
Choi Yoon Oh, pria muda, tampan, kaya, serta anak tunggal dari keturunan 'Choi' ini ternyata memiliki banyak sisi yang tak di ketahui oleh banyak orang.
Termasuk wanita.
Meski terlihat sopan di depan para petinggi perusahaan serta karyawan lainnya, tapi pria itu ternyata punya sifat menyebalkan. Dualitas yang di milikinya bisa berubah-ubah di waktu yang hampir bersamaan.
Sebut saja sekarang ini pria itu terlihat manis berbicara bak seorang CEO profesional di depan investor utama yang datang jauh-jauh dari Jepang. Keduanya sedang berbincang dalam bahasa Jepang, dan Shane kurang mengerti akan hal itu.
Mungkin jika keduanya berbicara dalam bahasa Inggris, dia akan mengerti. Karena sejak lahir, kedua orang tuanya mengajari dirinya untuk bisa berbahasa asing selain daripada bahasa Korea.
Awalnya, pertemuan yang dilaksanakan di sebuah restoran mewah itu berjalan dengan baik. Shane menjalankan perannya sebagai seorang sekretaris secara profesional.
Namun setelah mereka benar-benar keluar dari tempat itu. Iblis yang ada dalam diri Yoon Oh mulai bermunculan satu persatu.
Makanya tak heran, jika Shane memberi label pada pria itu dengan sebutan Perfect Demon. Tingkahnya benar-benar menyebalkan.
"Bawa ini." Yoon Oh melemparkan jas miliknya pada Shane yang tengah sibuk berkutat dengan keyboard komputernya.
"Tapi Presdir, saya harus menyelesaikan laporan ini dulu." Rasanya ingin menyela karena pria itu suka melakukah hal seenaknya.
Tanpa berbalik, pria itu terus menerus langkah menuju pintu keluar dari ruang kerjanya. Batas ruang kerja mereka hanya dipisahkan antara jendela di antara kedua ruangan tersebut.
"Aku tidak suka di bantah. Sekarang kau ikut aku." katanya lagi. Tidak ingin di bantah.
"Kemana Presdir?" tanya Shane berusaha sopan pada atasannya.
"Tidak usah banyak tanya!" Ia terdengar membentak, Shane sedikit tersentak dan diam-diam ia mengepalkan tangannya di balik jas yang saat ini ia pegang.
Kenapa sih, Presdirnya itu sering membuat tekanan darahnya naik?
Tak ingin membuat Presdir menunggu lama, dan mungkin sebentar lagi iblis-iblis yang ada dalam dirinya bertmunculan satu per satu, Shane mengikuti langkah pria itu keluar dari dalam ruangan.
Mereka memasuki lift yang sama, dan kini Presdirnya berdiri agak menjauh di depannya.
Shane melirik pria itu setelah ia menekan tombol lantai satu.
Rasa kesalnya benar-benar ingin ia luapkan saat itu juga, tapi sayang. Mungkin karirnya sebagai seorang sekretaris yang masih harus mengumpulkan uang demi melunasi hutang keluarganya harus pupus hari itu juga. Baru beberapa minggu bekerja, masa iya Shane harus di pecat secepat itu.
Setidaknya, biarkanlah ia selama sebulan di tempat ini, atau paling tidak sampai gaji pertamanya keluar.
"Kenapa kau melirikku?" Suara itu sontak membuatnya memalingkan pandangannya ke arah lain. Ia sedikit tertunduk untuk menutupi rasa malunya karena ketahuan diam-diam curi pandang ke Presdirnya.
Curi-curi pandang karena ingin mengumpat. Tidak lebih daripada itu.
"Maafkan saya Presdir. Saya tidak bermaksud seperti itu." Ia membungkuk kecil di belakang pria Yoon Oh atas perbuatannya.
Melihat Shane yang terlihat sedikit salah tingkah, Yoon Oh menarik satu sudut bibirnya untuk tersenyum.
Meski terlihat menyebalkan karena ulah Yoon Oh yang suka semena-mena pada dirinya, Shane masih bisa menangkap bahwa pria itu sebenarnya mempunyai hati yang baik. Walau kepribadiannya tidak hangat di matanya, tapi pria itu tahu bagaimana cara memperlakukan seseorang yang sudah baik terhadapnya.
Belakang ini pria itu suka memberinya hadiah kecil-kecilan. Terkadang, di atas meja kerjanya sudah ada sebungkus roti dan susu coklat hangat yang menyambutnya setiap pagi.
Saat ia menanyakan siapa yang membawanya pada salah satu office boy, orang tersebut hanya mengatakan bahwa Presdir yang menyuruhnya untuk membuatkan ini semua.
Walau begitu, setiap kali ia merasa tersentuh karena perlakuan Presdirnya, selalu saja ada hal yang membuat kesal setelah itu.
Entah Presdir memberikan pekerjaan yang bertumpuk-tumpuk, atau menyuruh ini dan itu yang pada akhirnya pria itu berkata, 'sudah, aku tidak membutuhkannya.' Rasanya Shane ingin mengutuk pria itu untuk hilang selama-lamanya.
Benar kata Sejun, bekerja dengan Yoon Oh harus memiliki mental baja. Jika lengah sedikit dan mengeluh, pria itu bisa saja mengusirnya dari istana yang megah ini.
