Immortal Love

Immortal Love
Keturunan Serigala



Prince Of Wolf Bagian 21


Oleh Sept


Beberapa purnama telah berlalu, pasca kejadian yang membahayakan nyawa putra mahkota, kini Aubrey menjadi tawanan abadi di bawah tanah. Atas titah Raja Edward, princess Aubrey harus menjalani hidup yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


Sedangkan Amora, ia harus menelan pil pahit. Karena keputusan raja sudah tidak bisa diganggu gugat. Jika tidak, ia juga akan menyusul putrinya terkurung dalam penjara bawah tanah tersebut.


Sebenarnya bukan tempat yang mengerikan, karena Edward tidak mungkin menyiksa putrinya sendiri. Ia hanya ingin memisahkan anggota kerajaan dari bahaya yang mengancam. Sembari terus mencari penwara agar Aubrey bisa mengendalikan diri. Agar princess Aubrey tidak lagi menjadi ancaman bagi seluruh anggota kerajaan.


***


Arthur kecil sudah mulai besar, pertumbuhan sang putra mahkota lebih cepat daripada Aubrey dulu. Meskipun baru beberapa purnama, Arthur kecil sudah memiliki kekuatan khusus, yang membuat Edward bangga padanya.


Hal itu tidak lantas membuat Amora senang, ada separuh jiwanya yang terpencil dalam penjara bawah tanah. Hati Amora seolah terbagi, dan dia tidak akan bahagia selama putri pertamanya bisa berkumpul lagi seperti dahulu kala.


"Pangeran ... tunggu pangeran!" tuan Smit mengejar Arthur kecil yang berlarian di taman dalam kastil.


Anak itu lalu bersembunyi di dalam jubah merah sang ayah, ketika Edward tengah bicara dengan para panglima perang.


"Maaf yang Mulia." Buru-buru tuan Smit mengambil Arthur. Tapi sang putra mahkota tersebut malah semakin mencengkram erat kaki sang raja.


"Biarkan! Biarkan dia," terang Edward kemudian meraih tubuh Arthur lalu mengandeng anak itu.


"Kita lihat ... seberapa hebat kau menunggang kudamu," seru Edward kemudian meninggalkan para panglima dan menuju kuda putih kecil milik Arthur.


"Apa aku boleh naik, Yang Mulia?" tanya Arthur polos sambil mengusap kepala kudanya. Kuda yang sangat tampan, dengan ekor panjang serta bulu yang begitu lembut.


Edward mengangguk, kemudian meletakkan Arthur di atas kuda.


"Jalan!" bisik Edward yang seolah mengerti bahasa binatang. Seketika kuda putih itu berjalan lincah, aneh, Arthur tidak takut. Sang putra mahkota seperti menyatu dengan kudanya. Keduanya melesat, membuat para pengawal berlarian di belakangnya.


Sedangkan Edward, ia berdiri di tempatnya. Sembari mengulas senyum menatap betapa gagah sang putra mahkota yang akan mewarisi keerajaannya. Inilah yang dia mau, seorang putra raja yang akan menguasai dua alam. Edward masih percaya akan ramalan bintang orizon. Bahwa salah satu putra mahkotanya, akan menjadi penguasa alam semesta.


"BERHENTI!" gumam Edward tapi mendenggung di telinga the white horse.


Kuda putih itu berhenti dan berjalan pelan. Kemudian merunduk di samping Edward.


"Kuda yang hebat!" celetuk Arthur kemudian menepuk punggung kudanya dengan bangga.


"Kau yang terhebat," ucap Edward penuh makna.


***


Beberapa putaran matahari, entah sudah berapa ratus atau ribu purnama.


Rambut Amora sudah mulai berubah, sedangkan Edward, serigala abu-abu itu tetap sama. Ia tidak pernah menua. Sedangkan Arthur kecil, kini sudah menjelma menjadi pangeran yang gagah.


Arthur hanya berubah menjadi serigala kala purnama menampakan wajahnya. Berbeda dengan sang raja, Edward bisa berubah seperti apa maunya.


Bagaimana dengan Aubrey?


Dia menjelma menjadi peri cantik dengan rambut abu-abu seperti bulu sang ayah. Meskipun sudah tidak sama seperti dulu, Aubrey tetaplah keturunan pertama sang raja.


Ia mulai nyaman tinggal bersama dayang-dayang di istana ciptaan Edward. Sang raja sengaja memisahkan Aubrey dari para penghuni kastil. Ia juga membatasi bahkan melarang semua orang menemui Aubrey. Semua harus atas ijin sang raja.


