
Semua orang melihat ke arah penemuan mayat, namun karena aroma sudah tak sedap semua pun menjaga jarak,
Cukup lama menunggu datangnya pihak berwenang karena tahun itu belum ada hp, maka Fredi memutuskan untuk pergi diam-diam,
Ia pulang ke rumah Ibunya Dedi, karena ia merasa jika waktunya untuk kembali ke tahun di mana ia aslinya tinggal sudah dekat,
Apapun, ia harus mengatakan pada Ibunya Dedi tentang hal yang sebenarnya,
"Jadi..."
Suara Ibunya Dedi terdengar serak, dan tampak kedua matanya pun berkaca-kaca menatap Fredi yang kini duduk bersimpuh di depannya,
Fredi juga matanya tampak ikut berkaca-kaca,
Rasanya hatinya ikut tergetar melihat sosok Ibunya Dedi yang begitu sedih manakala Fredi juga menjelaskan jika ia sejatinya bukanlah Dedi anaknya,
Melihat sosok Ibunya Dedi, membuat Fredi pun terus mengingat Ibunya yang ada di kampung,
Membayangkan bagaimana Ibunya juga akan sangat bersedih dan hatinya hancur, jika sampai tahu bahwa Fredi menghilang,
Fredi belum sempat mengatakan apa-apa, saat kemudian dering telefon di rumah keluarga Ibunya Dedi terdengar,
Si Mbok tampak tergopoh-gopoh mengangkat pesawat telfon di rumah tersebut, dan tak lama dia memanggil Ibunya Dedi agar bisa bicara dengan si penelepon,
"Siapa?"
Tanya Ibunya Dedi,
"Dari orang bale desa Bu,"
Ujar Si Mbok menjawab,
Ibunya Dedi berjalan menuju meja di mana pesawat telepon berada,
Fredi yang sudah paham itu pasti adalah kabar soal Dedi tampak berjalan mendekati Ibunya Dedi pula,
"Ti... ti... tidak mung... mungkin,"
Ibunya Dedi terlihat melihat ke arah Fredi, wajahnya seketika tampak pucat,
Fredi tertunduk, ia sedih melihat hancurnya hati seorang Ibu mendengar kabar buruk tentang putra kesayangan,
"Ded... Dedi... tidak..."
Suara Ibunya Dedi terbata-bata, lemas dia dan kemudian limbung lalu tak sadarkan diri,
Fredi pun cepat menggotong tubuh Ibunya Dedi menuju kamar, meminta si Mbok menelfon Ayahnya Dedi agar bisa segera pulang,
Kata si Mbok bingung,
"Ke hp dong Mbok, kan kalau hp dibawa ke mana-mana,"
Kata Fredi, tapi mendengar kata hp tentu saja si Mbok jadi makin bingung pula,
"Hp? Hp itu apa?"
Tanya si Mbok,
Fredi sempat akan marah karena saat ia sedang panik mencoba menyadarkan Ibunya Dedi malah ditanya aneh-aneh,
Tapi kemudian, Fredi sadar jika ia kini sedang dalam posisi bukan di tahun yang di mana apa saja sudah ada,
"Ya Ampun, astaga, aku lupa,"
Kata Fredi akhirnya, ia menepuk keningnya sendiri,
Si Mbok yang masih dalam keadaan bingung tampak celingak-celinguk,
"Bagaimana? Mbok harus cari hp? Itu daun atau apa?"
Tanya si Mbok dengan wajah polos, Fredi menggeleng cepat,
"Sudah Mbok, sudah, tidak usah, siapkan saja rumah ini untuk kedatangan jenazah, mungkin dua atau tiga hari rumah jenazah akan tiba,"
"Hah jenazah?"
Si Mbok semakin bingung saja, dan Fredi pun sejatinya sama bingungnya,
Bingung menjelaskan apa yang terjadi sebetulnya,
"Udah Mbok, nanti saja jelasinnya, pokoknya disiapkan saja,"
Si Mbok yang tidak mau membantah dan banyak tanya lagi, akhirnya mengangguk dan cepat pergi dari kamar,
Bersamaan dengan itu Ibunya Dedi terbangun dan sadar, ia menangis sejadi-jadinya memeluk Fredi,
"Katakan ini tidak nyata... anakku... anakku..."
Ibunya Dedi menangis pilu.
...****************...