Immortal Love

Immortal Love
Setelah Gelap



Prince of Wolf bagian 15


Oleh Sept


Nuansa kegelapan mulai tersibak, berganti dengan terangnya dunia karena sinar matahari yang membakar.


Amora sudah bangkit dari garis hidup yang nyaris terputus dan mati. Malam itu, serigala abu-abu sudah menukar keabadian hidupnya hanya demi nyawa Amora. Dia memang kembali, tapi dengan kenangan kosong yang sudah hilang.


Amora kini terlihat murung berdiri seorang diri di sebuah balkon istana tua namun masih terlihat megah dan terawat. Dari jauh, Edward menatapnya. Sebuah tatapan sendu karena kini Amora bahkan tidak mengingat siapa dia.


Sedangkan di dalam kamarnya, Aubrey dibiarkan terikat. Ada sebuah gelang yang melingkar dalam kakinya, menyatu dengan tiang eman agar tali itu tidak lepas.


Semua perlahan pulih, begitu juga tuan Almor. Pria itu sudah sembuh dari segala luka bakarnya berkat pria berjubah putih.


Ketika semua membaik, dan kekacauan sudah dibereskan satu persatu, ada hati yang paling murung. Ini semua karena Amora, wanita itu histeris jika melihatnya. Membuat Edward hanya bisa menatap dari jauh.


***


Ingin mencari jawaban atas apa yang harus ia lakukan demi mengembalikan Amora seperti sebelumnya, Edward berubah kembali menjadi serigala. Ia berlari cukup kencang, menyusuri jalan setapak di tengah hutan. Di tengah gelapnya malam, ia baru tiba di depan sebuah gerbang batu tua yang sudah dipenuhi tumbuhan lumut.


"Untuk apa kau ke sini? Sepertinya tidak ada hal istimewa lagi yang bisa kau tukar?" ujar pria berjubah putih. Dia adalah pimpinan bangsa Peri yang tidak memiliki sayap.


"Di mana Auron?"


Edward tidak peduli dengan pertanyaan bangsa Peri itu, ia hanya ingin bertemu Auron, si raja Peri.


"Kau sudah tidak dalam perlindungan kami lagi, jadi ... tolong tinggalkan hutan ini!"


Edward langsung menyeringai, ia marah karena diusir. Hanya karena tidak memiliki keabadian, kini semua mahluk mulai berani padanya. Murka, serigala abu-abu itu malah menerkam pria berjubah putih.


"HENTIKAN!"


Tiba-tiba Auron muncul di tengah-tengah mereka. Raja Peri itu langsung mendorong tubuh serigala hanya dengan sekali tatapan.


"Kembalilah ke tempatmu, ini bukan wilayahmu!" titah Auron dingin.


Edward terlihat sinis, ia kemudian kembali memperlihatkan taringnya. Tapi sebelum dia menyerang, tubuhnya kembali terlempar hingga membentur bebatuan.


"Kau tidak mendengarku? Sebelum matahari muncul, tinggalkan tempat ini!"


Edward pun menggaung marah, suaranya memekakkan telinga. Membuat Auron dan yang lain menutup telinga.


Karena Edward sulit diusir, dan malah membuat kekacauan di hutan Peri, Auron pun memberikan serbuk yang ada di dalam sebuah botol kaca transparan.


"Berikan ini padanya, dan jangan pernah mengusik dunia Peri lagi!" ujar Auron angkuh.


Tanpa bicara apapun, Edward langsung merampas benda itu kemudian berlari meninggalkan hutan Peri.


***


Matahari hampir muncul, langit perlahan mulai terang. Tidak mau terlambat sampai, karena serbuk itu memiliki masa sampai matahari terbit, Edward pun mempercepat larinya.


Tidak peduli kakinya berdarah-darahh, kuku-kukunya mengelupas, Serigala itu terus berlari hingga lupa kalau ia bisa mati kapan saja.


Begitu di depan gerbang, Edward langsung tumbang. Tuan Smit yang melihat kekacauan itu, langsung meminta semua penjaga menutup gerbang. Dengan tangan kosong, tuan Smit mengangkat tubuh serigala abu-abu itu.


"Berhenti!" ucap Edward lirih.


Tuan Smit lantas langsung menghentikan langkah.


Ia kemudian membaringkan Edward yang berwujud Serigala di tengah-tengah lorong kastil yang gelap. Matahari belum muncul, tapi sepertinya sedikit lagi sinarnya akan menghangatkan bumi yang semalaman diselimuti gelap.


"Berikan ini pada Amora ... sekarang."


"Tapi, Tuan."


Smit merasa keberatan harus meninggalkan Edward yang hampir kehilangan kesadaran.


"Aku bilang sekarang!"


Seketika Smit langsung berlari sesuai titah tuannya.


"Nona Amora!" panggil Tuan Smit panik. Sebab Amora tidak ada di dalam kamarnya.


Hampir saja ia putus asa, ternyata Amora tidur di kursi sambil memeluk lutut di atas balkon.


Tanpa banyak bicara, tuan Smit langsung mengarahkan ujung botol dan membuka tutupnya. Ia paksa Amora untuk meminum itu sampai habis saat tuan Smit sudah mencampurnya dengan beberapa tetes air yang ada di sana.


Uhuk uhuk uhuk


Amora terbatuk-batuk, ia yang akhir-akhir merasa kosong, tiba-tiba dikejutkan dengan aksi tuan Smit.


Di tengah rasa gatal pada tenggorokan akibat dipaksa minum tadi, kepala Amira mendadak pusing. Perlahan tapi pasti, bayang-bayang Edward saat mereka bertemu, saat mereka bersatu, saat ia melahirkan Aubrey. Semua muncul dalam pikiran Amora.


Sambil memegangi kepalanya, matanya mulai berkaca-kaca. Ia kemudian berjalan keluar, mencari Aubrey.


"Di mana putriku ... di mana AUBREY?"


Ketika ia sedang mencari anaknya, yang muncul di ujung lorong panjang malah Edward.


Pria itu berjalan terseok sembari menatapnya sendu.


"Kau apakan putriku! Di mana dia?"


Amora berlari, ketika sudah benar-benar dekat dengan Edward yang sudah bertubuh manusia dengan memakai jubah merah keemasan. Tangan Amora reflek memukul bagian bidang Edward, sambil terus menuntutnya.


"Mana putriku?"


Ketika pukulan Amora semakin kencang, Edward mulai merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Dan detik berikutnya, sosok pangeran serigala itu mendadak tumbang kembali.


"Edward! EDWARD!" teriak Amora.


BERSAMBUNG