
Prince Of Wolf Bagian 20
Oleh Sept
"Yang Mulia!" pekik pelayan yang kala itu ada di sana. Mereka langsung menghampiri Amora yang terdorong sampai bagian belakang tubuhnya membentur patung pembawa obor.
Sementara itu, Edward terlihat sangat marah. Namun, ia mencoba menahannya. Hanya bisa mengepalkan tangan. Putrinya itu masih dalam pengaruh bangsa Peri.
"Aku baik-baik, saja. Lepaskan." Amora mengatakan ia baik-baik saja, meskipun tidak demikian. Jalannya terseok ketika ia mendekat pada Aubrey kembali.
Saat tangan Amora akan menyentuh tubuh Aubrey, Edward langsung menjauhkan Amora. Dia merengkuh pinggang Amora, dan Amora pun memekik, merasakan tulang belakangnya yang tidak baik-baik saja.
Meskipun tidak keras, tetap saja dorongan Aubrey membuat Amora terluka. Edward yang menyadarinya, langsung membopong Amora pergi dari sana. Sedangkan Aubrey, ia melihat kedua tangannya sendiri. Bagaimana bisa ia melakukan hal itu dengan reflek?
***
Amora tengah pingsan, beruntung dia memiliki Edward di sisinya. Dengan kekuatan yang Edward miliki, Amora perlahan kondisinya mulai pulih seperti sedia kala. Tulang yang semula patah, perlahan menyatu kembali.
"Yang Mulia ..." seru semua pelayan saat melihat Amora membuka mata.
"Aubrey ..." gumam Amora yang ingin meninggalkan ranjang megahnya.
Sekali lirik, pintu ruangan langsung ditutup. Amora jelas marah, kenapa ia harus dikurung juga? Padahal Edward hanya ingin melindungi ratunya tersebut dari ancaman bahaya di luar sana. Tetapi Amora yang sudah merindukan Aubrey, ia seolah tidak peduli.
"Jangan lakukan ini lagi padaku!"
Amora memelas, kemudian memeluk serigala abu-abu itu. Ia seolah berharap agar Edward tidak memisahkan ia dan Aubrey lagi.
"Kendali dirimu ... ada nyawa lain yang harus kau jaga!" bisik Edward.
Amora tersadar, dalam tubuhnya juga ada nyawa lain. Ia seperti tidak peduli jika nanti celaka, dalam hatinya hanya ada kerinduan pada Aubrey.
"Untuk saat ini, jangan temui Aubrey. Tetap di sini."
Amora langsung memukul bagian bidang sang Raja. Membuat semua prajurit langsung mengacungkan tombak. Tapi Edward meminta semuanya pergi dari sana.
"Aku mau Aubrey kembali ... aku mau dia."
"Ya ... kau akan bertemu dengannya, tapi tidak saat ini," ucap Edward kemudi mengusap perut Amora.
Seketika Amora merasakannya sesuatu yang tidak biasa. Perutnya langsung memebsar dengan cepat, dan ada yang mendesak di dalam sana yang ingin keluar.
"A-aku."
Amora memeluk tubuhnya sendiri, ia merasakan nyeri yang hebat secara tiba-tiba. Sedangkan Edward, ia hanya menatap pasangannya itu. Dia tidak memanggil para pelayan, membiarkan Amora kesakitan seorang diri.
Ratu dari kasti tersebut seolah antara hidup dan mati, Sementara itu Edward sang Raja, hanya menatap tidak melakukan apapun. Sampai Amora meraih jubah merahnya. Mencengkram dengan rasa sakit yang dalam.
"Ya-ng Mu-lia ...!" panggil Amora terbata.
Amora yang tidak tahan, akhirnya perlahan tubuhnya merosot. Dan Edward langsung membopong tubuh tersebut. Ia pindah Amora ke atas ranjang besar, tidak lama keduanya, Amora kembali meringis menahan sakit saat seorang bayi laki-laki keluar di bawahnya.
Sebuah tangisan nyaring terdengar, membuat para pelayan mondar-mandir di depan pintu. Semua langsung diam, saat tuan Smit tiba.
Perlahan pelayan paling setia itu masuk, kemudian melihat Edward yang tengah menggendong putra mahkota. Putra yang selama ini ia inginkan, yang akan menjadi penerus kerajaannya.
"Suruh para pelayan masuk!" tutah Edward yang mendampingi sendiri persalinan Amora.
"Dia laki-laki ... tapi dia mirip denganmu," ucap Edward kemudian meletakkan sang putra mahkota di atas tubuh Amora.
Rasa sakit yang ia rasakan seperti menghilang, Amora memeluk bayi laki-laki yang matanya berbinar menatapnya.
'Dia akan seperti siapa? Aku atau yang mulai?' batin Amora saat melihat sorot bening dari sang putra mahkota.
***
Beberapa jam setelah persalinan.
Sang putra mahkota sudah terlelap dalam keranjang emas yang besar. Sedangkan Amora, ia masih berbaring dan Edward duduk di sebelahnya.
"Aku sudah melahirkan bayi laki-laki untuk yang mulai Raja. Sekarang ... berikan Aubrey padaku."
Edward terdiam sesaat.
"Tidak seperti itu ... ada yang salah dengan Aubrey. Aku tidak ingin bahaya mengancam nyawamu."
Amora langsung membuang muka, kemudian mengusap sudut matanya.
"Baik ... sebelum matahari terbit. Kau pasti akan bertemu dengannya."
Mendengar janji sang raja, reflek Amora langsung memeluk tubuh Edward. Dan Edward pun mengusap kepala Amora.
***
Waktu yang dijanjikan telah tiba. Dengan tangan yang harus diikat, Aubrey datang ke kamar Amora dengan penjagaan ketat. Amora jelas marah, saat melihat tangan putrinya terikat kuat
"Apa yang kalian lakukan?"
Amora mencoba melepaskan ikatan tali Aubrey. Namun, Aubrey justru mundur.
"Jangan di lepas! Jangan!"
Amore menggeleng pelan, ia tidak mau anaknya terikat di istananya sendiri.
"Aku mohon ... aku tidak ingin menyesal, jadi ... biarkan ini tetap terikat."
Mendengar kalomat Aubrey, hati Amora semakin sakit. Bagaimana bisa Aubrey harus diikat seperti ini?
Nekat, Amora mengambil benda di atas meja, dengan emosional ia memutus tali pengikat Aubrey. Dan benar saja, begitu tali lepas, mata Aubrey berganti warna. Gadis yang sudah kehilangan jati dirinya itu kemudian menatap box. Ia membuat tubuh sang putra mahkota terangkat semakin tingin.
Amore menggeleng keras.
"Jangan! Jangan lakukan itu ... Jangan ... TIDAK!"
Amora langsung lemas dan terjatuh.
BERSAMBUNG
IG Sept_September2020
Fb Sept September