Impossible Love

Impossible Love
22. Menunda Pulang



"Hrrghhh... Ke mana lagi ini? Ke mana lagi? Kau bodoh? Apa kau bodoh?!"


Ibunya Rani pun tampak marah-marah kepada mantan suaminya begitu mereka kini salah mengambil arah melarikan diri,


"Aku tidak tahu jika ke sini adalah rawa juga!"


Sang mantan suami pun tak kalah marahnya, ia bahkan terlihat sama frustasinya,


Dan dalam keadaan yang bingung itu, di mana jika mereka maju maka mereka harus masuk ke dalam rawa dan itu terlalu menakutkan, tapi kembali lagi mereka juga bertemu dengan Fredi yang mereka pikir adalah Dedi,


Ya Dedi, yang dengan ajaib bisa hidup kembali setelah dibunuh dan ditenggelamkan di rawa-rawa beberapa hari lalu,


"Kita harus bagaimana sekarang!"


Kesal Ibunya Rani melihat jalan buntu di depan mereka sedangkan kini tampak bayangan Fredi yang semakin mendekat,


"Kita hadapi dia saja, kita ada dua orang, dan anak itu sendirian!"


Kata mantan suaminya Ibunya Rani,


Tampak kemudian laki-laki bertubuh penuh tatto itupun menarik satu batang kayu yang ukurannya cukup besar dari dekat rawa,


Nafasnya memburu, dadanya kali ini berdegup lebih kencang karena ia merasa jika yang akan ia hadapi ternyata bukanlah pemuda sembarangan,


Pemuda yang bisa hidup dari kematiannya, sungguh dia jelas bukan manusia biasa,


Maka, laki-laki bertubuh penuh tatto itupun kini terlihat begitu siaga, ia menggenggam erat kayu ditangannya bersiap menyerang lebih dulu saat Fredi muncul,


Tapi, tiba-tiba, saat Fredi benar-benar muncul, dan mantan suami Ibunya Rani hendak menerjang Fredi sambil mengayunkan kayu di tangan,


"Aaaaaaaa! Aaaaaaaa!!"


Suara jeritan Ibunya Rani yang begitu keras mengagetkannya dan juga mengagetkan Fredi,


Kedua laki-laki itupun memandang ke arah Ibunya Rani yang berdiri di dekat rawa-rawa dan kini tampak jatuh ke tanah tak sadarkan diri,


Di dekat kaki Ibunya Rani yang tak sadarkan diri itu, tepatnya dekat akar-akar pohon yang berada di tepian rawa-rawa, tampak tersangkut tubuh manusia yang telah mengeluarkan aroma busuk,


Tubuh manusia itu, yang tiba-tiba saja seperti muncul ke permukaan tampaknya yang membuat Ibunya Rani akhirnya pingsan,


"Ti...Ti... Tidak mung... mungkin,"


Laki-laki dengan tubuh penuh tatto itu menoleh ke arah Fredi dan juga kemudian ke arah tubuh manusia yang telah menjadi mayat busuk di rawa-rawa,


Dedi? Batin Fredi sambil menutup hidungnya karena mencium aroma tak sedap yang keluar dari mayat itu,


"Ka... kau... sia... siapa kau seb... sebetulnya?"


Laki-laki bertatto itu menatap Fredi dengan tatapan takut, meski ia sudah membunuh, tapi ia sama sekali tak menyangka akan mendapati kejadian seaneh ini,


Fredi yang dalam keadaan seperti itu seketika langsung mengambil tindakan, ia menerjang si laki-laki bertatto dan menghajarnya,


Mereka sempat bergulat dan saling menghantam, namun karena kali ini Fredi yang bukanlah Dedi, yang mana kalau Fredi dulu sempat ikut beladiri, maka akhirnya Fredi pun dengan handal mampu memberikan serangan-serangan yang cukup telak hingga si laki-laki bertatto pun akhirnya bisa ia lumpuhkan,


Setelah itu, Fredi lantas mengikat si laki-laki bertatto tersebut dan begitu juga dengan Ibunya Rani yang tampak siuman,


"Kalian berkomplot membunuh Amelia dan juga Dedi bukan?"


Tanya Fredi,


"Ba... bagaimana ka... kau tahu? Da... dan... siapa kau sebetulnya?"


Ibunya Rani tergagap, ia menatap Fredi dengan bingung sekaligus takut,


Kata Fredi setelah mengikat kedua orang itu,


"Hey, kau mau ke mana? Kami tidak bisa ditinggalkan di sini! Bagaimana jika nanti ada babi hutan? Atau ular besar, atau buaya,"


Ibunya Rani merengek, tapi Fredi tentu saja tak mau peduli, bukankah apa yang mereka lakukan pada Amelia dan juga pada Dedi juga sama jahatnya?


Fredi lantas berjalan tanpa menoleh lagi, meskipun Ibunya Rani terus berteriak-teriak memohon agar dilepas dan berjanji akan menyerahkan diri saja,


Sampai keluar hutan, tiba-tiba terlihat Pak Giman dan banyak orang membawa obor menuju ke arah ia keluar dari hutan,


"Mas Dedi... ternyata benar kau ada di sini?"


Pak Giman terlihat sangat lega, ia tampak menggendong ransel sambil membawa obor memimpin rombongan menghampiri Fredi,


"Pak, di dalam ada dua orang penjahat, aku sudah menangkap mereka, dan juga satu mayat,"


Kata Fredi,


Pak Giman dan orang-orang yang datang bersamanya tampak ternganga,


"Mayat?"


Tanya Pak Giman memastikan takut salah dengar,


Fredi menganggukkan kepalanya mengiyakan,


"Ya Pak, mayat, dan itu pasti akan lebih mengagetkan mu nantinya,"


Kata Fredi,


Pak Giman lantas melepas tas ransel yang ada di gendongan,


"Ini di dalam nya ada buku harian yang Mas Fredi cari,"


Kata Pak Giman, mendengar itu Fredi pun tampak tersenyum lebar, cepat Fredi pun meraih ransel tersebut dari tangan Pak Giman,


Sedangkan Pak Giman terlihat meminta tolong pada beberapa orang untuk menghubungi aparat desa, dan beberapa orang lagi ikut dengannya masuk ke dalam hutan,


"Mas Dedi tunggu di sini saja, jangan ke mana-mana, kita pulang bersama agar Ibunya Mas Dedi tidak sedih, ia tadi sampai tak sadarkan diri karena Mbok Sur bilang Mas Dedi pergi lagi entah ke mana,"


Kata Pak Giman,


Fredi yang semula ingin langsung membuka ransel yang di dalamnya ada buku harian Amelia pun akhirnya terpaksa jadi menunda,


Ah yah, Ibunya Dedi, perempuan baik itu, seorang Ibu yang malang, Fredi pun akhirnya menurut apa yang dikatakan Pak Giman,


"Baiklah Pak, saya menunggu di sini,"


Kata Fredi,


Pak Giman pun mengangguk, lalu bergegas masuk ke dalam hutan bersama rombongan penduduk yang datang bersamanya ke sana untuk mencari Fredi,


Mereka masuk terus ke dalam hutan menyusuri jalanan setapak satu-satunya, yang mana semakin lama semakin gelap dan kemudian tercium aroma busuk,


"Mayat, ini benar seperti nya ada mayat,"


Kata salah satu orang dalam rombongan, membuat semua pun jadi bergegas meneruskan langkah mereka.


...****************...