
Prince of Wolf bagian 16
Oleh Sept
Sudah sehari ini Edward kehilangan kesadaran, sebelum dinobatkan sebagai raja, pangeran serigala itu kini malah tumbang. Gerhana sebentar lagi, dan jika Edward tidak lekas bangun, maka kastil dalam keadaan bahaya. Gerbang kegelapan akan segera terbuka, semua akan terancam apalagi Edward sudah tidak memiliki keabadian.
Semua mahluk di luar sana akan berlomba menangkap Edward malam ini. Mengoyak tubuhnya dan merampas jantung Edward dengan paksa.
Tuan Smit dan tetuah tabib yang paling handal sudah berkumpul, mereka sedang membicarakan jalan keluar, atau bahkan membicarakan kemungkinan terburuk, jika Edward tidak bisa selamat.
"Tuan ...."
Tiba-tiba tabib yang rambutnya sudah memutih itu bangkit. Ia kemudian berbisik pada tuan Smit.
"Apak maksudmu? Kalau Tuan Edward tahu, dia bisa memenggalll kepala Kita."
Tuan Smit menolak keras gagasan tabib tersebut.
"Lalu apa Kita hanya akan diam saja? Melihat kehancuran kastil ini?"
"Tidak! Putri Aubrey tidak boleh dikorbankan. Jika itu terjadi, Tuan Edward akan marah."
Tap tap tap
Almor yang sudah membaik, datang mendekati mereka yang sedang berdiskusi.
"Apa ada yang bisa aku bantu?"
Semua menggeleng, tapi tabib tidak mau menyerah. Tabib itu malah mendekati Almor dan mengatakan jalan keluar yang menurut dia bisa menolong Edward.
"Apa?"
"Maaf, Tuan. Tapi itu jalan keluar satu-satunya. Kita harus meminta bantuan pada bangsa Peri. Tapi ... tidak ada yang cuma-cuma. Dan Kita tidak bisa menukar apapun, kecuali Aubrey. Serigala kecil itu sangat istimewa dengan ekor emasnya."
"Hentikan!" Tuan Smit terlihat marah. Ia tahu, tuan Edward pasti marah jika harus memberikan Aubrey pada bangsa Peri.
Ketika semua sibuk diskusi, mendadak Amora berteriak.
"Tuan Smit ... Tuan ... dia mengerakkan tangannya!"
Semua langsung menghampiri Edward, tubuh Edward malah perlahan berubah menjadi serigala. Terlihat lemas dan tidak bergerak lagi.
"Kenapa ini? Mengapa seperti ini? Apa yang terjadi?" Amora panik.
Tuan Smit pun menghela napas dalam-dalam, kemudian ia menceritakan apa yang sudah terjadi. Mulai dari menyelamatkan Amora dengan menukar keabadian Serigala abu-abu tersebut.
Amora terlihat shock, kemudian kakinya terasa lemas.
"Lakukan sesuatu ... pasti ada obatnya. Dia serigala yang kuat, kenapa bisa seperti ini?"
Semua orang terdiam, Almor kemudian mendekati Amora. Ia memeluk putrinya yang shock. Amora yang sedang kosong pikirannya, bahkan tidak merespon saat Almor bicara padanya.
"Lakukan sesuatu ... dia tidak boleh mati. Aubrey ... mana Aubrey. Dia juga memiliki kekuatan, dia harus selamatkan ayahnya!"
Dengan langkah tertatih, Amora ingin diantar ke tempat Aubrey.
***
Kamar yang seperti penjara, sebab banyak penjaga yang ada di depan pintu. Di dalam sana Aubrey tertunduk sambil memeluk tubuhnya. Ia mendongak saat melihat pintu terbuka.
"Aubrey ... selamatkan ayahmu."
Aubrey yang merasa dikurung hanya menyeringai menatap marah pada Amora.
"Aku mohon!" Amora mencoba mendekat, tapi Aubrey semakin sensitive. Ia memperlihatkan taringnya, seolah akan menyerang ibunya sendiri.
Tidak tahu harus berbuat apa, Amora bersimpuh di depan putrinya. "Jangan seperti ini Aubrey ... tolong jangan seperti ini."
