Impossible Love

Impossible Love
16. Bagaimana Bisa?



Fredi tampak berdiri di bawah pohon Randu di pinggir jalan yang dari sana ia bisa menikmati para buruh tani memanen padi di sawah,


Sementara, di sampingnya Pak Giman berdiri menemani sembari bercerita tentang banyaknya sawah yang kini mulai kembali digarap karena program pemerintah,


"Katanya negara kita menargetkan ekspor beras semakin tahun semakin banyak, bila perlu seluruh kebutuhan beras di Asia adalah dari Indonesia Mas, begitu saya dengar dari tetangga saya yang anaknya bekerja di kementerian pertanian,"


Ujar Pak Giman,


Fredi yang mendengarnya terlihat tersenyum tipis, rasanya entah kenapa hatinya tiba-tiba terasa sedih, melihat bentangan sawah yang menguning keemasan itu kini dipenuhi para petani yang tampak bahagia menyambut panen,


Fredi jadi teringat di tahun 2023, yang mana sawah mulai banyak tak terurus karena tak banyak generasi muda yang tertarik untuk menjadi petani sekalipun mereka menjadi sarjana pertanian,


Sawah banyak yang menjadi tegalan, lalu akhirnya dijadikan kaplingan dan perumahan,


Alasan banyaknya generasi muda yang tak tertarik mengurus sawah-sawah milik orangtua salah satunya adalah harga jual saat panen yang selalu anjlok hingga petani selalu rugi, sedangkan harga bibit dan pupuk terus naik hingga banyak petani mengeluh lalu akhirnya menyerah,


Hal ini juga dirasakan oleh Fredi dan juga saudara-saudaranya, yang di mana lebih memilih ingin bekerja di kantor saja, yang sudah jelas akan mendapatkan gaji dan banyak tunjangan, ditambah tak usah kepanasan dan kehujanan,


Fredi dan Pak Giman tampak masih asik melihat aktifitas para petani di sawah sana, saat tiba-tiba sebuah mobil tiba-tiba berjalan pelan ke arah mereka lalu berhenti tak jauh dari posisi Fredi dan Pak Giman berdiri,


Pak Giman dan Fredi pun menoleh ke arah mobil yang berhenti itu, yang mana dari sana terlihat turun sepasang suami isteri berusia sekitar lima puluhan tahun, yang sepertinya seusia dengan orangtua Dedi,


Melihat keduanya, tampak Pak Giman terburu-buru menyambut dan menyalami mereka dengan santun, sedangkan Fredi hanya terlihat tersenyum canggung saja sambil berpikir mereka siapa, dan kenapa ia merasa seperti tak begitu asing,


Melihat Fredi yang seperti tak mengenali, membuat sepasang suami isteri itu terlihat sama bingungnya, mereka bahkan seperti bertanya pada Pak Giman melalui isyarat mata soal Fredi yang seperti melihat keduanya macam orang asing,


"Mas Dedi,"


Pak Giman tampak memanggil Fredi dengan sambil senyum-senyum seperti orang sedang tidak enak pada pasangan yang baru datang itu,


Fredi pun membungkuk sopan, Fredi sadar jika harusnya ia menghampiri pasangan itu dan mengajak mereka bersalaman pula,


"Maaf Pak Nas, ini Mas Dedi soalnya baru saja pulang kemarin,"


Kata Pak Giman seolah mewakili Fredi untuk menjelaskan kenapa sikapnya jelas dirasa cukup aneh,


"Oh yah, aku mengerti, aku mengerti,"


Laki-laki yang dipanggil Pak Nas itu tampak tersenyum sambil mantuk-mantuk, yang kemudian saat Fredi melihat senyumannya itulah ia tiba-tiba teringat akan sosok laki-laki yang ada di dalam foto,


Ya foto yang ada di buku harian Amelia, merekalah orangnya,


"Tapi nak Dedi sehat kan?"


Tanya Pak Nas kepada Fredi, dari tatapan matanya, Fredi bisa menangkap bahwa pertanyaan itu sungguh tulus diucapkan, bukan hanya sekedar basa-basi,


"Sehat Pak,"


Jawab Fredi sambil tersenyum sekilas karena saat itu entah kenapa ketika matanya tanpa sengaja melihat ke arah isteri dari Pak Nas rasanya tatapan perempuan itu seperti mengisyaratkan sesuatu yang benar-benar aneh,


"Bapak Ibu apa kabar?"


