
Prince of Wolf bagian 14
Oleh Sept
"Menjauh! Tuan putri! Menjauhlah!"
Mendengar tuan Smit berteriak, Aubrey seolah tidak mendengar apapun. Ia terus maju, jiwanya yang lapar membuat ia ingin memangsa daging manusia yang sudah ada di depannya.
Tidak ingin keturunan serigala pertama itu menjadi monster seperti yang selama ini ia penjara di ruang-ruang gelap dalam bawah tanah. Laki-laki itu kemudian menatap sekeliling. Ia lantas menarik baju besi pada patung yang memegang obor dengan kasar. Kemudian ia lempar ke arah tubuh serigala kecil Aubrey.
Sekali sentak, benda itu langsung dengan mudah dilempar oleh Aubrey. Serigala kecil itu bukan serigala sembarangan. Ia terlahir istimewa karena mewarisi kekuatan Edward. Hingga sempat Edward ingin memusnahkan serigala itu saat baru lahir ke dunia.
"Hentikan AUBREY!" teriak tuan Smit lagi ketika Aubrey langsung menyerang Almor.
Dengan menggunakan tubuhnya sebagai perisai, tuan Smit melindungi Almor. Lebih tepatnya tidak ingin pewaris serigala murni tersebut memakan daging manusia. Jika itu sampai terjadi, maka bencana besar akan melanda mereka semua. Aubrey bukan monster, Aubrey hanya belum bisa mengendalikan hasrtanyaa. Sebuah naluri liar yang ingin memangsa bangsa manusia.
"Lepaskan aku!" jerit Aubrey ketika sebagian pengawal dan manusia-manusia pengikut kepala suku tiba.
Mereka semua bersama-sama menangkap Aubrey yang hilang kendali. Meskipun kuat, Aubrey belum sepenuhnya bisa mengontrol kekuatan. Alhasil ia kini harus berakhir di dalam sebuah kerangkeng besi yang kuat. Bangsa manusia yang semula menyerang, tiba-tiba berbalik. Saat mereka melihat bagaimana tuan Smit melindungi Almor.
"Bagaimana dengan luka bakarnya?"
Tuan Smit kemudian menatap manusia di depannya. Ia kemudian meminta pelayan dan penjaga untuk membawa tubuh Almor.
Sedangkan penyihir jahat, ia masih berputar-putar di atas kastil dengan naga apinya. Kembali membakar apa saja yang bisa ia hanguskan.
***
Di tempat lain. Tabib paling lama mengabdi pada keluarga Edward, sedang membaca mantra sembari memberikan cawan-cawan berwarna merah darah dan putih su su. Ia sedang berusaha membuat Edward terbangun dengan mengunakan darah binatang langka. Sebuah darah yang sudah ia bekukan sebagai ramuan jika terjadi hal buruk pada pemimpin mereka.
Tidak butuh waktu lama, ketika cairan itu dimasukkan dalam tubuh Edward, serigala abu-abu tersebut perlahan mulai, tersadar. Tapi tidak dengan Amora. Tubuh Amora semakin kaku, kulitnya semakin pucat. Amora sepertinya kehabisan banyak darah.
Baru membuka mata, Edward langsung bertanya di mana putrinya.
"Di mana dia?"
"Tuan ... Tuan jangan berdiri dulu!"
Serigala itu sama sekali tidak peduli, ia terus berjalan keluar. Hingga ia bertemu tuan Smit, barulah Edward berhenti.
"Di mana dia?"
Mata Edward memerah, menatap kehancuran di sekitarnya. Tuan Smit pun langsung menunjukkan di mana Aubrey ia sembunyikan. Sedangkan di luar sana, para pengawal dan bangsa manusia kini sama-sama menyerang penyihir jahat. Ya, bangsa manusia itu kini berada di pihak Edward.
Setelah melihat apa yang terjadi, mereka mulai percaya. Edward, serigala abu-abu tidak pernah berniat mencelakai Amora dari bangsa mereka. Sebab Amora malah akan menjadi ratu di kastil tersebut. Oleh karena itu, mereka semua para bangsa manusia kini bersatu mengusir penyihir jahat. Meskipun itu tidak mudah, sebab kekuatan penyihir sangatlah kuat.
Naga api itu bahkan sudah berhasil membakar dua menara tertinggi di kastil itu. Sepertinya penyihir juga sangat marah, karena bangsa manusia malah berbalik menyerang dirinya.
"Bakar semuanya!" titahnya pada Naga api yang terus menyemburkan hawa panas dari mulutnya.
"Ini gawat, jika tidak cepat diobati. Mungkin dia akan mati!"
Semua pelayan menatap takut. Dan tabib tersebut pun langsung beranjak meninggalkan ruangan. Dengan obor di tangan, ia berlari menyusuri lorong yang penuh kekacauan.
"Di mana Tuan Edward?" ia bertanya pada siapa saya yang ia temui.
Setelah mendapat jawaban, ia langsung mempercepat langkah menuju ruang bawah tanah.
"Tuan ... Tuan!"
Dilihatnya Edward sedang mencengkram penjara besi di mana Aubrey sudah pingsan di dalamnya. Sepertinya pengawal atas suruhan tuan Smit memberikan rambuan untuk Aubrey lebih tenang.
"Kau apakan dia?" sentak Edward marah.
Tap tap tap
"Tuan ... Tuan ... ini bahaya." Wanita tua yang semula mengobati mereka kini sudah berdiri di ruangan yang gelap dan lembab tersebut.
Edward lalu menoleh, ditatapnya dengan tajam sang tabib yang selalu bisa mengobati segala macam sakit tersebut.
"Lakukan sesuatu ... jika tidak. Mungkin malam ini dia tidak akan selamat," ujar sang tabib.
Mata Edward membulat sempurna, dilihatnya sang anak terkapar di dalam penjara besi. Sedangkan Amora nasibnya sedang di ujung tanduk.
"Lepaskan dia sekarang, kurung dalam kamarnya!"
WUSHHHH ...
Setelah mengatakan itu, Edward langsung berlari. Ia berbalik dan berjubah menjadi serigala abu-abu.
AU Mmm....
Serigala abu-abu tersebut menggaung, suaranya melengking, tidak seperti biasanya.
Edward seolah sedang memanggil sesuatu. Dan benar saja, setelah beberapa kali menggaung, mendadak sebuah angin kencang muncul dan memporak-porandakan keadaan di sekitar sana. Bahkan penyihir naga hampir tersapu oleh angin kencang tersebut.
Dalam gulungan angin tiba-tiba muncul sosok bercahaya dengan baju putih yang menyilaukan.
"Kau memanggiku?" ucap sosok tersebut dengan suara sisertai angin yang bergemuru, perlahan angin berhenti dan sosok tersebut bisa dilihat dengan jelas.
"Aku tagih janjimu!" ujar Edward dengan mata yang menajam.
Sosok tersebut masih nampak tenang, kemudian langsung berjalan menuju ruang di mana Amora hampir mati karena kehabisan darah.
Sosok yang bercahaya dengan jubah putih itu tiba-tiba mengitari tubuh Amora, sembari menaburkan ribuan serbuk sari kehidupan. Perlahan, rona wajah Amora berubah. Wajah pucat dan biru itu kemudian perlahan menjadi cerah. Seolah ia kembali hidup. Bahkan luka-luka pada tubuhnya perlahan menutup.
"Aku menukarnya dengan keabadianku!" Edward memejamkan mata. Jika ada yang ingin merobek jantungnya sekali lagi, Edward tidak akan kembali selamat. Kini dia hanya serigala abu-abu biasa. BERSAMBUNG.