Immortal Love

Immortal Love
Miss You Mom, Dad.



Akhirnya, setelah berjam-jam di rumah Presdirnya hanya untuk menyalin seluruh berkas laporan yang Yoon Oh berikan padanya, wanita itu akhirnya bisa bernapas lega. Ia mengangkat tangannya naik, merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena terlalu lama duduk di atas sofa.


Terdapat jam dinding berukuran raksasa yang terpajang di ruang tamu Yoo Oh. Shane berbalik menatap jam tersebut ternyata sudah jam setengah dua belas malam.


Ia terkejut, matanya membulat dengan sempurna saat melihat jarum pendek berada di pertengahan angka sebelas dan dua belas, sementara jarum panjang sudah nyaris berada di angka tiga puluh.


"Astaga...selama ini kah aku mendekam di rumah Presdir?" Ia menggeleng tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.


Kemudian ia mengecek ponsel serta jam tangannya. Tapi apa yang ia dapatkan sama seperti di awal. Jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam.


"Chaeri bilang apa nanti kalau dia tahu aku pulang larut malam begini?"


Sekarang, ia sedang membayangkan bahwa sahabatnya itu akan memberinya siraman rohani saat pulang kerja. Ini sudah larut malam jika ia tidak segera melirik ke arah jam dinding tersebut. Segera ia berbenah diri, merapikan tas yang selalu ia bawa ke kantor, kemudian menyusun berkas sesuai dengan urutannya.


Saat dirinya tengah merapikan lembaran-lembaran kertas tersebut, ia kembali teringat dengan Presdirnya.


Sejak ia mengetik berkas tersebut, hanya beberapa kali ia menangkap wajah Yoon Oh yang sedang memperhatikan keseriusannya bekerja. Namun karena terlampau fokus pada pekerjaannya itu, keberadaan pria itu luput dari pandangannya.


Pria itu menghilang, entah sejak kapan.


Shane mengambil ponselnya dan berusaha untuk menghubungi Yoon Oh. Tapi jarinya terhenti menggulir layar ponselnya saat ia teringat akan sesuatu.


"Hu'uh!" keluhnya sambil mendengus perlahan. "Apa dia tertidur?" pikirnya kemudian.


"Presdir kemana? Ini sudah larut malam, dan sekarang waktunya aku untuk pulang."


Mungkin mendengar kata Shane seperti itu, pasti kalian berfikir bahwa Shane akan meminta tumpang pada pria yang notabene adalah atasannya sendiri.


Hmm, Shane tidak memikirkan itu. Ia hanya ingin berpamitan dengan sopan karena ini sudah hampir tengah malam. Hanya saja, mungkin saat ini Yoon Oh tengah tertidur. Tak enak jika harus membangunkan pria itu hanya karena ingin pamit pulang.


Orang yang sangat ia harapkan kehadirannya di ruang tengah sama sekali tak menunjukkan batang hidupnya barang sedikitpun. Shane mulai kesal, pada akhirnya ia mengeluarkan sticky note dari dalam tas slempangnya. Menuliskan pesan singkat, lalu menempelkannya di pintu kulkas.


'Karena hari sudah larut, saya pamit pulang Presdir. Selamat malam.'


Semoga saja pria itu membacanya saat merasa haus di tengah malam.


Shane langsung meletakkan Mac Book beserta dengan berkas-berkas yang baru saja selesai ia kerjakan di atas meja ruang tamu. Tak lupa, ia pun meninggalkan catatan di sana.


'Semuanya sudah saya selesaikan Presdir. Jika ada masalah, tolong hubungi saya segera Presdir. Selamat malam.'


Shane meninggalkan dua catatan tersebut di tempat yang berbeda.


Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, ia segera beranjak dari sofa menuju pintu keluar. Lalu menghilang perlahan-lahan dari balik pintu tersebut.


***


Sudah pukul 12 malam, tepat. Sampai-sampai jam raksasa yang terpajang di ruangan tamu berbunyi. Berdengung menembus dinding-dinding rumahnya. Ia bahkan bisa mendengar dentingan jam tersebut, walau tembok di rumahnya itu sudah cukup tebal, dan mustahil jika suara bisa menembusnya.


Ia melirik ponselnya yang tergeletak di atas nakas.


Memang benar, ternyata ini sudah jam 12, artinya jam yang ada di ruang tamunya itu tidak salah.


