Immortal Love

Immortal Love
Breakfast



Baiklah, ini adalah hari di mana Shane sangat ingin mengubur dirinya sendiri di dalam lubang yang sudah ia gali. Pagi ini ia harus bangun, kemudian bersiap untuk ke rumah Presdirnya,


Choi Yoon Oh.


Shane masih mengantuk berat, terlebih lagi sisa laporan yang menjadi temannya di tengah malam, membuat pagi ini kantung matanya terlihat lebih tebal dari biasanya.


"Tumben kau bangun pagi sekali. Mau kemana?" Chaeri datang dari arah dapur, lalu memberikannya sekantung es batu untuk mengompres matanya. Shane tidak tahu apakah cara ini akan berhasil atau tidak, yang jelas Shane sedang berusaha untuk menghilangkan kantung matanya.


"Rumah, Presdir." jawab Shane tak acuh.


"Ukhuk... Apa?!"


Lihat, bukan hanya Shane saja yang terkejut karena pria itu menyuruhnya datang jam 6 pagi, tapi Chaeri juga ikut terkejut.


Bahkan wanita itu sampai terbatuk karena mendengar penuturannya sambil meminum air.


"Ck! Jangan tanyakan padaku apa alasannya. Aku juga tidak tahu kenapa pria itu menyuruhku datang ke rumahnya." Decak Shane kesal.


"Apa kau tidak curiga?" Kening gadis itu terangkat naik.


"Curiga apa?" tanya Shane tidak tahu akan maksud dari sahabatnya.


"Kau tidak punya feeling gitu, kayak..."


"Kaya apa?" balas Shane cepat.


"Dia mungkin suka sama kamu?"


Itu adalah praduga Chaeri saat mencerna ajakan atasannya Shane untuk datang ke rumah pria itu.


Berakhir dengan Shane yang merotasikan bola matanya dengan malas seperti itu.


"Jangan mengada-ngada. Itu tidak akan mungkin pernah terjadi. Khayalan mu jangan terlalu tinggi. Nanti jatuh, sakit lagi."


"Aku bukannya berkhayal, tapi mungkin saja atasanmu itu suka padamu." Chaeri mengedikkan bahunya. Menatap Shane dengan penuh harap.


"Kau pernah dengar ini tidak?"


"Dengar apa?" tanya Shane penasaran.


Belum ada 5 menit Shane berbaring di atas sofa sambil mengompres matanya, raganya memaksa dirinya untuk bangkit dan duduk untuk mendengarkan celotehan sahabatnya. Padahal Shane tahu kalau waktu untuk bersantai sambil mendengarkan wanita itu mendongeng sudah tak banyak.


"Pemimpin perusahaan atau bos besar seperti Presdir mu itu, biasanya akan jatuh cinta sama karyawannya sendiri..."


"Tahu darimana?"


Chaeri yang belum selesai menjelaskan, tapi Shane sudah langsung memotongnya. Membuat Chaeri mendadak kesal.


"Dengarkan dulu, aku belum selesai cerita."


"Ya... Lanjutkan."


Gadis itu hanya berdecak kecil melihat Shane yang sepertinya tak acuh mendengarkan cerita. Tapi tidak apa-apa, yang jelas ia wanita itu bisa sudah mau mendengarkannya.


"Kalau Presdir mu, mu lihat dia seperti sedang tertarik padamu, deh. Mengingat dia datang saat jam makan malam untuk menemuimu dan meminta maaf, ku pikir dia pria baik-baik. Ya, meskipun agak dingin kelihatannya."


"Tapi kau juga harus hati-hati dengannya. Biasanya pria itu sulit mengontrol hawa nafsunya, apalagi kalau lihat yang bening-bening kayak begini."


Chaeri baru saja menyinggung Shane.


"Maksudmu aku, gitu?"


"Siapa lagi? Memangnya aku? Hah, tidak mungkin." Wanita itu mengibas-ngibaskan tangannya ke hadapan Shane.


Ia merenungkan kalimat-kalimat Chaeri yang baru saja dilontarkan gadis itu padanya. Kalau cantik, Shane masih percaya diri jika dirinya cantik.


Walau ia tidak yakin akan ada pria yang meliriknya, terlebih lagi kondisi hidupnya saat ini yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja.


Mendengar penuturan sahabatnya, Shane memikirkan kejadian semalam menjadi dua kali lipat. Bukan ada maksud apa-apa, Shane hanya penasaran dengan Yoon Oh yang tiba-tiba mengajak bertemu di halaman Apartemen.


Jika hanya meminta maaf dan memberikan Mastercard padanya, semua itu bisa di lakukan di kantor. Kenapa harus buru-buru meminta untuk bertemu?


Ah, mungkin saja Presdirnya ingin meminta maaf secara pribadi dengannya. Makanya pria itu bela-bela datang menemuinya dan meminta maaf karena menyesal telah memperlakukan dirinya semena-mena.


Shane melirik jam yang menempel di atas dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 05.45 pagi. Tinggal 15 menit tersisa untuk dirinya bersiap.


"Astaga... Sudah jam segini. Aku harus cepat. Kalau tidak dia akan mengomel-ngomel seperti ibu-ibu PMS."


Shane bangkit dari atas sofa, lalu berlari menuju kamar mandi secepat kilat untuk membersihkan dirinya. Terserah apakah ia akan keramas atau tidak, yang jelas Shane sudah harus siap sebelum jam 05.50.


