
"Mas Dedi...Mas Dedi... bangun Mas Dedi,"
Terdengar sayup suara seseorang membangunkan Fredi diantara suara orang-orang bicara dengan nada ngapak yang kental,
Fredi pun kemudian tampak pelahan membuka matanya, ia mengucek matanya sebentar yang terasa masih belum begitu jelas,
Ada apa ini? Kenapa begitu ramai orang? Batin Fredi terheran-heran saat pelahan samar-samar tampak kini terlihat di sekelilingnya orang-orang berkerumun, mereka tampak melihat ke arah Fredi dengan wajah khawatir,
Fredi pelahan bangun dari posisinya yang terbaring di atas tanah berumput, yang di sekitarnya banyak pula tumbuh pohon kamboja dengan bunga-bunganya yang putih cantik,
Ya bunga yang sedemikian cantik, namun entah kenapa selalu identik dengan tanah pemakaman, dan...
"Astaga,"
Fredi seperti kaget, manakala ia kemudian melihat tak jauh dari tempatnya terbaring ada beberapa baris makam dengan batu-batu nisannya yang terlihat masih jelas namanya,
Fredi lantas menatap satu orang yang posisinya paling dekat dengan dirinya, tentu saja ia ingin bertanya dia kenapa? ini di mana? Slamet, di mana Slamet?
"Agh!"
Fredi tampak memegangi kepalanya yang kini tiba-tiba saja terasa begitu pusing,
Kenapa ini? Ada apa dengan kepalaku? Apa yang sebetulnya terjadi?
Fredi terus bertanya-tanya dalam hati, sungguh ia sangat kebingungan dengan situasi yang masih sulit ia mengerti,
Ya, Slamet, Fredi yakin betul jika ia semula ada di kamar Slamet, ia akan pergi mandi, tapi tiba-tiba saat mengeluarkan barang-barang dari tas ransel ia kembali tertarik dengan buku harian seseorang bernama Amelia,
Ya Amelia, entah siapa dia, tapi yang jelas, Fredi sangat menyukai tulisannya,
Tulisan tangan yang rapi, yang terkadang di beberapa bagian ia akan menyelipkan pula gambar-gambar bunga kecil, dan kadang juga menempelkan stiker-stiker yang di atasnya seperti ada plastik cembung nya,
"Ngg... Mas Dedi, sepertinya panjenengan terluka, mungkin akan lebih baik jika saya antar panjenengan ke puskesmas lebih dulu sebelum pulang ke rumah,"
Fredi pun sejenak tampak menatap laki-laki berkumis tebal yang sama sekali belum pernah ia lihat sebelumnya,
Laki-laki yang entah kenapa juga terus memanggilnya Mas Dedi, entah Dedi siapa, Dedi Dores atau Dedi Corbuzier, jelas Fredi tidak tahu,
Laki-laki berkumis tebal yang terus ditatap oleh Fredi itupun lantas menyadari jika Fredi sepertinya tidak bisa mengingat siapa dirinya,
Maka, karena itu, laki-laki berkumis tebal itupun dengan santun mencoba mengingatkan Fredi,
"Saya Giman Mas Dedi, salah satu supir angkutan keluarganya panjenengan,"
Fredi tampak mengerutkan keningnya, jelas sekali ia masih sama sekali tidak ingat nama Giman, dan sejak kapan keluarganya memiliki usaha angkutan,
Supir angkutan?
Giman?
Siapa sih?
"Sudah dua hari panjenengan kami cari-cari, syukurlah akhirnya panjenengan ditemukan di sini, pasti Pak Siswoyo akan sangat lega mengetahui panjenengan selamat,"
Kata laki-laki berkumis tebal bernama Giman tersebut,
Fredi sebetulnya ingin bertanya banyak pada laki-laki itu, namun posisi mereka yang kini dikerumuni banyak orang dan juga kepalanya yang terasa benar-benar pusing, maka Fredi pun memilih untuk menganggukkan kepalanya saja,
Pak Giman, si laki-laki berkumis tebal itupun lantas membantu Fredi berdiri, dan kemudian memapah Fredi untuk bisa berjalan,
Seseorang lain tampak memungut barang yang ada di dekat Fredi, yang tak lain adalah buku harian bergambar kartun gadis berambut ikal warna kuning.
...****************...