
Fredi akhirnya pulang ke rumah Slamet, meski ia telah pulih, namun ia tak diperbolehkan untuk pulang ke Jakarta lebih dulu karena akan memakan banyak energi untuk perjalanan jauh,
Fredi akan istirahat dua sampai tiga hari lagi, dan itu berarti ia harus menambah waktu liburannya yang melebihi rencana sebelumnya,
"Mas Fredi istirahat dulu saja, Ibu lagi masak, nanti kalau sudah matang saya antar buat makan dan minum obat,"
Kata Slamet ketika mereka akan masuk ke dalam rumah,
"Tidak usah dibawakan Met, aku bisa makan bersama kalian di ruang seharusnya, tidak perlu di kamar,"
Ujar Fredi tak enak,
"Ya barangkali Mas Fredi masih lemas,"
Sahut Slamet, tampak Fredi tersenyum, ia lantas mengikuti langkah Slamet masuk ke dalam rumahnya yang sederhana, rumah khas pedesaan yang sebagiannya masih dari papan-papan kayu,
Hingga kemudian, saat akan masuk kamar, Fredi teringat soal buku harian Amelia yang ia dapatkan dari bakul gorengan,
Buku itulah yang membawanya ke tahun 1991 dan seseorang kemudian juga memberikan buku kepadanya saat ia berada di penjara sebelum kemudian akhirnya ia dibawa pulang lagi ke tahun di mana Fredi memang hidup,
"Oh iya Met,"
Fredi menahan langkah Slamet ketika telah benar-benar di depan kamar yang ditempati Fredi,
Slamet pun menoleh ke arah Fredi,
"Ya Mas, ada apa?"
Tanya Slamet,
"Ngg... Buku, apa kamu melihat sebuah buku di kamar saat aku tiba-tiba menghilang?"
Tanya Fredi,
Ditanya demikian Slamet tampak celingak-celinguk,
"Buku? Buku apa ya Mas?"
Slamet balik bertanya, ia terlihat benar-benar tidak mengerti dengan maksud Fredi,
"Buku, buku harian,"
Kata Fredi,
Slamet kemudian menggeleng,
"Tidak Mas, tidak ada buku harian di kamar Mas Fredi saat Mas Fredi tiba-tiba saja menghilang, kami hanya melihat tas Mas Fredi saja tergeletak,"
Kata Slamet akhirnya, karena benar ia ingat sekali bahwa hari itu kamar Fredi tak ada apapun selain tas milik temannya itu,
Fredi mengerutkan kening, ia merasa benar-benar bingung dengan buku yang baginya penuh misteri itu,
"Apa perlu aku carikan Mas? Kalau penting nanti aku carikan,"
Kata Slamet kemudian,
Melihat Slamet seperti jadi tidak enak karena Fredi kehilangan sesuatu, cepat-cepat Fredi pun menggelengkan kepalanya,
"Oh tidak Met, tidak usah, biar saja, hanya buku harian anak-anak, tidak usah dipikirkan,"
Kata Fredi pula,
"Tidak apa-apa Mas kalau memang harus dicari, aku nanti bisa cari di tempat Mas Fredi ditemukan barangkali ada di sana,"
Ujar Slamet, tapi Fredi kembali menggeleng-gelengkan kepalanya,
"Tidak perlu Met, tidak perlu, sudah... sudah... lupakan saja,"
Kata Fredi tak enak jadinya, Slamet pun terlihat tidak enak karena temannya harus kehilangan sesuatu di rumahnya,
"Sudah Met, serius, lupakan saja, aku istirahat dulu ya,"
Fredi menepuk-nepuk bahu Slamet, lalu ia pun memilih masuk ke dalam kamar, begitu Fredi masuk kamar barulah Slamet meneruskan langkahnya ke bagian ruangan dalam rumah,
Buku harian itu, jelas buku itu penyebabnya ia masuk dan keluar dari tahun 1991,
Fredi lantas duduk di tepi kasur yang digelar di dalam kamar itu, tas miliknya telah berpindah tempat di letakan di atas meja,
Sejenak ia berpikir keras, tentang perjalanan anehnya ke tahun 1991, hingga akhirnya ia ingat dokter Amel yang kata Slamet juga pernah mengalami hal yang sama seperti Fredi, tiba-tiba menghilang dan kemudian ditemukan di tempat yang sama pula seperti Fredi,
Maka, Fredi pun cepat mencari hp nya, ia akan menghubungi dokter Amel, jika benar ia sama terlempar ke tahun 1991, maka kemungkinan, itu berarti ia juga pernah melihat buku harian Amelia.
...****************...