
Shane melangkahkan kakinya menuju halte tempat orang biasanya menunggu bus. Saat ini sudah hampir petang, Shane baru saja selesai dari kerja part time-nya di sebuah kedai ramen yang jaraknya lumayan jauh dari apartemen Chaeri.
Ya, kini dirinya kembali bekerja di kedai ramen. Setidaknya, untuk beberapa bulan kedepan ia bisa menghasilkan uang. Mengganti makanan dan minuman, serta ikut andil membayar uang sewa bulanan Apartemen yang tentu tidak murah.
Ia bersyukur karena sampai saat ini dirinya masih mampu bertahan. Tanpa kedua orang tua, Shane bisa membuktikan bahwa ia bisa hidup menjadi anak yang mandiri. Tak lagi menyusahkan dua orang tersebut yang kini sudah bahagia dalam rengkuhan Tuhan.
Melangkahkan kakinya setelah sampai di halte dekat tempat tinggalnya, Shane berjalan meninggalkan halte secepat mungkin. Ia yakin, saat ini Chaeri pasti sibuk mencarinya. Pasalnya, wanita ini sama sekali tidak memberi tahu sahabatnya kalau ia sekarang bekerja part time seperti dulu.
Semuanya terkesan terburu-buru, dan Shane juga mendapatkan pekerjaan tersebut baru hari ini. Ia bahkan sampai memohon-mohon pada pria pemilik kedai agar mau menerima satu karyawan tambahan untuk bekerja di tempat tersebut.
Dengan sangat terpaksa, pria tua itu menerima dirinya karena kasihan. Terlihat, dirinya juga sangat membutuhkan uang.
Jika saja uang bukan segalanya, Shane mungkin tak akan bekerja sekeras ini demi memenuhi kebutuhannya. Tapi sayang, semua hal di dunia ini membutuhkan kertas yang terdapat nominal angka di sana.
Bahkan terkadang, bagi mereka yang tak melihat nominal angka sebagai beban hidup. Mereka bisa membeli kebahagiaan dengan uang yang mereka miliki.
Tentu saja bagi yang berduit.
Sesampainya ia di Apartemen, Chaeri berlari ke arahnya dan wanita itu langsung memeluknya seperti orang yang baru di temui setelah berpisah selama bertahun-tahun.
"Kau kenapa?" tanyanya heran melihat tingkah Chaeri seperti itu.
"Hey bodoh. Kau dari mana saja? Kau tidak tahu aku sangat khawatir melihat kau tiba-tiba menghilang dari Apartemen. Mana kau pulang jam segini, apa yang kau kerjakan di luar?" Suara Chaeri naik satu oktaf, terkesan membentak dirinya. Sungguh, Chaeri mirip seperti ibunya yang marah ketika ia perempuan itu sedang khawatir berat.
"Maaf...aku baru saja pulang bekerja."
Jawaban wanita itu mau tak mau membuatnya harus meneliti dari atas sampai bawah. Bukankah pagi tadi wanita itu mengenakan seragam kantor? Sekarang, pakaiannya sudah berganti menjadi pakaian biasa. Lebih mirip seperti pengantar paket.
"Kau tidak bekerja di perusahaan itu?" selidik Chaeri yang menatapnya dari atas sampai bawah.
"Jangan membahasnya." Shane membuang pandangannya dari gadis cantik tersebut. Lagi-lagi ia harus mendengar pembahasan yang membuatnya sakit hati.
"Hey...ada apa? Kau tidak lolos? Kau gagal dalam wawancaranya?" Chaeri terus saja menanyainya hal ini dan itu. Kepalanya jadi sakit saat memikirkan pria yang sudah mengusirnya dari kantor kebanggaannya itu.
Asal kau tahu Ri...dia tidak meloloskan ku sebelum aku di wawancara olehnya. Dan alasan pria itu sungguh tidak masuk akal.
Shane berujar dalam hatinya. Hendak mengumpat, tapi ia menahan itu semua. Chaeri akan menampar bibirnya jika ia sampai mengumpat.
"Aku bukannya gagal..."
"Lalu, kenapa?"
"Dia tidak meloloskan ku."
"Hah?" Chaeri membulatkan matanya sempurna. Tak percaya dengan apa yang baru saja ia katakan. "Itu maksudnya bagaimana?" tanyanya lagi yang masih belum paham.
