Immortal Love

Immortal Love
Just Say "I'm Sorry"



Shane baru selesai membersihkan diri dan I bersiap untuk makan malam. Chaeri mengajaknya makan Jajangmyeon dan juga Ayam bumbu pedas yang Sejun bawakan untuk Chaeri.


Perlahan, Shane menarik kursi meja makan untuk bersiap menikmati makan malam.


"Kerjaan kantormu belum selesai?" tanya Chaeri saat melihat Shane membawa laptop dan juga beberapa tumpukan berkas yang tak terlalu banyak.


"Oh. Aku di kantor hampir gila karena berkas ini." Decak Shane yang sudah kehilangan kewarasan sejak pulang dari kantor.


"Pffftttt---"


"Kenapa kau ketawa? Ada yang lucu dengan penderitaan ku ini?" Matanya mendelik menatap Chaeri yang sepertinya puas melihat dirinya menderita bersama tumpukan berkas.


Tak tahukah wanita itu akan perasaannya saat ini yang terguncang karena atasannya yang menguji kesabarannya.


Teringat dengan pria itu lagi, Shane merasa tensinya sudah lebih dari 200. Kepalanya sangat sakit.


"Tidak apa-apa. Melihatmu yang sekarang seperti ini, aku jauh lebih senang. Sekarang kau lebih sibuk dengan pekerjaanmu. Tak terlihat lagi guratan kesedihan di wajahmu. Aku senang melihatnya."


Kalimat Chaeri barusan membuat hatinya mendadak jadi sedikit kacau. Ia menatap layar laptopnya yang memancarkan sinar terang.


Diam-diam, ia merenungkan kalimat wanita itu.


Selalu saja ada pertanyaan yang muncul setiap kali ia memikirkan sesuatu hal mengenai dirinya. Tentang apa, mengapa bagaimana, selalu saja pertanyaan beragam muncul di benaknya. Memaksa ia harus mencari tahu jawaban itu sendiri.


"Hey?" Chaeri mengetuk meja makan untuk mengembalikan kesadarannya.


Shane tersentak, lalu beberapa saat kemudian ia melongo menatap Chaeri yang mulai menyipitkan matanya ke arah dirinya.


"Kenapa kau melamun, apa ada masalah?" terka Chaeri. Berusaha menelisik isi pikiran Shane melalui tatapan matanya.


"Eng-enggak kok. Aku hanya kepikiran perkataanmu saja. Bukan masalah kok."


"Oh, ku kira ada masalah apa." Chaeri hanya mengangguk angguk paham dengan penjelasan singkat Shane barusan. Dirinya kembali melahap satu paha ayam yang besar yang menjadi favoritnya setiap hari.


Di tengah-tengah Shane menikmati makan malamnya bersama Chaeri, pesan dari seseorang tiba-tiba masuk ke dalam ponselnya.


Karena bergetar, mau tak mau Shane merogoh saku celana piyamanya untuk mengambil ponselnya. Melirik satu notifikasi berwarna putih yang tertera di layar sana.


Presdir menyebalkan: Saya ada di depan Apartemen mu. Bisa kita bicara sebentar? Saya ada perlu sedikit denganmu.


Dalam hati, Shane membantin membaca pesan tersebut.


Ada apa gerangan Presdirnya yang terhormat itu datang ke Apartemen sekretarisnya malam-malam begini?


Atau jangan-jangan...


'Mending ku abaikan saja pesannya. Mungkin dia akan menyuruhku untuk mengetik berkas yang tidak penting lagi seperti tadi. Sial!'


Saat ia hendak mengabaikan pesan dari Yoon Oh, ponselnya kembali bergetar. Rasanya Shane ingin membanting ponselnya itu


Presdir menyebalkan: Jika kau masih marah soal tadi siang, saya minta maaf. Saya datang ke sini untuk meminta maaf, tidak lebih dari itu.


"Hah?!" Shane mengeluarkan suara yang sedikit lebih keras, sampai Chaeri mengernyit heran melihat tingkahnya.


