Immortal Love

Immortal Love
Peeved



Pria itu terdiam menyandarkan kepalanya di punggung kursi kerjanya. Ini hari ke dua di mana ia memecat satu sekretaris pribadinya.


Alasannya sederhana, pria itu tak suka cara berpakaian sekretarisnya yang terlalu terbuka. Belum lagi tingkah sekretarisnya yang berusaha untuk dekat-dekat dengannya. Mencoba mencari perhatian dengan gayanya yang kekurangan bahan, membuat Yoon Oh sakit kepala.


"Kau...belum ada sebulan mengganti sekretaris, kau sudah memecatnya lagi." Pria yang tengah duduk di sofa-nya mendengus kasar. Tidak menyangka bahwa Presdirnya ini memiliki hobi memecat karyawan seenaknya.


Terlebih lagi, mereka adalah sekretaris pribadinya.


"Aku tidak suka dengan mereka." Yoon Oh memalingkan wajahnya dari Sejun. Pria itu tengah berkenalan jauh dalam pikirannya sendiri. Sedang memikirkan hal lain.


"Sebenarnya apa mau mu? Kalau kau seperti ini terus, aku juga yang susah."


"Apa maksudmu mengatakan itu?" selidik Yoon Oh dengan tatapan sinis.


"Tentu saja kau menyusahkanku. Setelah ini, kau pasti akan menyuruhku untuk mencari pengganti Catherine." Sejun mendengus kasar di akhir kalimatnya. Temannya yang satu ini benar-benar tidak bisa membuatnya tenang hanya dalam beberapa bulan. Selalu saja ada masalah dengannya, dan itu pasti karena,


SEKRETARIS!


"Kau gila...ini belum genap 6 bulan, kau sudah memecat 4 sekretaris pribadimu dalam waktu 4 bulan. Sebenarnya kau mencari istri, atau sekretaris. Pilih-pilih seperti pasangan hidup." Sejun kembali mencibir. Untung saja ia tidak berkata sarkas, karena pria itu selalu tahu cara membuat mood seseorang hancur.


Bekerja dengan Yoon Oh harus menyiapkan mental baja. Sedikit lengah dan mengeluh, kau bisa di tendang oleh pria itu keluar dari perusahaannya.


"Hei! Dengarkan aku!" seru Sejun melempar majalah yang sedari tadi ia baca. Sudah tak berminat lahi karena Yoon Oh menghancurkan mood-nya hari ini.


Yoon Oh menggerakkan lehernya. Memasang tampang wajah datar. "Apa?"


"Sebaiknya kau menikah saja. Ku lihat kau akhir-akhir ini kurang memiliki semangat hidup. Butuh pelepas..."


Belum sempat Sejun menyelesaikan kalimatnya, pria itu sudah dihadiahi lemparan koran yang dilipat-lipat oleh Presdirnya. Sasarannya adalah wajahnya, hingga ia meringis karena terkejut koran itu mendarat dengan sempurna di wajah tampannya.


"Jaga ucapanmu!" gertak Yoon Oh melempar tatapan sinis.


Di saat dirinya tengah pusing memikirkan masalah hidupnya, pria itu datang memancing percakapan dimana ia dan sang Ayah sudah membahasnya lebih dulu.


Perjodohan.


Ahh...kepala Yoon Oh sakit mengingatnya.


Ia mengepalkan tangannya sambil memejamkan mata. Dadanya sesak memikirkan ancaman Ayahnya.


Bukan ia takut dengan ancaman itu, tapi berpikir bagaimana caranya ia bisa menemukan pemilik hati dalam waktu sebulan.


Hell, waktu mencintai para mantannya saja, ia butuh waktu 2 bulan untuk pendekatan. Iya, kalau orang yang ia dekati mau membalas perasaannya, kalau tidak? Tidak mungkin kan Yoon Oh memaksa wanita itu untuk mencintainya?


Tapi, apa benar memang ada wanita yang tidak mencintainya. Pria itu bahkan di cintai luar dan dalam. Luarnya harta, dalamnya...ah, mungkin lebih tepatnya ia di manfaatkan.


'Wanita sialan!' umpatnya dalam hati.


Di tengah rasa pening yang ia rasakan menggerogoti kepalanya, tiba-tiba pintu ruangannya di ketuk oleh seseorang.


Sejun yang melihat Yoon Oh memejamkan mata seperti orang yang sedang sakit kepala, memilih bangkit dan berjalan untuk membukakan pintu untuk seseorang di sana.


Sejun menaikkan alisnya sebelah saat seorang wanita yang datang ke ruangan Presdirnya.