"Dia pria aneh asal kau tahu. Dari semua pendaftar calon sekretaris pribadinya, pria itu malah menggugurkan mereka satu persatu dengan alasan yang sama. Dasar pria aneh." Dirinya merotasikan bola mata dengan malas. Mengingat kejadian tadi benar-benar memicu dadanya menjadi sesak. Entahlah, harga dirinya merasa terluka saat orang terhormat seperti Choi Yoon Oh menuduhnya yang tidak-tidak.
Chaeri yang menatapnya bingung hanya bisa mengerutkan dahi mendengarnya berceloteh ria tentang sosok pria yang membuatnya kesal saat wawancaranya berlangsung.
Perempuan itu kembali melempar sebuah pertanyaan padanya.
"Memangnya dia beralasan seperti apa, sampai-sampai di menggugurkan semua calon sekretarisnya?"
Shane mendengus kasar lagi dan lagi, "Aku tidak tahu jalan pikiran pria itu bagaimana. Sumpah, aku ingin sekali menampar wajahnya yang terlalu tampan dengan tanganku. Sekali-kali ingin aku koyak wajah tersebut agar dia tidak semena-mena dengan wanita."
Chaeri hanya menatapnya dengan alis tertaut.
"Ekhm...dia menuduh semua calon sekretaris barunya itu tertarik padanya. Bayangkan saja, aku belum menjawab pertanyaan wawancara satupun darinya, dia malah melayangkan pertanyaan pribadi." Shane merotasikan bola matanya malas. Meremat jarinya untuk menyalurkan rasa kesalnya.
"Jangan-jangan yang mereka gosip kan tentangnya itu benar. Dia gay, makanya tak suka berdekatan dengan wanita."
"Gay!" Si bulan itu berseru terkejut. Apa yang tidak lebih mengejutkan saat tahu Presdir tampan itu ternyata di rumorkan Gay!
Dia tak menanggapi sahabatnya yang memasang wajah cengo di hadapannya. Ia bergerak, berjalan menuju kulkas dan mengambil satu cola dari dalam sana. Ia berusaha membuat dirinya tenang, sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar mandi untuk berbenah diri.
"Tak ku sangka Presdir dari oppa ku ternyata gay. Jadi selama ini dia tidak menikah karena alasan gay, begitu?"
Terlihat, perempuan itu sangat excited saat membahas persoalan mengenai Presdir satu perusahaan yang gay. Tapi ayolah...itu hanya rumor. Belum tentu benar. Shane tidak mau ikut-ikutan dalam gosip murahan seperti itu, meski dirinya masih kesal karena calon Presdirnya itu.
Tapi biarlah jika rumor itu terdengar dari satu telinga ke telinga lain. Shane tidak peduli, dan CATAT...ia sama sekali tidak akan mau berurusan lagi dengan Choi Yoon Oh. Apapun itu di kemudian hari.
"Aku sudah membeli makanan untuk makan malam kita. Kau pindahkan di panci kecil jika kau ingin memanaskannya. Aku mau mandi dulu."
"Oo-ooh, baiklah."
***
Gara-gara dirinya yang semena-mena saat mewawancarai calon sekretaris barunya, jadilah dia kesulitan sendiri karena harus menangani berbagai jadwal pertemuan dengan klien. Sejun yang notabene sebagai sekretaris yang sibuk berdiam diri di kantor, tidak seperti sekretaris yang baru saja di pecat oleh Yoon Oh yang selalu mengekori Sang Presdir kemanapun pria itu pergi, Sejun memilih angkat tangan dan tidak ingin ikut campur dalam masalah Yoon Oh saat ini.
"Kau betulan tidak ingin membantuku?" Yoon Oh berbalik memijit sendiri kepalanya yang pusing karena tumpukan berkas di hadapannya.
Sejun sibuk memainkan ponselnya dari tadi. Tak menghiraukan Yoon Oh yang sudah menegurnya beberapa kali.
Satu hal yang tidak di inginkan pria itu saat sibuk dengan ponselnya adalah, Yoon Oh mengganggunya. Jika soal pekerjaan dan pria itu meminta bantuannya, maka dengan senang hati Sejun akan melakukannya.
Tapi jika kondisinya sekarang seperti saat ini. Pria itu menciptakan masalah baru karena sebuah jabatan SEKRETARIS, maka dengan senang hati pula Sejun tidak akan membantunya.
Biarlah ia di cap sebagai karyawan yang tak patuh pada bos. Toh bosnya sendiri yang mempersulit dirinya. Sudah ada calon sekretaris yang berkompeten, tapi dia malah menolak semuanya.
Beban yang seharusnya sedikit berkurang, semakin bertambah karena ia menolak mereka. Padahal, bisa saja ada satu orang yang ia rekrut untuk menjadi sekretaris-nya hari ini juga. Tapi dengan bodohnya Yoon Oh malah melempar pertanyaan yang tak seharusnya di tanyakan saat wawancara.
