
Tahun 1991,
Ya, sungguh aneh tapi nyata, karena tiba-tiba saja Fredi kini berada di dalam jaman yang di mana kedua orangtuanya dulu bahkan pasti belum menikah,
Tiga puluh dua tahun lalu, waktu yang sama sekali jauh dari kelahiran Fredi sekalipun,
"Nak,"
Perempuan yang bersikap selayaknya seorang Ibu yang baik itu tampak mengguncang lembut lengan Fredi yang lagi-lagi tampak bengong seperti orang linglung,
"Ikutlah dengan Mbok Sur untuk membersihkan diri, setelah itu makan dan istirahat,"
Kata perempuan tersebut mengulang,
Fredi pun akhirnya mengangguk cepat, ia lantas berjalan ke arah bagian belakang rumah yang mana menuju kamar mandi dan juga toilet serta sumur,
"Kalau air panasnya kurang, Mas Dedi pakai saja air panas yang di panci satunya,"
Kata Mbok Sur, perempuan yang jauh lebih sepuh dari perempuan yang merupakan Ibu dari orang bernama Dedi,
Dedi?
Siapa dia sebenarnya?
Kenapa Fredi disangka oleh mereka adalah Dedi?
Apakah sedemikian mirip mereka hingga ia disangka Dedi?
Lalu ke mana dia?
Ke mana Dedi yang asli jika saat ini Fredi justeru yang ada di tempatnya?
Kepala Fredi pun dipenuhi begitu banyak pertanyaan yang sulit terjawab,
Fredi masuk ke dalam kamar mandi yang dindingnya dipasangi keramik kecil berwarna biru yang rapi dan bersih,
Di dalam kamar mandinya ada kolam dan gayung warna senada, beberapa cantolan baju juga ada di sana, termasuk pula handuk warna coklat berukuran besar,
Fredi lantas membersihkan diri dengan air hangat yang disiapkan Mbok Sur di dalam ember bak warna merah, Fredi mandi dengan gayung dengan semangat karena sejak pagi ia berangkat dari kota menuju desa Slamet, ia sama sekali belum mandi,
Setelah mandi dengan air hangat meskipun hanya satu ember bak, Fredi pun merasa tubuhnya kini jauh lebih segar,
Fredi keluar dari kamar mandi masih dengan celana pendek yang ia kenakan tadi, hanya tubuhnya sana ditutupi handuk coklat berukuran besar, lalu ia pun berjalan masuk ke rumah keluarga orang bernama Dedi,
Ah entahlah, Fredi sebetulnya merasa bersalah jika ia harus berpura-pura menjadi Dedi, tapi ia masih bingung harus menjelaskan kepada siapa dan ia juga masih bingung kenapa ia terlempar ke tahun 1991,
Mungkin ini mimpi, atau mungkin ini hanya halusinasi,
Fredi berjalan masuk dan mendapatkan Pak Siswoyo, laki-laki yang terlihat berwibawa itu berdiri sambil bicara dengan perempuan yang merupakan Ibunya Dedi,
Melihat sosok Fredi masuk tanpa sengaja, Pak Siswoyo lantas langsung diam meski tadinya ia sedang bicara dengan Ibunya Dedi,
Menanggapi perubahan ekspresi sang suami, Ibunya Dedi lantas menoleh ke arah kemunculan Fredi yang kini terlihat tersenyum kepada keduanya,
Senyuman yang sebetulnya biasa saja bagi Fredi karena ia terbiasa melakukannya, namun entah kenapa membuat kedua orangtua itu malah seperti terkejut hingga harus saling berpandangan,
Ah, apa yang harus aku lakukan?
Menyapa mereka kah?
Bagaimana caranya Dedi menyapa kedua orangtuanya?
Ibu? emak? Mami? mama? Bunda?
Ah dan pada Ayahnya, apa panggilannya pada Pak Siswoyo yang sangat berwibawa itu?
Ayah? Bapak? Papi? Papa? Atau Dad?