"Hellen? Kenapa?"


Wanita berstatus karyawan dari Divisi 5 itu datang sambil membawa berkas di map putih. Ia langsung menyerahkannya pada Sejun yang berdiri menyembulkan kepalanya dibalik pintu.


"Berkas pendaftar yang diminta Presdir. Tolong berikan padanya." katanya.


Sehun mengangguk-angguk paham, ia kemudian menyambar map itu dan melirik sedikit isinya.


"Kau kenapa berdiri di pintu? Presdir mana?" tanyanya sambil berusaha menengok masuk ke dalam."


Pria didepannya kembali mendengus, "Banyak beban hidup dia. Makanya stress sendiri. Dia kehilangan satu sekretaris-nya lagi, dan setelah ini dia akan menyusahkan ku."


Hellen menghela napas panjang mendengar ucapan Sejun yang masih setia menyembunyikan tubuhnya di balik pintu.


Jadi benar, ternyata presdirnya itu kembali memecat sekretaris pribadinya. Astaga! Dia tak habis pikir dengan Yoon Oh.


"Apa?" Sejun berusaha menajamkan pendengarannya.


"Bukan apa-apa." Hellen langsung melangkahkan kakinya pergi dari sana.


Tapi belum ada beberapa langkah menjauh dari ruangan Presdirnya, Sejun kembali meneriakinya.


Padahal jarak mereka tidak sejauh gerbong kereta api yang sudah berangkat.


"Hati-hati kalau bicara. Telinganya dia ada di mana-mana. Jangan sampai kau jadi target pemecatan selanjutnya. Bisa gagal menikah kau tahun ini."


"Yee...calon suamiku yang mengurusnya. Dia tidak akan membiarkan calon istrinya kesusahan. Tidak sama seperti kau yang sering menyusahkan orang lain."


"Kau..." Sejun hendak protes, tapi wanita itu mengancam dirinya.


'Akan ku telpon pacarmu, dan ku beritahu bahwa semalam kau mabuk di bar. MAU!'


Sejun hanya bisa menahan napas kesalnya. Hellen suka sekali mengancamnya.


Tapi yang lebih menakutkan itu pacarnya. Jika Hellen ular kobra, maka pacarnya Anaconda. Kalau dia tahu semalam ia minum sampai mabuk, bisa berakhir hubungan mereka saat itu juga.


"Dasar licik!" Sejun kembali menutup pintu itu dengan bentak 'kan keras. Yoon Oh sampai kaget karena ulah Sejun yang menutup pintu dengan kakinya.


Yoon Oh menatap dirinya dengan pandangan aneh.


"Kau kenapa? Ada masalah hidup?"


Sudahlah, Sejun tidak mau berdebat dengan Yoon Oh hanya karena masalah Sekretaris.


Menjadi sekretaris seorang Choi Yoon Oh saja sudah pusing, sekarang Sejun harus mengurus calon rekan kerjanya itu pula.


'Kenapa dia tidak lengser saja sekalian. Buat perusahaan sendiri, sekretaris sendiri. Arghh...dia selalu membuatku naik tensi.'


"Ini..." Sejun menyodorkan map hitam yang baru saja Hellen berikan padanya.


"Apa ini?" tanyanya.


"Pesanan mu. Hellen tadi mengantarnya." ujar Sejun malas. Ingin cepat-cepat menghirup udara segar di luar.


"Isinya apa?" tanya Yoon Oh yang entah sengaja atau memang tidak benar-benar tahu isi map tersebut apa.


Selain melemparkan pandangan miris, Sejun juga mencebik ke arah Yoon Oh karena pria itu benar-benar sudah kehilangan akal.


'Bisa ku tebak, ayahnya akan melengserkan dia jika modelnya seperti ini terus. Bisa-bisa perusahaan berdiri di ujung jembatan yang hampir rubuh karena dia.'


Tak mendapat jawaban dari Sejun, Yoon Oh memilih untuk memeriksa isi map itu sendiri.


Bertanya pada Sejun saat ini benar-benar tidak menguntungkan. Dirinya hanya akan berakhir di abaikan oleh pria jangkung tersebut.


"Oh..."


Hanya ber-oh ria saja?


Yoon Oh kemudian melirik ke arah Sejun sekilas Sabil tersenyum simpul.


"Siapkan saja semuanya, dan bawa mereka ke sini."


Sejun mendengus mendengar titah Yoon Oh, dan sekarang ia benar-benar malas untuk berurusan dengan pria bermarga 'Choi' tersebut.


"Tunggu apa lagi?" bentak Yoon Oh kecil.


"Huft...baiklah."


***


To Be Continue...