"Duduk di depan." titah Yoon Oh yang kemudian berjalan menuju sisi kemudi, dan Shane berjalan menuju kursi penumpang.
"Kita mau kemana Presdir?" tanya Shane saat masuk dalam mobil.
"Rumahku." jawab Yoon Oh tak acuh.
Tapi pada akhirnya pria itu menjawab, "Ada yang harus kau lakukan untukku di sana."
Bohong jika Shane tidak berpikiran macam-macam kali ini. Untuk apa pria itu membawanya ke rumah pribadi miliknya Jika hanya soal pekerjaan?
Bukankah bisa di selesaikan di kantor saja?
Kalimat Yoon Oh terdengar ambigu di telinganya.
"Tapi apa yang harus saya lakukan, Presdir? Jika soal pekerjaan, saya bisa menyelesaikannya di kantor saja."
Tanpa melirik wanita yang sepertinya sedang berusaha untuk menghindari ajakannya, pria itu melontarkan satu kalimat yang membuat Shane hanya bisa terdiam tanpa berani menjawabnya lagi.
"Jadi kau membantahku sebagai atasanmu? Ingat, kau sekretaris pribadiku. Aku menggajimu untuk membantuku ini dan itu."
'Tapi Sehun juga sekretaris-mu. Buka hanya aku saja.'
Pikiran Shane mulai semakin ambigu di sini. Pikiran negatif mulai menghantuinya.
Bagaimana jika pria itu meminta bantuan yang tidak-tidak padanya. Alasan pria itu turut serta membawanya ke rumahnya juga tak ia ketahui secara pasti. Hanya mengatakan, 'ada yang harus kau lakukan untukku di sana.'
Jangan-jangan pria ini...
"Kau jangan berpikiran yang tidak-tidak. Aku tidak seburuk yang kau pikirkan jika kenyataannya kau menganggap kalimatku ambigu saat ini."
Penjelasan pria itu membuat matanya membulat sempurna. Ia melirik lewat kedua ujung matanya yang tajam.
'Dia tahu apa yang ku pikirkan. Aishh.' Ia menggerutu dalam hati. Sumpah, ia merasa malu, padahal ia tak mengatakan apa-apa pada Yoon Oh.
"Maafkan saya Presdir." Hanya itu yang bisa Shane ucapkan agar suasana tidak semakin kaku di dalam mobil.
Yoon Oh tak menanggapi dan memilih diam sambil berusaha fokus pada jalan raya yang sedikit lengang. Ini sudah sore, dan jam kerja pun hampir usai. Tapi sepertinya untuk hari ini Shane akan bekerja lembur. Entah lembur apa, yang jelas saat ini itu adalah hal yang ia pertanyakan selama perjalanan.
Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit, akhirnya mereka berdua sampai di rumah Yoon Oh , dan saat itu juga mata Shane terpaku pada rumah minimalis yang sangat besar. Perpaduan antara warna beige dan coklat susu menambah kesan minimalis, namun tetap terlihat modern.
Untung saja Yoon Oh tidak melihat wajahnya yang terpesona dengan bangunan bertingkat dua tersebut. Bisa-bisanya dirinya dihina oleh pria itu.
Saat masuk ke dalam bangunan tersebut, rumah Yoon Oh terlihat sepi. Tak ada aktivitas apapun selain pria itu sendiri yang melakukannya setiap hari.
Tak ada pelayan yang bekerja, selain dari pada supir pribadinya sendiri. Itu pun supirnya tidak tinggal di rumah miliknya. Pria tersebut sudah beristri dan otomatis ia akan pulang ke rumah di mana ada anak dan istrinya.
"Presdir, anda tinggal sendiri?"
Katakanlah Shane sedikit lancang bertanya seperti itu pada Presdirnya, tapi lebih baik seperti itu. Ia tidak ingin menimbulkan rumor-rumor buruk akan kedatangan dirinya di rumah pria single seperti Jung Jaehyun.
Pria itu berbalik menatap, "Menurutmu?"
Ah, pertanyaan yang jawabannya sudah bisa di tebak tanpa harus menunggu pria itu mengatakannya.
"Kau duduk dulu di sofa sebelah sana. Ada pekerjaan yang menantimu setelah aku berbenah." Pria itu mengarahkan dagunya pada jajaran sofa yang ada di ruang tengah.
Shane mengangguk paham setelah pria itu memberinya titah untuk duduk di sana.
Saat Shane hendak duduk, ia tak sengaja melihat Yoon Kh masuk ke dalam satu ruangan yang ia yakini itu adalah kamar milik pria tersebut.
Matanya yang polos tak sengaja menangkap siluet Yoon Oh yang tengah melepas kancing kemeja putihnya hingga kemeja tersebut tanggal dari tubuhnya. Saat pria itu masuk ke dalam kamarnya pun, Shane melihat beberapa pack yang ada di tubuh Yoon Oh dengan tidak sengaja.
Ternyata pilihan untuk ikut dan datang ke rumah ini sepertinya membawa petaka bagi matanya. Melihat hal yang seharusnya tidak ia lihat, meski itu secara tidak di sengaja.
Terkutuk lah kau Yoon Oh!
***
To Be Continue...