
Keesokan harinya, saat di mana Fredi terbangun dari tidurnya, ia dibuat terkejut dengan keberadaan dokter Amel yang sudah ada di ruangan ia dirawat,
Dokter Amel, perempuan berparas ayu itu tampak menyunggingkan senyumannya pada Fredi, ini tentu membuat hati Fredi sebagai laki-laki lajang menjadi tergetar,
"Maaf jika saya membuat Mas Fredi terkejut,"
Kata dokter Amel dengan suara lembut, suara yang membuat hati laki-laki manapun merasa tenang mendengarnya,
Sungguh beruntung laki-laki yang bisa bersanding dengannya, batin Fredi malah melantur.
"Mas Slamet pamit sebentar untuk mengantar Ningsih sekolah, jadi saya menjaga Mas Fredi di sini, kebetulan saya sudah selesai tugas,"
Ujar dokter Amel,
Fredi tampak sedikit gugup, ia berusaha bangun untuk duduk saja sambil tangannya juga berusaha merapihkan rambutnya yang takutnya acak-acakan,
Untunglah, infus sudah dilepas, Fredi juga sebetulnya siang ini sudah bisa pulang, kondisinya sudah kembali pulih dan dinyatakan baik-baik saja,
Tapi ...
Fredi sekali lagi mencuri pandang ke arah dokter Amel, yang wajahnya begitu mirip dengan Amelia, kekasih Dedi di tahun 1991 yang ada dalam mimpi Fredi,
Oh tidak tidak... itu sungguh terasa sangat nyata, ia seperti bukan sedang bermimpi, ia seperti mengalami langsung berada di tahun itu,
Tapi, di saat Fredi mencuri pandang ke arah dokter Amel, sialnya dokter Amel ternyata juga sedang menatapnya, hanya saja, yang aneh, mata dokter Amel tampak berkaca-kaca, ia seperti menyimpan kesedihan yang mendalam di sana,
"Ngg dok..."
Fredi yang melihat dokter Amel kemudian tiba-tiba air matanya berlinang, tentu saja tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya,
Tapi dokter Amel yang sadar jika tak seharusnya ia bersikap demikian terlihat langsung terburu-buru bangun dari duduknya, ia cepat berjalan ke dekat jendela, mengeluarkan tisu dari tasnya, lalu mengusap air matanya,
Fredi ingin sekali bertanya lagi, kenapa dokter Amel tiba-tiba menangis, namun sayangnya tepat saat itu sebuah ketukan kecil terdengar dari pintu ruangan di mana Fredi dirawat,
Sebuah senyuman tersungging dari seseorang yang kini berdiri di pintu itu, yang lantas seseorang itu berjalan ke arah Fredi,
Ya, siapa lagi, jika bukan Slamet, teman Fredi yang dikenal lewat media sosial yang sengaja Fredi kunjungi untuk ikut berlibur sekedar melepas penat,
"Sepertinya sudah bisa pulang sekarang, syukurlah,"
Kata Slamet, tampak Fredi mantuk-mantuk sambil tersenyum, lalu melirik dokter Amel yang kini tampak sudah memperlihatkan raut biasa lagi dan mendekati Slamet,
"Mas Slamet, aku pamit pulang dulu ya, nanti kalau mau pulang jangan lupa bilang ke suster soal obat yang harus dibawa,"
Kata dokter Amel berpesan, Slamet mengangguk,
"Ya Mel, terimakasih, maaf aku tidak bisa mengantar,"
Kata Slamet, tampak dokter Amel tersenyum,
"Tidak apa-apa, aku bawa mobil kok,"
Ujar dokter Amel,
"Kalau begitu hati-hati,"
Fredi pun membalas dengan anggukan juga, sambil tak lupa tersenyum, bahkan senyuman itu masih saja terkembang mengiringi langkah dokter Amel yang makin menjauh keluar dari ruangan dan sudah sama sekali tak terlihat,
Slamet yang mendapati sikap temannya itupun jadi berdehem,
"Ehm... ehm..."
Membuat Fredi seketika terkejut, sadar jika di sana ada Slamet,
Tampak Slamet pun tertawa melihat bagaimana Fredi terkejut karena ia berdehem,
"Amel, dia saudaraku, dulu dia juga sama seperti Mas Fredi, tiba-tiba hilang dan ditemukan di tempat di mana Mas Fredi ditemukan,"
Tutur Slamet, mendengar hal itu sontak saja Fredi langsung memandang Slamet dengan kedua matanya yang terbelalak,
"Sungguh?"
Tanya Fredi, yang kemudian dijawab anggukan Slamet,
"Ya, dia bahkan cukup lama tidak sadar, waktu itu dia masih SMA, dia terus mengigau, menyebut nama..."
Slamet menghentikan kalimatnya, seolah berpikir untuk mengingat sesuatu, hingga...
"Dedi... ya Dedi... dia menyebut nama Dedi, kami benar-benar bingung mencari siapa Dedi yang dimaksud, sampai kemudian Amel sadar, kami tanya soal Dedi, ia tak pernah cerita siapa Dedi yang dimaksud, dan sampai sekarang pun kami tetap tidak tahu,"
Fredi tampak tergetar, lagi-lagi ia dibuat bingung dengan semua ini,
Jadi, Amel juga mengalami hal yang sama dengannya? Kenapa bisa begitu? Fredi sungguh terheran-heran,
Wajah Amel yang begitu mirip dengan Amelia, dan wajahnya yang begitu mirip dengan Dedi,
Apa ini sebetulnya? Apa ini sebetulnya? Fredi pun semakin bertanya-tanya,
"Ngg... Met,"
Panggil Fredi kemudian, setelah sekian lama Fredi terdiam karena sibuk berpikir,
"Ya Mas, ada apa?"
Tanya Slamet yang kini sibuk dengan hp nya,
"Bisa aku minta nomor dokter Amel?"
Tanya Fredi mengabaikan senyum penuh arti Slamet begitu mendengar Fredi menanyakan nomor hp dokter Amel,
"Ada penting, sungguh,"
Kata Fredi kemudian meyakinkan Slamet,
"Iya Mas, tidak apa, santai, Amel juga masih sendiri kok,"
Slamet tergelak.
...****************...