Immortal Love

Immortal Love
The Second Chance



Ini masih jam 3 subuh, masih terlalu pagi untuk dirinya bangun. Paling lambat adalah jam 5 ia sudah bangkit dari atas tempat tidur, kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi.


Matanya masih terasa sangat berat, ingin mengatup kembali, lalu terjun ke alam mimpi. Namun apa daya, dengan sangat terpaksa ia melebarkan kedua pandangannya di mana mata itu masih sangat perih untuk membuka lebar.


"Hwang Sejun?" gumamnya menyebut satu nama saat sosok tinggi menjulang itu datang dengan pakaian santainya ke Apartemen.


"Rupanya kau masih mengenaliku." Pria itu terkekeh di depan pintu menatapnya. "Ku pikir kau sudah tak mengenaliku karena Yoon Oh mengusir mu." Shane mendengar lagi pria itu terkekeh.


Ya, dirinya memang masih mengenali Sejun, tapi tidak dengan Yoon Oh.


'Yoon Oh? Siapa dia? Baru dengar namanya.' Shane membantin. Malas sekali rasanya ia mendengarkan dua syllables yang di ucapkan pria di depannya.


Posisi mereka saat ini adalah, Sejun di luar Apartemen, dan Shane di dalam. Baru saja bangun tidur.


Tadi Chaeri mengguncangkan tubuhnya, mengatakan bahwa sepupunya itu datang karena ingin bertemu dengannya.


"Pagi-pagi buta, hal apa yang membawamu datang ke sini?" tanya Shane berusaha sadar seratus persen dari rasa kantuknya.


"Sebaiknya izinkan aku masuk terlebih dahulu. Apa kau mau percakapan kita di dengar orang kalau kita membahasnya di sini?"


Shane terbatuk sebentar, "Silahkan masuk." ujarnya mempersilahkan pria itu masuk.


Kedatangan Sejun kemari membuat sedikit terkejut. Pria itu datang secara tiba-tiba tanpa memberi kabar apapun.


Bahkan Chaeri adik sepupunya sama sekali tidak mendapat pesan dari Sejun tentang keinginannya berkunjung ke Apartemen.


"Tumben anda datang ke sini? Kata Chaeri, anda ingin menemuiku. Apa benar begitu?"


Shane tidak menemukan pria itu tersenyum kecil ke arahnya. Dia hanya tertunduk, kemudian mengeluarkan satu map dari dalam paper bag yang sempat ia bawa.


"Jangan berbicara formal padaku. Rasanya tak nyaman.


Shane mengangguk, "Baiklah kalau itu mau mu. Kenapa kau datang ke sini?"


"Aku datang ke sini hanya ingin memberikanmu ini."


Kerutan di dahi Shane mulai terlihat. Kini ia sadar seratus persen setelah menerima uluran map hitam kulit yang diberikan padanya.


Shane tak langsung membuka, ia malah bertanya pada pria itu tentang apa isi dari map tersebut.


"Kau buka dan baca sendiri." titahnya dan langsung di anggukkan oleh Shane.


Wanita itu membuka map tersebut dengan hati-hati. Keheranannya semakin bertambah saat ia membaca lembaran pertama dari kertas tersebut.


"Kontrak kerja..." Sehun mengangguk setelah Shane melayangkan tatapan tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.


"Presdir menerimamu sebagai sekretaris pribadinya."


"Hah? Pre...presdir yang aneh itu?" Kalimat tak pelak membuat Sejun sedikit membulatkan matanya. Sudah bisa ia pastikan bahwa wanita itu tidak akan mudah untuk di dapatkan. Apalagi di ajak bekerja di perusahaan milik Yoon Oh.


Melihat Shane yang berdecih membolak-balikkan balikkan kertas itu, Sejun diam-diam mengumpat dalam hati. Bukan mengumpat pada Shane, tapi pada Choi Yoon Oh.


'Kau semakin menyusahkan ku saja Choi Yoon Oh. Ku rasa, wanita ini tidak akan muda memaafkan mu setelah apa yang kau lakukan pada semua calon sekretaris pada hari itu...termasuk dirinya.'


Shane masih ingat perlakuan semena-mena Yoon Oh padanya hari itu. Tuduhan pria itu sama sekali tidak benar. Padahal, hari itu ia berharap bisa menjawab pertanyaan wawancara dengan jerih payahnya sendiri. Tapi apa yang ia dapat, sama seperti harga dirinya di injak-injak oleh pria tersebut.


Katakanlah ia berlebihan, tapi maaf, Shane bukan orang yang suka menyimpan dendam. Dia hanya masih tidak terima dengan perlakuan Yoon Oh hari itu. Menganggap dirinya seperti wanita murahan yang pada akhirnya menjadikan sebuah pekerjaan sebagai alat untuk mendekati Presdir Crown Royal Group.


"Katakan padanya aku tidak bisa bekerja di sana." Shane mencebik dengan kasar. Matanya menjadi sinis sambil melipat kedua tangannya di atas dada.


