Immortal Love

Immortal Love
Become a Professional



Sudah waktunya jam makan siang, tapi wanita yang di tunggu sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya di ruangannya.


Apa selama itukan untuk memeriksa berkas yang tebal?


Hmm, apapun itu. Ini semua tetap ulah Yoon Oh. Pria itu tidak benar-benar menyuruh Shane untuk mengeceknya. Hanya saja, ia sedikit usil dengan sekretaris barunya itu, makanya ia melakukannya.


Baru saja Yoon Oh hendak keluar dari dalam ruangannya karena ingin menghampiri Shane di meja kerja wanita tersebut, tiba-tiba pintu ruangannya di ketuk oleh seseorang. Yoon Oh menjawab dengan sedikit suara lantang dari dalam sana.


"Silahkan masuk!" Orang itu langsung masuk dengan sedikit membungkuk hormat ke arahnya.


Rupanya itu sekretaris-nya, orang yang ia tunggu-tunggu masuk ke dalam ruangannya.


"Apa sudah selesai?" tanya Yoon Oh to the point saja.


Shane mengangguk kecil, "Sudah Presdir. Saya sudah memastikan tidak ada yang salah dengan ketikan saya semalam." Yoon Oh langsung mengambil berkas itu setelah Shane memberikan itu padanya.


Di saat yang bersamaan pun, jelas terlihat ada guratan lelah di wajah wanita muda itu. Namun si pemilik wajah menutupinya dengan sedikit senyuman serta menghindari tatap mata dengannya.


Apa ia sudah keterlaluan menyuruh Shane mengetik berkas sebanyak itu? Belum lagi ia tadi menyuruhnya untuk memeriksa berkas tersebut satu per satu.


"Saya pikir, Presdir masih punya banyak berkas kadaluwarsa yang harus saya ketik dan di periksa. Jika masih ada, silahkan taruh di meja saya saja, atau jika saat ini Presdir membawanya dari rumah, saya dengan senang hati mengerjakannya."


Penyataan wanita itu membuatnya kalah telak saat Shane mengetahui bahwa berkas yang semalam ia berikan adalah berkas yang telah selesai proyeknya.


Entah pria itu sedang mengerjainya atau memang sedang menguji keprofesionalan dirinya dalam bekerja, yang jelas Shane sedikit sakit hati karena mendapat perlakuan seperti itu dari Yoon Oh.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Presdir." Ia mebungkuk dengan hormat, kemudian ia berbalik membelakangi Yoon dengan sopan.


Saat ia benar-benar ingin meninggalkan ruangan itu, Yoon Oh tiba-tiba mencegatnya. Menarik tangannya sepelan mungkin agar ia tidak merasa kesakitan.


"Ada apa lagi, Presdir?" tanyanya.


"Yang tadi itu..." Yoon tak mampu menjelaskan kalimatnya sendiri. Ia gugup, entah karena merasa tidak enak dengan Shane atau karena kelakuannya baru saja terbongkar. Seperti anak kecil yang ketahuan mencuri oleh pemilik toko.


"Saya pikir, ketika saya bekerja di tempat ini saya merasa pada akhirnya saya tidak bisa seprofesional anda dalam bekerja. Tapi ternyata tidak."


"Saya tidak menyalahkan anda jika mengatakan saya tidak profesional seperti yang anda katakan di awal wawancara. Tapi cara anda memperlakukan karyawan anda sendiri yang membuat saya berfikir bahwa anda lebih tidak profesional dibandingkan mereka..." Shane kembali membungkuk di hadapan Yoon Oh. "Maaf jika hari ini saya membuat anda merasa buruk, Presdir. Maaf."


Dan Shane benar-benar membalikkan tubuhnya kembali dan meninggalkan ruangan itu dengan perasaan kesal dan sakit hati.


Dirinya seperti di rendahkan secara tak langsung, tapi apa yang bisa Shane perbuat? Ia masih bergantung pada pekerjaan ini untuk melunasi hutang orang tuanya.