Berbicara mengenai jam, Yoon baru ingat kalau Shane hari ini ada di rumahnya. Ia menyuruh perempuan itu untuk menyalin berkas-berkas yang seharusnya ia sendiri yang mengerjakannya. Tapi karena terlalu malas, akhirnya ia menyuruh wanita itu untuk mengerjakannya.


Apalah guna seorang sekretaris pribadi jika ia tak menyuruh orang tersebut untuk membantunya?


Yoon Oh yang sebenarnya tidak tertidur seperti pikiran Shane tadi, melainkan sibuk menonton film action di dalam kamarnya beranjak keluar dari dalam kamar yang ia kunci selama beberapa jam lamanya.


Saat ia keluar pun, ia sama sekali tak mendapati sosok wanita yang duduk di atas sofa mahalnya. Padahal ia sangat yakin kalau perempuan tadi itu duduk di sana. Berkutat bersama laptop dan berkas miliknya.


"Hm?!" Ia mendelik, menatap sekeliling ruangan tersebut, tapi ia tak menangkap sosok Shane yang lengkap dengan pakaian kerjanya.


Karena keberadaan Shane yang tiba-tiba menghilang dari rumahnya, pria itu segera keluar dari dalam kamarnya. Berjalan menuju ruang tamu di mana ia melihat ada setumpuk berkas bersama dengan Mac Book yang sempat digunakan Shane untuk mengetik. Ada juga pesan di atas berkas tersebut.


"Kalau sudah selesai, sekarang dia kemana?" pikirnya lagi. Masih belum mendapatkan jawaban akan keberadaan Shane saat ini.


Ia kemudian teringat dengan satu benda di mana biasanya ada catatan kecil yang menempel di sana. Segera ia melangkahkan kakinya menuju tempat di mana benda tersebut berada.


'Karena hari sudah larut, saya pamit pulang Presdir. Selamat malam.'


"Astaga!" Yoon Oh memekik tertahan di ujung lidah. Dirinya segera meraih kunci mobil, serta Hoodie abu-abu yang sempat ia lepaskan, dan meletakkannya di atas kursi meja makan.


"Pasti dia belum jauh dari sini. Aku harus mengejarnya."


Hanya itu yang Yoon Oh pikiran tentang keberadaan Shane. Wanita itu pulang tanpa berpamitan langsung dengannya. Hanya meninggalkan secarik kertas di pintu kulkasnya dan juga di atas tumpukan berkas.


Wanita itu pergi begitu saja. Membuatnya di selimuti dengan rasa khawatir secara tak sadar.


***


Malam ini angin berhembus dengan cukup kencang, hingga membuat tubuh ringkihnya merasa kedinginan. Terlebih lagi, ia hanya memakainya kemeja dan rok di atas lutut beberapa senti, serta stilleto yang ia kenakan, benar-benar menampakkan dirinya seperti wanita karir yang sedang mencari kesenangan di malam hari.


Shane beberapa kali memeluk tubuhnya yang merasa kedinginan karena paparan angin malam yang menerpanya dengan cukup kuat.


Shane tidak suka dingin, dan ia membenci hal itu.


Tapi hari ini, sepertinya sang raja malam tidak membiarkan dirinya untuk merasakan kesejukan angin yang lembut seperti sentuhan seorang Ibu pada anaknya.


Cuaca dingin itu, mengingatkannya dengan kejadian buruk yang menimpa orang tuanya.


Sudah sebulan sejak kepergian kedua orang tuanya. Waktu berlalu tanpa ia sadari, seperti baru kemarin ia menangis sejadi-jadinya di rumah pemakaman seorang diri.


Baik keluarga dari pihak Ibu, mereka tak kunjung hadir hari itu karena alasan transportasi. Sedangkan keluarga dari pihak Ayah, beberapa dari mereka datang untuk memberikan bela sungkawa, tapi tak satupun dari mereka menghampiri dirinya yang menangis seorang diri di rumah pemakaman.


Hari itu, mereka memilih menunggu di luar, sambil menyambut tamu yang hadir di acara pemakaman tersebut.


Kenangan menyakitkan yang terbentuk dari kebencian kedua belah pihak keluarga membuatnya benar-benar merasa di asing kan. Sudah sebulan berlalu, tapi tak ada satupun keluarga dekatnya datang untuk menjenguk keadaannya seperti apa.


Shane paham jika keluarga Ibunya cukup jauh, dan itu akan menyulitkan mereka. Tapi keluarga dari Ayahnya? Bukankah jarak kampung halaman Ayahnya di Busan tak sampai berhari-hari jika di tempuh dengan KTX ataupun Pesawat?