***


Sambil menunggu sarapan paginya siap, Yoon Oh kemudian berbenah diri untuk bersiap berangkat ke kantor.


Yoon Oh kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar, kemudian menarik bathrobenya untuk bersiap mandi. Namun sebelum ia benar-benar masuk ke dalam kamar mandi, bel pintu rumahnya berbunyi.


Yoon Oh kemudian menjauhkan langkah kakinya dari pintu kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.


Ia keluar lalu mengecek siapa yang datang ke rumahnya pagi-pagi seperti ini.


"Sekretaris Kim?" Gumam Yoon Oh saat melihat wajah Shane terpampang jelas di layar interphone yang menempel di dindingnya.


Pria itu kemudian tersenyum, "Ku pikir dia tidak datang." Lalu, dirinya pun memberikan akses kepada Shane untuk bisa masuk ke rumahnya.


"Permisi, Presdir. Maaf saya datang terlambat." Shane membungkuk setelah dirinya sampai di rumah Yoon Oh pukul 06.10.


Pria yang ada di hadapannya menatap dengan sedikit intens. Shane jadi kaku berhadapan dengannya, terlebih lagi pria itu hanya menggunakan bathrobe saat membukakannya pintu.


"Untuk hari ini aku memaafkan mu. Besok-besok, kau tidak boleh mengulanginya lagi. Kau harus bisa disiplin dalam waktu, mengerti?"


"Baik, Presdir. Saya mengerti." Shane kemudian membungkuk dan membiarkan Yoon Oh pergi dari pandangannya.


"Kau duduk dulu di sofa. Aku mau mandi."


Rasanya sangat canggung saat Shane ingin menjawab 'iya' kepada Presdirnya itu.


"Baiklah, saya akan menunggu di sini."


Yoon Oh menghabiskan waktunya untuk mandi selama hampir 15 menit lamanya. Shane sudah lelah menunggu pria itu, dan kini bokongnya mulai panas duduk berlama-lama di atas sofa.


Akhirnya Shane memberanikan diri untuk berkeliling di sekitar rumah Yoon Oh yang terlampau luas. Di sana, Shane berkeliling untuk melihat-lihat interior rumah milik YOON yang sangat minimalis.


Rumah yang besar namun terkesan simpel, Shane berharap suatu hari nanti ia bisa tinggal di salah satu tempat seperti ini.


Namun setelah beberapa menit ia berkeliling di ruangan itu, Shane mencium aroma masakan yang menyeruak di seluruh ruangan.


Ia mencari sumber aroma itu, dan ternyata Shane melihat ada panci yang mendidih di atas kompor yang menyala.


Wanita itu bertanya-tanya mengapa si pemilik rumah bisa meninggalkan panci yang mendidih di atas kompor. Kalau misalnya meledak, bagaimana? Rumah ini bisa terbakar.


"Apa salah satu kebiasaan Presdir seperti ini?"


Wanita ber-surai panjang itu mengeluh dan kemudian mendekatkan dirinya menuju kitchen bar. Shane mematikan kompor setelah melihat apa yang Yoon Oh masak di atasnya.


"Seharusnya ini tidak boleh di masak lama. Kalau airnya habis, rasanya tidak akan enak."


Shane mengangkat panci yang berisi sup kimchi tahu tersebut dari atas kompor. Wanita itu lalu memindahkannya ke meja makan yang sudah di alasi pengalas anti panas di atasnya.


"Kau sedang apa?"


"Aikamcagiya." Shane berseru kaget saat Presdirnya tiba-tiba muncul dari belakang. Pria itu sudah lengkap dengan pakaian kerjanya, celana hitam dan juga kemeja putih yang di padukan dengan warna senada celana pria itu.


Shane buru-buru membungkuk di hadapan Yoon Oh saat pria itu menatapnya dengan aneh.


"Maafkan saya Presdir jika saya lancang. Tadi saya mencium aroma masakan dari arah dapur, dan ternyata Presdir sedang memasak sup kimchi rupanya."


"Karena kuah supnya hampir habis, jadi kompornya saya matikan Presdir. Maaf jika saya lancang."


Bukannya mendapat teguran atau omelan dari atasannya itu, Yoon Oh malah diam-diam tersenyum ke arah Shane yang masih menunduk. Entah hal apa yang membuatnya bisa tersenyum, yang jelas ia tidak menyesal membawa wanita ini ke rumahnya.


"Apa kau sudah sarapan? Kalau belum kita sarapan dulu." ajak Yoon Oh sambil melangkahkan kakinya menuju salah satu kursi di meja makan.


"Tapi Presdir, saya sudah..."


"Sarapanlah yang banyak. Hari ini kita tidak akan bekerja di kantor."


Shane akhirnya menyerah dan memilih mengiyakan ajakan Yoon Oh untuk sarapan pagi bersamanya. Tapi tidak apa-apa juga, Shane kebetulan masih lapar, dan setelah melihat sup kimchi yang ada di panci Yoon Oh, perut Shane mulai meronta-ronta minta di isi.


'Tidak apa-apa. Ini rezeki, tidak boleh di tolak.'


***


To Be Continue...


Jangan lupa like, komen dan beri tip ya 🌈🏳️‍🌈💫❣️❣️❣️❤️