
Sampai di jalanan, Fredi tampak celingak-celinguk karena di jalanan tampak ada becak ontel yang lewat,
Fredi yang belum mengerti betul kenapa ia tiba-tiba berada di dalam pemakaman itu tampak semakin bingung dengan kondisi sekitar yang seolah masih ala-ala jaman dulu,
Selain pakaian orang-orang yang mengerumuninya, juga pun suasana jalanan dan alam yang masih cukup asri,
"Kita ke puskesmas dulu nggih Mas Dedi,"
Pak Giman terdengar bertanya lagi, meminta kepastian Fredi memang mau diantarkan ke puskesmas lebih dulu atau mau langsung pulang saja,
Fredi kemudian tampak menggeleng pelan,
"Antar saya ke rumah Slamet saja Pak, kenal kan Slamet?"
Tanya Fredi,
Ya Slamet, sepertinya Fredi kini tersesat di desa Slamet, entah bagaimana ceritanya, pokoknya Fredi yakin ia pasti pergi dari rumah Slamet lalu akhirnya terdampar di pemakaman,
Ah tunggu... tunggu... apa mungkin ini karena hantu? Hantu penunggu rumahnya Slamet, yang membawanya pergi dan membuangnya ke pemakaman? Fredi pun bergidik ngeri, membayangkan dirinya sempat dibawa pergi oleh hantu,
"Slamet siapa Mas? Slamet pamong desa?"
Tanya Pak Giman kemudian, membuat Fredi malah jadi keder,
Slamet pamong desa?
Apa iya sebetulnya dia pamong desa? Batin Fredi malahan,
"Pak Slamet pamong desa lagi mantu Mas, sepertinya hari ini jadwalnya dia mbesan ke Pemalang, anaknya dapat orang Pemalang,"
Kata si Pak Giman lagi, Fredi pun celingak-celinguk,
Ah ini ada yang tidak beres ini kayaknya,. kenapa Slamet malah mantu, jelas-jelas dia bujangan,
"Sudah begini saja Mas Dedi, saya antar Mas Dedi pulang dulu ke rumah, yang penting nanti orangtua Mas Dedi jadi tidak khawatir lagi, karena..."
Pak Giman tak melanjutkan kalimatnya,
Begitu banyak pertanyaan yang timbul, membuat kepala Fredi pun terasa sakit lagi, dan karena itu Pak Giman pun segera membawa Fredi ke arah mobil angkutan yang terparkir tak jauh dari pemakaman,
Bukan, bukan mobil angkutan yang seperti biasa Fredi lihat selama ini, melainkan mobil yang seperti pick up, namun di buat penutup tersendiri hingga bisa untuk mengangkut manusia,
Beberapa orang tampak ikut naik, termasuk orang yang memungut buku harian bergambar Candy,
Orang itu duduk menjaga Fredi di belakang, menggantikan peran Pak Giman yang akan menjadi supir di depan,
"Ini Mas bukunya,"
Kata si orang tersebut,
Orang yang penampilannya sekilas lalu membuat Fredi ingat pernah melihatnya di film jaman dulu, jamannya Rano Karno atau Jamal Mirdad, entahlah Fredi lupa-lupa ingat,
Tak lama kemudian, terdengar suara deru mesin mobil yang mulai dinyalakan, Pak Giman tampaknya sudah bersiap di belakang kemudi,
"Oh iya Mas, saya boleh pinjam hp nya? Hp saya tertinggal di rumah Slamet,"
Mendengar perkataan Fredi, orang yang di sebelah Fredi itu lantas celingak-celinguk memandangi beberapa orang yang ikut naik bersamanya untuk membantu menjaga Fredi,
"Hp? Hp apa ya Mas?"
Tanya si laki-laki itu kemudian, ia tampak cukup bingung mendengar kata hp, namun Fredi justeru lebih bingung pula karena ada orang tidak tahu hp,
"Ngg... handphone Mas, telefon genggam,"
Kata Fredi akhirnya,
Orang-orang dalam mobil angkutan tersebut pun kembali saling memandang, seperti benar-benar dalam kebingungan,
Fredi pun menghela nafas, karena pusing campur kesal dan bingung, akhirnya Fredi memutuskan untuk menyandarkan kepalanya saja, dan kemudian pura-pura tidur,
Namun, di tengah-tengah acara ia pura-pura tidur tiba-tiba...
...****************...