Kenapa, keluarga Ayahnya begitu membenci dirinya yang sebatang kara ini?


"Aku tidak tahu apa yang Ayah lakukan sampai-sampai keluarga Ayah membenci kelahiran ku. Begitu juga dengan Ibu. Dan Ibu...aku tak tahu apa yang engkau lakukan sampai-sampai keluarga terdekat ku begitu membenci kehadiran ku di dunia ini."


"...meski ku tahu kalian sangat rapuh karena seseorang membenci kehadiran ku."


Shane menengadahkan kepalanya ke atas. Menatap langit malam yang indah dengan taburan bintang yang memancarkan sinarnya.


Meski samar, tapi Shane masih bisa melihat bahkan tangannya sangat ingin meraih ribuan bintang yang jumlahnya tak terhingga.


"Apa aku bisa ke sana? Menemui Ayah dan Ibu?" Batinnya bertanya pada sang pemilik kuasa alam semesta yang luas.


Mungkin suatu hari nanti.


Jawaban yang bahkan ia sendiri yang menjawabnya dalam hati. Huh? Sesulit itu kah hidupnya saat ini? Apa mereka semua...kini benar-benar membencinya?


"Ku harap, hanya kehadiran ku saja yang di benci oleh mereka. Jangan kedua orang tuaku."


Di tengah perjalanan yang panjang menuju halte bus, ia tiba-tiba di hadapkan dengan kejadian tak mengenakkan mata. Padahal, saat ia berjalan menyusuri jalan yang cukup penerangan tersebut, ia sudah membayangkan hal negatif yang mungkin saja terjadi pada dirinya.


Namun ternyata bukan ia yang mengalami itu semua, tapi seorang wanita yang berdiri tak jauh dari tempatnya saat ini. Ada 3 pria yang berusaha menggodanya dan melakukan pelecehan seksual dengan wanita itu.


Tentu Shane yang melihatnya tak bisa diam saja di tempat. Ia segera mempercepat langkahnya untuk menghampiri mereka berempat. Shane takut jika wanita yang tak di kenalnya itu terluka.


Bugh...Bugh...Bugh


Shane melayangkan dua stilletto-nya ke kepala pria tersebut. Mereka mengerang kesakitan sambil memegangi masing-masing kepala mereka yang terkena ujung stilletto.


"Dasar brengsek! Beraninya sama perempuan!" Shane melayangkan tatapan jahat pada ketiga orang tersebut. Mereka pikir, hanya mereka yang bisa jahat pada orang lain.


Oh tidak! Shane bisa melakukan hal yang sama. Manusia seperti mereka harusnya berada di penjara setelah ini.


"Hemm...rasakan ini." Tangannya yang menggenggam erat stilletto-nya itu. Kembali memukulkannya pada lelaki yang usianya kisaran pada rata-rata paruh baya. Mereka semua langsung meringis setelah Shane berhasil menendang ************ ketiganya.


Melihat wanita yang berada tak jauh dari tempatnya gemetar ketakutan, Shane langsung menarik tangan wanita itu untuk pergi dari sana.


"Lepaskan heels-mu, kita pergi dari sini." Wanita itu pun mengangguk paham. Kemudian ia melepaskan heels-nya dan berlari meninggalkan tiga pria mesum bersama wanita yang menolongnya tadi.


Mereka berlari ke arah yang tak tentu. Shane membawa wanita itu ke tempat di mana orang masih banyak berlalu lalang, meski sekarang waktu sudah sangat larut jika di katakan masih banyak lautan manusia di tempat mereka sekarang.


"Kau pasti kaget kan?" Raut wajah Shane terlihat khawatir saat perempuan di depannya hanya diam menundukkan kepalanya.


"Kalau begitu kau tunggu di sini dulu. Aku akan carikan air untukmu."


Shane kembali memakai stilletto-nya lalu pergi ke salah satu toko yang masih buka. Untung saja masih ada toko yang buka di tengah malam, jadi Shane tidak perlu berlari mencari toko yang masih buka 24 jam.


Tanpa pikir panjang, Shane langsung membeli 2 botol air mineral dingin dan langsung membayarnya di kasir. Sesaat setelah ia keluar dari dalam toko, wanita yang sempat di tolong nya tadi ternyata masih ada di tempatnya. Sama sekali tak beranjak, dan hanya diam di tempat itu.


