Impossible Love

Impossible Love
15. Sosok Yang Sama Sekali Berbeda



Kukuruyuuuuuuk... kukuruyuuuuuk...


Terdengar di luar sana kokok ayam jantan yang seolah menyambut sinar matahari pagi,


Fredi pun membuka matanya perlahan dan tampak menggeliatkan tubuhnya sambil duduk di atas tempat tidur yang cukup nyaman,


Jam di dinding yang digantung dekat poster-poster Nike Ardilla terlihat mulai merangkak ke arah angka enam saat Fredi meliriknya dengan matanya yang masih sepet,


Masih cukup pagi, namun lamat-lamat ia sudah mendengar banyak kesibukan di luar rumah,


Fredi pun menyingkap selimut yang menutupi sebagian tubuhnya entah sejak kapan,


Mungkin Ibunya Dedi yang menyelimutinya semalam, setelah ia tiba-tiba saja mengantuk lalu tertidur tanpa sadar karena mungkin sebetulnya sudah sangat lelah,


Fredi tampak kemudian turun dari tempat tidur, ia berjalan sebentar menuju jendela kamar yang daun jendelanya terdiri dari dua bagian, satu dari kayu dan satu lagi dari kaca, jendela khas jaman dulu dari rumah-rumah orang berada,


Fredi tampak membuka bagian-bagian dari jendela kamar yang ia tempati tersebut, yang mana sepertinya, jika dirasakan kamar itu sangat lembab dan udaranya sedikit pengap,


Dan...


Krieeeet... jendela dibuka Fredi dengan lebar, yang seketika membuat udara pagi yang segar masuk ke dalam kamar, menggantikan udara lama yang ada dalam kamar yang entah sudah berapa lama tak dibiarkan berganti,


Di luar sana, dari kamar tersebut tampak halaman samping rumah kaluarga Dedi yang di mana ada beberapa orang sedang menurun-nurunkan kayu dari mobil pick up,


Pak Giman tampak ada di sana pula, namun ia sepertinya tidak menjadi bagian dari orang-orang yang mengangkat kayu-kayu tersebut, melainkan hanya mengawasi saja,


Fredi sejenak memperhatikan Pak Giman dari tempatnya, yang mana ia merasa jika Pak Giman di dalam keluarga Dedi bukan hanya sebagai pembawa angkutan milik mereka, namun juga termasuk orang kepercayaan keluarga pula,


Itu sebabnya Pak Giman jugalah yang seperti diberi kewenangan untuk mencari keberadaan Dedi, hingga akhirnya menemukan Fredi dan membawanya pulang,


Ah ya benar, Pak Giman, mungkinkah ia tahu banyak tentang Dedi? Dan...


Fredi tiba-tiba juga jadi ingat buku harian milik Amelia, buku harian itu yang bisa jadi adalah pintu ia masuk ke dalam tahun 1991 ini,


Energinya yang menyeret Fredi masuk dan memaksanya memecahkan teka-teki tentang kasusnya, karena mungkin Fredi saat membaca buku harian itu terlalu menghayati atau mungkin karena...


Fredi terdiam sejenak, ia tiba-tiba saja mengingat sosok laki-laki di dalam foto yang ia sempat lihat di buku harian milik Amelia,


Laki-laki itu, yang berfoto bersama seorang perempuan dengan tulisan dia bukan Ibuku, apakah dia adalah Ayah Amelia?


"Mas Dedi, selamat pagi Mas,"


Tiba-tiba terdengar suara menyapa yang ramah dan hangat menyentak Fredi yang tengah sibuk berpikir ke sana ke mari,


"Oh eh... iya pak, selamat... selamat pagi,"


Fredi sedikit tergagap menjawab sapa dari Pak Giman, namun ia kemudian tampak langsung bersikap biasa bahkan menyunggingkan senyuman kepada Pak Giman dan juga kepada orang-orang yang ada di sana,


Mereka terlihat mengangguk santun sambil membalas tersenyum pula,


"Pagi ini cerah Mas, bagus untuk jalan-jalan pagi, apalagi ini sudah mulai masuk musim panen, jalan-jalan ke sawah mungkin akan menyenangkan, barangkali Mas Dedi mau, mari saya temani,"


Kata Pak Giman pada Fredi,


Sejenak Fredi melihat langit pagi yang memang begitu cerah, ditambah pula matahari yang bersinar sangat terang dan hangat,


Ya, mungkin ide bagus memang jika Fredi saat ini jalan-jalan saja bersama Pak Giman, setidaknya ia bisa mengorek banyak hal dari orang itu dan menanyakan pula soal buku harian Amelia.


