahkan saat Amelia masih hidup sekalipun, laki-laki yang merupakan Ayah kandung Amelia itupun rasanya lebih sering membanggakan prestasi Rani dibandingkan Amelia yang sebetulnya juga bukan anak yang bodoh,
"Sudahlah Rani, jika Ibu bilang kamu tidak perlu khawatir, maka nurut saja, tidak usah berpikir macam-macam,"
Kata Ibu sambil melepaskan tangannya dari pegangan Rani,
"Tapi Bu,"
Rani berusaha meraih tangan sang Ibu lagi, namun Ibu menampik tangan Rani lalu bergegas pergi, hingga membuat Rani pun hanya bisa menatap Ibunya dengan perasaan yang tak menentu,
...****************...
"Pasti ada sesuatu yang bisa memberiku petunjuk, pasti ada lagi yang bisa memberiku petunjuk,"
Fredi tampak mengacak isi lemari pakaian milik Dedi, ia sudah benar-benar dibuat semakin penasaran sekarang, selain juga ia sudah merasa khawatir jika nantinya ia akan ketahuan bukan Dedi yang asli,
Ia terus mencari dan terus mencari, dari rak paling atas hingga paling bawah, dari laci tengah hingga akhirnya...
Fredi sejenak terdiam, ketika tanpa sengaja tangannya meraba ke bagian paling dalam laci lemari, ia merasa ada kertas yang ditempel di sana,
Fredi pun cepat menarik kertas tersebut, yang ternyata seperti sebuah catatan yang dibuat dengan tulisan ceker ayam,
Ya, kali ini Fredi yakin jika itu adalah tulisan Dedi sendiri, tulisan yang sangat tidak rapi dan sekilas sama sekali tak bisa dibaca,
Ini jauh lebih parah dari tulisan resep dokter yang tak bisa dibaca,
Fredi pun kemudian membawa kertas itu ke tempat tidur, kertas yang sepertinya diambil dari tengah buku tulis,
Fredi dengan seksama mempelajarinya, beberapa tulisan tanggal, lalu seperti ada denah jalan, ada tulisan nama-nama tempat, dan kemudian tulisan tanggal kematian Amelia,
Fredi mengerutkan kening, lalu karena belum paham, ia pun mengulang dan terus mengulang apa yang ditulis dan digambar oleh Dedi di kertas tersebut,
Hingga kemudian, Fredi menyadari sesuatu, jika denah jalan yang Dedi gambar adalah jalan di depan rumah mereka,
Jalan itu digambar hingga sampai sebuah tempat yang tertulis di sana adalah tempat bekas penggilingan padi,
Dan...
"Dedi tahu siapa yang bertanggungjawab atas kematian Amelia,"
Kata Fredi tiba-tiba sembari berdiri dari posisinya duduk di tepi tempat tidur,
Fredi kemudian melangkah ke arah jendela kamar, dari kamarnya ia melihat ke arah jalanan kampung yang ada di depan rumah,
Ya, dari sini ia menggambar denah ini. Batin Fredi yakin,
Fredi pun lantas bergegas menuju lemari pakaian Dedi lagi, mengambil satu jaket warna hitam dan kemudian celana jeans warna hitam yang untungnya ukurannya dengan Dedi sama persis,
Fredi meraih topi dengan logo nike dari gantungan, lalu ia pun keluar dari kamar dengan kertas catatan Dedi yang ia kantongi di dalam jaket,
"Lho, Mas Dedi, mau ke mana Mas?"
Tanya Mbok Sur,
"Ada yang harus aku lakukan Mbok, ceritanya terlalu panjang, nanti saja kalau semuanya sudah aku pecahkan,"
Kata Fredi,
"Aduh, tapi Mas Dedi jangan pergi jauh-jauh, jangan tidak pulang lagi, nanti Mbok kena marah Ibu dan Bapak kalau Mas Dedi pergi,"
Kata Mbok Sur sambil mengikuti Fredi yang terus berjalan dengan cepat menuju keluar rumah,
"Tapi aku harus pergi Mbok, aku harus memastikan jika kematian Amelia ada yang sengaja membunuhnya, dan juga kasus..."
Ah' Fredi nyaris saja keceplosan mengatakan hilangnya Dedi pada Mbok Sur,
"Kasus apa lagi Mas? Sudah saja Mas, sudah saja, bahkan orangtua Mbak Amelia kan juga katanya tidak mau mengusut apa-apa, menganggap semuanya hanya kecelakaan murni, jadi Mas Dedi sudah tidak usah lagi seperti ini,"
Mbok Sur saking khawatirnya sampai mau menangis,
"Tidak Mbok, maafkan aku, tapi aku harus melakukan ini, karena jika tidak, mungkin aku tidak akan bisa pulang selamanya, dan orangtuaku pasti akan khawatir,"
Lirih Fredi membuat Mbok Sur tidak mengerti apa sebetulnya yang Fredi sedang bicarakan,
"Aku pergi Mbok, aku pinjam motor Bapak, nanti sampaikan pada Ibu jika beliau sudah pulang tapi aku belum kembali,"
Kata Fredi yang mengambil kunci motor bebek di gantungan dekat TV hitam putih rumah keluarga Dedi,
Mbok Sur tampak tak bisa lagi berkata apapun, ia hanya bisa menatap Fredi yang kemudian menuju motor Pak Siswoyo, dan kemudian mengendarainya pergi.
...****************...