
"Tidak Bu, saya yakin sekali, jika anak itu sudah saya tenggelamkan di rawa tak jauh dari sini,"
Kata laki-laki bertubuh besar penuh tatto yang ditemui Ibunya Rani,
"Tapi dia nyatanya masih hidup!"
Bentak Ibunya Rani pada si laki-laki bertatto, mereka yang semula akan bicara melalui sambungan telefon saja akhirnya memang terpaksa bertemu lagi di tempat biasa mereka melakukan pertemuan, yaitu tempat bekas penggilingan padi yang merupakan milik Ayahnya Amelia,
Tempat itu sekarang tak lagi beroperasi karena dipindahkan ke tempat yang lebih aman dari serangan hama tikus,
"Mas... Masih hidup?"
Laki-laki dengan tubuh penuh tatto itu tampak menggelengkan kepalanya tak bisa percaya, jelas-jelas ia sendiri yang memukul kepala anak Pak Siswoyo dengan batu besar yang kemudian dengan batu itu jugalah ia menenggelamkan pemuda itu,
Maka rasa-rasanya, mustahil baginya mendengar pemuda itu masih hidup saat ini, karena jelas itu terlalu tidak masuk akal,
"Aku bertemu dengan dia pagi ini, ia masih sehat, dan ia baik-baik saja,"
Ujar Ibunya Rani pula,
Laki-laki dengan tubuh penuh tatto menatap Ibunya Rani dengan tatapan yang sungguh-sungguh bingung,
"Bahkan, anakku sengaja aku suruh datang ke rumah Pak Siswoyo, dan anakku pun sama mengatakan anak itu ada di rumah dan dia dalam keadaan baik,"
Tambah Ibunya Rani pula,
Laki-laki dengan tubuh bertatto menggeleng-gelengkan kepalanya, ia masih tidak mengerti kenapa bisa ada yang seperti itu,
"Apa mungkin dia memiliki saudara kembar Bu? Karena ini... ini jelas terlalu aneh Bu,"
Kata si laki-laki itu, yang kemudian tampak celingak-celinguk ke sekeliling memastikan jika di sekitar mereka tak ada orang lain yang mendengarkan,
Ibunya Rani terlihat mendengus kesal,
"Kau jangan mengada-ada, sudah jelas Pak Sis hanya memiliki satu orang putra, sejak kapan tiba-tiba jadi kembar?"
Ibunya Rani sungguh-sungguh marah,
"Hrgggh... Ini sangat menyebalkan, kau bilang semua dijamin beres dan aman, ternyata malah seperti ini,"
"Sungguh Bu, apa aku perlu bersumpah jika aku sudah membunuh anak bernama Dedi itu?"
"Mungkin kau salah target!"
Kesal Ibunya Rani,
"Tidak, itu tidak mungkin, jelas-jelas dia adalah calon menantu suamimu Bu,"
Kata si laki-laki bertubuh penuh tatto,
"Jika hantu, pastinya ia tidak mungkin seperti manusia sungguhan,"
Gumam Ibunya Rani pula,
Mereka lantas menatap rawa yang terlihat dari tempat bekas penggilingan padi tersebut,
Rawa yang begitu hening dan sunyi, yang memang di sana juga jarang sekali orang lewat karena berada di dekat hutan dan juga sawah di sekitarnya pun sudah tak lagi ada yang menggarap,
"Apa perlu saya cari mayatnya untuk bukti bahwa aku sungguh telah membunuhnya?"
Lirih si laki-laki tersebut,
"Haiish, apa kau gila? Yang ada semua orang akan langsung tahu kau pembunuhnya, dan aku akan terseret juga!"
