Immortal Love

Immortal Love
Annoying Man



Alarm dari ponselnya berdering cukup kecang. Suara tersebut langsung menelisik pendengarannya di pagi hari, hingga ia mengerang saking mengganggunya suara itu.


"Ya ampun. Berisik sekali!!"


Yoon Oh meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Meliriknya sebentar, sebelum pada akhirnya ia menggeser tombol 'matikan alarm' tersebut dengan paksa.


Tolong harap di maklumi jika Yoon Oh hari ini banyak tingkah. Semalam ia tidak bisa tertidur karena memikirkan satu orang.


Gara-gara memikirkan keberadaan orang tersebut, Yoon Oh bahkan tak bisa tidur sampai jam 5 subuh. Baru pukul 6 pagi ia bisa tertidur, itupun setelah ia minum obat tidur.


Mencoba memejamkan matanya untuk kembali terjun ke dalam alam bawah sadarnya, ponselnya tiba-tiba berdering kembali. Bukan alarm, melainkan sebuah panggilan dari sekretarisnya,


...Hwang Sejun.


Yoon Oh kembali mengerang kesal karena orang itu kembali mengganggu jadwal tidurnya.


Dengan cepat, Yoon Oh menggeser tombol berwarna hijau itu untuk menjawab panggilan Sehun.


"Ada apa? Kenapa kau meng-"


"Presdir kita yang terhormat. Tumben sekali anda terlambat datang hari ini. Biasanya kau sudah ada di kantor satu jam sebelum jam masuk kerja."


Yoon Oh menjambak rambutnya sendiri dengan kesal. Pagi ini Sejun membuat dirinya kesal. Belum masuk kantor saja ia sudah merasa tekanan darahnya naik, dan ini semua gara-gara pria itu.


"Kau mengganggu tidurku!" Suaranya naik satu oktaf di panggil tersebut. Yoon Oh masih setengah sadar, makanya ia melampiaskannya begitu saja terhadap sekretaris-nya yang satu itu.


"Jae...sekretaris cantikmu sudah tiba di kantor duluan. Kau yakin ingin lebih lama tidur?"


Ucapan Sejun tadi membuat matanya terbelalak lebar saat pria tersebut menyinggung satu orang yang semalam ia pikirkan. Ia membawa orang tersebut datang ke rumahnya, dan membiarkanya pulang seorang diri di tengah malam yang sangat rawan dengan kejahatan.


Dasar Yoon Oh!


"Kau tidak lupakan dengan rencanamu? Hanya tinggal beberapa minggu lagi. Kau benar-benar mau menyerahkan nasibmu di tangan pria paruh baya itu?"


"Diam kau Sejun!" Bentaknya. "Dia tetap Ayahku."


"Ck! Mana ada Ayah yang selalu memonopoli anaknya sendiri. Kau benar-benar sesuatu Chou Yoon Oh."


"Sudahlah. Datang cepat ke sini. Your father akan tiba di perusahaan 15 menit lagi untuk berkunjung. Jika beliau tahu ka tak ada di kantor...tamat riwayatmu."


"Yakkk..."


Panggilan di putuskan secara sepihak oleh Sejun. Pria itu mematikan ponselnya ketika ia ingin mengumpat. Tapi apa yang di katakan pria itu ada benarnya juga.


Jika ayahnya tahu ia datang terlambat ke kantor hari ini, bisa-bisa ia di lengserkan dari posisinya, dan di nikah paksakan dengan calon tunangannya.


"Ah, tidak-tidak!" Yoon Oh menggeleng bebas saat membayangkan dirinya menikahi wanita yang tak ia cintai.


Dengan segera, Yoon Oh bangkit dan segera mandi. Tapi sebelum itu, ia menyiapkan pakaian kantornya lebih dulu, baru beranjak masuk ke dalam kamar mandi.


Mungkin benar kata Sejun juga bahwa dirinya harus segera menikah. Terlalu repot jika ia sendiri yang mengurus dirinya. Buktinya, menyiapkan pakaian sendiri pun ia masih sering kesulitan.


"Astaga..."


***


Beberapa kali ia menguap lebar, namun dengan cepat ia menutup mulutnya dengan tangannya sendiri. Karena semalam ia pulang larut, jadilah ia harus mendengarkan ceramah Chaeri selama beberapa menit, dan di saat ia ingin benar-benar tidur, rasa kantuk tak kunjung datang menghampiri. Maka dengan sangat terpaksa Shane mengkonsumsi melantonin agar ia bisa lebih rileks dan tak lama setelah itu ia mulai mengantuk.


"Semalam kau begadang lagi?" Sejun tiba-tiba muncul dari balik pintu ruang kerja Presdirnya. Pria itu datang membawakan satu gelas Cappucino hangat untuknya.


"Thanks." Shane menerima pemberian Sejun dengan senang hati.


Sejun masih setia berdiri di sisi kubikel milik Shane tanpa berniat untuk pindah, dan karena wanita itu merasa bahwa kehadirannya sedikit mengganggu, pria itu akhirnya menyingkirkan dan memilih untuk bersandar di tembok sebrang Shane.


Yoon Oh.


