
Shane harap-harap cemas saat dirinya mulai memasuki ruang interview yang tak lain adalah ruangan dari calon presdirnya sendiri.
Tangannya sedikit gemetar, ia gugup bukan main, bahkan setelah ia mendudukkan dirinya tepat di hadapan pria itu.
Yoon Oh meliriknya sekilas. Bukan tatapan lembut yang di berikan, namun tatapan sinis dengan pandangan datar.
Pria itu sibuk membuka aplikasi yang ia ajukan 2 hari yang lalu ke perusahaan. Sungguh, ia tidak ingin gagal lagi mencari pekerjaan.
Sebelum ia mendapat giliran masuk ke dalam sana, Shane sempat mendengar beberapa calon sekretaris pribadi Yoon Oh diam-diam menggosipkan pria itu.
Yang ia dengar, katanya Yoon Oh itu hobi berganti sekretaris. Setiap bulannya selalu saja ada sekretaris yang di pecat. Alasannya sangat tidak masuk akal.
Mulai dari cara berpakaian yang di anggap berlebihan, padahal semua standar, cara make up yang terlalu tebal, tapi itu juga standar seperti karyawan pada umumnya, dan yang paling parah pria itu menganggap semua sekretaris perempuan yang bekerja dengannya diam-diam menyimpan rasa terhadapnya.
Pria itu menuduh semua sekretaris perempuannya mencari perhatiannya. Mereka datang mendekat dengan menjadikan alasan pekerjaan sebagai alat untuk bisa mendekati dirinya.
Tapi itu semua tidak benar. Meski sekretaris yang terakhir ini di pecat karena mencoba melakukan itu. Yoon Oh menendangnya dari kantor sebelum wanita itu benar-benar berhasil mendekatinya.
Tapi...apa yang pria itu lakukan untuk 3 sekretaris yang pernah bekerja dengannya tetap tidak bisa di benarkan. Mereka sama sekali tidak punya niat untuk mendekatinya.
Pria itu saja yang terlalu sensitif dengan wanita.
'Pada akhirnya, mereka tetap akan punya niatan seperti itu. Awalnya saja belum, tapi lihat saat sudah lama bekerja denganku. 1 bulan kemudian akan aku keluarkan mereka secara tidak hormat.'
Kejam sekali pria bernama Choi Yoon Oh itu.
Shane pun ingat apa yang mereka kata sesaat mereka mulai terpisah satu persatu.
'Sekecil apapun kesalahan yang di buat oleh sekretarisnya, presdir sama sekali tidak akan memberi toleransi.'
'Dia terlihat tidak tertarik dengan perempuan. Apa jangan-jangan dia gay?'
Astaga! Otaknya sudah dicuci oleh persepsi-persepsi buruk tentang presdirnya itu.
Semoga saja apa yang mereka katakan tidaklah benar. Shane tidak pernah berpikir harus bekerja bersama seseorang yang mencintai sesama jenisnya.
Tidak, tidak sama sekali.
"Lulusan S1...tidak buruk." Yoon Oh mulai berbicara saat membaca lampiran data pribadi milik Shane di selembar kertas putih.
Pria itu menelitinya dengan seksama. Tidak ada yang boleh lepas dari pantauan pria tersebut. Semuanya harus ia periksa, agar di kemudian hari sekretarisnya tidak menimbulkan masalah apapun.
Termasuk memiliki niat untuk mendekatinya.
Dasar Choi Yoon Oh!
"Sebelumnya kau bekerja di mana?" Pria itu menatapnya dengan pandangan datar. Sorot memperlihatkan bahwa ada sedikit rasa ketidaksukaan pria itu terhadapnya. Itu jelas terlihat karena Yoon Oh selalu membuang pandangannya, dan mendengus kasar.
Ciri-ciri bahwa dirinya tidak akan di terima.
"Jujur, saya belum ada pengalaman bekerja sebagai pegawai kantoran. Saya pernah bekerja sebagai pengantar susu, pelayan di kedai ramen, pengantar paket dan juga pengantar ayam goreng. Dan yang terakhir, saya bekerja sebagai sales promotion girls di salah satu toko kosmetik."
"Hanya itu?" Yoon Oh mendelik tak percaya.
Baru kali ini ia menemukan calon sekretaris yang sama sekali tak pernah bekerja di kantor. Hampir semua pekerjaan wanita itu di luar ruangan, walaupun bisa saja saat wanita ini menjadi sales, dia bekerja di dalam ruangan.
Ah, Yoon Oh semakin pusing. Jika saja masih ada satu partisipan yang menunggu di luar, Yoon Oh mungkin masih akan mempertimbangkan mana sekretaris yang akan ia pilih, antara Shane atau yang ada di luar sana.
Tapi sayangnya, semua peserta yang ia wawancarai tidak ada satupun yang menarik perhatiannya. Malah mereka yang berusaha menarik perhatiannya dengan memberi tatapan genit.
Yoon tahu maksud mereka semua.
Karena Sejun ada di dalam sana menemani dirinya yang sedang mewawancarai peserta, ia berbalik dan menatapnya pria jangkung yang duduk santai di sofa.
Yoon Oh menggerakkan bibirnya, "Tidak ada partisipan lain?" tanyanya tanpa suara.
Melihat gerakan bibir itu, Sejun hanya melempar pandangan sinis sambil menggeleng. "Tidak ada."
Ia mengetuk-ngetuk kan jarinya di atas meja. Sungguh saat ini dirinya bingung. Haruskan ia menerima Shane sebagai sekretaris-nya, atau menunggu hari berikutnya di minggu depan untuk bisa mendapatkan sekretaris yang Sejun pilihkan langsung.
