
Shane baru saja tiba di kantor tempatnya melamar kerja dengan selamat. Chaeri yang mengantarnya pagi ini. Kata perempuan itu, sepupunya sudah menunggu di lobby, dan dia yang akan mengantarkannya menuju ruang interview.
"Kau semangat. Jangan gugup." Perempuan itu memberikannya satu senyuman hangat sebagai penghantar semangat agar hari ini ia sukses menjalani interviewnya.
2 hari yang lalu, Shane sibuk mengurus aplikasi lamarannya seorang diri. Namun, Chaeri datang dan perempuan itu ikut membantunya menyusun berkas, sehingga hari ini ia bisa interview karena berkasnya kemarin dinyatakan lolos seleksi.
Betapa bahagia dan senangnya Shane saat itu. Ternyata tak butuh waktu lama untuk berkasnya di seleksi. Dalam waktu 1x24 jam, ia sudah mendapatkan pemberitahuan lewat perpesanan. Dia dinyatakan lolos, dan hari ini adalah kesempatannya untuk bisa meraih mimpi itu.
"Ayah dan Ibumu pasti bangga melihatmu dari atas sana. Sekarang kau jauh lebih baik. Semoga keberuntungan menyertaimu. Sorry ya, aku enggak bisa menemani sampai interview-mu selesai."
Shane membalas senyuman Chaeri padanya, "Jangan seperti itu. Aku sudah sangat berterima kasih padamu karena sudah mau menemaniku sampai di sini. Lagi pula, kalau bukan karena kau dan kakakmu, aku tidak akan mungkin bisa berdiri di sini."
"Cih! Berlebihan sekali." Chaeri terkekeh mendengar penuturannya sendiri.
"Ya sudah, kau masuk cepat sana. Nanti terlambat. Oppa ku sudah menunggu mu di dalam sana. Jadi...Fighting!" Chaeri mengangkat tangannya terkepal sambil memberinya semangat lagi dan lagi.
"Baiklah. Kau hati-hati di jalan. Aku masuk dulu."
Shane melambai ke arahnya dengan penuh senyuman. Entah dirinya yang terbawa perasaan, tapi melihat Shane tersenyum seperti tadi benar-benar membuat hatinya yang gelisah mendadak merasa nyaman.
Sepertinya, luka wanita itu perlahan-lahan mulai pudar. Walau belum sepenuhnya sembuh, tapi setidaknya Shane bisa menunjukkan senyumnya seperti tadi.
"Haah...semoga kau lolos. Ayah dan ibumu pasti bangga mempunyai anak yang tangguh sepertimu."
Dilihatnya tubuh kurus Shane dari arah kejauhan, sampai akhirnya wanita itu benar-benar menghilang sapi pandangannya. Kini waktunya dia untuk berangkat kerja ke kantornya.
"Semoga berhasil."
***
Shane berjalan masuk dengan kebingungan. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari sosok 'Oppa' yang dimaksud Chaeri sesaat dirinya sampai di tempat ini.
Karena tak menemukan sosok yang dia cari, Shane memberanikan dirinya untuk bertanya pada resepsionis yang berdiri tak jauh dari tempatnya saat ini.
"Permisi, ada yang bisa saya bantu." Resepsionis wanita itu membungkuk kecil di hadapannya.
Shane membalasnya sekilas, sebelum akhirnya memberitahu tujuannya datang ke sini.
"Hari ini saya datang untuk interview sebagai calon sekretaris, kira-kira ruangan interviewnya ada di mana ya?"
"Tunggu sebentar, saya akan coba tanyakan ruang interview-nya."
Shane mengangguk dengan penuh senyuman, "Iya, makasih."
"Sama-sama."
Shane berdiri di meja resepsionis selama beberapa menit, sebelum akhirnya satu panggilan yang menyerukan namanya terdengar di tempat itu.
Kalau di teliti lebih lanjut, bukankah pria itu adalah sepupunya Chaeri. Kakak sepupunya.
Ya, itu benar. Pria itu benar-benar sepupu Chaeri. Perempuan tadi sempat memperlihatkan fotonya dan ia benar-benar yakin kalau pria itu adalah sepupu Chaeri.
"Oh, kau sudah datang. Maaf terlambat. Tadi aku ada urusan sebentar bersama Presdir." katanya membungkuk kecil meminta maaf di hadapannya.
"Tidak apa-apa, saya juga baru datang."
Pria itu tersenyum kecil, "Jangan terlalu formal. Kau bisa berbicara santai padaku."
"Ah, em...baiklah." jawab Shane nampak ragu-ragu.
"Oh iya, kita belum berkenalan." Pria di hadapannya tengah menyodorkannya satu jabatan tangan padanya. Ia langsung membalasnya tanpa ragu.
"Perkenalkan namaku Oh Sehun, kakak dari Moon Chaeri."
Lebih tepatnya kakak sepupu.
"Namaku Shane, Kim Shane."
"Kau blasteran?" tebaknya.
Dirinya terkejut mendapati pria itu berhasil menebak identitasnya.
Ya, memang benar. Shane adalah blasteran Australia-Korea. Ayahnya Korea dan Ibunya orang Australia.
Shane lahir di Korea, dan ibunya memilih untuk menetap dan tinggal di sini setelah kelahirannya. Wanita itu juga mengubah status kewarganegaraannya menjadi Korea. Tidak lagi berkewarganegaraan Australia.
"Darimana kau bisa tahu?" Shane masih tak menghilangkan raut wajah terkejutnya.
Tidak langsung menjawab pertanyaan, Oh Sehun malah terkekeh mendengar ucapannya barusan.
Apanya yang lucu?
"Dari namamu, jelas sekali kalau kau blasteran. Tapi itu tidak bisa menjamin juga, sih. Buktinya banyak orang yang blasteran, tapi tidak menggunakan nama Inggris di dalam nama Koreanya."
"Ahh..." Shane hanya ber-oh ria saja mendengarnya.
"Wajahmu juga mengatakannya, bahwa kau benar-benar blasteran. Makanya aku tahu."
Sehun mengecek jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ini sudah waktunya untuk interview dan segera Sehun membawa Shane menuju ruang interview yang ada di lantai 4.
Ruangan Jung Jaehyun.
***