Shane yang tulus, hanya bisa mengusap dada sambil memotivasi dirinya bahwa ini adalah ujian. Untuk menjadi lebih baik pasti ada banyak ujian yang di hadapi.


Ingin mencapai hasil yang maksimal pun Shane harus menghadapi ujian terlebih dahulu. Jika gagal, ia masih bisa mengulang lagi dan lagi.


Mungkin saja. Jika pada akhirnya ia gagal lagi, haruskah ia menyerah dengan keadaan? Bahkan saat ini beban yang di pikuknya sudah cukup berat secara tak kasat mata.


***


Pukul 17.25


Waktu petang sudah hampir menguasai tepat pada jam tersebut. Shane baru saja selesai mengetik laporan yang rencananya akan ia serahkan pada Yoon Oh besok pagi.


Sebenarnya ia hendak masuk dan memberikan laporan yang ia ketik pada Yoon Oh hari itu. Tapi karena ia masih kesal karena Yoon dengan seenak hati menyuruhnya, atau mungkin pria itu sedang mengerjainya, yang jelas Shane masih tidak bisa terima dengan perlakuan Presdirnya itu.


Jangan karena Yoon Oh yang merupakan atasannya di kantor, jadi Shane dengan bebas menerima jika pria itu melukai harga dirinya.


Tentu Shane tidak bisa menerima. Dan pada akhirnya, Shane memilih untuk pulang 15 menit sebelum Yoon Oh meninggalkan kantor seperti biasanya.


Anggaplah ini pembalasan untuk Yoon Oh. Sedikit mengacuhkan pria itu mungkin akan membuat luka di hatinya terobati.


"Lho Shane? Kenapa kau bisa ada di sini?"


Pemuda itu nampaknya terkejut melihat Shane yang tiba-tiba berdiri di pinggir halte sambil menunggu kedatangan bus nomor 5 untuk mengantarnya ke halte dekat Apartemen Chaeri.


Dirinya sadar akan sosok pria yang baru saja menegurnya dari dalam mobil. Keningnya mengerut saat melihat sosok tersebut menurunkan kaca mobilnya, dan terlihat jelas Sejun-lah yang baru saja mengajaknya berbicara.


"Aku sedang menunggu bus untuk pulang. Kau sendiri?" Shane menatap Sejun dengan rada kesal. Mungkin masih terpengaruh dengan Yoon Oh? Makanya moodnya agak susah untuk di ajak berbicara.


"Aku baru saja keluar dari kantor. Tapi kau tumben sekali keluar dari kantor lebih cepat dari biasanya, ada apa?"


Pria itu baru saja memancing dirinya untuk mengingat Yoon Oh, Presdirnya yang berlaku seenaknya dengan dirinya tadi pagi. Shane masih berasap, masih berapi-api, tapi tidak seburuk wanita yang tak tahu mengontrol emosinya sendiri.


Dengan helaan napas yang berat, Shane kembali menjawab pertanyaan pria tersebut.


"Tidak ada apa-apa. Hanya saja pekerjaan ku lebih cepat selesai tadi, makanya aku bisa pulang cepat." Mendengarnya, Sejun mengangguk paham dengan penjelasan Shane barusan.


Untung saja pria itu percaya


Karena hari semakin gelap, Sejun menawarkan satu tumpangan untuk Shane. Mengantar wanita itu pulang ke Apartemen sepupunya.


"Kau tidak ingin ikut denganku? Kebetulan aku mau ke tempat Chaeri dulu. Mau mengantarkan pesanan anak itu."


"Memangnya Chaeri pesan apa?" Alis Shane terangkat sebelah memandang Sejun.


Pria itu lantas mengangkat satu kantong plastik tembus pandang, di mana isinya ada dua buah kotak di dalam sana.


"Ayam bumbu pedaa. Dia memintaku untuk membelikannya."


"Oh." Respon Shane singkat.


"Kau mau ikut atau tidak?" tawar Sejun sekali lagi.