Hanya Sejun lah yang berani menyebut Yoon Oh seperti itu, meski tahu lelaki tersebut adalah atasannya. Ia sama sekali tak takut di pecat, karena pria itu pasti akan selalu mencari keberadaannya. Makanya posisinya akan tetap aman-aman saja, sekalipun ia mengumpat tentangnya.


"Tidak juga." Kening Sehun langsung mengerut tebal. Tak mengerti dengan jawaban Shane.


"Dia memintaku mengerjakan semua berkasnya dan tadi malam baru selesai jam setengah dua belas." Shane melepaskan pandangannya dari komputer. "Hanya itu yang dia suruh'kan padaku."


"Ck! Yahhh, Choi Yoon Oh kau benar-benar penjahat wanita." Gumamnya tersebut dapat di dengar Shane, meski ia sudah mengecilkan suaranya.


"Maksudmu?"


"Bukan apa-apa. Dia hanya jahat pada sekretaris-nya pribadinya. Termasuk aku." Sejun mengedikkan bahunya tak acuh.


Mendengar perkataan Sejun lagi, Shane bisa tahu kalau Yoon Oh dan Sejun sangat dekat. Seperti kakak adik, Tom and Jerry, mereka terlihat seperti itu.


"Kalian berdua ternyata dekat." ujar Shane sambil tersenyum.


"Dekat kalau ada maunya. Aku tidak sedekat itu dengannya seperti yang kau pikirkan saat ini. Kau bisa lihat aku dan dia dekat hanya ketika aku memberinya ceramah, marah padanya, mencaci makinya, begitupun sebaliknya. Tidak ada yang spesial dari persahabatan kita berdua." jelas Sejun dengan malas ketika ia harus membahas persahabatannya dengan Yoon Oh.


Menggelikan sekaligus menyebalkan.


"Kau sejak kapan dekat dengannya? Dari kecil?" Sejun membenarkan tebakan Shane dengan menganggukkan kepalanya. "Karena kami tetangga rumah, mungkin? Atau, karena orang tua kami dekat. Aku juga tidak tahu pastinya mengapa aku bisa mengenal pria se-menyebalkan Yoon Oh itu."


"Tapi tetap saja kalian sahabat. Sekarang pun dia atasanmu, jadi kau harus-"


"Biarpun aku atasannya, dia tetap tidak menghormati ku sebagai pemilik perusahaan ini."


Suara bariton tersebut membuat Shane dan Sejun berbalik secara bersamaan. Mereka berdua melihat Yoon Oh datang dengan stelan jas resminya. Turtle neck yang di kenakannya pun tak luput dari perhatian keduanya. Mereka memandang Yoon Oh sedikit aneh dengan pakaiannya hari ini.


"Ada apa dengan warna turtle neck-mu itu? Kau bisa membuat semua orang salah paham jika melihat gayamu hari ini." Sejun mencibir Yoon Oh dengan pakaian yang 'sedikit', aneh mungkin?


"Wae? Bukankah ini keren? Kau tak lihat semua orang di lobi tadi memperhatikanku seperti seorang Idol, huh?"


Satu hal lagi yang ingin Shane catat dalam jurnal miliknya,


Yoon Oh tidak pernah memperdulikan soal pakaiannya yang salah atau benar, nyaman di pandang mata atau tidak. Yang jelas, ia bisa memakai pakaian itu sudah cukup.


Bukan berarti Yoon Oh tidak tahu fashion. Pria singel itu hanya terlalu bingung menyesuaikan style formal dan informal nya saking banyaknya pakaian branded yang ada di dalam lemari pakaiannya.


"Mereka akan berpikir kau tidak memakai dalaman jika warna turtle neck mu seperti itu. Mereka akan berpikir kalau tubuhnya hanya di balut dengan jas hitam mu itu."


"Lalu?" Yoon Oh bertanya kembali.


Sejun mulai frustasi membenarkan pakaian Yoon Oh yang semakin aneh di matanya. Pria itu lalu mengibas-ngibaskan tangannya dan langsung pergi dari hadapan Yoon Oh dan juga Shane.


"Shane, urus Presdir mu yang aneh ini. Pakaiannya membuat mataku sakit melihatnya." Shane lalu membungkuk hormat dan setelahnya Sejun lenyap sesaat ia melemparkan pandangan sinis pada Yoon Oh.


Baru Shane ingin menegak kopinya lagi, pria bernama Yoon langsung menghadiahinya setumpuk berkas lagi.


"Tolong periksa hasil ketikan ini. Apa masih ada yang salah atau tidak." Kemudian dirinya berlalu masuk ke dalam ruang kerjanya


Wah, Shane ingin sekali menjambak rambut Yoon dengan sekuat tenaga. Sungguh, pria itu benar-benar menguji kesabaran.


Kalian tahu berkas apa yang di berikan Yoon Oh pada Shane? Itu adalah hasil ketikannya semalam sampai mengantuk. Dan sekarang pria itu menyuruhnya untuk mengecek kembali hasil tulisannya.


Mendadak, kepala Shane sakit di buat oleh pria itu.


"Tolong tenggelamkan aku di Sungai Hangang setelah aku menyelesaikan berkas ini."