Bahkan sampai Arthur dewasa, keduanya tidak pernah bertemu. Seperti ujung kutub, Edward sengaja memisahkan dua saudara tersebut. Hingga sesuatu yang ditakuti akhirnya terjadi sudah.


Penjara bawah tanah.


Arthur yang selalu ingin tahu, jiwa petualangan sang putra mahkota itu mulai tergelitik saat mendengar desas-desus bahwa ia memiliki saudara.


Diam-diam pangeran Arthur menyelinap dan masuk dalam penjara bawah tanah. Ia sempat terkejut, karena ia pikir akan bertemu dengan lorong gelap yang lembab. Tapi, rasa penasaran Arthur langsung terjawab ketika ia melihat dunia baru yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


Kuda berkepala manusia, kupu-kupu raksasa, pohon setinggi pilar di istana, dan bentuk buah-buahan yang sangat tidak wajar.


"Di mana ini?" gumam Arthur yang masih takjub dengan apa yang ia lihat.


Ia seolah terbuai, terhipnotis, dan terlena, hingga sebuah jebakan membuat kakinya tertarik dan kepalanya ada di bawah.


"Siapa kau?"


Arthur langsung terpesona, ia seperti melihat bangsa peri yang hanya ia dengar lewat cerita sang Ratu. Bahwa ada di luar sana, suatu bangsa yang memiliki keindahan luar biasa.


'Amazing ... menakjubkan!' batin Arthur.


"Lepaskan aku!" ucapnya kemudian yang tersadar.


"Kenapa kau berkeliaran di sini? Katakan! Kau siapa?"


Arthur terkekeh.


"Aku yang akan membuatmu tunduk!"


BRUAKKK


Tali tiba-tiba patah, membuat sang putra mahkota langsung tersungkur di atas rerumputan hijau yang segar.


Seketika Aubrey tertawa lepas ketika melihat pria asing itu terjungkal.


"Ish!"


Arthur buru-buru bangkit, ia kemudian menatap gadis cantik di depannya dengan kesal.


"Tertawa lah, sebelum kau menyesal!" celetuk Arthur.


Aubrey tersenyum sinis, kemudian menyentikkan jari. Tiba-tiba gadis itu menghilang.


"Di mana dia? Hai ... pengecut ... pecundang ... kau lari rupanya?"


Detik berikutnya Aubrey muncul lalu mendorong tubuh Arthur dari belakang, hingga Arthur kembali jatuh.


'Apa kau adikku ... kau mirip dengan ayah. Ya ... yang Mulia paling berkuasa itu. Kalian sama-sama menyebalkan,' gumam Aubrey lalu menghilang lagi.


Aubrey sebenarnya tidak menghilang, ia hanya berkamuflase menjadi kumbang yang hinggap di salah satu dahan kering di dekat sana.


Aubrey seolah sedang menikmati dan menatap saudaranya itu. Ia tidak mengira, akan bisa bertemu dengan Arthur. Jika bukan karena wajah Arthur yang lama-lama ia perhatikan sama seperti Edward, mungkin ia tidak tahu, siapa sosok pria tersebut.


Sedangkan Arthur, ia dibuat menahan kesal karena merasa dikerjai. Sang pangeran kemudian memutuskan menyusuri tempat aneh itu lagi. Menikmati tiap buah yang bisa ia petik sesuka hati. Hingga sampai bertemu beberapa dayang-dayang istana. Mereka sama-sama kaget, tapi Arthur meminta semuanya diam. Dan para dayang-dayang Aubrey itu menundukkan wajah dalam-dalam.


"Aku akan pergi, dan kalian harus tetap diam," titah Arthur yang tidak mau ulahnya bocor dan diketahui sang raja.


Mungkin takut, para dayang-dayang itu langsung menurut. Setelah itu, Arthur langsung bergegas pergi, sebelum kehadirannya membuat banyak masalah. Lain kali ia akan ke sini lagi, untuk saat ini, sepertinya ia harus pergi.


***


Di dalam istana, kastil tua yang sepi dan mencekam.


Amora terbaring dengan gelisah, dahinya dipenuhi banyak bulir keringat. Edward sedang tidak ada di dalam sana. Amora yang tidak tenang dalam tidurnya, seperti dikejar-kejar penyihir jahat.


"Mau lari ke mana? Bahkan yang Mulia tidak akan bisa melindungimu lagi!"


Suara itu terus saja berdenggung di ruang dengar Amora. Seperti teror, Amora merasa hidupnya terancam.


"Yang Mulia ... yang Mulia ..."


Bersambung


IG Sept_September2020


Fb Sept September


vote ya ...


Komen ...


terima kasih bestie.