
Sepanjang hari sejak bertemu dengan orangtua Amelia, rasanya Fredi semakin yakin jika ada misteri di balik kasus meninggalnya Amelia dan juga menghilangnya Dedi,
Fredi terus berusaha menerka-nerka apa sebetulnya yang terjadi atas keduanya, dan apa kiranya yang harus ia lakukan agar semua masalah bisa selesai dan ia pun bisa segera pulang,
Tok... tok... tok...
Terdengar tiba-tiba suara ketukan di luar pintu kamar, mengagetkan Fredi yang memang setelah sarapan pagi tadi ia lebih memilih berada di kamar agar bisa membongkar barang milik Dedi dan Amelia yang ada di dalam dus sambil fokus memikirkan masalah yang terjadi,
"Ya masuk,"
Kata Fredi sambil mendorong dus berisi barang milik Amelia dan Dedi lagi ke dalam kolong lagi dengan kakinya,
Setelah mendengar Fredi mempersilahkan masuk, pintu pun kemudian terbuka dari luar dan tampak Mbok Sur berdiri di sana,
"Mas, ada tamu,"
Kata Mbok Sur,
Fredi mengerutkan kening,
"Tamu? Tamu saya atau Ibu?"
Tanya Fredi bingung,
Gawat tentu saja ia pikir, jika ternyata Dedi memiliki beberapa orang teman yang ia tidak tahu namanya, karena sudah pasti, jika teman-teman dekat sampai ia tak tahu namanya, mereka akan langsung merasa Fredi bukan orang yang mereka kenal,
"Tamu Mas Dedi,"
Jawab Mbok Sur, yang membuat Fredi pun jadi gugup,
Tapi, Fredi dengan cepat langsung berusaha bersikap sebiasa mungkin, karena tidak ingin nantinya Mbok Sur juga jadi curiga dengan sikap Fredi yang terlalu banyak berbeda dengan kebiasaan Dedi, apalagi jika sedikit-sedikit ia sampai terlihat gugup,
"Ngg... Siapa sih Mbok?"
Tanya Fredi kemudian, yang sambil berdiri,
"Adik Mbak Amelia, Mas,"
Ujar Mbok Sur,
Mendengar jawaban Mbok Sur, tampak Fredi pun seketika terkesiap, karena salah satu orang yang paling ingin ia temui justeru datang sendiri sekarang,
Fredi pun lantas mengangguk,
"Baiklah Mbok, aku ganti baju dulu,"
Kata Fredi pada Mbok Sur,
Tampak perempuan paruh baya itupun mengangguk, lalu menutup kembali pintu kamar Dedi yang mana saat ini ditempati Fredi untuk sementara waktu,
Fredi lantas berjalan ke arah lemari pakaian milik Dedi, memilih kaos yang anehnya semua warnanya hitam dan abu-abu saja,
Benar-benar hanya dua warna itu, dan hampir semuanya juga model polos tanpa tulisan atau gambar apapun,
Tampaknya, Dedi memang orang yang cukup tertutup, dan tak mudah menunjukkan perasaannya,
Fredi kemudian memilih satu kaos warna abu-abu dengan lengan pendek, yang saat ia menarik kaos itu tiba-tiba dari bawah kaos ikut tertarik secarik kertas yang kemudian jatuh ke lantai,
Fredi sejenak melihat ke arah lantai di mana secarik kertas itu ada di sana,
Ia pun lantas membungkuk untuk meraih kertas itu, yang ternyata kertas seperti surat,
Fredi sejenak membuka lipatannya, dan membaca tulisan yang ia tahu itu bukan tulisan Amelia,
Mas Dedi yang baik, aku tahu mungkin ini seharusnya tidak terjadi, tapi hati tetaplah hati, ia tak bisa kita atur akan ke mana dan kepada siapa terjatuh.
Amelia, aku tahu kamu sudah bersamanya sejak sekian lama, bahkan sejak kecil kalian sudah dekat bagai saudara.
Maka, aku juga sadar jika tak akan ada tempat untukku. Tapi, setidaknya, ijinkanlah aku mengungkapkan perasaanku, jika aku telah jatuh cinta padamu Mas Dedi.
Rani.
Fredi sejenak tertegun setelah membaca surat yang baru saja ia temukan di antara kaos-kaos milik Dedi di dalam lemari,
Bukankah dia adik Amelia?