"Ini..." Shane langsung memberikannya air yang ada di genggamannya pada wanita tersebut.


Sayangnya, wanita itu terlihat kesulitan membuka botol air pemberiannya. Mungkin masih gemetar dan sedikit syok hingga kekuatannya untuk membuka botol tersebut hilang.


Shane merasa kasihan dan memilih membantu wanita tersebut untuk membuka botol air mineral miliknya.


"Bagaimana? Sudah lebih baik?" tanya Shane setelah melihat wanita itu meneguk setengah air botol pemberiannya.


"Terima kasih." Wanita itu akhirnya bersuara. Menjawab pertanyaan singkatnya dengan nada gemetar.


"Kenapa kau bisa ada di sana?" Melihat wanita yang ada di depannya hanya diam, Shane menarik wanita tersebut untuk menepi di salah satu bangku kosong, di mana di sebrang sana sudah ada halte.


"Saya baru pulang kerja, dan tempat kerja saya kebetulan ada di daerah itu."


Shane mengangguk paham mendengarnya. Tapi ia kembali berpikir lagi.


Tempat kerja? Di daerah tersebut?


Seingatnya, jalan menuju halte bus yang ia lewati rata-rata dipenuhi dengan bar dan juga beberapa penginapan.


Kompleks rumah Yoon Oh terbilang cukup dekat dengan daerah tersebut jika di tempuh dengan kendaraan. Tapi akan cukup memakan waktu yang banyak jika harus menempuhnya dengan jalan kaki.


Ya, Shane berjalan kaki meninggalkan rumah Jaehyun. Sekitar 25 menit lebih waktu ia tempuh untuk bisa sampai di daerah tersebut.


Jangan lupa stilletto yang ia kenakan, kini kakinya benar-benar sakit di buat oleh sepatunya itu.


"Kau bekerja di bar?" Shane menebaknya, dan tepat setelah ia mengatakan hal itu, wanita di sampingnya berbalik memandanginya sambil menganggukkan kepala. "Jadi itu alasanmu pulang larut." gumamnya kecil.


"Anda sendiri? Baru pulang kerja?" Wanita itu berbalik menanyainya, dan Shane tanpa ragu langsung menganggukkan kepalanya. "Aku bekerja lembur, makanya pulang larut?"


Hanya 5 menit mereka berbicara seputar pekerjaan, Shane teringat bahwa ia telah menghabiskan banyak waktu, dan sekarang jam tangannya menunjukkan waktu hampir setengah satu malam.


"Astaga!" Pekiknya terkejut. Ia menatap wanita itu sebentar lalu membungkuk pamit untuk pulang.


"Apa perlu kau ku pesankan taksi?" tawar wanita itu.


Shane menggeleng, "Aku bisa sendiri. Sebaiknya kau pesan taksi dan langsung pulang. Jangan sampai kejadian seperti tadi terulang lagi. Ok!"


Hanya itu yang berhasil Shane serukan pada sosok wanita berambut pendek yang ia tolong. Kini langkah kakinya di bawa berlari, mencoba menemuka satu taksi yang masih berkeliaran di jalan raya.


"Aishhh...kenapa juga sih aku harus memikirkan pria itu sekarang!" Ia meruntuki dirinya yang tiba-tiba memikirkan Yoon Oh. Dan gara-gara berlari dengan stilletto yang di kenakannya, kakinya tersandung dan sekarang ia terjatuh


"Akhhh..." Shane meringis kesakitan sambil memegangi pergelangan kakinya yang di rasanya terkilir. Ia mencoba berdiri, namun rasanya sedikit susah karena kakinya yang nyeri saat berusaha di gerakkan.


Dirinya sudah kehilangan akal. Rasanya ingin berteriak, melampiaskan kekesalannya terhadap hari ini.


Perasaan, pagi tadi Shane sudah berdoa. Berharap bahwa hari ini adalah hari yang baik baginya. Namun apa? Lihat sekarang apa yang ia dapatkan.


Dan pada akhirnya, ia hanya pasrah dengan semua kejadian yang menimpanya. Tuhan sedang menguji kesabarannya, dan ini barulah sebuah permulaan. Di depan sana masih ada banyak kejadian-kejadian yang tak terungkap yang siap menimpanya, dan Shane hanya bisa menyiapkan mental untuk menghadapinya.


"Aku rindu kalian berdua saat aku jatuh seperti ini."


***


To Be Continue...