"Kau masih sakit hati dengannya?" tanya Sejun berusaha memastikan.


"Tidak sama sekali. Aku hanya tidak suka sikapnya yang terlalu berlebihan seperti itu. Tanpa sadar, semua wanita yang menjadi sekretaris-nya ia anggap sebagai wanita licik yang berusaha mendekati dirinya. Apa jadinya jika aku bekerja dengannya nanti, sedikit berdekatan dengannya saja dia sudah menganggap ku cari perhatian."


"Dia juga mengatakan seharusnya sekretarisnya bekerja dengan profesional. Tapi ku pikir, Presdir mu itu yang tidak tahu bekerja secara profesional. Terutama saat berdekatan dengan perempuan yang menjadi sekretaris pribadinya." Berakhir dengan ia melempar pandangan kesal terhadap Sejun.


Nama Choi Yoon Oh sudah melekat dengan baik di benaknya sebagai pria sombong. Hanya itu label yang paling tepat untuk pria sepertinya.


Pria yang sibuk memainkan jari jemarinya hanya bisa mendengus kasar. Entah dengan cara apalagi ia harus membujuk Shane agar mau bekerja di perusahaan Yoon Oh


"Kau yakin tidak mau bekerja dengannya?" tanya Sejun sekali lagi. Berusaha membujuk wanita itu agar mau menerima tawaran pekerjaan dari Presdir Yoon Oh.


Shane mengangguk mantap dengan pilihannya. Toh, bekerja di kedai ramen selama bertahun-tahun juga menghasilkan uang. Jadi untuk apa ia bekerja di perusahaan itu jika mulai hari ini dan seterusnya uang akan datang menghampiri setiap bulannya.


Melihat wanita itu sibuk membuang pandangan, Sejun kembali melontarkan kalimat yang membuat atensi Shane langsung berbalik padanya.


"Jika kau bekerja di CRG, kau akan di gaji setiap jamnya dengan upah 32.040 won. Jika kau bekerja selama 24 jam penuh, maka dalam sebulan kau akan memperoleh upah sekitar 23 juta dalam sebulan. Itu belum termasuk asuransi serta tunjangan tempat tinggal jika kau bekerja di CRG."


Mulutnya tak bisa mengatup begitu saja setelan mendengar pernyataan yang membuat bungkam. Ia tak percaya dengan apa yang barusan Hwang Sejun katakan padanya.


Dalam sebulan gajinya bisa mencapai 23 juta, hanya menjadi seorang sekretaris? Ini tidak mimpi bukan?


Shane sangat berharap jika ini semua hanyalah mimpi. Hahaha...mana ada perusahaan yang mau menggaji seorang sekretaris dengan begitu besarnya. Gaji yang hampir setara dengan produk tas Chanel, Gucci, Yves, dan lain sebagainya.


Mungkin setahun bekerja di sana, ia sudah bisa membawa satu Lamborghini ke dalam hidupnya.


"Shane, kau yakin masih tidak mau menerima pekerjaan ini. Pekerjaan yang cukup mudah. Kau hanya tinggal menuruti semua perintahnya, mengerjakan apa saja yang di titah kan padamu, selesai..." Sejun membuka telapak tangannya lebar.


"Gaji akan masuk ke dalam rekening mu sesuai dengan hasil jerih payah mu."


Sejun mengeluarkan sebuah ballpoint dari dalam saku jaketnya. Pria itu menyerahkan benda bertinta hitam tersebut padanya.


"Aku tidak memaksamu untuk menerimanya, tapi aku tahu kau tidak akan mungkin tinggal di sini terus-menerus karena tidak ingin merepotkan Chaeri bukan?"


"Kau juga butuh biaya untuk melunasi beberapa hutang kedua orang tuamu yang masih tertinggal, dan kau sebagai anak harus membayar itu semua sampai lunas. Aku yakin, jika kau hanya bekerja di kedai, uangmu tak akan pernah bisa terkumpul dengan cepat."


"Ikuti kata hatimu Shane..." Pria itu menatapnya dengan tatapan iba. Ia bisa tahu semua kesulitan Shane karena ia meminta Chaeri untuk menceritakannya.


Sejun tidak ingin di katakan sebagai orang licik yang menjadikan nasib sulit Shane sebagai alat agar wanita itu tidak memiliki pilihan lain, selain menerima tawaran untuk bekerja di CRG.


Dia hanya ingin membantu wanita itu saja. Membantu Yoon Oh yang sedang frustasi karena ayahnya, dan membatu Shane untuk mendapatkan pekerjaan layak agar bisa melunasi semua hutang keluarganya.


Baik di masa depan nanti, pria itu berharap jika Yoon Oh benar-benar bisa membuka hatinya secara tulus untuk seorang wanita.


Dan tanpa sadar, pria itu sudah menjodohkan sahabatnya sendiri dengan sahabat dari adik sepupunya.


'Ku harap ini menjadi jalan terakhirmu Yoon Oh.'


***


To Be Continue...