"Kau kenapa? Menang lotre, huh?"


Shane dengan cepat menggeleng, "Aku keluar sebentar."


"Eh, tapi mau kemana?" Chaeri berteriak, namun Shane sama sekali tak mau mendengarkannya.


"Sebentar saja..."


"Aduh ini anak."


***


Yooh Oh memegangi ponselnya dan menatap layar hitam itu sambil menunggu balasan dari sekretaris pribadinya.


"Wah, pasti aku sudah gila. Barusan tadi apa? Aku meminta maaf padanya? Ck! Kau benar-benar sudah gila Yoon Oh." Pria itu berdecak kecil setelah mengingat apa yang baru saja ia lakukan. Mengirim pesan pada sekretaris pribadinya dan mengatakan kalau dia datang ingin meminta maaf.


Yang lebih gilanya lagi, Yoon Oh bela-bela datang ke Apartemen Shane hanya untuk menemui wanita itu.


"Tidak, pasti aku salah minum obat semalam. Kenapa kau dari lemah seperti ini Yoon Oh. Di depan perempuan juga kau seperti ini."


"Sebaiknya aku pulang..."


Baru saja Yoon Oh hendak menyalakan mesin mobilnya lagi, kaca jendela mobilnya tiba-tiba diketuk tiga kali oleh seorang perempuan.


"Dia datang?" pekik Yoon Oh tertahan.


"Presdir, ini saya. Anda mau bicara apa? Saya tidak punya waktu banyak."


Shane berjalan mundur sesaat Yoon Oh membuka pintu mobilnya. "Ada apa Presdir datang malam-malam ke sini? Ada perlu apa?"


Dan Yoon Oh, hanya diam mematung di hadapan Shane. wanita itu mulai jengah dengan kelakuan Presdirnya sendiri. Shane tak habis pikir ada pria modelan Yoon Oh seperti ini.


"Saya ke sini..."


Shane masih menunggu pria itu melanjutkan kalimatnya.


"Untuk masalah yang tadi siang, serta kemarin malam, saya benar-benar minta maaf. Mungkin ini sangat keterlaluan. Membiarkan anda mengerjakan berkas yang sama sekali tidak penting, bahkan menyita waktu anda hingga tengah malam di rumah saya. Lalu membiarkan anda pulang sendirian di saat jam sudah menunjukkan waktu yang sangat larut. Saya benar-benar minta maaf."


"Mungkin anda sudah tahu bahwa saya mencari sekretaris profesional untuk membantu saya di kantor. Untuk mendapatkan apa yang saya mau, saya tentu harus melakukan hal yang terbaik agar apa yang saya inginkan hasilnya bisa sempurna."


"Tidak ada niat lain saya memperlakukan anda seperti itu. Saya hanya ingin menguji kemampuan anda, apakah bisa profesional atau tidak."


"Saya tahu cara saya salah, jadi saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Saya berharap anda bisa paham dengan situasi saya belakangan ini. Saya hanya mencoba menghindarinya saja, jadi sekali lagi saya minta maaf."


Shane tidak tahu harus bereaksi seperti apa di depan Yoon Oh. Pria itu meminta maaf, dan kelihatan dia sangat menyesal karena telah menyusahkan dirinya.


Apa ia harus memaafkan pria ini? Atau malah membalas perbuatan yang sudah merendahkan harga dirinya?


"Lagi pula sudah terjadi." Shane berbicara sambil merendahkan pandangannya, "Saya paham apa yang Presdir inginkan, an saya berusaha untuk mencoba menjadi profesional seperti yang anda inginkan."


"Saya anggap masalah ini selesai, Presdir. Saya juga berharap kedepannya anda tidak seperti itu jika ingin menguji kemampuan orang lain. Anda sama saja merendahkan mereka."


Yoon Oh menunduk perlahan, "Terima kasih telah memaafkan saya. Akan saya coba ikuti saran ada Nona Kim."