Tubuh Aubrey ikut melemas, kemudian para pengawal melepaskan lengan serigala kecil yang masih berupa manusia tersebut. Perlahan Aubrey menyentuh pundak ibunya, kemudian meminta ibunya berdiri.
Gadis kecil itu menggandeng tangan Amora keluar dari ruangan yang penuh penjagaan. Mereka semua mengikuti ke mana Aubrey melangkah, Aubrey berhenti tepat di depan pintu kamar Edward, ayahnya.
Tanpa bicara, Aubrey diam sejenak kemudian tiba-tiba angin berputar di sekelilingnya. Membuat semua orang yang ada di sekitar Aubrey harus berpegang pada sesuatu.
Detik berikutnya, beberapa bangsa Peri sudah muncul di depan Aubrey.
"Apa kalian pikir bangsa Peri adalah mainan? Bisa kalian panggil sesuka hati kalian?"
Semua orang langsung mundur, kemudian menundukkan pandangan. Kecuali Aubrey, ia mendongak menatap tajam pada pimpinan bangsa Peri tersebut. Aubrey sangat berani, ia menatap tanpa takut.
"Kembalikan seperti sebelumnya ... aku tahu apa yang kalian lakukan. Itu melangar hukum alam!" sentak Aubrey yang memang bukan serigala kecil biasa.
"Berani sekali kau!"
Semua bangsa Peri terlihat gusar dan marah, sedangkan tuan Smit, ia langsung mendekati Aubrey. Tapi malah langsung terpental.
"Dia yang datang pada kami! Bukan kami yang meminta! Dan kau masih bocah. Jaga ucapanmu!"
Aubrey menyeringai, kemudian berubah menjadi serigala berbulu kuning emas. Ia mengibas ekornya yang mengkilap, membuat semua mata silau di dalam sana.
"Hentikan Aubrey!" mohon Amora.
Aubrey tidak peduli, gadis kecil itu kemudian berjalan mendekati pimpinan bangsa Peri.
"Kembalikan apa yang bukan milik kalian!" pinta Aubrey sekali lagi.
"Kau terlalu berani gadis kecil!"
Pimpinan bangsa Peri hendak menyentuh bulu Aubrey, tapi tangannya terasa panas seperti terbakar.
'Rupanya kau benar-benar istimewa!' batin pimpinan bangsa Peri.
Pria dengan telinga runcing seperti kucing itu pun berjongkok di depan serigala kecil tersebut.
"Ikut dengan kami ...!"
"Kembalikan dulu apa yang kalian ambil dari ayahku!"
"Tidak bisa, tidak ada yang cuma-cuma. Dia sendiri yang menukarnya dan datang pada kami!"
Setelah menyadari kekuatan Aubrey, pimpinan bangsa Peri sedikit melunak. Ia merendah untuk mendapat Aubrey yang cukup menjanjikan.
"Tapi jika kau memaksanya, akan aku lakukan ... tapi ... ikut dengan kami."
"Aubrey!" panggil Amora. Ia dilema karena Aubrey harus meninggalkan mereka demi Edward.
"Lakukan sekarang," ucap Aubrey seperti selayaknya orang dewasa.
"Jangan! Jangan Aubrey!" Amora meronta, ia ingin memegangi Aubrey tapi semua pengawal sudah lebih cepat memegangi tubuh Amora.
Secepat angin, tubuh Aubrey langsung hilang bersama para Peri yang lain. Sedangkan pimpinan bangsa Peri, ia satu-satunya yang tersisa dan kini berdiri tepat di samping ranjang Edward.
BUUSHH ...
Sebuah cahaya muncul sekilas kemudian suasana kembali remang-remang. Hanya cahaya dari obor yang menerangi kamar tersebut.
Perlahan kelopak mata serigala abu-abu itu bergerak, begitu juga dengan jari-jarinya. Otor-otornya pun menggembang, seolah mendapat kekuaran dari dalam.
Semua terlihat senang atas bangkitnya Edward si serigala abu-abu pengusaha kastil dan hutan terlarang. Tapi tidak dengan Amora, setelah ia mendapatkan Edward kembali, ia harus melepaskan Aubrey. BERSAMBUNG