"Kau sebenarnya berniat mencari sekretaris atau istri, sih? Pertanyaan mu tadi itu jauh dari pertanyaan wawancara. Kau sadar telah melakukan kesalahan bukan?"
Sejun memandangi orang tersebut dengan tatapan tak suka. Sifat Yoon Oh yang seperti ini selalu membuatnya kesal. Semua wanita yang bekerja dengannya, terutama sekretaris pribadi, pria itu selalu menganggap bahwa mereka punya niat untuk mendekatinya. Mencuri perhatiannya agar ia jatuh hati.
Kalau Sejun jadi Yoon Oh, dia sama sekali tidak akan mempermasalahkannya. Justru ia malah senang karena tak perlu repot-repot mencari calon istri.
"Kau mau mendoktrin ku?" Sejun tak menjawab setelah pria yang ada di sebrangnya melempar kalimat tanya yang membuat hatinya ikut kesal karena terseret masalah bersama Yoon Oh.
"Yoon Oh-ya...aku bukannya mau mengatur-atur kau seperti sekarang ini. Sebagai formalitas, kau tetap sebagai atasanku, tapi sebagai teman aku tetap harus mengingatkan mu juga."
"Aku tahu sekarang kau sedang pusing karena belum mendapatkan pasangan yang benar-benar menarik perhatian mu. Jangankan hati, pandanganmu saja belum menemukan mana yang kau suka. Ayolah...jangan kau bawa masalah keluarga ke dalam pekerjaannya. Kau tahu, puluhan calon sekretaris yang mendaftar dengan semangatnya tiba-tiba harus kau perlakukan seperti tadi. Menganggap mereka seolah-olah seperti penjahat yang berusaha menarik perhatian mu."
Sejun dan Yoon Oh sama-sama mendengus kasar. Pria itu kembali memijit frustasi keningnya karena harus mendengarkan doktrin dari Hwang Sejun.
"Please think about that. Wanita mana yang tidak akan suka dengan dirimu. Kau tampan, mapan, dan mereka bisa menjadikanmu patokan dalam mencari pasangan hidup. Tapi ketika kau menganggap mereka seperti tadi, mengatakan 'apakah kau tertarik padaku?' Secara tidak langsung kau merubah pandangan mereka tentang dirimu. Yang awalnya berkarisma, berwibawa, terlihat menjaga sopan santun, mereka dengan mudahnya merubah itu semua karena kau terlihat meremehkan mereka."
"Yoon Oh-ya...tidak ada salahnya bukan, jika kau berusaha mencari pasangan hidup lewat cara ini."
Jaehyun berbalik saat di dengannya kalimat itu dan langsung mencuri atensinya secepat kilat. "Apa maksudmu?"
Ponsel yang ia mainkan sedari tadi kembali ia masukkan ke dalam saku jas, kemudian berbicara serius sambil menatap lawan bicaranya, Choi Yoon Oh, di sebrang sana.
"Aku hanya mencoba memberimu saran saja, tapi terserah...jika kau mau mendengarkannya atau tidak. Dan ku pikir, ini tidak terlalu buruk daripada kau mencari sembarang wanita di luar sana dalam satu bulan."
Pria ini sedang berusaha memahami maksud kalimat dari seorang Hwang Sejun, pria yang menjadi sekretaris sekaligus berperan sebagai sahabat yang selalu mengingatkannya ini dan itu.
Dan karena kedekatan mereka berdua, rumor akan gay seorang Presdir mulai merebak kemana-mana, walau itu tidak sampai menjadi pemberitaan hot di sekeliling kantor.
Yoon Oh tengah sibuk dengan pikirannya sendiri. Mengabaikan Sejun selama beberapa saat sebelum akhirnya ia kembali berbicara.
"Cara apa yang kau maksud?" tanya Yoon Oh memelan.
Sejun sebenarnya agak ragu untuk mengatakan cara yang menurut pilihan terbaik yang bisa di ambil oleh Yoon Oh. Tapi sebaiknya, ia mengatakan hal itu pada pria tersebut. Mungkin saja ia tertarik dan pada akhirnya rencananya berhasil.
Siapa yang tahu bukan?
"Mungkin kau bisa mencari pasangan hidup lewat jalur rekrut sekretaris."
"Maksudmu?" Yooh Oh mulai berpikir kalau Hwang Sejun saat ini tidak waras.