Mendengus lagi, Shane akhirnya memberi keputusan finalnya. "Asal tidak merepotkan mu saja?"


Shane tersenyum kecil mendengar ucapan Sejun barusan. Ia pun beranjak dari halte bus dan segera menaiki mobil Sejun yang kini melaju membela kehidupan malam yang sebentar lagi akan di mulai.


Tak banyak yang obrolkan di dalam mobil. Hanya seputar pekerjaan rumit yang setiap harinya beragam, mewarnai dunia mereka masing-masing. Sama-sama menjabat sebagai sekretaris, tentu Shane belajar banyak dari Sejun yang notabene adalah Senior di kantornya.


"Sudah seminggu lebih kau bekerja di sini, bagaimana menurutmu?" tanya Sejun tanpa melepas fokus matanya ke arah jalanan.


"Menurutku? Hmm, biasa saja. Antara menyenangkan dan juga tidak, aku ada di antara keduanya. Tak bisa memilih pekerjaan ku ini menyenangkan atau tidak." jawab Shane dengan nada datar yang sedang sibuk menelisik hati dan juga pikirkan mengenai pekerjaannya tersebut.


"Terkadang aku merasa senang karena pekerjaan ku ini bisa menemui banyak orang, berinteraksi secara langsung, dan menurutku itu menyenangkan."


"Yang tidak menyenangkannya apa?" lanjut Sejun menanyainya dengan begitu penasaran.


"Berada di antara pilihan yang tidak bisa ku ambil. Memilih salah satu dari mereka itu sulit. Menyenangkan dan Menyebalkan. Aku tidak bisa memilih kedua sama sekali."


Sosok yang tengah sibuk memegang stir kemudi kini menolehkan kepalanya sedikit ke arahnya, "Kenapa?"


"Jika aku memilih salah satu di antara dua pilihan itu, maka aku akan kehilangan pilihan lainnya. Maka lebih baik aku diam dan menikmati pekerjaanku sebagaimana alur yang telah di tetapkan."


"Setiap hari akan berbeda, dan alur pun tidak akan monoton di tempatnya. Ada banyak hal yang mungkin akan kita rasakan nantinya di depan sana. Intinya hanya menikmati. Nikmati pekerjaan mu sebelum kau kehilangan pekerjaan. Itu saja."


Menyimak Shane adalah hal yang saat ini ia lakukan. Dirinya hanya terdiam sambil sesekali melirik wanita yang ada di sampingnya, terduduk tenang sambil memandangi jalan raya di luar sana.


Kim Shane atau yang lebih di kenalnya dengan Shane Kim yang selalu ia panggil setiap harinya dengan nama Shane, adalah sosok wanita yang terlihat tenang, santai, namun ternyata menyimpan banyak luka di dalam dirinya.


Tak perlu wanita itu jelaskan bagaimana perasaannya karena Sejun tahu dan ia membaca perasaan Shane dari kalimat-kalimat yang di ucapkan nya.


Netral, mungkin itu penggambarannya saat ini. Shane tidak memilih antara menyenangkan dan juga menyebalkan. Yang dia katakan hanya tak bisa memilih di antara dua pilihan tersebut.


Perasaan selalu diliputi rasa senang dan juga sedih. Mereka tak bisa menjadi satu karena kedua perasaan tersebut punya kekuatan masing-masing. Jika ia mengatakan bahwa pekerjaannya menyenangkan, rasa lelah akan berat yang di pikul nya serta kesal jika harus menghadapi pimpinannya mungkin tak ada akan ada. Tapi jika ia mengatakan bahwa pekerjaannya terasa tidak menyenangkan, maka perasaan menyenangkan mungkin tidak akan ka rasakan.


Pekerjaan yang saat ini ia geluti memang tak akan membuatnya bisa memilih salah satu di antara dua pilihan tersebut. Shane ingin merasakan keduanya. Tidak hanya salah satu di antaranya saja.


