
Sekitar hampir setengah jam berbincang, akhirnya Rani pun pamit pulang,
Fredi meskipun sebetulnya enggan, namun tetap di paksanya mengantar hingga teras depan rumah,
"Kapan-kapan, mainlah lagi ke rumah Mas, meskipun sudah tidak ada Amelia,"
Lirih Rani saat menjabat tangan Fredi sebelum naik becak untuk pulang,
"Ya, pasti aku akan main, tunggu saja,"
Kata Fredi,
Rani tersenyum, lalu ia pun naik ke atas becak,
"Rantangnya besok saja aku ambil sepulang kursus,"
Kata Rani pula, Fredi pun mengangguk lagi,
Pak tukang becak lantas bersiap mendorong becak yang ditumpangi Rani keluar dari halaman rumah keluarga Dedi,
Ia sempat mengangguk santun ke arah Fredi, yang mana Fredi pun melakukan hal yang sama, yang hal itu membuat Rani sampai harus memandanginya lagi seperti benar-benar terkejut,
Ah yah, pasti, lagi-lagi Fredi melakukan sesuatu yang tidak biasanya Dedi lakukan pada orang lain,
Menyapa orang lain, tersenyum kepada orang lain, dan membungkuk santun pada orang lain, apakah itu semua sama sekali tak pernah dilakukan Dedi semasa hidupnya? Batin Fredi heran,
Setelah becak yang ditumpangi Rani menjauh, Fredi lantas masuk ke dalam rumah dan menutup kembali daun pintu rumah keluarga Dedi tersebut,
Di ruang tamu tampak Mbok Sur sedang membereskan cangkir teh yang sempat ia sajikan untuk Rani dan Fredi,
"Mas Dedi mau makan siang sekalian?"
Tanya Mbok Sur pada Fredi,
"Oh, ya boleh Mbok,"
Sahut Fredi yang kini memang mulai lapar lagi,
"Mau lauk dari Mbak Rani atau masakan rumah saja?"
Tanya Mbok Sur pula,
"Masakan Mbok saja,"
Jawab Fredi cepat,
Mbok Sur pun menganggukkan kepalanya, lalu cepat berlalu dari hadapan Fredi untuk menuju ke ruang dalam membawa cangkir-cangkir teh yang tadi ia sajikan untuk Rani dan Fredi,
Apa yang harus ia katakan pada Ibunya?
Apa yang harus ia katakan pada Ibunya?
Rani terlihat benar-benar bingung membayangkan sebentar lagi ia berada di rumah dan pasti akan langsung ditanya macam-macam oleh Ibunya,
Dan...
Ya, benarlah apa yang ia pikirkan, ketika becak yang ditumpanginya akhirnya memasuki halaman rumah, tampak Ibunya sudah menunggu di depan teras sambil duduk dengan majalah kesukaannya,
"Sudah Pak, saya turun di sini saja,"
Kata Rani pada Pak tukang becak sebelum becak sampai di depan teras rumah,
Ibunya Rani kemudian terlihat berdiri, lalu ia berjalan sebentar ke sisi teras seolah tak sabar lagi menunggu anak perempuannya,
Rani tampak turun dari becak setelah Pak tukang becak menurut menghentikan becaknya sebelum di depan rumah yang mana Ibunya Rani terlihat jauh lebih gelisah,
"Bu,"
Rani berjalan ke arah sang Ibu, setelah tentu saja membayar pak tukang becak,
"Bagaimana?"
Ibu langsung mencecar Rani yang baru akan menyalami dirinya,
"Kiriman Ibu sudah Rani sampaikan pada Mas Dedi, dia bilang terimakasih dan maaf belum bisa datang,"
Mendengarnya Ibu lantas menarik tangan Rani masuk ke dalam rumah,
"Dedi, benarkah dia Dedi?"
Tanya Ibu sambil menatap tajam anaknya, tampak Rani pun mengangguk mengiyakan,
"Ya Bu, dia Mas Dedi,"
Jawab Rani, yang seketika membuat Ibunya melongo,
"Dia bilang dia tidak apa-apa jadi tidak perlu khawatir Bu, ia juga berjanji untuk ..."
Rani menatap sang Ibu yang entah kenapa terlihat seperti orang panik,
Sebetulnya ada apa? Batin Rani bingung.
...****************...