...****************...


"Jangan jauh-jauh, harusnya sarapan dulu,"


Ibunya Dedi tampak mengikuti Fredi sampai ke teras rumah, tatapannya terkesan begitu khawatir jika Fredi yang ia kira Dedi akan pergi lagi dan kemudian menghilang pula,


"Tenanglah Bu, aku hanya ingin jalan-jalan saja ke sawah melihat orang-orang panen padi, itu juga aku kan bersama Pak Giman,"


Ujar Fredi mencoba menenangkan Ibunya Dedi,


Meskipun perempuan itu sebetulnya bukanlah Ibunya sendiri, namun karena saat ini Fredi tengah berperan sebagai Dedi, maka ia pun merasa memiliki kewajiban untuk memperlakukan orangtua Dedi sebagaimana orangtuanya sendiri pula,


Apalagi jika itu adalah seorang Ibu, yang tentu kasih sayangnya kepada anak tak bisa diragukan sama sekali,


"Pak Giman, tolong jaga Dedi baik-baik ya, jangan sampai dia kenapa-kenapa ya,"


Kata Ibunya Dedi berpesan,


Pak Giman yang terlihat sudah berdiri menunggu Fredi di depan rumah tampak menganggukkan kepala,


"Aku pergi sebentar Bu,"


Pamit Fredi lagi,


Ibunya Dedi pun dengan berat hati akhirnya mengangguk mengiyakan melepas Fredi menjauh,


Meski ia kemudian tetap berdiri di teras rumah sambil memandangi putra satu-satunya hingga ia ke jalanan kampung di depan sana lalu akhirnya menghilang dari pandangan,


"Mas Dedi,"


Pak Giman terdengar membuka suara setelah keduanya cukup lama hening sejak meninggalkan halaman rumah Dedi,


"Ya Pak,"


Jawab Fredi sambil sekilas menoleh ke arah Pak Giman yang berjalan di sampingnya, lalu iapun kembali sibuk membalas sapa dan tersenyum ramah kepada beberapa orang yang berpapasan di jalan,


Fredi sekalipun sebetulnya menyadari jika ia kini tinggal bukan di jamannya sendiri dan juga ia kini tengah berperan sebagai orang lain, namun ia berusaha untuk bersikap sebaik mungkin, walaupun justeru apa yang ia lakukan tanpa ia sadari membuat banyak orang jadi bertanya-tanya dengan perubahan sikap Dedi yang tak biasanya,


Ya Dedi, yang sepertinya adalah sosok yang jauh lebih pendiam, tertutup dan menjaga jarak dengan orang lain, apalagi sejak kematian Amelia kekasihnya, cinta pertamanya, yang tampaknya berdampak cukup berat pada mental Dedi, membuat sosok Dedi pun semakin menarik diri dari orang-orang di sekitarnya,


"Mas, saya lihat Mas Dedi sekarang sudah jauh lebih baik, saya ikut lega melihatnya,"


Kata Pak Giman kemudian, yang demi mendengarnya Fredi pun kembali menoleh ke arah Pak Giman,


"Oh kenapa Pak memangnya?"


Tanya Fredi pura-pura tak paham saja dengan apa yang dimaksud oleh Pak Giman,


"Ya Mas Dedi sekarang sepertinya sudah jauh lebih tenang, Mas Dedi sudah banyak tersenyum dan bisa menyapa orang lain,"


Ujar Pak Giman,


Fredi pun terlihat tersenyum tipis menanggapi, meski hatinya sejujurnya mulai menangkap bahwa sepertinya memang dirinya dan juga Dedi adalah orang yang sama sekali tak mirip secara sifat,


"Memangnya saya dulu angker ya Pak? Hahahaha..."


Fredi memancing, tawanya juga terlihat lepas. Fredi berusaha membuat dirinya dan Pak Giman jadi dekat, agar kelak ia bisa mencari tahu lebih banyak hal,


"Hahahaha... iya Mas, maaf,"


Dan Pak Giman pun jadi ikut tertawa,


Suasana pagi itu tampak sangat cair untuk keduanya, terutama tentu bagi Pak Giman, yang setelah sekian tahun mengabdi pada keluarga Dedi, baru kali ini rasanya ia begitu dekat dengan putra sang majikan.


...****************...