Tapi sepertinya pria itu sudah tidak mau membantunya mencarikan sekretaris. Semua pilihan Sejun selalu berakhir di pecat olehnya.
Semua hal baik ia rapal 'kan dalam hati agar bisa menjadi kenyataan. Semoga ia lolos. Ini pekerjaan layak untuknya, Shane tidak boleh sia-siakan kesempatan yang Tuhan berikan padanya.
"Kau..." Yoon Oh menegur, namun ia menjeda kalimatnya sebentar.
"Ya, Presdir?" Shane menjawab dengan spontan.
"Apa kau tertarik padaku?"
"Ne? Maksudnya?"
Bukan hanya ia yang terkejut mendapat layangan pertanyaan seperti itu. Sejun yang sedang meminum kopi ikut tersedak karena Yoon Oh begitu terang-terangan menanyakan pertanyaan aneh seperti itu.
Dengan cepat, matanya mendelik ke arah pria yang membuatnya tersedak.
"Apa yang kau lakukan?" Sejun menggerakkan bibirnya mengucap kalimat itu. Matanya melotot tajam menatap Choi Yoon Oh, pria yang melempar pertanyaan di luar wawancara.
Itu pertanyaan pribadi.
Pertanyaan itu hanya di tanggapi dengan mata sinis-nya saja. Tak peduli apa katanya, karena jelas Yoon Oh harus melempar pertanyaan seperti itu kepada Shane.
"Tolong jawab pertanyaan itu. Apa kau tertarik padaku Nona Kim?"
"Maaf, saya pikir anda sedang melayangkan pertanyaan pribadi, bukan pertanyaan wawancara untuk seorang calon sekretaris."
Mendengar perkataan wanita itu, Yoon Oh menarik satu sudut bibirnya untuk tersenyum sinis.
"Suka-suka saya, Nona Kim. Saya yang merekrut anda secara langsung. Saya harus memastikan bahwa sekretaris saya nantinya bisa bekerja secara profesional. Tidak seperti yang terdahulu, yang berusaha mendekati saya dengan menjadikan pekerjaan sebagai alasan."
Yoon Oh benar-benar sesuatu di matanya. Shane tersenyum tipis menatap Presdir Crown Royal Group yang sangat tampan di mata semua orang. Tapi bagi Shane, pria itu tidak lebih dari seonggok manusia sombong di matanya.
Apa setiap calon sekretaris yang akan bekerja dengannya di beri pertanyaan semacam ini?
Dasar pria aneh. Jangan-jangan yang mereka katakan bahwa dia gay itu benar.
"Sekali lagi maaf, Presdir. Apa anda yakin bahwa yang terdahulu memiliki niat seperti itu? Tidak semua sekretaris yang bekerja dengan anda mempunyai niat untuk mencuri perhatian anda. Mungkin anda yang terlalu sensitif..."
"Sensitif apa maksudmu?!" Suara Yoon Oh naik satu oktaf. Wanita di depannya ini berani menjawabnya tanpa ada rasa takut sedikitpun.
"Kau berani menjawab ku?" Ditanyanya lagi wanita itu dengan pandangan tak suka. Yoon Oh kesal melihat sosoknya yang pendiam, namun terlihat berani dengannya.
"Jika saya perlu menjawab, maka akan saya jawab jika ada hal yang perlu di luruskan." Shane menjawab tanpa berkontak mata dengan Yoon Oh.
Terdengar lagi jawaban dari dirinya, membuat Yoon Oh mau tak mau harus membanting map yang berisi data pribadi miliknya. Ia sedang marah, mungkin harga dirinya sedang terluka karena wanita itu.
"Aku tidak suka punya sekretaris yang berani membantah."
"Kapan saya membantah, Presdir?" Shane mengangkat kepalanya, memberanikan dirinya menatap pria yang terlihat menyeramkan sekarang.
"Maaf Nona Kim, anda tidak di terima. Silahkan keluar dari ruangan saya." Yoon Oh menunjuk pintu keluar ruangannya. Dirinya benar-benar sedang marah karena ulah wanita bermarga 'Kim' itu.
Baru kali ini ia menemukan orang yang berani menjawab pertanyaannya tanpa ada ketakutan sedikit pun. Bahkan karyawannya sendiri tidak ada yang berani melakukan itu.
Kecuali Sejun, walau pria itu sering membantah dan mencaci makinya, Yoon Oh tidak akan memecat sosok tinggi menjulang tersebut.
Kalau ia sampai melakukan hal itu, Sejun akan memberi laporan salah pada ayahnya. Pria itu paling lihai membuat alasan palsu agar dirinya terlihat bersalah di mata kedua orang tuanya.
Shane bangkit dari duduknya dan segera meraih tas kecilnya yang ada di belakang kursi.
"Terima kasih karena telah memberi saya kesempatan untuk menginjakkan kaki di tempat ini. Saya tidak menyangka, bahwa presdir yang di agung-agung kan semua orang ternyata suka menuduh orang lain dengan alasan yang tidak berdasar dan tidak masuk akal seperti ini." Shane membungkuk lalu pergi meninggalkan ruangan itu secepat mungkin. "Sekali lagi, terima kasih. Saya permisi."
Ia sakit hati karena pria itu dengan seenaknya mengusir dirinya keluar dari dalam sana.
Belum ada 30 menit ia di wawancarai, tapi pria itu sudah menendangnya keluar dari dalam sana. Ia mengepalkan tangannya, dan pergi secepat mungkin dari sana.
Shane bersumpah tidak akan pernah berurusan dengan pria bermarga 'Choi' tersebut. Apalagi menginjakkan kaki di tempat ini.
***
To Be Continue...