Tanya Pak Nas lagi,


"Sehat Pak, tapi Bapak saat ini sedang keluar kota,"


Jawab Fredi seperti paham saja Bapaknya Dedi saat ini sedang pergi keluar kota, meskipun ia sesungguhnya juga tidak tahu dalam rangka apa Bapaknya Dedi itu keluar kota, dan semoga saja ia tidak ditanya soal itu,


"Oh ya ya... beliau memang selalu sibuk,"


Ujar Pak Nas menanggapi, Fredi pun tersenyum saja, tapi matanya lagi-lagi tanpa sengaja melihat ke arah isteri dari Pak Nas yang menatap Fredi dengan tatapan yang benar-benar tidak biasa,


Tatapan seperti orang yang seperti melihat hantu atau semacamnya, hingga rasanya Fredi sendiri sampai tidak nyaman dibuatnya,


Setelah sedikit berbasa-basi, Pak Nas kemudian pamit untuk kembali melanjutkan perjalanan karena harus pergi ke kantor kecamatan,


"Mainlah ke rumah jika nanti sudah sehat, Bapak harap hubungan kita masih akan tetap baik Nak Dedi,"


Kata Pak Nas sambil tersenyum,


Fredi pun mengangguk sambil mengiyakan dengan sopan,


Hingga akhirnya Pak Nas dan isterinya kembali naik ke dalam mobil, Fredi tampak masih berada di tempatnya untuk mengiring kepergian orangtua dari Amelia tersebut,


Ya orangtua Amelia, ia kenali mereka dari foto yang ada di dalam buku harian Amelia yang ia temukan di tahun 2023, dan sepertinya buku itupun terbawa pula bersamanya,


"Ah yah, Pak Giman,"


Fredi yang kini kembali teringat tentang buku itu lantas ganti memandang ke arah Pak Giman,


Tanya Pak Giman,


"Buku harian Amelia, apakah Pak Giman melihatnya?"


"Buku? Buku harian apa Mas? Di mana?"


Tanya Pak Giman lagi,


"Di angkutan yang dibawa Pak Giman kemarin, buku itu bersamaku, apa buku itu tertinggal di angkutan? Atau teman Pak Giman ada yang melihat?"


Pak Giman yang ditanya demikian tampak terdiam, mencoba mengingat apa ia melihat buku yang dimaksud oleh Fredi,


"Nanti coba saya cari Mas, atau saya tanya sama Sarmin, dan yang lain,"


Kata Pak Giman akhirnya, karena tampaknya ia tak berhasil mengingat apapun tentang buku tersebut,


"Oh yah Pak, baiklah, kabari saya secepatnya ya Pak, buku itu sangat penting,"


Ujar Fredi,


"Iya Mas, pasti nanti saya bantu carikan,"


Jawab Pak Giman,


Fredi pun kemudian tampak menatap kembali jalanan kampung yang sudah diaspal itu, ia terpikirkan soal isteri Pak Nas yang melihatnya dengan tatapan yang aneh,


"Rumah Amelia, aku ingin pergi ke sana,"


Ujar Fredi tiba-tiba,


Pak Giman yang mendengar terlihat mantuk-mantuk,


"Ya Mas, saya siap mengantar jika Mas Dedi akan pergi,"


Kata Pak Giman,


Fredi menghela nafasnya, lalu kembali berbalik untuk memandangi sawah yang terbentang luas dengan para petaninya yang sibuk panen,


Sementara itu, di mobil Pak Nas, tampak istri Pak Nas terlihat gelisah di tempat duduknya,


Matanya sesekali melihat ke arah spion mobil yang ada di sisi kanan dan kiri mobil seolah mengawasi sesuatu di belakang sana,


"Ada apa to Bu, sepertinya bertemu Dedi kau malah seperti habis melihat hantu,"


Kata Pak Nas sambil terkekeh kecil,


Melihat Pak Nas terkekeh, si perempuan yang merupakan isterinya itu tampak semakin terlihat tak tenang,


Ia juga bahkan sampai menekuk wajahnya seolah kesal karena Pak Nas malah seperti meledeknya yang padahal ia sungguh-sungguh takut karena melihat Fredi yang ia juga tahunya adalah Dedi,


Ya Dedi, pemuda yang berpacaran dengan anak sambungnya, yang mereka bahkan sebetulnya akan segera menikah jika saja Amelia tidak meninggal dan juga Dedi tidak dibuat menghilang.


"Menjadi besan Pak Sis, siapa yang tidak ingin? tentu ini adalah satu kebanggaan bukan?"


Suara Pak Nas terdengar membuat sang isteri yang sedang sibuk melamun sendiri tampak terkesiap,


"Karena Amelia sudah tiada, aku harap Dedi akan mau menerima Rani sebagai ganti, ya kan Bu?"


Tanya Pak Nas sambil melirik isterinya,


"Hmm... Rani?"


Sang isteri terlihat mengulang menyebutkan nama Rani,


"Ya Rani, anakmu, dia kan usianya juga sama dengan Amelia, dia juga cantik, kita jodohkan saja dengan Dedi agar kita tetap berbesan dengan keluarga Pak Sis,"


Kata Pak Nas pula,


Mendengarnya sang isteri terlihat tersenyum aneh, ia tak mengiyakan tapi juga tidak berkata tidak,


Yang ia lakukan hanyalah melihat keluar jendela mobil sambil bergumam sesuatu,


"Bagaimana bisa? Bagaimana bisa ia hidup lagi?"


...****************...