
"Tangkap... tangkap diaa... tangkap..."
tiba-tiba saja terdengar suara-suara berisik di luar sana, seperti suara dari serombongan orang yang jumlahnya cukup banyak,
Serombongan orang yang bersuara berisik itu seolah memasuki halaman, hingga...
"Mas... Mas..."
Terdengar kemudian suara Mbok Sur yang seperti panik, ia tampak setengah berlari menuju kamar Ibunya Dedi di mana kini Fredi dan Ibu Dedi berada,
"Ada apa Mbok? Ada apa..."
Fredi menatap Mbok Sur yang tampak berdiri di pintu dengan nafas terengah-engah,
"Banyak orang di luar sana, sepertinya ada... ada..."
Belum lagi Mbok Sur selesai menjelaskan situasi dan kondisi yang terjadi, tiba-tiba terdengar suara...
BRUGKH !!!
Pintu depan rumah keluarga Pak Siswoyo, keluarga Dedi terdengar seperti didobrak dari luar, disusul kemudian suara...
"Tangkap... tangkap... tangkap laki-laki yang mengaku Mas Dedi..."
Suara itu ramai terdengar dari serombongan orang yang kini meringsek ke dalam,
Menyadari situasi yang tidak mengenakkan itu, Ibunya Dedi tampak menatap Fredi yang sosoknya persis dengan putranya,
Sebagai seorang Ibu, ia tentu bisa merasakan dengan jelas bahwa sosok yang persis sang putra itu bukanlah sosok yang jahat yang bertanggungjawab atas apa yang menimpa putranya,
"Tidak... aku yakin kamu tidak bersalah..."
Kata Ibunya Dedi,
Fredi yang tentu saja jadi merasa gugup dan panik tampak berdiri, ia sungguh tak tahu harus bagaimana sekarang,
"Ya Bu, yang bertanggungjawab atas semuanya adalah orangtua tiri Amelia, dia yang bertanggungjawab atas apa yang menimpa Amelia dan juga Mas Dedi, aku... aku..."
Fredi masih berusaha mencari kalimat yang tepat untuk menjelaskan siapa dirinya dan darimana asalnya, manakala serombongan orang yang entah siapa yang mengerahkan telah lebih dulu masuk ke dalam kamar Ibunya Dedi,
"Nyonya, dia harus ditangkap, dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya membunuh Mas Dedi demi bisa hidup enak di sini dengan berpura-pura menjadi Mas Dedi,"
"Tidak... itu tidak benar..."
Kata Fredi menyangkal tuduhan yang tak berdasar itu,
Ibunya Dedi, yang masih tampak lemah mencoba berdiri dan berusaha melindungi Fredi,
Hati kecilnya sebagai seorang Ibu seolah memintanya untuk membela sosok anak muda yang mirip dengan Dedi putranya,
"Tidak bapak-bapak sekalian, aku yakin dia tidak bersalah, atas dasar apa pula kalian menuduh dia yang melakukan hal itu,"
"Ini kesaksian dari calon besan anda, dia membunuh Mas Dedi, dan kini berusaha menyingkirkan calon mertua Mas Dedi juga karena ia tahu apa sebetulnya yang terjadi,"
Kata salah seorang dari mereka lagi,
"Tidak, itu tidak benar, itu fitnah, aku datang ke sini tidak seperti yang kalian duga!"
Fredi membela diri,
"Tapi anda benar-benar mencurigakan!"
Kata salah satu dari mereka pula,
Bersamaan dengan itu terdengar suara sirine mobil polisi mendekat memasuki halaman, yang kemudian tak lama mereka masuk ke dalam rumah dan akhirnya memaksa Fredi ikut bersama mereka,
Ibunya Dedi tentu saja masih terus berusaha melakukan pembelaan atas Fredi yang ia yakini betul tak seperti apa yang mereka persangkakan,
Namum, kenyataan jika pak Siswoyo juga ikut terlibat melaporkan Fredi yang dianggap penyusup dalam keluarganya sejak akhirnya ia tahu jika sang putra telah ditemukan sebagai mayat, akhirnya pembelaan Ibunya Dedi pun sia-sia belaka,
Fredi digelandang ke kantor polisi dengan tuduhan yang tentu saja bagi Fredi itu sangat merugikan dirinya,
Sungguh baginya kali ini adalah sebuah kesialan yang bertubi-tubi,
Ia yang datang masuk ke tahun ini saja sudah membuatnya sangat kebingungan, malah kini ditambah di hadapkan pada situasi yang teramat tidak mengenakkan, dituduh membunuh seseorang yang bahkan ia kenal punya tidak,
Fredi setelah diintrogasi cukup lama dan terus menyangkal akhirnya dijebloskan ke dalam sel untuk sementara, ia akan menunggu untuk diintrogasi lagi dan pastinya ini membuat Fredi sangat stres,
Hingga akhirnya...
...****************...