Fredi tentu saja langsung seperti mendapatkan satu petunjuk kecil dari semua kasus yang kini ia hadapi.
...****************...
"Siang Mas,"
Sosok gadis itu menyapa dengan senyuman yang begitu manis namun membuat Fredi entah kenapa merasa tidak nyaman,
Ia seolah langsung kehilangan respect dengan sosok gadis tersebut, yang mana ia adalah Rani, adik Amelia, yang diam-diam menulis surat cinta kepada kekasih kakaknya sendiri,
Jelas, bagi Fredi itu adalah hal yang tak bisa dibenarkan, karena dengan apa yang dilakukan Rani itu, berarti dengan sadar ia tega mencoba menusuk kakaknya dari belakang,
"Ya siang,"
Jawab Fredi kemudian dengan nada suara datar saja,
Rumah saat ini memang kembali sepi, karena setelah sarapan pagi, tadi Ibunya Dedi pergi diantar Pak Giman ke kota untuk menilik toko meubel milik keluarga mereka,
Selain juga ada beberapa urusan yang Fredi sendiri tak tahu dan ia pun tak mencoba menanyakan untuk tahu,
Fredi lantas duduk di kursi ruangan tamu, kursi kayu dari jati berukiran burung Garuda dengan alas duduk dari kain beludru warna merah,
Di meja tamu tampak satu rantang susun tiga dan juga satu kotak dus kue,
"Ibu memasak khusus untuk Mas Dedi, kalau ini kue kesukaan Mas Dedi yang biasa dibelikan Amelia dari toko Uwak, tadi Ibu juga yang sengaja membelikannya saat pulang dari Kecamatan,"
Kata Rani tatkala ia melihat Fredi tampak menatap rantang dan dus kue yang ia bawa lalu ia letakkan di atas meja tamu di depan ia duduk,
"Oh,"
Fredi tampak hanya meng oh kan, membuat Rani jadi terlihat semakin canggung di hadapan Fredi,
"Ngg... bagaimana keadaannya Mas? Ngg... Aku... Aku dengar Mas tidak pulang hampir satu minggu atau..."
"Aku baik-baik saja, seperti yang kamu lihat kan? Aku sehat,"
Kata Fredi menyela kalimat Rani yang belum selesai, membuat Rani jadi terlihat menyunggingkan senyuman yang terlihat sekali dipaksakan,
Tapi, Fredi sepertinya tidak peduli, ia memang paling tidak suka dengan gadis yang seperti Rani ini, yang tega mencintai pasangan saudaranya sendiri, itu benar-benar memuakkan bagi Fredi,
"Yah, syukurlah, soalnya Ibu khawatir juga dengan keadaan mu Mas, makanya aku dimintanya untuk datang agar bisa menanyakan secara langsung,"
Mendengar penuturan Rani, tentu saja Fredi hanya tersenyum miring,
Ia jelas bukan orang bodoh yang bisa percaya begitu saja,
Bagaimana bisa Rani mengatakan Ibunya khawatir dengan kondisi Dedi, sedangkan tadi pagi Ibunya jelas-jelas bertemu dengan Fredi di jalan,
Fredi yang pasti dikenali sebagai Dedi harusnya sudah cukup membuatnya tahu jika Dedi tidak kenapa-kenapa, yang itu berarti ia tak perlu sampai harus meminta anaknya datang ke rumah Dedi agar bisa mencari tahu,
Sejenak Fredi kemudian melihat ke arah luar rumah yang bisa ia lihat dari pintu utama yang sepertinya memang dibiarkan terbuka oleh Mbok Sur saat mempersilahkan Rani masuk dan duduk,
Dari tempat Fredi, bisa terlihat sebuah becak yang terparkir dengan tukang becaknya duduk sambil kipas-kipas dengan handuk kecil,
"Naik becak?"
Tanya Fredi kemudian pada Rani,
Tampak Rani mengangguk,
"Iya Mas, Pak Munir, yang biasa antar Amelia juga ke sini, masih kenal kan?"
Tanya Rani dengan tatapan seperti menyelidik,
Fredi yang menyadari tatapan Rani bukan tatapan orang yang mengajak bicara biasa saja terlihat mengangguk saja,
Rani tersenyum sekilas, senyuman yang penuh arti.
...****************...