"Baiklah, Presdir." Shane membungkuk perlahan, "Saya pamit masuk ke dalam dulu. Permisi."


"Tunggu sebentar."


Shane yang baru beberapa langkah menjauh dari Presdirnya, tiba-tiba harus berhenti. Ia membalikkan tubuhnya dan menatap Yoon Oh yang berjalan mendekat ke arahnya.


Perasaan yang tak di harapkan Shane tiba-tiba muncul. Timingnya sungguh sangat tidak tepat, apalagi setelah menatap wajah Yoon Oh yang bersinar di bawah penerangan lampu jalan, Shane seperti cacing kepanasan menatap Yoon Oh diam-diam.


'Hey? Aku betulan enggak suka sama dia. Tapi kenapa jantungku berdebar seperti ini melihat dia berjalan ke arahku? Ah, pasti aku sudah gila gara-gara berkas sial itu.'


"Ada apa, Presdir." tanya Shane sopan.


"Ini." Yoon Oh memberinya sebuah kartu berwarna hitam bertuliskan Mastercard padanya.


Shane menatap Yoon Oh bingung, "Ini apa, Presdir."


"Saya lupa memberikannya pada Sejun waktu dia menyampaikan kontrak tawaran saya padamu. Ini kartu untuk masuk ke dalam Apartemen milikmu... sesuai dengan apa yang tertera di kontrak."


"I-ini Apartemen saya, Presdir?" Sekali lagi Shane bertanya pada pria jangkung itu. Ini tidak mimpi bukan? Jadi pria ini benar-benar memberikan Apartemen sesuai dengan perjanjian di kontrak bila mana ia benar-benar menjadi sekretaris Yoon Oh.


"Apa wajah saya terlihat seperti penipu yang memberikan benda palsu pada korbannya?


Atmosfer di sekelilingnya berubah jadi sedikit lebih canggung. Ah, lebih tepatnya Shane merasa tidak enak dengan Presdirnya.


"Bukan seperti itu, Presdir. Saya masih tidak percaya kalau saya benar-benar memiliki sebuah Apartemen pribadi saat ini." Ia membungkuk maaf karena telah membuat Yoon Oh memiliki pemikiran seperti tadi.


Yoon Oh kemudian menengadahkan setengah kepalanya untuk melihat ke atas, "Bukankah ini juga Apartemen mu?" pikirnya.


Gadis itu kemudian menggelengkan kepalanya dengan senyum samar.


"Saya tinggal menumpang di Apartemen teman saya. Rencananya setelah saya punya cukup uang untuk menyewa Apartemen, saya akan segera pindah dari rumah sahabatnya saya." jelas Shane agak kaku.


Pria di hadapannya hanya mengangguk paham dengan penjelasan Shane. Tapi sebenarnya, Yoon Oh ingin bertanya lebih dalam pada gadis itu mengapa dirinya bisa tinggal menumpang bersama sahabatnya.


'Apa dia tidak punya rumah?' pikirnya.


"Karena sudah malam, saya pamit pulang dulu. Dan juga, tolong berikan saya berkas aporan besok pagi jam 9. Besok saya ada rapat dengan Investor asal Amerika dan kau harus ikut."


"Sa-saya, Presdir?" Shane menunjuk dirinya sendiri.


Yoon Oh membuang napasnya dengan sedikit kasar, "Kau sekretarisku. Tentu kau harus ikut dan menemaniku setiap ada rapat."


"Besok datang ke rumah jam 6..."


"Rumah, Presdir?"


"Tidak boleh telat satu menit."


"Tapi, Presdir?"


"Saya pulang dulu. Permisi, selamat malam."


"Presdir... tunggu dulu."


Terlambat, Yoon Oh sudah tancap gas meninggalkan halaman Apartemen tanpa memperdulikan teriakannya.


Shane menjambak rambutnya sendiri di tengah keheningan malam yang perlahan mulai menyapa.


Lalu ia mulai menggerutu


"Dia sebenarnya maunya apa, sih?"