Haiiish, Fredi sungguh pusing dibuat saat ini,
"Nak, malam ini Bapak ada perlu keluar kota, Ibu akan mengantar sebentar hingga stasiun, kamu bisa tinggal sendiri di rumah dengan Mbok Sur? Nanti habis Isya, Ibu pasti sudah pulang,"
Kata Ibunya Dedi kepada Fredi,
"Baiklah, tidak apa Bu, Pak, hati-hati ya,"
Kata Fredi, yang kemudian dengan anehnya menjentikkan dua jarinya macam oppa korea membentuk love,
Tentu saja hal itu membuat dua orangtua itu semakin kebingungan dengan tingkah sang anak yang menurut mereka sangat aneh,
"Mas Dedi, kamar sudah dibersihkan dan bisa untuk istirahat,"
Tiba-tiba terdengar suara Mbok Sur dari depan kamar yang arahnya tak jauh dari posisi Fredi berdiri,
Fredi pun menoleh ke arah Mbok Sur lalu tampak ia mengangguk dan mengucapkan terimakasih,
"Terimakasih Mbok, terimakasih,"
Kata Fredi santun dan manis, yang membuat Mbok Sur pun seperti terkejut melihat anak satu-satunya sang majikan bersikap demikian,
Fredi lantas menuju kamar yang ada Mbok Sur di depannya,
Mbok Sur, perempuan sepuh itu mempersilahkan Fredi masuk ke dalam kamar yang pintunya ditutup tirai panjang warna krem bersih dengan aroma wangi sabun colek,
Pintu kamar itu terbuat dari kayu yang modelnya seperti pintu lama yang terdiri dari dua daun pintu yang ditangkupkan,
Fredi masuk ke dalam kamar tersebut, kamar dengan lantai masih dari tegel warna abu-abu namun bersih dan mengkilap karena pastinya Mbok Sur rajin mengepel nya,
Di dalam kamar terdapat tempat tidur kayu, lemari kayu dan juga meja belajar kayu dengan kursi kayu pula,
Kasurnya sudah dari busa, ditutup seprei coklat motif batik cap motif pesisir khas pekalongan,
Kamar yang sederhana tapi sangat nyaman, kamar laki-laki yang benar-benar bersih dan jauh dari berantakan, tidak seperti halnya kamar Fredi yang sudah macam kapal terbalik lalu ditendang hingga jadi gunung,
Tapi... Fredi masuk ke tengah ruangan sambil celingak-celinguk, tapi bukan semua itu yang membuat Fredi takjub sejatinya, namun justeru banyaknya poster Nike Ardilla yang menghias salah satu sisi dinding kamar Dedi lah yang membuat Fredi takjub,
Ya, ini sungguh terasa jika ia benar-benar berada di tahun 1991, apalagi dilihatnya di sudut ruangan ada tape kaset dan satu rak kecil berisi kaset-kaset pita yang didominasi oleh kaset Nike Ardilla pastinya,
"Ibu akan minta Man Warto membersihkan poster-poster ini jika kamu mau Nak,"
Suara Ibu nya Dedi tiba-tiba terdengar dari arah belakang Fredi,
"Oh Bu,"
Fredi menoleh ke arah Ibunya Dedi,
"Mau sekarang saja dibersihkan atau..."
"Tidak Bu, kenapa harus dibersihkan? Tidak usah, biarkan saja,"
Ujar Fredi cepat menolak, Ibunya Dedi tampak terkesiap, lagi-lagi ia seperti terkejut dengan sikap Fredi yang menurutnya sangat tak biasa ia lihat pada anaknya,
"Ibu pikir ini hanya akan mengingatkanmu pada Amelia,"
Lirih Ibunya Dedi dengan suara sedikit gemetar, dari ekspresi nya, Ibunya Dedi juga seperti takut dengan reaksi Fredi saat nama Amelia disebut,
Dan...
Ya, Fredi begitu mendengar nama Amelia disebut memang langsung tampak terkejut,
Ia menatap Ibunya Dedi dengan begitu banyak tanya yang tak mampu ia utarakan saat ini,
Fredi ingin memahami lebih dulu situasi ini, dan Fredi benar-benar ingin mengerti kenapa ia terlempar ke sini,
"Kau... kau baik-baik saja bukan Nak?"
Ibunya Dedi matanya berkaca-kaca,
"Semua bukan salahmu, semua juga tahu ini bukan salahmu dan tak ada hubungannya denganmu atas apa yang terjadi pada Amelia,"
Lirih Ibunya Dedi sambil berlinang air mata.
...****************...