Ibunya Rani tampak marah,
"Tapi kau seperti meragukan aku, padahal kau tahu sendiri, jika anak tirimu juga sudah aku habisi,"
Mendengarnya, Ibunya Rani tampak menghela nafas saja, ia enggan berkomentar lebih dulu, ia sedang pusing memikirkan apa yang harus mereka perbuat lagi untuk membereskan sosok Dedi yang kini tiba-tiba bisa muncul kembali,
Ibunya Rani, yang semula berpikir jika Dedi sejak awal memang lebih menyukai Rani ternyata harus menelan kekecewaan karena Dedi hanya memanfaatkan Rani saja,
"Kupikir dia akan menikahi Rani setelah Amelia mati, jika demikian Rani, anak kita akan menjadi Cinderella yang sebenarnya bukan? Mendapatkan warisan dari dua keluarga kaya, itu pasti akan sangat membahagiakannya,"
Kata Ibunya Rani dengan ekspresi yang penuh dengan kekecewaan yang dalam,
"Nyatanya anak itu ternyata sangat mencintai Amelia, kenapa kau tak menyadari dari awal, harusnya kau bisa membedakan,"
Kata laki-laki bertatto yang merupakan mantan suami si Ibunya Rani, yang juga merupakan ayah kandung Rani,
"Kau sekarang menyalahkan aku? Bagaimana mungkin aku bisa membedakan hal seperti itu? Bahkan cara dia menatap Rani membuatku yakin jika dia sangat menyukai anak kita!"
Kesal Ibunya Rani,
"Kau terlalu percaya diri, kenyataan jika Amelia sudah dekat dengan anak Pak Siswoyo sejak kecil harusnya menjadi pertimbangan,"
Kata laki-laki bertubuh penuh tatto itu,
"Ah sudahlah!"
Ibunya Rani yang kepalanya jadi pusing mengibaskan tangannya ke udara,
"Jika kau tak lebih dulu GR, kau tak perlu mengajaknya bertemu aku, hingga akhirnya ia jadi tahu semuanya!"
Kata Ayahnya Rani, si laki-laki bertubuh penuh tatto,
"Dia seolah akan menikah dengan Rani, dia ingin tahu siapa Bapak Rani yang asli, bagaimana mungkin aku bisa menolak!!"
Dan di saat keduanya tengah adu mulut, tiba-tiba terdengar suara deru mesin motor yang mendekat ke arah tempat mereka kini berada,
Ayah Rani kemudian tampak melompat dengan sigap keluar dari tempat tersebut, mengendap-endap untuk mengambil posisi mengintai agar bisa mencari tahu siapa gerangan yang datang,
Namun...
"Hah!"
Ia tampak tersentak, jantungnya terasa langsung bertalu-talu begitu keras saat dilihatnya sosok pemuda yang berada di atas motor yang kini berjalan mendekat ke arah tempat itu dan kemudian memarkir motor yang ia kendarai tak jauh dari bangunan bekas penggilingan padi,
Ayahnya Rani yang masih syok melihat siapa yang datang tampak belum bergerak sama sekali, saat tiba-tiba dari belakang Ibunya Rani menaboknya dan menariknya agar mereka bisa melarikan diri,
Tapi, karena tabokan Ibunya Rani yang tiba-tiba, membuat Ayahnya Rani kaget dan bergerak spontan yang tangannya tanpa sengaja mendorong tumpukan kotak kayu di dekat bangunan,
Hal itu pun sontak membuat pemuda yang tak lain adalah Fredi itu langsung berjalan memburu tempat tersebut,
"Siapa itu?!"
Tanya Fredi dengan suaranya yang lantang,
"Kau percaya bukan? Dia masih hidup!"
Kata Ibunya Rani yang kini berlari dengan Ayahnya Rani menuju ke arah hutan,
Fredi yang melihat keduanya akhirnya mengejar dengan sekuat tenaga,
"Berhenti kalian! Berhenti!!"
Teriak Fredi sambil terus mengejar sekuat tenaga,
Sementara itu, langit di atas sana mulai terlihat dipenuhi warna lembayung, senja sudah mulai turun dan matahari mulai mengendap-endap bersiap menuju ke peraduan,
Hutan yang ada di dekat rawa itu tampak cukup rimbun, sepasang mantan suami isteri itu berlari masuk ke dalam sana,
Mereka mencoba melarikan diri dari kejaran Fredi, yang mereka kira adalah Dedi yang beberapa hari lalu mereka coba habisi,
Pasti itu mereka yang telah melakukan kejahatan atas Dedi dan Amelia, aku harus bisa menangkapnya, harus! Harus! Tekad Fredi sambil terus berlari menyusul masuk ke dalam hutan.
...****************...