
Prince Of Wolf
Oleh Sept
Bagian 19
Langit mendadak mendung gelap ketika Edward tiba di pelataran kastil tua. Serigala abu-abu itu datang dengan Aubrey di punggungnya. Begitu tiba, semua pengawal langsung menundukkan kepalanya, mereka menaruh hormat pada sang penguasa.
Dalam waktu sekejap, Edward kembali menjadi manusia lagi. Tidak jauh dari sana, tuan Smit datang dan menundukkan kepalanya, ikut menaruh hormat.
"Bawa dia masuk! Jangan biarkan dia keluar!" titah Edward.
Semua langsung melakukan titah sang raja, dan princess Aubrey langsung dibawa ke sebuah kamar khusus dengan penjagaan yang Maha ketat. Aubrey tidak akan bisa lolos, meski ia menginginkan hal itu.
Kabar kembalinya Aubrey akhirnya sampai ke telinga Amora, sang ibu. Amora langsung meninggalkan jamuan makan dan berlari mencari keberadaan sang putri.
"Aubrey ... di mana putriku ... di mana dia?"
Amora berlarian di lorong gelap dan panjang, ia sedang mencari putrinya yang telah pergi. Jauh di ujung sana, ia melihat sosok Edward yang berbicara dengan para pengawal.
"Di mana dia? Dimana dia?" Amora menarik jubah merah kebesaran Edward, dan semua pengawal ingin menyelamatkan sang raja. Tapi Edward mengacungkan tangannya. Meminta semuanya untuk pergi.
"Di mana dia? Di mana kau sembunyikan anakku?"
Mata Amora sudah basah, kehilangan Aubrey cukup membuat hatinya sakit. Meskipun kini telah hadir di tengah-tengah mereka, seorang pangeran serigala yang akan menjadi penguasa selanjutnya.
"Tenang lah! Kuasai dirimu!" ujar Edward kemudian mencengkram kedua bahu Amora.
Tangis Amora pecah, ia hanya ingin melihat putrinya. Hanya itu saja yang ingin ia inginkan. Melihat tubuh Amora yang bergetar karena menahan tangis, perlahan Edward menarik tubuh itu, hingga masuk ke dalam jubah kebesarannya.
"Aku hanya ingin melihatnya ... aku ingin memeluknya," ucap Amora dengan nada memohon.
Edward lantas membawa Amora berjalan, Hingga masuk ke sebuah pintu rahasia, di mana di sana banyak sekali penjaga.
"Aubrey bukan monster, dia bukan tawanan, dia putri di kerajaan ini, mengapa kamu tega melakukannya pada Aubrey?" ujar Amora yang marah, karena menganggap Aubrey seperti tawanan.
"Jika kamu tidak bisa mengontrol emosimu, sebaiknya tidak usah Kita lanjutkan."
Amora langsung menatap tajam ke arah Edward, ia menatap marah pada pasangan hidupnya tersebut. Ya, hanya dia satu-satunya mahluk yang berani menatap dengan tatapan penuh kebencian pada sang raja. Ratu paling berani yang lahir dari bangsa manusia.
Tapi Edward tidak marah, dia hanya diam kemudian memapah Amora agar ikut masuk semakin ke dalam. Sebuah pintu dari bantuan tiba-tiba terbuka, dengan karpet coklat tua yang terbentang di antara kerikil-kerikil tajam.
"Penjara apa ini? Mengapa kau tega sekali pada Aubrey?"
Tapi, wajah Amora langsung berubah, saat ia melihat sosok mirip putrinya terbaring di atas sebuah ranjang berhias emas. Disertai kain penutup yang lembut seperti sutra. Dari pada penjara, ini seperti istana yang tersembunyi. Sebuah tempat yang sangat rahasia.
"Aubrey ... Bre ... princess Aubrey ..."
Amora mengusap wajah Aubrey yang masih pingsan. Saat merapikan anak rambut, Amora mendadak terhenyak.
"Ada apa dengannya?"
Amora kemudian mencari sesuatu di balik tubuh Aubrey.
"Ke mana ekor itu?"
Amora menatap sang raja, tapi Edward sama sekali tidak mengatar apapun.
"Mengapa? Apa yang sudah terjadi padanya?" Amora shock, ia terkejut karena fisik putrinya sudah berubah.
Serigala kecil berekor emas itu telah menjadi sejarah, kini Aubrey sudah menjelma menjadi peri cantik yang tidak memiliki ekor lagi. Warna rambutnya perlahan berubah, tubuh Aubrey tiba-tiba terangkat dengan sendirinya.
Sebuah cahaya menyelimuti tubuh peri baru tersebut. Tidak mau putrinya pergi, meski apapun bentuknya saat ini, Amora langsung maju, ia naik ke atas dan menangkap tubuh putrinya agar tidak pergi kembali.
"Aubrey ... bangun!" bisiknya sambil terus memeluk tubuh Aubrey yang begitu dingin.
"Bangunkan dia! Bangunkan putriku?" Amora berteriak histeris para sang raja, ketika sang putri tidak kunjung membuka mata.
Nyatanya, teriakan histeris itu membuat kelopak mata Aubrey bergerak. Menyadari akan hal itu, Amora kembali antusias.
"Aubrey ... sayang."
Saat membuka mata, orang pertama yang dilihat Aubrey adalah ibunya. Keduanya pun saling menatap lama, hingga akhirnya tangan Aubrey mendorong keras tubuh Amora.
BRUAKKK
BERSAMBUNG
Komen yang banyakkkk, biar semangat up untuk Amora, Aubrey, Edward hehehhe ..
Fb Sept September
IG Sept_September2020
Follow ya bestie xixiixixxii