"Aku meminta mu untuk mencari calon istri lewat karyawan yang berstatus sekretaris pribadimu. Apa kau kurang mengerti?"
Yoon Oh yang mendengarnya langsung mengerutkan dahinya aneh dengan menatap Sejun horor, "KAU GILA?!"
Sudah bisa ia duga kalau pria itu akan bereaksi terlalu berlebihan.
Patut Yoon Oh terkejut karena Sejun secara gamblang mengatakan bahwa dirinya harus mencari calon istri yang menjabat sebagai sekretaris pribadi.
"Kau masih waras kan Hwang Sejun?" Dia mencoba meneliti wajah pria itu dari kejauhan. Mungkin saja dibalik wajah datarnya kini, dia diam-diam tersenyum lalu tertawa tanpa suara.
"Karena aku masih waras makanya aku menyarankan itu padamu!" Bentaknya dengan nada kesal. Sejun kembali memicingkan matanya pada Yoon Oh yang sama sekali belum memberi jawaban.
Yang di tatap hanya bisa mendengus beberapa kali. "Kau tidak memikirkan reputasiku?"
"Apa saat ini reputasi lebih penting daripada kebahagiaan? Kau mau bahagia bersama dengan orang yang tidak kau cintai? Dasar bodoh!"
Mungkin karena terlalu jengkel dengan sikap Yoon Oh yang terlalu keras kepala, akhirnya Sejun berani berkata kasar pada sosok yang 3 tahun lebih muda darinya. Sosoknya sudah seperti kakak untuk pria itu, dan ia wajib mengingatkan pria yang sudah seperti adiknya sendiri. Makanya keluarga Choi memintanya untuk menjadi bagian dari Crown Royal Group.
Demi menemani dan mengawasi anak itu
Yoon Oh memilih untuk tidak melibatkan emosinya yang berbicara dengan Sejun. Ia tahu, pria itu akan semakin menjadi mencercanya jika ia terus melawan.
Kepala jadi pusing memikirkan hal tersebut. Pekerjaan sudah bertumpuk ditambah lagi dengan beban pikiran akan ancaman Ayahnya. Yoon Oh semakin ingin jatuh pingsan saja.
Ia membenamkan kepalanya di kedua lipatan tangan di atas meja. Mencoba mencari satu kenyamanan di sana, dan berharap rasa penatnya bisa hilang sesegera mungkin.
"Rencanamu tentang itu...bagaimana?" Ia bertanya di balik persembunyiannya.
Sejun berbalik setelah mendengar perkataan pria tersebut, "Yang utama hanyalah mencari sekretaris baru. Itu saja. Sisanya biar aku yang urus."
"Kau yakin ini akan berhasil?"
Sekali lagi Yoon Oh bertanya pada pria itu.
Lalu, Sehun menjawabnya.
"100 persen aku tidak bisa menjaminnya. Tapi jika kau bersungguh-sungguh dan siap membuka hatimu, aku yakin kau bisa mencintai orang itu tidak sampai sebulan."
"Bagaimana kalau dia tidak mencintaiku? Bagaimana juga kalau dia hanya mencintaiku karena apa yang ku punya?"
Kini gantian Sejun yang memijit keningnya yang mulai sakit.
Berbicara dengan Yoon Oh ternyata butuh tenaga ekstra.
Sejun melirik jam tangan yang bertengger dengan keren dan indah di lengan kirinya. Pria itu mendengus saat tahu waktu sudah menunjukkan pukul setengah 10 malam.
"Kau hanya perlu meyakinkan wanita itu bahwa kau mencintai dengan tulus. Kedua, mereka yang mencintaimu hanya karena harta akan mudah ketahuan. Kau tinggal menyodorkan barang branded yang biasanya disukai para wanita. Jika mereka menerimanya tanpa bertanya maksud pemberianmu apa, berarti mereka materialistis Tetapi, jika mereka bertanya alasannya mengapa, mungkin kau masih bisa mempertimbangkan apa yang harus kau lakukan."
"Jadi...bagaimana? Kau tertarik dengan ide ku?" Sekali lagi Sejun menawarkan ide brilian tersebut.
Walau masih tidak begitu yakin akan berhasil, tapi apa salahnya jika di coba. Mungkin saja keberuntungannya benar-benar ada di jalan ini. Bukan di luar sana.
"Aku ragu. Tapi ku pikir, sebaiknya aku mencobanya."
Diam-diam, Sehun menarik salah satu sudut bibirnya untuk membentuk sedikit lengkungan. Semoga apa yang di harapkan pria itu bisa berjalan sesuai dengan rencana.
***
To Be Continue...