Karena hidup tidak selalu monoton seperti pikiranmu. Ada banyak perasaan yang bisa kalian rasakan setiap kali menjalani apa yang kalian geluti. Mustahil jika di dunia ini seseorang merasakan bahwa hidupnya monoton, dan yang lebih mustahil lagi jika mereka menganggap bahwa hidupnya sangat bahagia, sementara ada luka yang berusaha di tutupinya dengan senyum palsu.


"Akhirnya sampai..." Shane bersuara setelah sampai di parkiran bangunan Apartemen 30 lantai tersebut, dan otomatis jiwa Sejun langsung kembali ke asalnya.


Yah, dia melamun kan kalimat-kalimat petuah Shane sejak beberapa menit yang lalu. Wanita itu bahkan mengambil alih fokusnya, hingga tersadar kalau perempuan itu sudah beberapa kali menegur-negur namanya.


"Hwang Sejun?"


"Eh, iya." Pandangan terpaku pada Shane yang mengernyit heran menatapnya di dalam mobil.


"Katanya kau tadi mau singgah? Kenapa tidak turun?" tanyanya yang masih melirik tajam ke arah lelaki jangkung tersebut.


"Aku titip padamu saja, bisa?"


Shane memiringkan sedikit kepalanya, "Memangnya kenapa?"


Sehun kini bersiap menginjak pedal gas, namun tertahan karena ia harus menjawab pertanyaan wanita itu terlebih dahulu.


Kemudian ia menyodorkan bungkusan plastik yang berisi ayam goreng yang sudah di bumbui dengan rasa pedas di dalam kotak yang ada di dalam plastik.


"Aku ada urusan mendadak yang tertunda tadi pagi. Sampaikan saja salam ku sama Chaeri, katakan padanya kalau aku tidak bisa singgah ke Apartemennya."


Berdiri tak jauh dari mobil sport itu, Shane mengangguk paham dan mengatakan bahwa ia akan menyampaikan pesan darinya kepada Chaeri.


"Kalau begitu aku pergi du- ... Eh tapi, kapan kau akan pindah?"


"Pindah?" Shane mendadak lupa dengan arti kata pindah yang baru saja Sejun sampaikan padanya.


Sehun berdecak pelan ketika Shane melupakan kepindahannya ke Apartemen baru yang perusahaan siapkan untuknya.


Sesuai dengan apa yang tertulis dalam kontrak kerja.


"Ah, itu. Aku akan cari waktu yang tepat untuk pindah. Kalau sekarang aku pindah, rasanya sayang sekali karena pekerjaan ku masih banyak yang belum selesai. Belum lagi Presdir banyak menghadiri rapat Minggu ini, jadi aku tidak punya waktu untuk memikirkan kepindahan ku."


"Kau bisa ambil cuti sehari atau dua hari sama Yoon Oh."


Mendengar nama itu lagi, membuat Shane lagi-lagi harus mendengus kesal.


Dia lagi, dia lagi. Dua silabel itu membuat kepalanya mendadak pening.


"Aku baru beberapa hari kerja sudah mau ambil cuti. Aku tidak bisa melakukannya. Gajiku nanti di potong sama Presdir."


Sejun terkekeh mendengar celotehan Shane yang menurut wanita itu sama sekali tak lucu. Di mana letak kelucuan dari kalimatnya barusan?


"Mau ku Carikan waktu luang untuk pindah?" Mendadak pria itu menawarkan sebuah bantuan pada dirinya


Mendapat tawaran baik dari Sejun, rasanya Shane sungkan untuk menerimanya. Terlebih lagi pria itulah yang sudah mengurus dirinya saat hendak masuk ke kantor Crown Royal ini.


Makan dengan halus, Shane menolaknya alih-alih menerima bantuan itu.


"Tak apa. Aku bisa sendiri mencari waktu luang. Mungkin minggu depan saat akhir pekan, atau Minggu ini. Tapi akan ku usahakan secepat aku pindah ke sana."


"Baiklah kalau begitu. Kalau begitu aku pergi dulu."


Shane mengangguk, "Hati-hati di jalan."


***


To Be Continue...